NovelToon NovelToon
Diam-diam Mencintai Mantan Suami

Diam-diam Mencintai Mantan Suami

Status: tamat
Genre:Duda / Tamat
Popularitas:245k
Nilai: 4.6
Nama Author: Hasna_Ramarta

Dipertemukan secara tidak sengaja dengan mantan suaminya yang dulu pernah disia-siakan lewat anaknya yang ditolong karena masuk got.

Lalu apa yang akan terjadi setelah tragedi masuk got itu? Akankah ada cinta di hati kedua mantan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Kesal Dengan Raka

     "Papaaaaa," teriak Cila seraya berlari menuju Papanya dan merangkul Raka. Raka memangku Cila lalu diciuminya.

     "Uhhhgg, kepalanya wangi matahari, Papa suka," ujarnya seraya menciumi rambutnya dan menyesap bau khas rambut yang kepanasan terik matahari, pertanda di pantai ujung selatan itu Cila tidak berhenti berpanas-panasan. Di belakangnya Bi Rasmi dan Mang Raga mengikuti.

     "Papa, aku ketemu juga dengan Tante Qisa, tapi Tante yang satunya lagi tidak ikut," celotehnya memberi tahu. Raka tersenyum, sebab dia sudah tahu bahwa Marisa memang tidak ikut ke pantai ujung selatan itu, demi menghindarinya. Namun, alih-alih menghindari, Marisa justru harus dipertemukan dengan Raka di resto hotel.

     "Tante Qisa, makasih, ya, sudah temani aku jalan-jalan di pantai ujung selatan itu," ujar Cila menggemaskan dan sangat pintar seraya menunjuk ke arah ujung selatan pantai tadi.

     "Sama-sama, sayang. Baiklah, tante kembali ke kamar dulu, ya." Marqisa berpamitan seraya manggut pada Raka lalu bergegas secepatnya dari tempat itu.

     Marqisa memasuki kamar hotel, badannya yang lelah dan bau matahari, ingin rasanya segera dibasuh dengan air dingin di dalam kamar mandi hotel itu, setelah tadi puas berpanas-panasan tanpa lelah bersama Cila, di pantai ujung selatan pantai itu. Marqisa masuk, dan mendapati Kakaknya sedang termenung seraya memandangi pemandangan di luar hotel, lewat jendela yang sengaja dia buka lebar-lebar. Sejenak Marqisa menatap Kakaknya yang menatap indahnya pantai dengan tatapan hampa.

     Marqisa tidak menyapa dulu Kakaknya, dia segera ke kamar mandi membersihkan diri yang terasa gerah dan lengket. Setelah menyudahi mandinya, Marqisa masih menyaksikan Kakaknya seperti tadi, menatap hampa hamparan pantai yang indah itu. Akan tetapi pikirannya seperti sedang tidak berada di sana, melainkan jalan-jalan ke tempat lain.

     "Kak," sapa Marqisa mengejutkan Marisa yang sedang melamun. Namun Marisa masih tidak tergoyahkan. "Kakkkk, Kakak melamun,ya?" sapanya laginya sedikit berteriak dan kali ini mampu menyadarkan Marisa.

     Marisa tersentak, lalu menoleh ke arah adiknya dengan jantung yang hampir copot. "Ada apa, kenapa kamu mengejutkan aku? Dasar usil, mulai kambuh lagi usilnya," gerutu Marisa kesal dengan kelakuan adiknya.

     "Ya, ampun. Orang cuma menyadarkan Kakaknya dari kesambet setan, malah dituduh usil." Marqisa duduk di samping Kakaknya seraya menyisir rambutnya yang kini wangi.

"Kak Risa, apa sih yang sedang Kakak pikirkan dengan duduk bengong melihat ke arah pantai itu? Harusnya, Kakak tadi ikut ke pantai ujung selatan itu, seru lho. Aku dan Cila menikmati pantai yang indah itu sampai puas. Rupanya Papanya Cila tidak ikut dalam rombongan. Kak Risa rugi tadi tidak ikut," ceritanya diiringi senyum yang menyungging.

"Kenapa kamu tidak memberitahukan aku bahwa Mas Raka tidak ikut? Coba kalau tadi kamu kasih tahu, mungkin saja aku tidak akan bertemu Mas Raka di resto itu dan tidak terjadi insiden di pantai itu," dumelnya kesal.

"Insiden, insiden apa?" Marqisa bertanya heran. Marisa tidak segera menjawab pertanyaan adiknya, dia rasanya tidak ingin menceritakan lagi kejadian mengesalkan tadi saat di restoran maupun di pantai tadi.

"Kak, insiden apa? Kakak tidak mau cerita, nih? Lagipula apa kepentingan aku memberitahu Kakak kalau Mas Raka ikut atau tidak ke pantai itu?"

"Ada. Kalau saja kamu kasih tahu bahwa Mas Raka tidak ikut bersama Cila, mungkin aku akan tetap berada di kamar ini supaya aku tidak bertemu lelaki judes itu dan dipermalukannya," tuturnya dengan wajah kesal.

"Dipermalukan, dipermalukan bagaimana?" Marqisa heran dan kepo apa yang sebenarnya terjadi dengan Kakaknya saat ditinggal tadi.

"Huhhh, hari ini benar-benar hari yang naas bagiku. Aku pikir dia ikut ke pantai ujung selatan itu, lalu dengan santainya aku bergegas ke resto untuk sarapan karena perutku sangat lapar, tapi tiba-tiba dia datang menghampiri aku, meminta satu meja, dan di meja itu kejadian menyakitkan dan menyebalkan pertama terjadi," tuturnya berkaca-kaca.

