Pernikahan adalah sebuah impian bagi semua orang, termasuk Zahra. Namun, pernikahan yang bahagia kini rusak akibat kehadiran orang ketiga. Evan selaku suami, mulai membandingkan Zahra dengan gadis lain.
Suatu hari dia memutuskan untuk menjalin hubungan hingga tidak memperdulikan hati Zahra. Akankah pernikahan mereka mampu diselamatkan? Ataukah Zahra harus merelakan suaminya bersama dengan wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 11 Tragedi di malam hari
Malam hari pun tiba, dirumah itu hanya ada Anna karena Zahra belum pulang dari kantor. Gadis tersebut sengaja memakai pakaian seksi untuk menarik perhatian Evan.
"Hm, Zahra mengatakan jika dirinya akan pulang sedikit terlambat. Itu tandanya Mas Evan pulang terlebih dahulu, dan inilah kesempatanku." Anna tertawa jahat. "Dasar gadis bodoh! Dia memberikan aku peluang untuk dekat dengan suaminya. Baiklah, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini." Anna memantau dirinya dari cermin.
Suara deru mobil terdengar, Anna membenahi penampilannya. Gadis itu membuka pintu kamar dan dia yakin jika itu adalah suara mobil Evan. Tepat sekali, Evan masuk ke dalam rumah dengan keadaan lelah dan berantakan.
"Mas Evan, aku datang!" ucap Anna pelan dan dia berjalan menuruni anak tangga.
Setelah sampai di lantai bawah, mereka berpapasan. Evan terdiam melihat Anna yang berada di depannya. Nalurinya sebagai seorang pria langsung bergejolak. Evan menggelengkan kepala saat wajah Zahra tiba-tiba terlintas di benaknya.
"Mas, kau baik-baik saja?"
"Ya, aku hanya sedikit kelelahan. Di kantor tadi sangat banyak pekerjaan, pertemuan, dan hal itu membuatku sulit beristirahat."
"Kau ingin makan? Atau mandi?"
"Aku akan mandi terlebih dahulu, lalu setelah itu makan." Evan melihat ke sekeliling, pasalnya dia tahu jika Zahra akan pulang terlambat, tetapi dirinya berpikir jika saat ini Zahra sudah sampai dirumah terlebih dahulu dibandingkan dirinya.
"Apa Zahra belum pulang?"
Anna menggeleng sambil mengedikkan bahu. "Oh, ya, kau ingin mandi 'kan, Mas? Aku akan menyiapkan air hangat, kau juga mengatakan jika dirimu lelah. Jadi, izinkan aku menyiapkan air untukmu."
"Baiklah, terima kasih, Anna. Aku akan menunggu disini. Jika sudah selesai, panggil saja aku."
Anna mengangguk, sebuah ide sudah terlintas di pikirannya.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara teriakan dari kamar Evan. Pria itu berlari cepat karena mengira terjadi sesuatu pada Anna. Ketika dia membuka pintu, dirinya melihat Anna yang sudah berdiri di atas ranjang.
"Anna, ada apa?"
"Mas, itu—" Anna menunjuk ke kamar mandi. "Di dalam kamar mandimu ada kecoa, aku sangat geli melihatnya."
Evan bergegas ke kamar mandi, dia mencari ke setiap sudut ruangan tapi tidak ada apa pun.
"An, tidak ada apa-apa disini."
"Ada, Mas. Di ujung sana, mana mungkin aku salah melihatnya." Anna memeluk tubuhnya sendiri.
Evan menggelengkan kepala. "Mungkin kecoanya sudah hilang, kau turun dan keluarlah dari kamarku, aku ingin mandi."
Anna mendengus kesal menyaksikan sikap jutek Evan, tetapi dia harus bersikap manis agar Evan tertarik padanya. Saat Anna ingin melompat dari ranjang, kakinya terpleset dan tanpa sengaja dia jatuh di atas tubuh Evan.
Bruk
Mata mereka beradu, Evan tak bisa berkata-kata melihat manik indah dan tubuh berisi milik Anna.
Disaat yang bersamaan, pintu kamar pun terbuka. Zahra tercengang melihat pemandangan di depannya.
"Mas, apa-apaan ini?" pekik Zahra kecewa.
Evan melihat ke arah pintu, dia bergegas menyingkirkan tubuh Anna dengan kasar dan berdiri.
"Ra, Zahra, ini tidak seperti —"
Zahra mengangkat sebelah tangannya. "Kenapa Anna bisa berada di kamar kita, Mas? Apa yang sedang kalian lakukan? Mas, pernikahan kita baru seumur jagung, dan kau—"
"Kak, apa yang kau katakan? Kenapa kau langsung berpikiran buruk? Aku tadi tidak sengaja jatuh, dan aku berada di kamar ini karena menyiapkan air hangat untuk mas Evan. Masih untung ada aku yang melayani kebutuhan suamimu, kau malah sibuk dengan pekerjaanmu di kantor!"
"Anna, kau —"
"Cukup, Anna! Jangan memperkeruh suasana, sebaiknya kau keluar dari kamar ini. Aku ingin menyelesaikan masalah ini berdua dengan Zahra, hanya berdua!" ucap Evan pelan namun penuh peringatan.
Anna berdecak kesal, dia pergi dari kamar itu.
