Alih-alih melawan takdir dan hasrat untuk meninggalkan sang mantan, Rinjani menelan cinta dari dua lelaki keturunan bangsawan Jawa dengan cara “anglaras ilining banyu angeli, ananging ora keli” sampai di usia senja.
Sementara itu, sudah lama Kaysan membuat surat wasiat untuk Rinjani dan adiknya hingga kedamaian di rumah utama dan pelangi tidak lagi warna-warni seperti sedia kala.
Lantas bagaimana akhir dari prahara cinta segitiga trah Adiguna Pangarep yang tak pernah usai? Apakah wasiat dan warisan itu menjadikan hubungan Rinjani dan Nanang kian semrawut ataukah cinta sejati yang digadang-gadang sebagai cikal bakal wasiat itu terus terjalin hingga mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KINASIH 11
Aku terduduk seketika. Mataku mengawasi sekeliling tepat di bawah pohon kamboja kuning di sepetak taman pribadi di belakang rumah utama.
“Ning, bawa sini.” gumamku lembut sembari melambaikan tangan padanya yang menunggu di telundakan sambil membawa nampan berisi secangkir teh yang telah dingin dan mangkok?
“Kok pakai mangkok? Tidak di buat langsung di cup-nya?” tanyaku saat Ningsih menghaturkan sembah di depanku.
“Tidak bagus pakai cup, Ndoro. Ini saja Ningsih masak dulu di panci.” ucapnya setengah galak.
Kepalaku tertunduk. Batal merasa muda kembali.
“Boleh tidak Ning kalau mi-nya di taruh saja ke cup-nya? Sekali ini saja.” ucapku penuh harapan sekaligus setengah malu.
Ningsih terdiam untuk beberapa saat, seolah dia memilih kalimat yang tepat untuk setuju atau tidak dengan keinginanku.
Dalilah melarang makan mi instan, apalagi Jati. Dokter muda itu sadis sekali memberikan daftar makanan yang tidak dan boleh aku dan mas Kaysan makan secara rinci dengan takaran-takarannya langsung.
“Sekali saja Ning, ya.” Aku menghaturkan sembah padanya hingga Ningsih menggelengkan kepala sambil menginterupsi ku, “Jangan begitu, Ndoro! Ningsih segera laksanakan saja.”
Melesat lah Ningsih ke dapur dengan gerakan grusa-grusu.
Aku tersenyum sembari meletakkan kedua tangan di atas lutut. Mungkin Ningsih terheran-heran melihat tingkah junjungannya ini yang mulai bertingkah hingga lima menit kemudian, mie dalam kemasan cup ini tersaji di depan mata dan tersentuh kedua telapak tangan.
Hangatnya kepulan asap beraroma soto berpenguat rasa ini merekahkan senyum kanak-kanakku. Aku punya segala yang ku impikan saat kecil sekarang, sebuah ketentraman batin yang tidak lagi menggerayangi isi kepala setiap hari.
Hadirnya mas Kaysan memang antara ada dan tiada di ragaku namun ia mendermakan rezekinya dan rasa welas asihnya lebih dari cukup dan nyata untukku terima.
“Dulu saya mau makan mie seperti ini saja harus nyisihin uang gaji, Ning. Rasanya rugi amat kalau beli sebesar ini tapi pingin. Atau kalau tidak nunggu di traktir teman. Sekarang saat kemudahan terasa lebih mudah dilakukan, aturan kembali mengekang kebebasan. Aturan makan.”
Aku menunduk sembari tersenyum. Menyantap mie ini lumayan membangkitkan energi untuk menghadapi kenyataan lagi. Membuka lembaran berikutnya tuturan terpendam mas Kaysan yang rupanya dia sengaja berikan padaku.
Senyumnya dua hari kemarin seakan mengerti aku sedang bergelut dengan tulisannya bahkan saat aku ingin memprotesnya, dia hanya mengangkat jari telunjuknya di depan mulut.
“Baca sebaik-baiknya kamu membaca surat-surat penting. Itu realita, bukan sindiran.”
