Seorang wanita pekerja kantoran yang memiliki hidup penuh akan pekerjaan. Setiap hari dia selalu bekerja dan bekerja, waktu liburan dia hanya tidur dan tak melakukan kegiatan seperti orang lain pada umumnya.
Pola hidup yang tak pernah berubah membuat dirinya stress, hingga akhirnya ia mencapai titik dimana dia tak berpikir untuk hidup.
Namun, takdir membuatnya berpindah ke tubuh seorang bocah berusia 10 tahun. Mulai dari sana ia mengalami begitu banyak peristiwa yang membuatnya memiliki alasan untuk hidup.
Kisah kebangkitan seseorang pada kehidupan keduanya dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duel Dan Perpisahan
Di ruangan rapat, suasana begitu hening setelah Laylie menjelaskan tentang apa yang terjadi sebelumnya.
"Huft~ kau bilang punya tiga guru hebat? Ah, benar juga... kau bisa menghadapi monster rank C dan iblis kelas atas, itu memang hal yang cukup mengesankan," ujar Rein, lalu ia melepas sarung tangan kanannya, melemparkan sarung tangan itu tepat mengenai wajah Laylie, "aku menantangmu berduel!"
Sapu tangan itu perlahan jatuh, tepat di atas tangan Laylie. "..."
Hah!? Duel?! Apa yang bocah ini pikirkan!? Aku baru saja bangun dari pingsan beberapa saat yang lalu, terlebih lagi aku ini perempuan loh. Dan dia serius ingin mengajakku duel!? batin Laylie berteriak dengan kesal.
"Rein itu terlalu berlebihan!" seru Viana sembari memukul meja.
"Ah, kurasa itu cukup menarik," sela Yulius menantikan duel itu.
"Kak Yulius!?" Viana kembali berseru karena melihat tingkah kedua saudar laki-lakinya itu.
Laylie sembari tadi hanya berdiam diri, kini bangun berdiri dan melemparkan sarung tangan itu kembali, tepat mengenai wajah Rein. "Baiklah, aku terima tantanganmu!" seru Laylie dengan serius.
...----------------...
Duel akan dilaksanakan saat sore hari, sekarang Laylie berada di kamarnya, merebahkan tubuhnya di atas kasur sembari menatap langit-langit kamar.
Menghela nafas panjang, "apa yang kulakukan? Kenapa aku menerima tantangan duel itu? Orang yang baru belajar sihir dan sekarang harus bertarung dengan seorang pendekar sihir jenius? Konyol sekali."
Mary yang melihat Laylie mengeluh mulai merasa kesal, ia mendekat dan berteriak tepat di telinga kanan Laylie. "Apa yang Nona katakan!?"
Teriakan itu membuat Laylie terperanjat dan meloncat di atas kasur. "A-apa yang kau lakukan Mary!?" kata Laylie dengan jengkel sembari memegang kuping kanannya.
Mary meletakkan kedua tangannya di pinggang, lalu sedikit membungkuk mendekatkan wajahnya ke Laylie. "Nona, tolong jangan merendahkan diri Anda. Nona itu kuat! Hanya saja, pengalaman bertarung yang dimiliki oleh Anda masih sedikit. Karena itu saya memiliki sebuah saran," kata Mary.
"Saran?" Laylie menunjukkan wajah kebingungan serta penasaran.
"Ya, biarkan saya merasuki Anda!" jawab Mary dengan penuh antusias.
"..."
"..."
"Hah! Merasuki? Apa yang kau maksud?" teriak Laylie terkejut mendengar saran dari Mary.
"Seperti yang saya katakan, saya akan merasuki Anda. Karena sudah pernah belajar sihir, walaupun baru satu hari, setidaknya Nona bisa menggunakan dua atribut sihir yakni api dan air. Jika saya merasuki Anda, duel melawan bocah belagu itu bisa kita menangkan," jelas Mary.
"Sebenarnya aku bisa menggunakan semua atribut sihir," Laylie mengangkat tangan kanannya ke atas dan memunculkan enam partikel sihir yang memiliki warna berbeda sesuai elemennya.
"Aku tak tahu mengapa, asal kubayangkan sihirnya akan muncul," tambahnya.
"..." Mary terdiam sejenak saat melihat Laylie mengeluarkan enam atribut sihir secara bersamaan. "Je... nius..." gumamnya pelan. Bahkan untuk dirinya sendiri yang merupakan penyihir tersohor, mengeluarkan semua atribut sihir secara bersamaan adalah hal yang sangat sulit.
Mary hanya mampu mengeluarkan empat atribut sekaligus, dua sisanya harus dikeluarkan secara terpisah. Dan kini, ia melayani anak berumur sepuluh tahun yang bisa melakukan apa yang tak bisa dia lakukan.
