Kedatangannya ke Indonesia membuat seorang Kay Cyrano Agesislou pemilik perusahaan pelayaran terbesar di Yunani terobsesi terhadap seorang gadis mungil yang dia temui di sebuah pelabuhan.
Sejak saat itulah Kay mencari tahu segala tentang gadis yang baru menginjak usia delapan belas tahun itu. Jillian Lakhaesa nama itu terdengar sangat indah ketika Kay mendengarnya.
Mendengar gadis itu selau diperlakukan tidak manusiawi membuat Kay ingin Jillian berada disisinya. Tapi Kay ingin gadis itu sendiri yang datang menghampirinya.
Cinta dan obsesi menjadi satu membuat Kay melakukan apapun untuk membuat Jillian menjadi miliknya.
Banyak hal yang terungkap dalam hidupnya membuat Jillian merasa dunia memang benar-benar mempermainkannya.
xxxx
Hai, ini adalah cerita pertama yang aku buat.
Maaf jika masih terdapat banyak kesalahan dalam pengambilan dan penulisan kata.
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ssintia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter | 10
+
+
Lily merebahkan badannya dengan nafas yang tidak beraturan dengan wajah yang memerah di bawah sebuah pohon. Gadis itu juga tidak sadar bahwa di sampingnya Zoe sama-sama berbaring.
Memejamkan matanya sejenak berharap nafasnya cepat stabil dengan tangan yang dia simpan di atas keningnya menghalau sinar matahari yang cukup terik siang ini.
Kay yang melihat dua kesayangannya hanya tersenyum lalu berjalan mendekat kearah keduanya. Kay melihat nafas Lily yang sudah tenang sepertinya gadis itu tertidur, sedangkan Zoe hanya membaringkan badannya seraya memandang Lily.
Mungkin harimau itu masih mau bermain dengan gadis di sampingnya.
Dengan perlahan Kay mengangkat tubuh Lily dan membawanya masuk ke dalam. Dengan perlahan dia membaringkan tubuh Lily di sofa yang ada diruang tengah. Bagaimana pun tubuh gadis itu penuh keringat dan dia tidak ingin membuatnya tidak nyaman dengan berbaring di kasur.
Kay meninggalkan Lily yang tertidur karena sebentar lagi dia akan pergi ke kantor. Selama ini Kay datang ke kantor sesuka hatinya bahkan sering kali dia tidak datang. Ya karena pekerjaannya tidak melulu berkutat di depan komputer.
Selesai mandi Kay mematut dirinya di depan cermin seraya memakai kacamata hitam yang sesekali dia pakai karena laki-laki itu lebih sering memakai lensa kontak berwarna hitam untuk menutupi warna mata aslinya.
Tidak banyak orang yang tahu warna asli bola matanya yang dia sendiri kurang menyukainya. Bola mata ini dia dapatkan dari seseorang yang paling dia benci.
Menuruni tangga dengan sedikit cepat, Kay tidak mendapati keberadaan Lily di ruang tengah. Kay tidak peduli dan langsung menuju mobilnya.
“Hai Dux.” Kay telah mendudukkan dirinya di balik kemudi.
“Halo Mr.Cyrano apakah anda ingin ke suatu tempat?”
“Ya, ke kantor.”
“Baik Mr.Cyrano perintah di laksanakan, sebelumnya apakah anda ingin singgah di suatu tempat, sudah waktunya makan siang.” Terdengar suara mesin yang menyala lalu mobil keluar meninggalkan mansion.
“Pesankan makanan biasa aku ingin ketika sampai di kantor sudah ada.” Kay fokus pada layar enam inch yang berada di tangannya.
“Baik Mr.Cyrano.”
Sebelum keluar dari mobil Kay kembali memakai kacamata hitamnya yang sempat dia lepas tadi.
Ketika masuk ke dalam kantor, orang-orang serempak memberikan salam dengan membungkukkan sedikit badan pada Kay yang tetap berjalan dengan wajah dinginnya.
Tiba di ruangannya Kay segera menghempaskan badannya di sofa yang di depannya sudah ada makanan pesanan Kay.
“Dux.”
“Butuh sesuatu Mr.Cyrano.” Suara Dux terdengar dari sebuah alat berbentuk bulat yang di meja kerjanya.
“Apakah makanannya aman?”
“Sudah di pastikan makanan itu aman Mr.Cyrano, apakah anda ingin menggantinya?”