Keharuan merebak di hatiku. Tak ada salahnya membaca rasa kepemilikannya di buku dengan lapang dada, meski tak mudah, aku terbayang-bayang slalu isi hatinya yang langka.
Alon-alon waton kelakon. ( Pelan-pelan asal terlaksana ) Baca buku diary itu tidak perlu ngoyo namun tetap akan kujalani dengan kesungguhan. Sak madya saja, tak perlu menuruti ambisi karena terkadang berujung pada penderitaan. Nelangsa contohnya.
Aku mengembuskan napas. Belum juga mie dalam cup habis, mas Kaysan yang duduk di kursi roda sambil menautkan kedua jemarinya di atas pangkuan menghampiriku. Di belakangnya si perawat tersenyum rikuh.
“Bapak ingin bertemu ibu sambil berjemur.”
Mas Kaysan berusaha turun dari kursi roda, aku langsung berdiri tanpa sempat menyembunyikan mie di tanganku dan sepasang mata senjanya menatapnya lekat-lekat.
“Mas duduk saja, duduk-duduk.” Aku mengibaskan tangan, mengusir perawatnya. “Tinggalkan kami berdua.”
Aku menyerahkan mie itu ke tangan mas Kaysan sambil menyeringai lebar. Terlanjur ketahuan, apa eyang kakung ini akan memarahi simbah gaul?
“Kita ke kolam ikan mas.”
“Kau mulai bertingkah?”
“Tidak begitu, bukan.” Aku menggeleng sembari mendorong kursi rodanya dengan hati-hati. Wajahku masam.
“Nora kengguh mring pamardi. Hayuning tyas sipat kuping.”
(Tidak mempan oleh nasihat. Telinga sudah bebal dari segala ucapan yang baik)
Kaysan mengaduk mie itu lalu menyantapnya sendiri. Aku menghentikan kursi rodanya seraya pindah ke depannya.
“Kok di makan? Nanti—”
“Saya bosan makan sup bening tanpa rasa. Seperti kamu. Tahu bacemnya juga kurang manis.”
Sedikit aku terkejut mendengarnya lalu mengakhiri drama ini dengan duduk di kursi taman. Sinar matahari menyinari raga kami yang haus kehangatan duniawi.
Aku tak bergairah mengutarakannya. ”Jani lemes butuh penguat rasa.”
Mas Kaysan mengerutkan dahi, dia nampak tidak acuh dengan ucapanku dan menghabiskan isi cup itu sampai ke kuah-kuahnya. Leherku terasa gurih tiba-tiba seakan aliran kuah itu juga membanjiri tenggorokanku.
“Enak mas? Jani ambilkan minum dulu.”
“Tidak perlu.”
Pria berbadan kurus itu tampak menata kata-katanya sambil memindai mataku dengan teliti. Sesuatu yang sering dilakukan selama ini. Mendadak ada rasa segan dan takut ketika melihatnya secara langsung menyelami sorot mataku dan tenggelam di sana.
“Bila saya malam, kaulah bulannya. Bila saya matahari kaulah bunganya. Tapi tiada mungkin saya tulus sepertinya.”
Aku menundukkan tatapanku. Nanang lagi Nanang lagi. Kenapa prahara cinta Trah Adiguna Pangarep Hadiningrat bangkit kembali. Aku ingin di buang saja seperti Siu Ban Ci—selir kesayangan Bhre Kertabumi ke luar Jawa daripada api cemburu mas Kaysan menggegerkan seisi rumah kala ini.
...-----------...
tapi.... kita sebagai orang terdekat yang mengharap kesembuhan tentu kecewa dan sedih dengan kepasrahan itu
mas kay, sini tak puk puk, aku juga pengen peluk kamu lho mas
aah part ini makin bikin mewek, mas kaysan aku paham rasa hatimu.
terkadang betapapun tulus dan rasa sayang kepada pasangan, tapi entah disadari atau tidak, jauh disanubari ada rasa lain yang tersimpan rapi untuk seseorang di masa lalu dan mas kaysan mungkin menyadari itu