*Kelanjutan dari karya sebelumnya, yaitu BENANG TANPA UJUNG*
Cinta tumbuh seiring dengan bertambahnya usia, saat kita tinggal bersama dalam satu keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Ngobrol bersama.
Kamar.
Setibanya di dalam, Mei Chen bergegas menghampiri balkon. Tempat dimana ia dapat melihat luasnya pemandangan taman belakang rumah mewahnya itu dari arah belakang kamar.
Lalu mengedarkan pandangannya ke sekitar, untuk mencari keberadaan Yuan dan Caroline yang tengah berada di tempat tersebut.
"Itu mereka," gumam Mei Chen lalu bersembunyi disudut agar tidak kelihatan oleh Yuan maupun Caroline.
Walau ia sendiri tidak dapat mendengar percakapan Yuan dan Caroline secara jelas karena jarak yang cukup jauh, akan tetapi rasa penasaran membuatnya ingin sekali melihat aktifitas mereka berdua.
Sedangkan disisi lain, Caroline masih terus menunggu jawaban atas pertanyaannya pada Yuan. "Bagaimana Yuan?" tanyanya kembali.
"Carol, umur perjodohan kita masih seumur jagung. Jadi mana bisa aku menilaimu dengan cepat seperti itu dan mengenai perasaanku padamu. Maaf, jujur saja aku masih belum bisa menerimamu sebagai wanita istimewa dalam hatiku ini," balas Yuan to the point.
Caroline mendengus dalam hati, rasanya begitu kesal karena pikirannya tidak sesuai dengan kenyataan, dimana Yuan tidak terlalu tertarik padanya.
Sungguh reaksi berbeda jika dibandingkan dengan para pria yang pernah dekat dengannya dulu.
"Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu jawab satu lagi pertanyaanku ini, wanita seperti apa yang kamu sukai?" tanya Caroline.
"Untuk apa kau bertanya seperti itu?" tanya Yuan kembali.
"Ya hanya ingin tahu saja," balas Caroline.
"Wanita yang aku sukai itu tidak banyak menuntut, pekerja keras, baik hati dan setia. Seperti Mommy ku," jawab Yuan.
"Kriteriamu sangat sulit sekali, tapi apa kau yakin wanita seperti Tante Alin yang kau inginkan?" tanya Caroline merasa keberatan.
"Ya tentu saja, aku sangat menginginkan ada sesosok wanita seperti Mommyku," balas Yuan yakin.
Caroline menghela nafas panjang, ingin sekali ia menyerah jika membayangkan tipe wanita yang diidamkan oleh Yuan. Akan tetapi ia tidak mau menyerah begitu saja demi masa depan bisnis keluarganya.
"Wanita idamanmu sungguhlah luar biasa, mungkin aku akan belajar bagaimana menjadi wanita seperti Tante Alin. Agar kau menyukaiku," balas Caroline bertekad.
Yuan terkekeh. "Sebenarnya aku tidak mematok wanita harus menjadi seperti Mommyku, aku hanya ingin wanita yang terus menjadi dirinya sendiri. Bukanlah wanita yang cuma berpura-pura baik tapi kenyataannya tidak seperti itu," balasnya.
Caroline lantas tersedak nafasnya sendiri, jawaban Yuan seakan mengena dihatinya. "Kau benar sekali, jadilah diri sendiri. Benar begitu ya?"
"Ya, bisa dibilang seperti itu. Jadi tidak perlu menjadi orang lain demi menyenangkan hatiku," balas Yuan menambahkan. Entah perkataannya itu untuk siapa, namun Yuan spontan memberitahukannya dihadapan Caroline.
"Itu berarti aku tidak perlu menjadi Tante Alin, tapi percayalah padaku, kalau aku bisa menjadi wanita yang terbaik untuk hidupmu," ucap Caroline berjanji.
Akan tetapi Yuan hanya tersenyum dan melemparkan pandangannya kesembarang arah, tepatnya di belakang kamar Mei Chen, dimana ia menemukan wanita itu sedang bersembunyi di sudut balkon kamar.
"Ada yang lagi mengintip ternyata," batin Yuan terkekeh geli. Lalu memikirkan bagaimana cara untuk pergi menjauh dari Caroline agar bisa mengejutkan Mei Chen yang sedang bersembunyi bak tikus kecil.
"Carol, aku baru ingat harus menelepon seseorang. Bisa kah aku pergi sebentar, nanti aku akan kesini lagi sekalian membawakan cemilan," ucap Yuan setelah menemukan ide.
"Menelepon siapa?" tanya Caroline.
"Klien kita, aku lupa memberitahu mereka kalau besok rapat jadi dilaksanakan pagi hari," balas Yuan beralasan.
