NovelToon NovelToon
Kisah - Kisah Dunia Persilatan.

Kisah - Kisah Dunia Persilatan.

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Fantasi Timur
Popularitas:48.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anggita

Kumpulan cerita- cerita silat pendek yang masih ada sedikit hubungan dengan novel 13 Pembunuh dan Pendekar Tanpa Kawan.
Hampir setiap latar belakang kisah, tokoh, tempat juga waktu kejadian yang ada pada novel ini, diambil dari kedua novel tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjauhlah dariku.! (Bab8)

Dua bilah pedang bergerak menikam dan membabat dari depan- belakang. sasarannya adalah perut serta punggung si baju biru. dalam perkiraan kedua orang gadis murid Nyi Bindara Sukmani dari padepokan silat 'Langit Putih' itu, setidaknya si baju biru akan terluka parah terkena serangan pedang mereka.

Yang diserang masih berdiri diam dengan sikap kaku serupa patung kayu. baru saat dua ujung pedang lawan berada sejengkal saja dari tubuhnya, mendadak kedua tangannya bergerak mengemplang sambil memutar pinggangnya setengah lingkaran. kilatan cahaya merah panas terlihat mengiringi.

'Wheett., sheeet., shaat.!'

'Plaaang., traaang., traaakk.!'

''Aaakh., bedebah sialan.!''

Suara jeritan kesakitan bercampur makian marah terdengar dari mulut kedua gadis itu. dengan terperanjat tidak percaya keduanya melihat mata pedang mereka yang patah dan nyaris terlepas dari genggaman. pergelangan tangan kedua gadis itu berbaju putih ini nampak bengkak memerah dengan bagian kulit telapak tangannya pecah berdarah.

''Terakhir kalinya aku ingatkan, kedatanganku hanya ingin berurusan dengan Nyi Bindara Sukmani. kalau masih tidak tahu diri juga, jangan salahkan diriku jika kalian berdua sampai kehilangan nyawa. karena itu aku mohon., Menjauhlah dariku.!'' ancam si baju biru dengan suara dan tatapan mata dingin.

Sebenarnya semua kejadian yang dialami oleh kedua murid Nyi Bindara Sukmani sudah lebih dari cukup dijadikan petunjuk kalau orang dihadapan mereka memiliki tingkat ilmu kesaktian yang tidak dapat mereka hadapi. tapi dasar keras kepala, sombong atau memang keduanya cuma gadis dungu, tanpa mau perduli mereka kembali menyerbu sambil sengaja berteriak- teriak memanggil para saudara seperguruan mereka yang ada di dalam.

Hawa membunuh mendadak begitu terasa mencekam disekitar pelataran luar perguruan Langi Putih. kedua gadis penjaga pintu untuk sesaat merasakan suatu kengerian. udara yang tadinya dingin kini berubah panas laksana terpanggang. keringat mengucur deras membasahi tubuh mereka. belum sempat menyadari dengan yang sebenarnya terjadi, sebuah kilatan cahaya merah telah lewat didepan leher.

Tidak terdengar suara jeritan atau teriakan kesakitan. tubuh kedua gadis muda ini telah tumbang dengan kepala nyaris terpancung. darah yang keluar keburu menggumpal di mulut luka yang hangus. hawa udara menjadi memerah dan kering seolah dipadang tandus. wajah manis dikepala kedua gadis muda itu menyiratkan suatu perasaan tidak percaya, takut sekaligus kebingungan.

Hanya selang beberapa tarikan nafas saja pintu gerbang padepokan Langit Putih telah terbuka. belasan orang perempuan berbaju putih sama menyerbu keluar. mereka semua langsung berteriak kaget melihat kematian dua orang saudara seperguruannya. beberapa murid menjerit penuh kesedihan sembari memeluk kedua mayatnya. sementara yang lain langsung mengepung si baju biru dengan tatapan mata penuh dendam amarah.

Lelaki tiga puluhan tahun itu seperti bersikap dingin dan kaku seakan tidak merasakan ancaman dari para pengurungnya. bahkan saat separuh di antara belasan gadis murid Nyi Bindara Sukmani menyerbu dengan kalap, dia tetap berdiri diam menatap pintu gerbang perguruan Langit Putih yang telah terbuka. ''Aku tidak ingin melukai kalian semuanya. jadi kumohon., Menjauhlah dariku.!"

Dengan setengah membentak dan sorot mata setajam belati si baju biru kumal menyapu pandang semua gadis yang mengurungnya, terutama tujuh orang murid Langit Putih yang sudah datang menyerbu sambil mengumbar makian kebencian. "Bangsat., bayar kembali nyawa saudara kami. mampuslah kau dasar gembel keparat.!"

"Huhm., orang tolol memang susah untuk diajak bicara.!" dengus si baju biru kesal. untuk kedua kalinya hawa disekitar berubah menjadi panas di selimuti kabut kemerahan. seiring suara ledakan keras, cahaya semerah bara api menyambar dua- tiga kali membelah udara. terdengar teriakan ngeri bersama bilah pedang yang terpental berpatahan.

Tujuh orang penyerang jatuh terkapar diatas tanah. setelah sempat berkelojotan, mereka tewas dengan leher nyaris putus. semua orang sama terpekik kaget bercampur ketakutan. diantara tujuh rekannya yang menyerang si baju biru, dua diantara adalah murid terbaik. namun keduanya juga mati terbunuh hanya dengan segebrakan saja.!