“Tidak perlu.”
“Baik Mr.Cyrano.”
Setelah menghabiskan makanannya, Kay langsung berdiri menuju mejanya karena banyak berkas yang harus dia periksa.
“Mr.Cyrano seseorang ingin bertemu denganmu.”
“Biarkan dia masuk.” Lalu pintu di depannya terbuka secara otomatis.
“Ada apa Elger.” Tanya Kay tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas yang ada di tangannya.
“Saya membawa hal yang tuan minta.”
Kay membuka sedikit kacamatanya seraya menaikkan sebelah alisnya.
“Letakkan.” Kay menunjuk meja di depannya.
“Baik tuan.” Elger menyimpan barang itu tepat di depan Kay hingga menutupi kertas yang sedang laki-laki itu baca.
“Sebelum protes ada baiknya tuan baca isinya terlebih dahulu.” Jika saja dia tidak membutuhkan kemampuan Elger sudah dari lama Kay ingin membunuhnya.
Kay membuka map yang Elger bawa dengan cepat dan isinya cukup membuat Kay sedikit terkejut.
“Kau tidak salah informasi.” Kay menatap Elger yang berdiri di depannya.
“Tidak tuan, setelah menyelidikinya dengan teliti saya bisa memastikan bahwa yang tuan baca memang asli.” Elger melihat wajah tuannya yang senang meskipun laki-laki itu mencoba menutupinya tapi Elger bisa melihatnya dengan baik.
“Rupanya takdir memang berpihak padaku, benar kan Elger.”
“Sepertinya begitu tuan.”
“Siapkan penerbangan ke New York besok.”
“Tapi tuan, apakah anda yakin.”
“Ya.” Kay menatap mata Elger tajam.
“Keluar aku ingin segera menyelesaikan tumpukan kertas ini.”
“Baik tuan.”
Kay kembali fokus pada pekerjaannya yang ingin segera dia selesaikan sebelum pergi. Kay sudah tidak sabar menanti kejutan yang akan terjadi.
Waktu sudah menunjukkan malam hari dan bertepatan dengan Kay yang telah menyelesaikan pekerjaannya. Kay memundurkan kursi yang di dudukinya lalu meregangkan badannya yang pegal.
“Dux.”
“Ya Mr.Cyrano.”
“Segera siapkan mobil.”
“Baik, perintah di laksanakan.”
Kay kembali ke mansion dengan cepat karena jaraknya dari kantor pun memang tidak terlalu jauh jadi tidak memakan waktu.
Setelah selesai membersihkan dirinya Kay berjalan menuju kamar Lily, karena dari tadi dia tidak mendapati keberadaan gadis itu. Membuka pintu secara perlahan Kay tidak menemukan Lily di dalamnya. Kemana sebenarnya gadis itu pergi.
Kay kembali ke kamarnya untuk mengecek CCTV, setelah menemukan di mana keberadaan Lily, Kay segera keluar untuk menghampirinya.
Kay berjalan menuju belakang Mansion nya, di sana terdapat sebuah kolam renang yang di sampingnya terdapat sebuah perpustakaan yang memang Kay persiapkan jika dia menginginkan suasana yang tenang.
Lily yang sedang membaca sebuah buku langsung terlihat oleh Kay karena kaca perpustakaan itu transparan. Kay berjalan secara perlahan menuju tempat gadis itu berada. Saat Kay sudah berada di dalam pun gadis itu belum menyadari keberadaan orang lain selain dirinya saking fokusnya pada buku yang ada di tangannya.
Karena Lily duduk di lantai dengan menyandarkan punggungnya ke rak buku, Kay lalu berjongkok di depannya seraya mengintip buku apa yang sedang Lily baca membuat gadis itu terlonjak kaget hingga buku yang berada di tangannya terjatuh.
“Kay! Sejak kapan kau berada di sini?” Tanya Lily seraya mengambil kembali buku yang terjatuh.
“Sejak kau membaca buku yang ada di tanganmu.” Jawab Kay seraya menunjuk buku di tangan Lily dengan dagunya.
“Tidak mungkin, kau baru datang, rambutmu juga masih basah, kenapa tidak di keringkan dulu nanti bisa pusing.” Lily menatap Kay yang ada didepannya.
“Selain bodoh, kau juga cerewet.”