Tubuh Zahra lunglai di kasur, dia memejamkan matanya sesaat untuk meredakan emosi yang memuncak.
"Kenapa semuanya bisa terjadi, Mas? Dan, kenapa kau membiarkan gadis itu masuk ke dalam kamar kita?"
"Sayang, dengarkan penjelasan dariku dulu. Benar apa yang Anna katakan, dia menawarkan untuk menyiapkan air mandiku, lalu aku mendengar suara teriakannya. Aku langsung lari ke kamar dan dia berkata jika di kamar mandi ada kecoa, tapi aku mencarinya dan ternyata tidak ada. Lalu, dia terpeleset dan tanpa sengaja jatuh menimpaku."
"Apa kau tidak melihat pakaian dia, Mas? Gadis itu sengaja berpakaian seksi untuk menggodamu. Aku yakin itu! Dia mencari kesempatan karena dirumah tidak ada siapapun."
"Zahra, kenapa kau berpikiran buruk seperti itu?"
"Kau membelanya, Mas?"
"Tidak, sayang. Aku hanya tidak ingin hubungan kalian berantakan. Kau dan Anna bersaudara."
"Ya, aku tau itu. Dan dia hanyalah adik tiriku. Aku menyayanginya seperti adik kandungku, tapi jika dia berani merebut orang yang aku cinta, maka aku tidak akan membiarkannya." Zahra menatap tajam lurus ke depan.
"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang, hm?"
"Bawa aku pergi dari sini, Mas. Bukankah kau mengatakan jika dirimu memiliki rumah? Kalau begitu, kita bisa tinggal di rumahmu."
"Baiklah jika itu maumu, awalnya aku sudah memaksamu untuk tinggal dirumahku, tapi kau malah menolak dan mengatakan ingin menemani Mama dirumah ini."
"Itu dulu sebelum ada Anna, dan sekarang pikiranku sudah berubah."
"Ya sudah, satu Minggu lagi kita akan pindah. Aku harus memanggil beberapa pekerja untuk membenahi isi rumah. Sudah lama rumah itu ditinggal, dan aku rasa, ada beberapa tempat yang harus di perbaiki."
"Terserah kau saja, Mas. Intinya aku ingin tinggal terpisah dari adik tiriku." Zahra memeluk tubuh Evan, sejujurnya dia enggan untuk pindah dan meninggalkan sang Mama. Tetapi, demi keselamatan rumah tangganya, dia harus mengambil keputusan yang berat ini.
*****
Keesokan paginya.
Anna sudah berada di dapur, dia sedang membuat kopi untuk dirinya sendiri. Hari ini sang Mama akan pulang, maka dia tidak bisa lagi bersikap sesuka hati dirumah itu.
Saat Anna ingin keluar dari dapur, dirinya berpapasan dengan Zahra.
"Selamat pagi, kakakku." Anna tersenyum manis.
"Hm," Zahra hanya berdehem pelan, dia malas melihat wajah Anna yang menurutnya menyebalkan.
"Eits, mau kemana, Kak? Bisakah aku berbicara sebentar padamu?"
"Ada apa, Anna? Aku tidak punya banyak waktu. Aku harus menyiapkan sarapan untuk Mas Evan dan berangkat ke kantor."
"Hei, kenapa terburu-buru? Aku hanya ingin mengingatkan sesuatu padamu. Apa kau masih ingat tentang masa kecil kita dulu?"
"Kenapa tiba-tiba kau membicarakan tentang masa kecil kita?" Zahra menatap Anna dengan heran.
"Apa kau juga ingat betapa baiknya dirimu dulu? Kau bahkan merelakan mainanmu untukku disaat aku merebutnya."
"Aku sangat mengingatnya, Anna. Dan aku tahu maksud dari pembahasanmu saat ini."
"Benarkah? Wah, kau benar-benar cerdas." Anna tertawa mengejek. "Kau dulu selalu mengalah sewaktu aku meminta mainan milikmu, dan aku harap, sekarang kau juga bisa mengalah untuk Mas Evan, Mama, serta segala fasilitas yang kau miliki."
Zahra tersenyum miring. "Kau gila, Anna? Baru beberapa hari kau tinggal disini dan sekarang kau berani meminta hakku? Dengarkan aku baik-baik, Anna. Sampai mati pun, aku tidak akan menyerahkan semuanya padamu. Kau adalah gadis yang licik, aku tidak menyangka jika dirimu bisa berubah drastis dan segila ini. Ambisimu sangat besar, Anna. Aku harap, kau tidak akan kecewa di akhir nantinya."
Anna tertawa. "Kecewa? Aku rasa tidak akan. Baiklah, jika kau tidak mau mengalah dan merelakan, maka aku akan merebutnya paksa darimu. Seperti waktu kecil dulu. Boom!" Anna tertawa, lalu dia pergi dari hadapan Zahra yang mematung mendengar perkataan Anna barusan.
Bersambung
ibarat ular walau kau pelihara dng baik ttp saja dia akn matuk pemiliknya.
km sih yg buat anakmu gk selamat, yo wes nikmati saja jd lah pinter rugi sekolah tp ttp bodoh mudah di perdaya musuh.
kcuali zahra pinter ku do'akan gk keguguran wong dia bodoh kok yo bene keguguran ben ngge pelajaran wong wedok berpendidikan jng terlalu bodoh 😁😂