"Dia putriku, Sofia." Begitu kata Judan ketika banyak perempuan bertanya siapa gadis cilik yang sedang bersamanya. Ia tidak ingin banyak orang tahu bahwa sebenarnya gadis cilik itu adalah keponakannya. Hingga akhirnya ia bertemu Runi, seorang Perawat di rumah sakit tempat ia menghabiskan waktu karena ingin melepas trauma buruk karena kematian kakak laki-lakinya yang tak lain adalah ayah dari gadis cilik itu.
"Dia adalah keponakanku," ungkap Judan akhirnya karena tidak mau perempuan itu salah paham. Ini pertama kalinya ia mau membuka diri pada seorang perempuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 11
"Sayang, duduk di sini dengan papa," ujar Judan melambaikan tangan meminta gadis ini datang padanya. Sofia berjalan menuju kursi Judan. Lalu naik ke atas pangkuan pria ini.
"Bagaimana perasaan Sofia pagi hari ini di rumah?" tanya dokter Gio mencoba berbincang.
"Perasaan Sofia senang, Om." Dengan polos mengatakan isi hatinya. Judan tersenyum seraya menatap Sofia.
"Bagus."
"Tadi Sofia juga ketemu sama Tante cantik di sini." Sofia berceloteh dengan riang.
"Tante cantik?" tanya Gio seraya melirik Judan karena ingin tahu siapa yang di maksud gadis ini. Judan mengerjap tidak mengerti siapa yang di maksud Sofia.
"Anu, Tuan. Itu perempuan yang menolong non Sofia saat mimisan waktu itu." Bu Misna langsung menjelaskan karena Gio terlihat bingung.
"Sofia bertemu dengan orang itu saat tidak bersamaku." Judan memberikan tambahan penjelasan pada Gio. Pria ini mengangguk mengerti.
"Oh, ada malaikat yang membantu Sofia rupanya." Gio langsung tanggap. Dia yang tadinya mengira ada gebetan Judan di tempat ini, urung untuk menggodanya.
"Ya. Dia malaikatnya Sofia. Tante itu cantik dan baik. Sofia senang sekali ketemu Tante itu lagi." Tanpa mengatakannya pun, semua sudah bisa membaca kebahagiaan yang terpancar pada wajah gadis ini.
"Itu bagus. Hari ini Sofia tahu ada apa, papa mengajak Sofia datang ke tempat Om bekerja?" tanya Gio mulai membahas soal tujuan mereka ke rumah sakit.
"Emmm ..." Sofia melihat ke arah Judan seraya berpikir. "Om Gio ... mau periksa Sofia ya ..." Rupanya gadis ini mengerti apa yang mau di lakukan mereka ke tempat ini. Judan sudah memberitahu lebih awal pada Sofia tentang dia yang akan kurang enak badan dan butuh memeriksakan diri ke dokter.
"Wah, benar. Tidak salah memang anak papa Judan ini adalah anak yang pintar juga cantik," puji Gio. Sepertinya kata cantik juga membuat bocah cilik ini tersipu. Buktinya Sofia tersenyum ketika Gio mengatakannya. "Kalau begitu, bisa bantu dokter untuk mendapatkan hasil pemeriksaan?" Gio mengajak berinteraksi.
"Oke." Sofia melingkarkan jari telunjuk dan jempol kemudian menyatukannya. Dia merasa senang mendapat tugas dari dokter Gio. Di bantu oleh tenaga medis lainnya, Gio memulai prosedur pemeriksaan gejala leukemia.
***
Judan keluar dari gedung rumah sakit dan menuju ke taman yang dibuat agar menambah asri rumah sakit yang terkesan suram karena banyak duka yang terjadi di dalamnya. Lalu ia menyalakan batang rokok. Diagnosa dokter Gio soal Sofia yang mengidap penyakit yang sama dengan ayahnya, membuatnya terpukul. Dia langsung risau. Itu meresahkan.
"Aku rasa tidak bijak jika kamu menyalakan rokok dalam rumah sakit yang bersih ini," tegur sebuah suara. Judan menoleh cepat. Ternyata itu Runi. Bibir Judan melebar senang.
"Oh, maaf." Judan langsung mematikan api di ujung batang rokoknya. Meskipun dia sangat ingin merokok karena cemas dengan tes yang di jalani putrinya, sekarang dia harus patuh karena teguran perempuan ini. Runi puas melihat puntung rokok itu di injak-injak dengan sepatu pria ini.
"Terima kasih atas pengertiannya," ujar Runi masih dengan sikap formalnya.
"Apa perlu kamu bersikap formal ketika bicara denganku?" tanya Judan mulai ingin mengganggu perempuan ini.
