Ini adalah novel religi pertamaku. Banyak banget yang butuh perbaikan sana sini. jika ada yang tidak sesuai, othor terima banget masukannya.
Tiba-tiba dilamar oleh seorang Ustad, membuat Arin berpikir dan melakukan berbagai cara untuk membatalkan pernikahan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
Aku menyunggingkan senyum usai melihat pemandangan tak terduga antara Huda dengan bocah tak dikenal di playgroup tersebut. Tak kusangka jika ternyata pria itu sudah mempunyai anak. Padahal aku masih ingat dengan jelas, saat Huda dan keluarganya datang melamar ke rumah, pria itu mengaku sebagai bujang dan belum pernah menikah.
Kalau belum pernah menikah, kenapa Huda tiba-tiba mempunyai anak? Itu artinya dia sudah berbohong, kan? Artinya keluarganya juga sudah berbohong mengenai status Huda yang ternyata sudah mempunyai anak.
"Rin, kenapa bocah itu manggil Mas Huda ayah, ya? Bukannya harusnya Mas Huda itu masih lajang?" tanya Wirda ikut penasaran dan bingung dengan hal tak terduga yang ia lihat.
Aku sendiri juga nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi aku bisa memanfaatkan hal ini untuk membatalkan pernikahanku dengan Huda.
"Aku juga nggak tahu, Wir. Aku beneran nggak nyangka, ternyata Huda kayak gitu. Ternyata dia udah bohong sama aku dan juga keluarga aku. Dia bilangnya dia bujang. Tapi ternyata dia punya anak," sahutku.
Aku segera mengambil ponsel untuk mengambil banyak gambar dan juga video Huda serta bocah yang memanggilnya ayah itu. Dengan foto-foto dan video ini, aku akan membuktikan pada kedua orang tuaku kalau Huda bukanlah sosok mantu sempurna seperti yang mereka kira.
"Lihat, tuh! Dia kelihatan akrab banget sama bocah itu! Dan bocah itu juga manggil dia ayah. Udah jelas kalau bocah itu pasti anaknya, kan? Kalau cuma keponakan, ngapain bocah itu manggil ayah?" seruku mencoba mencari dukungan dari Wirda.
Wirda juga ikut terkejut dan masih tak percaya dengan apa yang ia lihat. "Tapi mungkin aja kamu salah paham, Rin."
"Salah paham gimana, `ir? Kamu juga lihat sendiri, kan? Aku nggak ngada-ngada. Pokoknya aku bakal tunjukin ini ke Bapak sama Ibuku. Dengan ini, aku pasti bisa batalin pernikahan aku sama Huda!"
Tak sia-sia saja aku jauh-jauh datang ke Tuban Sari. Meskipun aku nggak mendapatkan info dari orang lain, tapi aku justru mendapatkan kejutan tak terduga dengan mata kepalaku sendiri.
Bapakku pasti nyesel banget udah muji-muji Huda selama ini. Bapak juga pasti nyesel banget udah terhuda-huda selama ini dan nyuruh-nyuruh aku buat nerima lamaran dari Huda.
Nyatanya apa? Huda ternyata cuma laki-laki pendusta. Kalau nggak duda, Huda pasti pria yang ingin beristri dua.
Apalagi orang-orang yang terlalu agamis kan biasanya emang suka poligami. Pasti Huda sengaja lamar aku buat jadiin aku sebagai istri kedua!
Tak hanya menyiapkan bukti foto serta video saja, aku juga harus menyiapkan saksi mata. Untungnya aku membawa Wirda. Jika Wirda mendukung semua pernyataanku, Bapak sama Ibu pasti nggak bisa menyangkal lagi dan akan percaya dengan semua perkataanku tentang Huda.
"Ayo kita pulang sekarang, Wir! Aku harus cepet-cepet kasih tahu Ibu sama Bapak!" ujarku pada Wirda.
Sekilas kulihat ekspresi wajah Wirda nampak aneh. Tapi aku tak mau mengambil pusing. Yang jelas, aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan sekarang. Dengan video ini, aku akan mengungkapkan semua kejelekan Huda di depan kedua orang tuaku yang selalu memuja-muja pria itu.
Huda, ternyata kamu nggak sealim yang aku kira. Ternyata di balik tampang soleh itu, kamu cuma seorang laki-laki pendusta yang tega berbohong hanya demi mendapatkan wanita.
Hari ini juga, aku akan menjatuhkan reputasi kamu di depan kedua orang tuaku. Aku akan bikin kamu malu dan nggak berani muncul lagi di rumah orang tuaku.
****
"Kamu mampir ke rumahku dulu, ya? Aku butuh kesaksian kamu. Takutnya nanti Bapak nggak percaya kalau aku nggak bawa saksi," ucapku pada Wirda.
"Iya, Rin."
Aku segera memacu motorku dengan kecepatan tinggi. Hatiku benar-benar senang saat ini. Setelah aku mengungkapkan semuanya, bapakku pasti akan langsung membatalkan lamaran dari keluarga Huda.
