Rara adalah gadis cantik di kampusnya. Setiap mata yang meliriknya, pasti langsung jatuh cinta padanya. Tapi sayang, sifat dinginnya itu membuat dia mengacuhkan segala perhatian cowok-cowok yang ada di kampus itu. Sampai suatu saat, dia merasa terus diikuti laki-laki. Setiap pulang menuju asrama, dia selalu ketakutan. Ia sering mendapat telepon gelap. Ia mengatakan bahwa ia telah memiliki tunangan, maksudnya agar tidak ada lagi orang yang akan mendekatinya. Pesta di kampus yang harus dia hadiri, memaksa ia untuk memperlihatkan pasangannya. Kebingungan terjadi saat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Ponsel Rara bergetar. Ia membuka pesan WhatsApp itu.
"Aku gak suka lihat kamu sama cowok itu. Mana mungkin kamu suka sama cowok dewasa. Hahaha.. Pengalihan isu biar aku gak kejar kamu lagi kan."
Rara menyerahkan ponselnya ke Hafiz. Hafiz mulai gerah. "Sudah biarkan saja. Biar aku yang urus selama kamu pulang ke Jakarta."
Mereka berlalu tanpa menghiraukan isi pesan singkat itu.
Hafiz menekan mode pesawat di ponsel Rara, ia tidak mau mengganggu perjalanan. Ia takut Rara akan stress selama perjalanan ke Jakarta.
Rara menghidupkan musik dan segera memakai headset ya.
"Sudah siap?" tanyanya. Kemudian Hafiz memakaikan helm ke kepala Rara.
"Pakaikan sebelah headsetnya ke telingaku. Aku juga mau dengar lagu kamu", Rara melepaskan kembali helm dan memakaikan headset ke sebelah telinga hafiz.
Selera musik Rara sangat unik. Hanya akustik, dentingan gitar yang menghangatkan. Ia selalu mendengarkan alunan musik itu, saat ia ingin tidur.
Hafiz melihat dari kaca spion, betapa cantiknya perempuan yang ada di belakangnya, mesti hanya status palsu, ia sangat senang bisa membantu gadis itu.
"Kenapa berat sekali?" Ia menoleh ke belakang dengan spionnya. Ternyata Rara tertidur. Ia menarik tangan Rara, agar tidak terjatuh di jalan.
"Ra, kita sampai."
Rara masih menyenderkan mukanya di punggung Hafiz. Hafiz membiarkannya, dia takut mengganggu tidur Rara. Ia hanya memastikan, agar Rara nyaman. Ia melihat jam di tangannya. 08.45, artinya masih sekitar 45 menit waktu boarding pass. Hafiz tidak tau apa yang akan ia lakukan. Terkadang badan Rara hampir jatuh. Dengan sigap, Hafiz mengarahkan tangannya ke belakang, dan membenarkan kembali posisi Rara. Ia iseng mengambil gambar Rara yang tidur di punggungnya dengan ponselnya. Ia tersenyum lucu.
" Sudah sampai ya mas" Rara terbangun dari tidurnya.
"Kamu tidur jam berapa? Kok bisanya kamu tidur di motor? Seperti anak kecil saja. Tau gitu, aku pinjam mobil bosku". ucap Hafiz dingin, sambil menggerakkan punggungnya yang sakit karena menahan tubuh Rara.
"Maaf, mas. Aku gak tau." Rara turun dari motor itu, dan menyerahkan helm ke Hafiz.
"Terima kasih ya mas. Aku berangkat."
Rara mengambil punggung tangan Hafiz.
Hafiz terkejut dengan perlakuan Rara. Baru kali ini, ada wanita yang memperlakukan ia begitu, dan ia membiarkan Rara. Biasanya kalau bertemu dengan wanita, ia selalu risih kalau bersentuhan. Orang tuanya sampai takut, kalau Hafiz tidak normal.
"Kabari aku kalau sudah sampai ya" ucap Hafiz sambil melambaikan tangannya.
Mereka berpisah untuk sementara. Kalau normal, mereka akan tetap bertemu kembali selama 3 tahun. Selama itu mereka masih bisa berkomunikasi jarak dekat.
"Lho, nak.. sudah pulang." hafiz berlalu ke kamarnya yang berada di lantai atas.
"Harum parfum wanita" batin ayah.
Bagaimana harum parfum Rara tidak menempel di hafiz, selama dia tertidur, tubuhnya menyandar ke punggung Hafiz.
Hafiz menggulung kemeja yang dipakainya, ia menatap pemandangan di jendela besar kamarnya, bersandar di kaca itu.
"Kenapa aku terjebak dengan bayangan Rara? Sedang apa dia? Pasti pesawatnya sudah berangkat." Dia menatap jauh keluar jendela.
"Status palsu? Kenapa aku mau masuk dalam skenarionya?" Ia terus berpikir dan menatap jauh pandangannya. Mama yang masuk ke dalam kamarnya saja, sampai tidak terdengar langkahnya.
"Nak.. mikirin apa toh cah bagus? Pekerjaan? Atau apa? Cerita ke mama"
Suara mama menghentikan lamunannya.