seorang gadis bernama elana yang selalu ceria dan bertingkah random,jatuh cinta pada dosennya,dia terus mengganggu dosen tersebut hingga membuat sang dosen jerah dan memutuskan menerima cintanya.
namun sesuatu yang tidak pernah terduga terjadi dan membuat elana hancur,dia tidak menyangka jika sebuah fakta bisa membuatnya benar - benar hancur.
"aku harap setelah ini bahkan takdir tidak akan berniat mempertemukan kita"
"aku minta maaf,aku tidak pernah berniat menyakitimu"
elana pergi dengan perasaan hancur,dia meninggalkan tempat itu dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti,hatinya benar - benar seperti di tikam 1000 pisau.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Res_29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balas budi
"Aku baik - baik saja jangan khawatir",ucap evan yang sedang menelfon seseorang
📲 ............
Terdengar suara pintu kamar rawatnya di buka yang seketika membuat evan langsung menoleh dan lihatnya elana masuk ke kamar itu.
"hem... Baiklah Aku akan mengabari lagi nanti",ucap evan seraya memutus panggilan telefon saat elana masuk ke dalam kamar tempat dia di rawat
Pria itu segera meletakkan ponselnya ke atas nakas dan melihat mahasiswi yang selama beberapa hari ini telah merawatnya.
"Kata dokter pak evan sudah bisa pulang hari ini",ucap elana saat sudah sampai di dekat evan
"Baiklah...",jawab evan singkat
Untuk beberapa menit mereka saling diam tak ada yang bersuara,elana memilih duduk di sofa yang ada di ruangan itu sambil memainkan ponselnya.
Dia tengah berbalas pesan dengan marchel sambil sesekali cekikikan sendiri,saling melempar candaan dan ejekan,hal yang memang sering mereka lakukan belakangan ini.
Para mahasisiwa peserta fun camp sudah pulang dari acara tersebut dua hari yang lalu,sehingga elana juga pulang ke rumahnya,dan kembali ke rumah sakit dengan mengatakan pada keluarganya jika pergi ke kampus.
"Apa kau yang akan mengurus pemulanganku?",suara evan sontak membuat elana mengalihkan pandangannya dari layar ponsel,mengangkat kepalanya menatap sang dosen
"Kenapa?apa ada keluarga pak evan yang akan datang?"
"Tidak...",evan menggelengkan kepala dengan wajah datarnya
Elana mengangguk pelan sambil menarik sudut bibirnya kesamping sebelum berkata,"baiklah kalau begitu aku akan urus pemulanganmu",elana lalu kembali menatap layar ponselnya karena belum membalas pesan marchel yang terakhir tadi
Dan sikap elana yang cuek itu membuat evan entah bagaimana tiba - tiba merasa ada sesuatu yang hilang,dia sudah biasa dengan ocehan dan keributan yang gadis itu buat.
Setelah selesai membalas pesan daru marchel,elana berdiri dan menyimpan ponselnya di saku,"aku akan mengurus kepulanganmu ke bagian administrasi dulu"
"Tunggu",evan menghentikan elana yang akan melangkah pergi
Gadis itu menatap sang dosen dengan alis tertaut,"ada apa?"
Evan mengambil dompetnya lalu mengeluarkan sebuah kartu dari sana,"ini... pakai ini untuk membayar biaya perawatanku",pria itu menyodorkan kartu itu ke arah elana
Gadis itu berjalan beberapa langkah lalu mengambil kartu berwarna hitam milik evan dan berlalu pergi ke luar dari kamar perawatan evan menuju ke bagian administrasi.
Hampir dua jam elana baru kembali,evan bahkan sudah memejamkan matanya dan hampir ketiduran saat gadis itu datang.
Elana masuk sambil bersenandung pelan dengan membawa kresek berisi satu bungkus roti dan makanan lain di tangan kirinya,sedangkan tangan kanannya memegang minuman.
"Apakah membayar administrasi tempatnya di mini market?",evan menunjukkan layar ponselnya di mana ada notifikasi tagihan dari kartu kreditnya selain dari rumah sakit,nada bicaranya tidak marah,namun terdengar menjengkelkan
Elana mempoutkan bibirnya sedikit dan menjawab dengan acuh,"kau pikir di ruang admisnistrasi tidak antri apa?aku lapar dan haus,jadi anggap saja sebagai balasan atas jasaku merawatmu",ucapnya sambil mengembalikan kartu kredit milik evan
Sebenarnya jumlah yang pakai elana tidaklah seberapa,tapi entah kenapa evan tiba - tiba ingin mengangkat topik tersebut tanpa tujuan yang jelas.