Setelah ini aku pasti bisa hidup bebas. Setelah ini, aku bisa melakukan apa pun yang aku mau. Aku bisa lepas dari pernikahan, dan aku bisa bebas mencari jodohku sendiri di luar sana.
Tiga puluh menit kemudian, akhirnya aku pun sampai juga di rumah kedua orang tuaku. Aku segera berlari masuk ke dalam, dan menjumpai Satria yang menyambutku di depan pintu. "Satria? Kamu main sama siapa?" tanyaku sembari menggendong bocah kecil itu.
Tak lama kemudian, ibuku pun muncul dari balik pintu dan menyambut kedatangan Wirda. "Eh, ada Wirda! Sini masuk, Nak!" sapa ibuku pada Wirda.
"Makasih banyak, Tante!"
Aku dan Wirda pun duduk di ruang tamu bersama dengan ibuku. Setelah bermain dengan Satria sejenak, aku pun mulai memasang wajah serius dan ingin segera menunjukkan hal yang sudah aku temukan pada kedua orang tuaku.
"Bapak ada di rumah kan, Bu?" tanyaku pada ibuku.
"Ada, kok. Tuh ada di belakang."
Aku menarik nafas dalam-dalam. "Aku pengen bicara serius sama Bapak dan juga Ibu."
Melihat ekspresi wajahku yang tak biasa, ibuku pun mulai keheranan. "Mau ngomong apa?"
"Tolong panggilin Bapak dulu, Bu!"
Aku, Wirda, dan juga kedua orang tuaku kini sudah berkumpul di ruang tamu. Suasana tegang pun mulai menyelimuti ruangan tersebut dan dari kulihat Bapak dan Ibu saling pandang, dan sepertinya kebingungan dengan maksud serta tujuanku mengumpulkan mereka.
"Ada hal penting yang ingin aku bahas," ucapku mulai membuka suara.
Aku mengeluarkan ponselku dan segera mencari foto-foto dan video yang sudah aku ambil sebelumnya saat tak sengaja melihat Huda. "Tolong Bapak sama Ibu perhatikan baik-baik. Ini menyangkut masa depan aku. Untung aja aku udah tahu lebih awal," imbuhku.
"Kamu mau ngomong soal apa, sih?" tanya bapakku sepertinya mulai tidak sabaran.
"Bapak sama Ibu jangan terlalu kecewa, ya? Kenyataan memang pahit. Tapi, kita harus belajar menerimanya." Aku pun menyerahkan ponselku dan menunjukkan foto serta video tentang Huda pada kedua orang tuaku.
"Lihat ini baik-baik! Tadi aku nggak sengaja ketemu sama Mas Huda. Dan aku melihat pemandangan tak terduga."
Kedua orang tuaku pun mulai fokus menata ponselku. Mereka juga mendengar dengan jelas saat aku merekam seorang bocah kecil yang memanggil Huda dengan sebutan ayah.
"Aku melihat Mas Huda dengan mata kepalaku sendiri. Kalau Bapak sama Ibu masih nggak percaya, aku juga udah bawa saksi. Nggak cuma aku aja yang lihat Mas Huda, tapi Wirda juga lihat Mas Huda sama anak kecil itu," terangku panjang lebar.
Bapak dan ibuku hanya diam dan masih fokus menatap layar ponsel. Selagi mereka masih memandangi Huda serta anak kecil itu, aku pun mulai beraksi mengatakan semua hal jelek tentang Huda.
"Aku beneran nggak nyangka. Ternyata orang yang dibangga-banggain sama Bapak Ibu, aslinya cuma seorang pembohong. Dulu Mas Huda sama keluarganya bilang ke kita kalau dia masih bujang, kan? Tapi nyatanya apa? Dia udah punya anak! Kalau dia punya anak, udah pasti dia punya istri dong!" seruku dengan semangat membara.
"Berani banget cowok itu udah punya anak istri, tapi malah melamar gadis yang masih berusia belia kaya aku? Dia ini mau cari istri baru apa gimana, sih? Apa dia emang niat pengen punya dua istri? Atau dia emang duda anak satu yang pengen cari istri buat anaknya, sampai dia ngaku-ngaku jadi bujang waktu ngelamar aku?"
Bapak dan ibuku masih diam tanpa berkomentar. Akupun makin percaya diri melanjutkan semua unek-unek mengenai Huda.
"Setelah melihat kelakuan Mas muda yang seperti ini, aku makin yakin kalau dia itu bukan sosok calon suami yang baik. Jadi, aku mohon sama Bapak Ibu, kalau Bapak Ibu masih sayang sama aku, kalau Bapak Ibu masih peduli sama masa depan aku, tolong batalin lamaran Mas Huda ke aku sekarang juga!" tegasku.
"Aku nggak mau dilamar sama cowok kayak gini! Aku nggak mau nikah sama dia! Aku nggak mau nikah sama cowok tukang tipu!"
***
semangat up nya thor 💪💪💪