Terakhir aku merasakan kehadiranmu, saat dia menolong aku dari angin puting beliung di sawah yang sedang ku tanami cabai rawit.
Aku tergapar di sela-sela bedeng tanaman cabai bergelut dengan bedengan yang basah habis diairi air sungai.
Sedang adik keponakanku bergulung-gulung dibawa angin itu hingga ke tepian barisan sawah terakhir di bawah sana.
Ketika itu muncul sekawanan kuntilanak dan pocong dalam gelapnya awan mendung. Hanya keponakanku itu yang bisa melihat. Aku hanya bisa merasakan dari mata batinku.
Terima kasih Pangeran... Kamu selalu menolong, membantu, mengawasi, mengawal dimana saja keberadaanku. Seperti suami tapi bukan suami. Masak iya bersuamikan Pangeran ghaib.
Tampan sih wajahmu dengan mahkota itu, tapi engkau hanya amongku. Among penolong yang dikirim eyang buyutku yang tak lain adalah sunan Lawu.
Amongku Kuwi ULO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon deasy desiant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wewe Gombel di Toilet
Maaf ya kak...Mak author baru sempat update cerita lagi. Author sedang bertapa untuk mendapatkan ilmu kanuragan. Hihihi....
Yukkk lanjut....
......................
"Roro, maaf ya kalau Buk Nik tanya sesuatu."
"Iya, Buk. Apa itu ? Apa mau tanya harga kelapa buat jadah berapa ya gitu ?"
"Hihihi...." Sambil ketawa Bu Niknya. "Bukan, tak cites kamu ditanyain serius kok."
"Hehehehe...mau tanya, apa Buk ? Tampangnya kok serius amat. Raffi Ahmad aja enggak seserius Buk Nik kok..."
"Hayahhh...kamu anak .. sama orang tua belum juga ditanyain ketawanya sudah satu kol ikrak !"
"Iya..iya, Buk. Saya serius. Saya tutup mulut aja deh biar aman."
" Begitu lebih baik. Denger Ro..."
"He ehm...." Dengan mengangguk aku beri isyarat.
"Kamu punya kelebihan, Buk Nik tau. Rata-rata orang punya kelebihan tidak pernah memperlihatkan kelebihannya. Mereka sengaja menyembunyikan atau mereka memang bersikap masa bodoh. Bener gak, Ro !"
"Iya, Buk. Kelebihan Ibuk saya juga tau ..."
"Apa coba ?" Sambil Buk Nik terbelalak.
"Maaf ya buk sebelumnya !"sambil aku mengatupkan kedua tanganku ke depan.
"Iya, apa ? Penasaran aku. Cepetan ayo ngomong...." Buk Nik sambil membakar pesanan jadah bakarku.
"Kelebihan berat badan, Buk..."
"Wooooo....ngaco kamu, Ro. Buka aib orang aja. Kalau itu semua orang juga tau, Ro."
"Hahahaaha....itu suatu kelebihan yang harus disyukuri juga buk. Biar kata kelebihan berat badan yang penting sehat. Nanti kena asap jadah bakar yang seperti sauna itu berat badannya bisa turun, Buk."
"Ahhh....kamu,,,Roro gemblung.... Dasar bocah...!!!" Aku dan Buk Nik tertawa bersama-sama.
Eh yang punya warung kopi Bu Basingah menyeringai dan langsung mendatangi kedai Buk Nik sambil marah besar kelihatannya.
"Hei kalian sedang ngomongin aku ya ?" Dengan berkacak pinggang Bu Basingah.
"Astaghfirullahhal adzim, ada makhluk apa ini disini ?" Teriak Buk Nik.
"Mana makhluknya, Buk...?" Aku kaget ikut berteriak juga.
"Itu Lo di depanmu, Ro ?" Buk Nik mengedipkan netranya.
"Astaghfirullah matanya cemlorot ganas, ada ular di keningnya, Buk ?" Mulut ini kalau ketakutan gak bisa dijaga asal nyelonong aja. Yaa Allah aku kelepasan ngomong.
"Iya benerrrr, Ro. Ganas banget. Ayo lari, Ro....!!!"
"Kenapa mesti takut, Buk ? Sesama orang ora normal mesti berani, buk."
"Heh ...kamu ngomong apa ? Lihat... ular di keningnya bergeliyat !" Buk Nik yang menceritakan gerakan ular siluman yang menempel di jidat pemilik warung kopi itu terasa ngeri sendiri.
"Bismillahirrahmanirrahim..." Ku baca basmalah sambil ku buka mataku. Hehehe terlihat jelas banget orang itu pakai bantuan makhluk tak kasat mata.
Pandangan kami langsung bertabrakan seketika, Basingah melarikan diri hingga ketakutan kembali saat melihat sorot netraku. Padahal aku gak ngapa-ngapain, aku cuman takut lalu aku alihkan membaca bismillah tadi. Huft....dasar orang sok pintar. Orang pintar kok dikibulin...
"Dasar orang aneh, cuma dibacain Basmalah aja udah ngibrit dia !"
"Ro,,,,,itu menurutmu !"
"Iya, Buk Nik. Lihat saya tidak melakukan perlawanan apa-apa kan ? Dia sudah lari secepat kucing dapat mangsa."
"La wong dari dalam kamu terlihat seorang kyai bersurban kok....!!!!" Buk Nik tidak sengaja menggunakan mata batinnya menatap tajam ke arahku.
"Kyai bersurban, siapa itu Buk ?"
"Ya dia yang ada di jiwamu. Yang menjagamu. Apa kamu endak tau ?"
"Enggak buk. Sama sekali tidak tau."
"Kamu bohong, ya ?"
"Wooo....saya orang jujur, Buk. Bisa dites kejujuran saya."
"Iya deh...percaya. ini jadah bakarmu sudah selesai. Tapi aku masih butuh kamu. Jangan pulang dulu !"
"Mau dibantuin apa buk ?" Ku ulurkan uang dua puluh ribuan ke Buk Nik.
"Kamu tadi di kamar mandi lihat, apa ?"
"Saya seperti melihat Wewe gombel di langit kamar mandi, Buk. Tapi samar penglihatan saya, saya kan tidak bisa melihat ?"
"Kenapa tidak bisa melihat ?" Sambil memberikan kembalian uang lima ribuan.
"Karena saya kebeletttt pipis, buk. Ini Lo belum pipis tadi. Dah ya buk, saya pamit. Sudah diujung tombak nih...."
"Wooo dasar bocah sableng. Orang tua belum selesai ngomong sudah main pamit aja...! Padahal pertanyaanku masih banyak."
Roro berlari pamit dan menuju gerbang utama pasar ini. Buk Nik bergumam dasar bocah tidak sombong, tau punya kelebihan seperti tidak sakti saja.... Tapi aku tau siapa kamu, Ro. Gadis baik yang dijaga oleh Sunan Lawu dan Pangeran Sanca.
terusin sampai tamat Thor..🙏
Mampir juga ya😊