Bagaimana jadinya jika istri sah menjadi seorang pelakor, hanya karena ingin balas dendam pada sang suami?
Kaira wanita malang yang dibunuh dan dikubur hidup hidup oleh suaminya, kini menaruh dendam yang tak bisa di kendalikan.
Setelah pembunuhan itu terjadi, kaira masih bisa bertahan hidup karena Gina, sang sahabat yang menolongnya di waktu yang tepat.
Jika Gina tak datang mungkin Kaira sudah mati dengan perut yang ditusuk pisau dan suluruh tubuh yang tertibun tanah.
Setelah kejadian pembunuhan, Kaira kini merubah diri, ia sengaja melakukan operasi wajah dan seluruh badan agar terlihat seperti gadis pada umumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Arip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Suara ponsel kembali berdering, aku mulai melihat kembali pesan dari Angga, (Saya sudah ada di depan rumah.)
Terkejut melihat pesan dari Angga yang mengatakan. Jika ia sudah ada di depan rumah, sedangkan aku belum bersiap-siap untuk berdandan
(Tunggu lima menit.)
Aku menyuruhnya untuk menunggu di depan rumah, bersiap-siap untuk segera memakai sebuah baju dress yang sudah disediakan Gina.
"Seksi, dan tentunya terlihat mempesona. "
Bercermin. Dimana ponselku berbunyi kembali, (Sudah siap?)
Aku membulatkan mulutku, tertawa pelan. " Dasar buaya. "
Perlahan langkah kaki ini kulangkahkan menuju ke depan pintu rumah.
Ceklek.
Sosok Angga kini berdiri tegak, ia memperlihatkan sebuah senyumannya membawakan sebuah bunga mawar dan beberapa hadiah lainnya.
"Waw, apa ini tidak merepotkan sama sekali. "
"Tidak, saya sengaja membawakan ini untuk kamu. "
"Baik sekali. "
Kedua mata Angga tak berkedip saat menatap ke arahku, sepertinya ia terpesona akan penampilanku yang terlalu seksi.
" kamu yakin di rumah sebesar ini kamu sendirian?"
Pertanyaan yang membuat aku membalikkan badan ke arahnya, tangan lembut ini mulai memegang kedua bahu kekar milik Angga, " kenapa kamu masih bertanya seperti itu? Jika kamu tidak percaya silakan Cek saja. "
Angga perlahan membenarkan dasinya, aku melihat beberapa kali Angga menelan ludah.
" Saya akan mengambilkan anda minuman. "
Aku mulai meletakkan sebuah bunga mawar pada meja ruang tamu, di mana sosok lelaki itu duduk dengan tatapan matanya tak pernah lepas menatapku.
Membuatkan sebuah teh hangat untuk memulai percakapan di pagi hari, " Silahkan di minum. "
Aku sengaja memperlihatkan kedua buah dadaku untuk menarik Angga agar terpesona.
"Kenapa?" Ya memalingkan wajah Saat Aku bertanya kepadanya, terlihat pipinya memerah.
Aku mulai duduk, dengan dress putih yang aku kenakan. " Ya ampun saya lupa Pak membawakan cemilan. "
Saat bangkit dari tempat duduk, tangan kekar itu malah meraih tanganku. Angga menarik tubuhku hingga aku terduduk di pangkuannya.
"Jangan pergi. " Bisikan yang membuat gelora dalam jiwa seketika membara.
Jari jemari perlahan menari-nari pada tanganku, bulu-bulu kecil yang berada di atas bibir kini perlahan melintas pada punggungku.
"Wangi," bisik Angga, membuat kedua mataku perlahan menutup.
Aku yang masih berada di pangkuannya, merasakan sensasi yang tak biasa. Hembusan napas hangat, dapat kurasakan sebegitu dekat, sampai aku terlelap dalam gelora asmara yang dihidupkan oleh Angga.
Perlahan demi perlahan, dress yang aku pakai seketika terbuka, membuat suasana terasa berbeda. " Apa secepat ini. " Bisikku, membuat tangan nakal Angga bermain main pada tubuhku.
"Ya, karena aku menginginkan kamu." Nada bicara yang selalu terdengar formal, tiba tiba berubah menjadi nada suara yang begitu terdengar akrab.
Angga memutarkan tubuhku, hingga mengarah pada wajahnya. " Kalau begini lebih enakkan."
Aku tersenyum kecil, dimana CCTV yang aku sengaja pajang kini sedang bekerja dengan baik.
Namun sesuatu menghentikan aksi nakal Angga, suara ponselnya berbunyi begitu nyaring. Membuat ia menghembuskan napas kesal, mengambil ponsel.
"Ckk, Shireen ada apa dia ini?"
Aku perlahan mengambil ponsel yang berada pada tangan Angga, " hey, bukannya kita lagi. "
"Ahk, iya. "
Angga seperti pasrah dengan ucapanku, sampai suara ponsel itu terus berbunyi. Angga yang jatuh dalam pelukanku mengabaikan panggilan dari ponselnya.
