"Matilah aku!" Bora segera menggetuk kepalanya dan berusaha ingin kabur karena tendangan mautnya baru saja berhasil bersarang pada kaca belakang mobil mewah yang baru saja melewati dirinya.
Penasaran dengan kisah cinta Bora si tomboi dan Auriga CEO Judes yang unyu-unyu sekaligus nyeselin?!
Buruan pantengin kisahnya di sini manteman...
With luv
Othsha ❤❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Othsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KCJ - 11
Bora dan keempat gadis lainnya melihat ke arah asal suara itu. Bora sangat terkejut mendapati Harjun juga berada di tempat itu. Ia merasa sedikit takut bahwa kali ini penyamarannya akan segera terbongkar karena kehadiran Harjun.
"Kamu gapapa, Bor? Apa kamu kenal mereka ini? Apa mereka coba gangguin kamu?!" tanya Harjun setelah berada di samping Bora dan menatap tajam ke arah Chitra dan para sahabatnya.
"Heiii, jangan sembarangan nuduh ya. Kita cuma mau kenalan kok sama Bora. Kita nggak ada maksud apa-apa juga! Wajar dong kalau kenalan, kita nanyain latar belakangnya dia! Lagian kamu siapa sih? Heboh banget ngurusin urusan kita?!" ujar Rinka yang tak terima dengan perkataan Harjun.
"Udah ayo pergi dari sini, Bor! Ngapain sih ngeladenin cewek-cewek kayak gini?! Buang waktu aja!" ajak Harjun. Bora yang mengingat bahwa Ia datang bersama Auriga terpaksa menolak ajakan dari sahabat kecilnya itu.
"Sorry Jun, aku datang bareng pacar aku," ujar Bora dengan terpaksa yang membuat Harjun begitu terkejut. Ia tak menyangka bahwa sahabat kecilnya sudah mempunyai kekasih. Chitra yang mendengar perkataan Bora itu mencibir dan menatap Bora penuh kebencian.
Tiba-tiba ada suara yang terdengar dari belakang mereka.
"Lepasin tangan kamu dari tunangan aku," ujar Auriga dingin yang membuat Bora segera menepis tangan Harjun dengan pelan. Harjun yang mengalami kejadian itu menatap tak percaya ke arah Bora, ia tak menyangka Bora akan menepis tangannya. Tapi yang lebih membuatnya tak menyangka adalah orang yang menjadi kekasih dari sahabatnya itu adalah musuh bebuyutannya, seorang Auriga Dipta.
****
Auriga menatap tajam ke arah Harjun dan keempat gadis lain yang berada di dekat Bora. Ia tak menyangka bahwa Chitra dan ketiga sahabatnya ikut menghadiri pesta itu. Tetapi yang paling mengejutkannya adalah kehadiran Harjun, musuh bebuyutannya yang ternyata telah kembali dari luar negeri.
Auriga tak menyangka Bora dan Harjun saling mengenal. Ia bertanya-tanya dalam hati, bagaimana kedua orang itu bisa bertemu, sejauh apa hubungan mereka, apakah kejadian saat Bora melempar mobilnya dengan batu adalah unsur kesengajaan yang diciptakan oleh Bora dan Harjun untuk memata-matai Auriga.
Setelah beramah-tamah sebentar dengan Ethan dan koleganya yang lain Auriga pamit undur diri dan mengajak Bora untuk pulang. Di sepanjang perjalanan hanya kesunyian yang menemani mereka. Auriga sama sekali tak membuka mulutnya, ia bahkan menyuruh Bora untuk duduk di depan bersama supir keluarganya.
Bora merasa bingung mengapa Auriga menjadi sangat dingin kepadanya, padahal ia sama sekali tak merasa melakukan kesalahan apapun. Bora ingin menjelaskan semuanya, tetapi sepertinya Auriga berada dalam mode tak ingin mendengarkan perkataan siapapun.
Auriga hanya duduk sambil melipat tangan dan kakinya, serta menutup matanya. Bora hanya menghela nafas berat saat melihat tingkah laku Auriga yang tak pernah bisa ditebaknya. Auriga itu seperti angin, ia selalu berubah arah semaunya. Kadang dingin, kadang hangat, tak ada sikapnya yang bisa diprediksi dengan tepat oleh Bora.
Kali ini apakah akan ada badai? batin Bora yang mendadak merasa lelah.
****
" Jelaskan kamu punya hubungan apa dengan Harjun dan bagaimana kamu bisa terlibat obrolan dengan perempuan-perempuan itu?" tanya Auriga dingin saat mereka berdua sudah duduk berhadapan di apartemen Bora.
Bora pun menjelaskan semuanya secara detil. Auriga mencoba mencari kebohongan di mata Bora, tetapi ia tak bisa menemukannya. Auriga masih berdiam diri dan menunggu Bora menyelesaikan semua perkataannya.
"Jauhi Harjun maupun Chitra! Jangan pernah bersosialisasi dengan mereka lagi! Jangan pernah menemui Harjun selama kamu masih jadi kekasih kontrak aku! Paham kamu!" tegas Auriga yang membuat kesabaran Bora habis kali ini.