“Aku, menyesal bicara seperti itu.” Lily memalingkan wajahnya.
“Kau jujur sekali sayang.”
“Berhenti memanggilku dengan sayang, babe,baby dan hal semacam itu, telingaku geli mendengarnya.”
“Tidak bisa, kau harus terbiasa mendengar panggilanku padamu.” Kay menarik dagu Lily hingga wajah keduanya berhadapan kembali, bahkan jarak antara keduanya hanya beberapa centi lagi.
“K-kay matamu.” Lily baru menyadari bola mata Kay yang berbeda.
“Apakah kau memakai softlens?” Tangan Lily terulur menyentuh bawah mata Kay membuat laki-laki itu membeku sesaat sampai kemudian dia berhasil menguasai dirinya kembali.
“Tidak.” Kay memilih untuk jujur pada gadis di depannya.
“Ini mata aslimu?”
“Ya.”
“Indah.” Lily malah mengelus bawah mata Kay membuat laki-laki itu tidak bisa menahan lagi hal yang sedari tadi ingin dia lakukan.
Kay segera menarik tengkuk Lily lalu menyatukan bibir keduanya. Ciuman Kay yang menggebu-gebu membuat Lily kewalahan, gadis itu memukul-mukul bahu Kay tapi laki-laki itu seolah tidak terpengaruh. Tidak ada cara lain selain membalas ciuman laki-laki di depannya.
Hal ini memang sudah beberapa kali terjadi. Kay itu, jika Lily terus memberontak maka laki-laki itu akan sulit melepaskannya sedangkan jika Lily menurut Kay akan mengakhirinya dengan cepat.
Seperti saat ini, Kay melepaskan tautan bibirnya tanpa melepaskan jarak antara keduanya. Benang saliva terlihat setelah bibir Kay memberikan ******* kecil di bibir Lily.
Kay berdiri lalu menarik tangan Lily dan membawanya menuju sofa yang berada tidak jauh dari keduanya. Kay menghempaskan badan Lily lalu menindih tubuh gadis itu dan mempertemukan kembali bibir keduanya.
Lily mengalungkan tangannya pada leher Kay ketika laki-laki itu mulai memainkan tangan di tubuhnya. Lily berusaha menahan ******* yang ingin keluar dari mulutnya.
Kay melepaskan bibirnya lalu turun dan memberikan beberapa kecupan di leher Lily. Kay mendongak lalu melihat wajah gadis di bawahnya yang memerah.
“Jangan di tahan baby.” Suara Kay terdengar parau lalu membenamkan kembali wajahnya pada leher Lily.
Dan benar saja suara indah terdengar dari mulut Lily membuat Kay menyeringai di sela-sela kegiatannya.
Tangan kanan Kay masuk kedalam blouse putih yang Lily kenakan. Dengan sengaja Kay memutar-mutar jari telunjuknya di sekitaran pusar Lily membuat gadis itu menggelinjang geli dan juga merasakan sensasi aneh. Sedangkan tangan yang satunya lagi Kay gunakan untuk mengelus bibir merah alami Lily.
“Kay berhenti.” Tatapan mata Lily yang sayu justru membuatnya terlihat seperti ingin sebaliknya.
Karena tidak tahan, dengan kekuatannya Kay merobek baju yang Lily kenakan membuat gadis itu ingin protes tapi tidak bisa karena mulutnya yang kembali di bungkam.
Tangan Kay berada di punggung Lily mencari kaitan kain tersisa yang menutupi tubuh gadis yang ada di bawahnya.
Klik
Kay segera melemparkan barang di tangannya lalu segera memainkan mainannya.
Lily mendesah hebat ketika merasakan sensasi yang baru pertama kali dia rasakan karena memang baru kali ini Kay bertindak lebih jauh. Matanya melirik Kay yang sedang bermain membuat Lily memalingkan wajahnya.
Kay bergantian memainkan benda di depannya karena dia tidak ingin mereka merasa tidak adil. Sedangkan Lily sudah tidak tahan lagi, tangannya meremas rambut Kay membuat laki-laki di atasnya mengaduh karena Lily menjambak rambutnya.
Dan benar saja di tangan Lily terdapat beberapa helai rambut Kay membuat laki-laki itu mendelik.
“K-Kay, maaf.”
+
+
...°B e y o n d T h e S e a °...
..."Slowly"...
sukses otor, dan semangat 💪😘