"K*nd*m."
"Mm, jaga jaga."
Mengedipkan mata, " Baiklah. "
Bergumam dalam hati, " Dasar b*j*ng*n."
Kami bermain di atas sofa, dimana Angga terlihat puas dengan permainan yang aku buat lebih agresif.
"Ternyata kamu lebih hebat daripada istriku, " ucap Angga memuji dalam rode permainan yang kami lakukan.
"Ahk."
Aku tak mampu bersuara, hanya berpura pura merasakan rasa nikmat yang ia buat untukku.
Dalam hati, " Cck, dasar munafik. Setelah dapat barang baru dia memuji, dan berani menghina barang lama. "
Keringat bercucuran, satu jam lebih kami bermain di atas sofa. Terlihat jika Angga kelelahan dengan pelayananku.
Aku duduk menyandarkan kepala pada bahu Angga, " Kapan aku kerja lagi?"
Tersenyum sinis, mendengarkan detak jantungnya yang berdetak kencang setelah kelelahan. Angga begitu lembut terhadapku, yang mengusap pelan rambut panjangku dan berkata, " besok kamu sudah mulai bekerja lagi menjadi sekretaris di perusahaan. "
Aku memainkan jari tanganku di depannya, " lalu dengan istrimu bagaimana, apa dia tidak akan marah kepadaku?"
" Dia masih di rumah sakit, kamu tenang saja!"
"Baiklah. kalau begitu. "
Jam sudah menunjukkan jam 9 pagi, Angga mulai berdiri, ia meminta izin untuk mandi di kamar mandiku.
Saat Angga berjalan ke kamar mandi, ponselnya kembali berdering, membuat aku menatap nama yang tertera pada ponsel Angga.
"Istriku."
Tersenyum sinis aku langsung mengangkat panggilan telepon dari Shireen, sepertinya akan seru.
"Halo, Angga. Kamu ini kemana saja sih, aku ini di rumah sakit sedang sakit, kenapa kamu tidak menemaniku. kamu ini lelaki macam apa sih. Tega. "
Mendengar Wanita gila itu menggerutu kesal, pada sambungan telepon, membuat aku sengaja menjawab perkataannya.
"Sepertinya suami anda lebih nyaman dengan wanita lain daripada istrinya. "
Seketika hening, dan berlanjut lagi, Shireen, menggerutu kesal di dalam sambungan telepon. " Siapa kamu, kenapa ponselku ada pada kamu. kemana suamiku. "
Dengan cepat aku langsung mematikan sambungan telepon, sengaja agar wanita itu memikirkan perkataanku.
Sebelum Angga datang, aku menghapus panggilan yang terhubung.
Menaruh ponselnya kembali, pergi untuk berpura pura mandi.
Sampai di dalam kamar, aku mulai membasuh badan dan wajah, membayangkan bagaimana marah dan kesalnya Shireen setelah mendengar suara wanita dari sambungan telepon.
Keluar dari kamar mandi, aku membilas-bilas rambutku yang begitu basah. Membuat Angga tiba-tiba saja datang memelukku dari arah belakang.
"Terima kasih atas hari ini."
Aku tersenyum dan mengganggukkan kepala.
Angga mulai berpamitan pulang kepadaku," aku pulang dulu, sampai bertemu besok. "
"Dahh."
Angga melabaikan tangan pergi dari hadapanku, dimana ia lebih bersemangat dari sebelumnya.
Aku mulai membereskan ruang tamu yang begitu berantakan, merapikan makanan yang terlihat berserakan.
"Permainan Angga dari dulu selalu begitu, lemah." menggerutu sembari membersihkan sofa.
"Hey, ini dompet?" aku mulai mengecek isi dompet itu, di mana ada kartu nama yang bernama Angga.
Tersenyum kecil, aku mempunyai ide yang sangat terlihat.
Setelah membereskan semuanya, aku langsung mengganti pakaian.
Tring. Satu pesan datang kembali, (Sayang, kamu lihat dompet aku di sana?)
Aku terkejut melihat pesan yang dikirim Angga, lelaki itu menyebutku dengan kata sayang.
(Iya Pak Angga, dompet anda ketinggalan di rumah saya.)
Angga mengirim semua sebuah emoji sedih membuat aku tentunya mengerutkan dahi. (Ada yang salah dengan perkataan saya, pak?)
(Kenapa setelah kita melakukan semuanya, kamu tetap memanggilku pak.)
(Ahk, saya tak mengerti, bapak bisa jelaskan.)
(Aku suka pada kamu, dan ingin menjadikan kamu sebagai pacar.)
Aku tersenyum tipis, hanya diberi lubang belut sekali, dia menganggapku sebagai pacarnya, menarik sekali.
(Kenapa nggak di jadiin istri saja, pak.)
Menunggu balasan dari Angga, membuat aku tak sabar dan ingin tahu apa yang akan ia jawab padaku.