"Nona, kita akan menang!" seru Mary dengan antusias, sembari memegang kedua tangan Laylie walaupun itu menembus.
"Y...ya?" saut Laylie dengan nada bertanya.
"Wahahaha! Liat saja, aku akan membuat bocah songong itu bertekuk lutut!" Mary tertawa kencang membayangkan wajah Rein yang akan kalah.
...----------------...
Sore hari pun tiba, semua orang berkumpul di lapangan latihan kesatria. Laylie dan Rein saling berhadapan satu sama lain di sisi kiri dan kanan lapangan.
"Heh~ jadi kau tidak kabur?" seru Rein dengan angkuh.
Laylie mendecakkan lidahnya, "bocah ini benar-benar membuatku kesal," gerutunya kesal.
Yulius berada di pinggiran lapangan tepat berada di bagian tengahnya. Mengangkat tangan kanannya ke atas. "Apa kalian berdua sudah siap?" tanyanya.
Laylie dan Rein menganggukkan kepalanya, menandakan jika mereka siap untuk bertarung.
"Mulai!" seru Yulius memberikan aba-aba.
Mary langsung merasuki Laylie setelah aba-aba mulai berbunyi.
-Badum!
Detak jantung Laylie berdetak kuat, rambut silvernya mulai muncul surai merah dan matanya yang berwarna orange mulai menyala terang berubah menjadi merah. Auranya berubah drastis.
"Ayo kita mulai dansanya, bocah," ujar Mary/Laylie.
Rein yang mendengar hal itu merasa kesal dan menarik pedangnya keluar. "Siapa yang kau panggil bocah? Huh!" Rein berlari dengan cepat menuju ke arah Laylie.
"Heh! Apa kau ingin mencoba menghilangkan jarak? Coba saja kalau kau bisa!" Mary menggunakan sihir angin untuk mendorong dirinya mundur kebelakang dengan cepat sebari menembakkan panah api ke arah Rein.
Rein terhenti dan mengambil posisi bertahan dengan cara menebas setiap panah api yang datang ke arahnya. "Sial! Apa dia benar-benar berusia sepuluh tahun!?" gerutu Rein.
Mary bergerak dengan cepat memutari lapangan, para menonton sulit untuk melihat gerakannya, tiba-tiba Mary sudah berada tepat di belakang Rein. "Ini berakhir, bocah," katanya sembari memegang punggung Rein.
"Cukup sampai disana! Pemenangnya Laylie!" seru Yulius.
Mary keluar dari tubuh Laylie, rambut merah itu mulai kembali memutih, serta matanya yang juga mulai memudar berubah menjadi orange.
Hebat, meskipun tubuhku diambil alih olrh Mary, pengalaman bertarung itu masih bisa kurasakan dan diingat oleh tubuhku. guman Laylie dalam batinnya.
Namun, karena kemenangan itu semua pandangan pada Laylie berubah drastis. Mereka mulai mewaspadai Laylie, berfikir jika dirinya merupakan mata-mata dari negara lain.
"Sepertinya ini akan jadi perpisahan kita," ujar Laylie dengan senyum yang tampak sedih.
Viana yang mendengar ucapan Laylie serta melihat raut wajah senyum yang terlihat sedih itu hanya bisa terdiam. Benar apa yang dikatakan oleh yang lain, tak mungkin anak sepuluh tahun biasa bisa bertarung seperti itu. Mata-mata, penyihir hebat yang sedang menyamar, assasin. Semua itu menjadi kecurigaan orang-orang terhadap Laylie.
"Huft~"
Laylie menghela nafas pendek lalu menatap semua orang yang berada di pinggir lapangan. Lalu ia menundukkan kepalanya, "terima kasih karena telah merawatku, meskipun hanya sebentar, aku tetap merasa berterima kasih. Aku akan pergi dan berkelana sendiri, tenang saja, aku bukan mata-mata dari negara manapun."
Setelah mengucapkan hal itu, Laylie menggunakan sihir angin untuk mengangkat dirinya ke udara. "Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, tapi aku percaya kita akan bertemu lagi suatu saat nanti!" seru Laylie, lalu melesat dengan cepat meninggalkan mansion menunu ke luar kota.
"Apa Nona yakin?" tanya Sebastian.
"Ya, lagi pula aku punya kalian yang siap untuk membantuku, kan?" saut Laylie dengan senyum lebar, meskipun senyum itu menutupi rasa sedih dihatinya.
"Ayo kita jelajahi dunia ini dengan bebas!" seru Laylie dengan bersemangat.
Emang sih jiwanya udah mbak-mbak kantoran tapi rasanya usia tubuh kadang perlu agak diperhatikan🗿