"Bukankah tadi di kantor sudah dikabari semuanya?" tanya Caroline.
"Ya, tapi ada satu yang belum aku kabari," balas Yuan.
"T-tapi Yuan!" cegah Caroline.
"Hanya sebentar," balas Yuan lalu pergi meninggalkan Caroline.
...***...
Sementara itu di tempat yang berbeda, Mei Chen terkekeh senang saat melihat Yuan pergi meninggalkan Caroline seorang diri.
"Rasakan itu," gumamnya.
Akan tetapi dirinya juga dilanda penasaran, kemana perginya Yuan.
Sedangkan orang yang sedang ia cari kini telah berada di belakangnya, melangkah dengan cara berjinjit dan mengendap-endap seperti maling. Sesekali terkekeh geli jika melihat Mei Chen bertingkah konyol seperti tukang intip.
"Kemana perginya dia? Padahal aku ingin melihat kelanjutan mereka?" ucap Mei Chen ikut menunggu seperti orang bodoh.
"Kalau mau tahu kelanjutannya, kenapa tidak turun ke bawah dan bergabung saja!" ucap Yuan tiba-tiba mengagetkan.
Sontak saja aksi Yuan membuat Mei terjingkrak kaget, kedua bola matanya membulat sempurna ketika melihat pria itu tahu-tahu sudah berada di belakangnya dan berjongkok bersama.
Beruntung Yuan segera menutup mulutnya itu selagi berteriak kaget, karena kalau tidak, seisi rumah bisa berhamburan panik menuju kearahnya.
Mei Chen memukul bahu Yuan bertubi-tubi, rasa kaget dan malu bercampur menjadi satu. Sedangkan Yuan hanya bisa tertawa saja melihat wajah saudari tirinya yang memerah.
"Aduh Yuan, kamu ngagetin aku aja!" ucap Mei Chen kesal.
"Ampun Mei, ampun!" balas Yuan meminta Mei Chen berhenti memukulinya.
Mei Chen menghela nafas kasar sambil menatap sinis pria yang sekarang kini duduk bersama disebelahnya. "Ngapain kesini?"
"Ada juga aku yang nanya, ngapain kamu ada disini? Ngintipin aku sama Carol ya?" ledek Yuan.
"Enggak tuh, aku disini cuma lagi ngadem aja. Lagipula ini kan masih kawasan kamar aku," sangkal Mei Chen tidak mau mengakui. "Nah kamu sendiri ngapain kesini?" tanyanya kemudian.
"Bosan," balas Yuan singkat.
"Bosan kenapa? Bukannya ada Carol disana," balas Mei Chen.
"Ya malas saja mengobrol dengannya," balas Yuan.
"Pergilah, aku tidak mau dia sampai tahu kalau kau ada disini saat kau sedang bersamanya," usir Mei Chen.
"Tunggulah sebentar lagi," balas Yuan enggan. Sesekali mengintip Caroline yang terlihat kebosanan menunggu.
Mei Chen menatap Yuan yang sedang mengintip kearah Caroline. "Apa yang sedang kalian bicarakan tadi?" tanyanya ingin tahu.
"Bicara apa? Tidak ada pembicaraan yang menarik," balas Yuan.
"Masa sih? Aku lihat kalian berdua sepertinya seru," ucap Mei Chen tidak percaya.
"Kalau kau tidak percaya, bagaimana kalau kau ikut turun denganku dan kita ngobrol bersama disana," ajak Yuan menarik tangan Mei Chen agar ikut turun bersamanya.
"Enggak Yuan, aku enggak mau!" tolak Mei Chen.
Namun Yuan tidak peduli. "Kalau kau tidak menurut aku akan berteriak dan memanggil Caroline kesini!" ancamnya.
"Huft siall!" maki Mei Chen kesal.
Tak ada pilihan lain, Mei Chen akhirnya mengikuti Yuan turun ke bawah dan bertemu dengan Caroline yang menatap tajam kearah mereka berdua.
"Ngapain kamu bawa dia kesini Yuan?" tanya Caroline merasa keberatan.
"Memangnya kenapa? Aku merasa tambah satu orang lagi disini itu tidak masalah bukan? Biar ramai," balas Yuan tidak peduli, sambil menekan kedua pundak Mei Chen agar duduk bersama dengannya dan juga Caroline.
"Aduh!" Mei Chen mencubit Yuan yang sudah keterlaluan kepadanya. Sedangkan Yuan hanya membalasnya dengan tersenyum, hingga membuat Caroline mendengus kesal ketika melihat tingkah keduanya.
...~ Bersambung ~...
slam dri Madu pilihan Ibu kak
ditunggu kisah terbarunya ya kak 🤗