''Manusia bangsat berhati keji. kembalikan nyawa murid- muridku.!'' bentak seorang wanita setengah umur dari belakang pintu gerbang perguruan. belum habis gema suaranya, puluhan cahaya pedang tajam bersinar keperakan meluruk cepat hendak merajam tubuh si baju biru. ujung pedang masih berada beberapa langkah didepannya tapi hawa pedang sudah mampu mengkoyak pakaian hingga membuat kulit tubuhnya perih dan panas bagai tersengat pecahan bara api.

Meskipun si baju biru masih tetap berdiri sekaku patung kayu tapi ujung alisnya sedikit terangkat pertanda orang ini sadar ancaman maut dalam jurus lawannya. kaki kirinya mundur setindak ke belakang dengan tubuh sedikit membungkuk. pisau bengkoknya yang aneh makin memancarkan cahaya merah darah. sekali sentakan sosoknya melesat bagai sambaran kilat langsung menyambuti lusinan pedang lawannya.

Kilatan sinar pedang yang datang bagaikan hujan itu sesaat membentuk lingkaran putih sebelum menghujam ganas dengan sasaran kepala, leher, dada hingga perut dan paha lawan. hampir tidak ada satupun bagian tubuh yang luput dari incaran belasan mata pedang tajam. dalam puncak kemarahannya Nyi Bindara Sukmani telah kerahkan jurus pedang terhebatnya yang dinamai 'Hujan Pedang Menyambut Rembulan.!'

Suara denting senjata pusaka yang beradu berulang kali terasa memekakkan telinga. cahaya merah darah yang membuat hawa udara sepanas panggangan api saling libas dengan lusinan sinar pedang keperakan. dua kali bentrokan terjadi, dua kali pula tubuh mereka terpental. meskipun jarak pijakan kakinya sama namun jelas tubuh Nyi Bindara Sukmani berubah semakin pucat gemetaran.

Maka pada tebasan ketiga, hanya ada si baju biru yang tegak bertahan. ketua perguruan silat Langit Putih ini tidak sanggup lagi untuk bertahan. perempuan itu roboh terkapar dengan tubuh penuh sabetan luka dan nyaris mengering. dalam keadaan di ambang ajalnya dia masih memaksakan diri untuk bicara.

''Ssu., sung., sungguh tidak kusangka. kaa., kau., kaulah orang yang mem., memiliki sse., sen., senjata puu., pusaka iib., iblis itu. iis., istrimu buu., bukan mati di tanganku aat., ataupun Ki Krembangan. aad., ada orang lain yang mem., membu., nuhnya. kau., kau akan men., menerima aak., akibatnya. Aakh.!'' cuma satu jeritan terputus yang sempat terdengar dari mulut Nyi Bindara Sukmani, karena pisau bengkok lawan telah lebih dulu bergerak menggorok lehernya.

Luka menganga yang memisahkan leher dan kepala itu nampak begitu mengerikan. orang dapat melihat potongan tulang juga rongga tenggorokan si mayat berikut otot dagingnya. biarpun demikian tidak ada tetesan darah yang tertumpah. semuanya menggumpal hangus di mulut luka. jika diperhatikan hanya tinggal kulit di belakang leher Nyi Bindara Sukmani saja yang masih tersambung.

Dendam kesumat seringkali membutakan segalanya. namun biarpun luapan kemarahan telah menggumpal di hati para murid Langit Putih namun kematian sang guru yang terlalu menyeramkan membuat banyak muridnya terjatuh gemetaran. beberapa malah muntah ataupun pingsan. tiga orang gadis yang lebih kuat jiwanya sama hendak melabrak. tetapi hanya dengan tatapan matanya yang semerah darah si baju biru kumal keburu menghardik. ''Menjauhlah dariku.!''

Lelaki tiga puluhan tahun yang bukan lain adalah Panjito, sang suami dari mendiang Lambah Ati ini sengaja tidak mau mendengar atau mencoba untuk mencari tahu siapa pembunuh istrinya yang sebenarnya dari mulut ketua padepokan Langit Putih itu. bagi Panjito semuanya itu tidaklah penting.

Karena dirinya telah menyadari semenjak dia memutuskan untuk kembali menggunakan senjata maut ini demi menuntut balas kematian Lambah Ati, bukan saja pembunuh istrinya yang akan muncul tetapi juga banyak orang rimba persilatan lainnya yang sama ingin merebut senjata pisau iblis dari tangannya.

.............

Tuliskan komentar anda yah😊🙏., Terima kasih.

1
penulismisterius
betull sekalii🐬
penulismisterius
wah seru nihhh

iklan mampir untukmu thor 3🐬
SANG
Cucok banget💪👍
SANG
Keren habis💪👍
SANG
Mantap💪👍
SANG
Berlanjut terus💪👍
SANG
Bintang lima untukmu Thor💪👍
SANG
Aku kasih bintang lima karena aku suka dengan cerita ini. Menarik untuk di baca
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Keren habis👍💪
SANG
Seru nih👍💪
SANG
Mampir lagi Thor👍💪
Jojo Shua
🔥
Santai Dyah
like dan iklan thor
Santai Dyah
satu🌹 untuk mu thor
Santai Dyah
lho kok tamat buat yang baru yaa biar temani bukuku yg baru juga🙏
Santai Dyah
wooo uang emasnya langsung nancep di dinding
Santai Dyah
hhhhhh kasian ki nambang gak dapet bagian uang emas klo gak dpt minta saja
Santai Dyah
wooo hebat si bandar dadu
Sih Winarti
Pemenangnya si Reno 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!