"Stop memerintah aku seenak perutmu, Pak Auriga yang terhormat! Aku bukan kacungmu! Paham! Aku akan melakukan perintahmu yang tak berhubungan dengan urusan pribadiku!" teriak Bora yang membuat Auriga terkejut selama sekilas lalu.
Auriga mencibir lalu berdiri menjulang di depan Bora yang membuat Bora merasa terintimidasi. Auriga tanpa aba-aba, mencengkeram dagu Bora dan mendekatkan wajahnya ke arah Bora.
"Selama kamu belum bisa melunasi hutangmu, bahkan kehidupanmu adalah MILIKKU! Paham kamu!" desis Auriga penuh dengan aura kemarahan yang membuat Bora bergidik ngeri.
Auriga meninggalkan Bora yang terpaku di tempat, tatapan gadis itu terlihat kosong. Saat ia mendengar pintu tertutup, tubuh Bora luruh ke lantai. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia mengutuki nasibnya yang begitu malang karena harus bertemu dengan seorang lelaki seperti Auriga Dipta. Seorang pria berhati dingin dan tak punya hati nurani.
Ia tahu bahwa ancaman Auriga tadi bukanlah ancaman kosong. Ia bisa melihat kilatan amarah yang terpancar dari netra Auriga kala menatapnya tadi. Ia tak tahu seberapa besar kemarahan itu, tetapi dari wajah Auriga yang menggelap ia tahu bahwa perasaan itu adalah kekelaman yang sangat dalam.
Bora berdiam diri di sudut ruangan kamarnya setelah tangisnya mereda.Ia menatap ke kejauhan malam yang sedang disapa hujan malam itu. Kekelaman malam itu, mewakili perasaan Bora. Ia melihat ke arah ponselnya dan mendapati sepuluh panggilan tak terjawab yang berasal dari Harjun.
Malam itu, ia sedang tak ingin menjelaskan apa pun, kepada siapa pun lagi. Satu Auriga saja sudah cukup menghabiskan energinya. Pikirannya juga sudah seperti benang kusut, ia tak ingin menyeret Harjun masuk dalam lingkaran masalahnya.
Ahhh, ternyata kemarin itu hanyalah ketenangan sebelum badai, ya Tuhan! Kenapa nasibku selalu sial, seolah kebahagiaan enggan menemaniku?! batin Bora. Air mata kembali membasahi pipinya sederas hujan yang turun malam itu.
Bora masih mengingat wajah Chitra dan para sahabatnya yang sejak awak sepertinya ingin menjatuhkan dirinya.
"Mantan kekasih, si kejam Auriga! Perpaduan yang cocok drakula penghisap darah dan mak lampir!" gumam Bora entah pada siapa sembari menghapus air matanya yang membuat pandangan gadis itu menjadi buram.
Ia juga mengingat percakapan yang terjadi di antara mereka. Percakapan timpang yang sangat menjengkelkan. Percakapan dirinya dan keempat gadis tadi hanya semakin membuat dirinya ingin mundur dari pekerjaannya itu. Ia tak ingin menemani Auriga ke acara seperti itu lagi, atau harus menemani Maharani ke arisan atau acara sosial dengan para ibu dari golongan atas itu.
Semua pertemuan itu hanya akan mempercepat terbongkarnya penyamaran Bora. Ia tak ingin membuat keluarga Dipta atau dirinya secara pribadi menjadi malu. Ia juga tak bisa menanggung kemarahan keluarga Dipta yang lain bila mereka tahu bahwa dirinya hanya wanita pembohong, yang rela menjadi kekasih kontrak Auriga demi uang.
Apa yang harus aku lakukan, ya Tuhan? batin Bora sembari menjambaki rambutnya karena kepenatan, rasa sedih dan bersalah yang menggelayuti benaknya saat itu. Ia mengetuk-ngetukkan kepalanya ke meja, berharap otaknya akan bekerja sama dengan jiwanya kali ini.
Ia terus berpikir untuk mencari solusi terbaik dan tercepat agar bisa keluar dari masalah yang membelitnya.
"Kabur???" ujar Bora tiba-tiba yang membuat Bora bisa melihat secercah harapan di tengah kegelapannya. Namun harapan itu redup seketika, ketika melihat pesan yang masuk ke ponselnya.
JANGAN BERPIKIR UNTUK KABUR, KARENA AKU PASTI AKAN MENEMUKANMU DENGAN MUDAH! PAHAM!
Siallll!!!
****
mampir juga yaa di karyaku.....
terima kasih /Smile/
Othsha berterima kasih banget buat dukungannya. Semoga dimana pun kakak berada tetap sehat, bahagia dan sukses ya.
Mohon dukungannya untuk karya Othsha lainnya bila berkenan ya....
Sekali lagi mamaci banyak. Maaf juga engga bisa balas komennya satu per satu ya..🥰🥰🥰🥰
Apakah itu Auri,yng manggil Bora???
Pantas saja Auriga tidak menyukai Harjun,,,,,bnyk hal yng membuat bertanya2 ttng sepak terjang Harjun yng bisa bermusuhan dngn Auriga
Andai iya,,,untung cpt diajak pergi sblm semuanya bubrahh!!