"Aku bicara sebagai tenaga medis di rumah sakit sekarang," jawab Runi. Judan tergelak. Perempuan ini tadinya memang sengaja mendekat untuk menegur pengunjung rumah sakit untuk tidak merokok di area ini, karena area ini seringkali di gunakan sebagai tempat para perawat untuk membawa pasien jalan-jalan. Namun tidak di duga, ternyata itu adalah Judan. Karena terlanjur mendekat, ia pun akhirnya tetap melakukan apa yang tadi ingin ia lakukan.
"Baiklah, baik, nona perawat. Sekarang aku ingin bicara dengan perempuan bernama Runi yang aku kenal," kata Judan.
"Aku punya banyak pekerjaan," tolak Runi.
"Berbaik hatilah padaku. Aku sudah mencoba menahan diri untuk tidak mengajak kamu bicara ketika kamu dengan dokter tadi. Aku tahu situasi. Jadi beri aku waktu untuk bicara denganmu. Lagipula ini bukan di lorong rumah sakit. Kamu pun sedang sendirian." Judan terus mendesak.
"Apalagi yang ingin kamu bicarakan?" Runi akhirnya mengalah.
"Banyak. Kalau kamu memberi aku waktu, aku bisa membicarakan banyak hal padamu. Tentu bukan omong kosong. Aku hanya ingin berbincang tentang hal yang kecil, seperti ... apa kamu ingin makan malam denganku? Atau mau minum kopi denganku?" Semangat Judan tidak surut untuk membuat perempuan ini mengiyakan ajakannya.
"Makan malam lagi?" Runi ingat ia sudah makan malam dengan pria ini di warung tenda waktu itu.
"Kenapa? Kamu ingin melakukan hal yang lainnya?" kejar Judan merasa mendapatkan ide untuk bicara lebih banyak lagi.
"Oh, Tidak," sahut Runi cepat.
"Aku bisa mengundangmu ke rumahku," goda Judan.
"Aku tidak akan mau," geram Runi. Judan tergelak.
"Sepertinya dokter yang bersamamu di lorong tadi terus saja melihat ke arah sini," ujar Judan yang melihat sepasang mata menatapnya tajam dari kejauhan. Runi terkejut. Ia menoleh dan menemukan dokter Ronal tengah melihat ke arahnya dari dalam gedung rumah sakit.
"Hhh ..." Runi menghela napas.
"Dia kekasihmu?" tanya Judan. Runi menatap Judan lurus-lurus. Ini seperti Deja-vu. Pertanyaan yang sama yang pernah di ajukan dokter Ronal ketika pria itu melihat dirinya dengan seorang pria lain. Dua pria ini sama-sama melakukannya.
"Bukan. Pertanyaan yang sama," gumam Runi di kalimat kedua seraya menggelengkan kepalanya.
"Pertanyaan yang sama?" tanya Judan yang menarik senyum bahagianya yang muncul karena mendengar jawaban Runi kalau pria itu bukan kekasihnya. Kini ia mengerutkan keningnya karena kalimat perempuan ini.
"Ah, abaikan." Runi sadar kalau dia tidak seharusnya mengatakan itu.
"Tunggu, apa pria itu pernah menanyakan pertanyaan yang sama padamu?" tanya Judan yang masih ingin tahu.
"Ya. Ketika kamu berada di warung tenda itu denganku. Sudah, aku harus kembali bekerja." Runi berjalan hendak menjauh, tapi tiba-tiba kakinya berhenti melangkah. "Mungkin kamu sedang risau karena ada kabar buruk atau sesuatu semacamnya. Apapun itu, semoga orang yang kamu sayangi itu segera sembuh." Runi hapal sikap seseorang ketika mendengar kabar buruk saat berada di rumah sakit ini.
"Ah, ya ... terima kasih. Dugaan kamu benar. Aku sedang risau, tapi mendengar kata semangat dari kamu itu, aku jadi mendapat energi baru untuk berpikir positif," ujar Judan jujur.
"Oh, syukurlah. Aku pergi," pamit Runi berjalan menjauh dari sana. Judan tersenyum membiarkan perempuan itu pergi.
"Jadi ada juga yang menanyakan itu padamu ... Ternyata dokter itu tertarik padamu juga," gumam Judan merasa mendapatkan tantangan. "Aku langsung mendapatkan saingan untuk bisa dekat denganmu." Padahal ini adalah momen pertama kali bagi Judan dekat dengan perempuan setelah sekian lama tidak peduli dengan semua perempuan. Namun ia langsung mendapatkan lawan yang berat.
...____...
.. jangan sampai mengacaukan hasil tes DNA