Setelah siap untuk pulang,elana memesankan evan taxi untuk mengantar pria itu pulang ke kediamannya dengan dia yang ikut serta karena pria itu terkadang masih tiba - tiba terasa pusing mungkin efek racun bisa ular atau obat yang dia konsumsi.
Mereka tiba di apartemnt milik evan setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit,apartemen evan berada di kawasan yang terbilang mahal meskipun bukan di kawasan elite,unit pria itu ada di lantai 8 gedung tersebut.
"Kau mau langsung pullang?",tanya evan setelah dirinya duduk di sofa ruang tamu tempat tinggalnya
Elana tersenyum bodoh dan menjawab,"apa pak evan mau aku temani",ucapnya sambil menaik - turunkan alisnya
"Aku hanya merasa berutang budi padamu karena telah merawatku,aku bisa membuatkanmu minuman dan setelah itu aku akan merasa hutang budiku lunas",jawab evan dengan nada datar
Elana memiliki wajah yang jelek dan menatap evan dengan sinis,'***apa dia pikir tenagaku selama berhari - hari seharga air minum apa?untuk saja aku cinta jadi tidak masalah***',batinnya
Elana segera mengubah ekspresi wajahnya dan berkata,"ah pak evan bisa saja,apa kamu mau membuatkan aku minuman lalu memberikan obat bius di dalamnya,lalu aku tertidur dan bangun di atas ranjangmu,lalu aku menangis dan meminta pertanggung jawabanmu,setelah itu kita menikah dan------ aaakh aduh"
Elana mendapat jitakan di keningnya,karena evan yang tidak tahan dengan ocehan nglantur gadis itu.
"Kau itu bukan hanya bar - bar tapi pemikiranmu sangat liar,kau pasti suka membaca novel yang tidak jelas"
"Aku hanya menebak saja",ucap elana dengan santai sambil mengangkat bahunya,"jadi aku akan di buatkan minum atau tidak nih?"
Evan menghelas nafas lelah lalu segera berdiri dari duduknya,dia hendak pergi ke dapur namun suara elana menghentikannya.
"Tunggu pak,biar aku saja yang membuat minuman,pak evan duduk saja oke",
Elana berlalu pergi sambil berkata,"bukankah seru jika seandainya aku yang memberi obat bius padanya lalu menuduhnya telah meniduriku dan kami menikah... hihihihi sepertinya seru",ucapnya sampai merasa geli sendiri
Evan menatap punggung gadis itu berjalan menjauh sambil menggeleng - gelengkan kepalanya,sungguh elana adalah spesies gadis yang langka pernah dia temui sepanjang hidupnya.
Gadis itu tidak perlu bertanya di mana dapurnya,karena area itu bahkan masih bisa di lihat saat baru saja masuk ke dalam unit apartement milik evan itu.
Elana kembali dengan membawa dua gelas minum,sebenarnya bukan minuman yang seperti apa,dia hanya membawa dua gelas air putih yang satu biasa yang satunya dingin karena telah di campur es batu.
"Ini untuk pak evan yang tidak dingin,pak evan tidak boleh minum es nanti pilek dan batuk",elana meletakkan satu gelas air biasa di hadapan evan
Gadis itu lalu mendudukan diri di sofa sebelah evan dengan tetap membuat jarak,meneguk air dingin yang dia bawa setelah itu meletakkannya di atas meja.
"Ahh... bukankah aku sudah seperti seorang istri yang merawat suaminya sakit?bukankah aku istri idaman?",ucapnya sendiri pada dirinya sendiri sehingga tidak di respon oleh evan,pria itu hanya bisa melihat dengan tersenyum tipis saja.
Elana menoleh menatap dosennya dengan menopang dagunya pada paha,"apa pak evan masih butuh bantuan,jika tidak aku akan pergi dulu"
Evan menaikan satu alisnya merasa aneh jika biasanya gadis itu akan berusaha mendekatinya namun sekarang dia seperti ingin segera pergi dari apartementnya.
"Baiklah... tapi maaf aku tidak bisa mengantarmu"
Elana tersenyum dan mengibaskan tangannya,"tidak masalah aku bisa pulang sendiri",gadis itu berdiri dari duduknya,"baiklah aku pulang dulu,jaga kesehatanmu,bye bye pak evan",ucapnya centil sambil melambaikan tangan dan berlalu pergi dari sana setelah mengambil tasnya.
Evan menatap punggung elana yang berlalu keluar dari apartementnya,terdapat senyuman tipis yang tidak dia sadari terbit di bibirnya.