"Kejadian pertama apa, Kak? Coba lanjutkan."

"Di sana, Mas Raka menanyakan, apakah aku sudah menikah atau belum? Dia bilang aku pasti mudah mendapatkan laki-laki mengingat aku yang bergaul dengan banyak laki-laki. Lalu yang kedua, karena aku merasa kesal dituding hina seperti itu olehnya, lantas aku ke pantai dekat sini lalu menuliskan sesuatu yang membuat Mas Raka kesal dan marah, karena di pantai itu sedang tidak ramai orang," ceritanya lagi sedih.

"Apa yang Kakak tulis di pasir itu sehingga Mas Raka marah?"

"Aku hanya iseng menulis **I hate u Raka**, yang ternyata tanpa aku ketahui, Mas Raka mengintip apa yang aku lakukan dan yang aku tulis. Mas Raka marah, dia bilang, harusnya bukan kamu yang benci aku, melainkan aku yang benci kamu. Semua dia katakan dengan ketus dan marah," cerita Marisa lagi sambil menangis.

Marqisa meraih bahu Kakaknya bermaksud menenangkan. "Sudahlah, Kak. Itu jangan terlalu dipikirkan. Anggap saja semua pertemuan yang tidak disengaja tadi merupakan skenario Allah untuk menyatukan Kakak dan Mas Raka kembali. Mana tahu habis ini kalian nikah, hi, hi," tukas Marqisa sambil menjauh dari Kakaknya yang dia sadari habis ini pasti nimpuk pakai bantal.

"Kamu ini, aku lagi sedih dan kesal malah bikin candaan yang bikin darah tinggi. Husss, pergi sana, jangan dekat-dekat," usir Marisa benar-benar kesal.

Marqisa tersenyum masih belum puas rasanya menggoda Kakaknya yang kini dilanda galau antara benci dan cinta kepada mantan suaminya.

     Siapapun tiba, jadwal makan siang bagi pengunjung hotel telah tiba. Marqisa sudah siap akan keluar kamar untuk ke resto hotel. Tapi lagi-lagi dia mendapati Marisa yang melamun.

"Kak, ayo, kita makan siang di resto. Ini makan siang terakhir kita di sini, besok kita sudah harus kembali ke kota Jakarta," seru Marqisa mengingatkan.

"Pergilah aku malas, aku lebih baik kelaparan dari pada harus bertemu dengan lelaki judes itu," tolak Marisa.

"Benar nih, nggak mau ketemu lagi Papanya Cila? Ntar nyesel lho kalau tidak bertemu lagi, mana tahu ini pertemuan terakhir," ujar Marqisa penuh provokasi yang sedikitnya membuat Marisa terkejut seolah ada rasa tidak rela kehilangan sosok Raka yang kini mulai memenuhi isi kepalanya kembali.

"Pergilah, aku tidak mau makan siang, selera makanku tiba-tiba hilang," usirnya pelan sembari menahan deburan ombak di dalam dadanya yang sebenarnya tidak ingin ini akhir dari pertemuannya dengan Raka.

"Benar, nih, nggak mau makan siang? Padahal makan siang hotel ini enak-enak lho, rugi kalau nggak makan," rayunya lagi seraya mengiming-imingi dengan makanan enak restoran di hotel ini.

Marisa nampak berpikir keras, makan siang atau tidak?

1
Ririn Nursisminingsih
udah djhina, dicaci kok masih berthan tinggali. ajalah risa pusing bacanya
Ririn Nursisminingsih
minggat ke hotel ke marissa ini kok bodiingggg
Ririn Nursisminingsih
dasar raka dodol kmu laki2 kok ndak jelas bikin kesel
tak gibengae
Ririn Nursisminingsih
ayo digetok rame2 kepalae raka biar otaknya konek
Ririn Nursisminingsih
mulutmu raka klau ngomong
Ririn Nursisminingsih
ya allah risa kasian a bacanya pingin nangis marisa udah berubah raka jg kejam kmu
ayu cantik
suka
Nasir: Mksh byk Kak...
total 1 replies
Muna Junaidi
😍😍😍
Suyatno Galih
ini gak kebalik apa ya dlm poin syarat permintaan, yg mt pernikahan anak siapa???? yg di ksh syarat siapa. wahhh bapak sianak mabok kecubung
ay Susie
piye tow kihhh ,,, dr awal p bab ini kok gitu trs sikap si gandul nie
Atip Suryana
sebesar apapun rasa dendam mu kepada Marisa tapi lebih besar lagi rasa cintamu kepada nya rakaa
Atip Suryana
mampir MBK hasnaa
Nasir: Wahhh trmksh byk Kak, smg suka.
total 1 replies
Nur Hidayah
udah gedhe hukumnya diranjang bikin adiknya cila tp dohalalkan dulu ya
Nur Hidayah
klu dl gagal sekarang bs gol gak ya
Nasir: Lanjut Kka...
total 1 replies
Mustarika
mf kk thor, wa tau sms kk
Nasir: SMS Kak...
total 1 replies
RithaMartinE
luar biasa
RithaMartinE
ku tampolll juga niich mulutnya c'raka 😡
Nasir: Hehhehehe... kesel ya Kak...
total 1 replies
RithaMartinE
sabar ea , Marisa 🤗
Vitriani
Lumayan
Nasir: Makasih byk....
total 1 replies
Indriani Kartini
Ah baru baca novel ini mengapa mata ini ga berhenti menangis sedih bngt, Pi suka dengan ceritanya
Nasir: Makasih Kak...
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!