Mencintai pria yang sudah matang tak pernah terpikirkan oleh Sandra Larissa. Namun, nyatanya ia sudah terpesona oleh seorang duda yang sudah mempunyai anak. Bahkan anak dari duda tersebut adalah sahabatnya.
"Aku mencintaimu Om! Aku tak tahu kenapa rasa cinta ini hadir begitu saja, saat kamu menatapku dengan mata elangmu itu."
~Sandra~
"Bagaimana bisa aku juga mencintaimu sedang usia kita tarlampau sangat jauh? Aku ingin menjauh. Namun, cinta yang ku rasakan semakin kuat. Maafkan aku jika akhirnya aku memilih bertahan dan tetap mencintaimu walau usia kita berbeda 20 tahun."
~Alex~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syafitri wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rindu
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Tampaknya pagi ini hujan akan turun dengan derasnya di lihat dari warna awan yang mulai menghitam, di kamar yang serba berwarna pink gadis cantik berusia 20 tahun itu masih bergulung selimut dengan nyamannya tak terganggu dengan suara teriakan sang bunda yang sudah memanggilnya dengan nada kesal.
Sandra semakin merapatkan selimutnya ketika rintik hujan mulai turun dan angin berhembus dengan dinginnya, sebenarnya ia sudah bangun dari tadi hanya saja cuaca yang sangat mendukung untuk tidur kembali membuat Sandra enggan membuka mata. Tetapi mengingat pagi ini ada kuis, dengan malas ia bangun dan bersandar di kepala ranjang sejenak guna untuk mengumpulkan nyawanya yang ingin sekali terlelap kembali.
"Mati aku." teriak Sandra ketika melihat jam dinding hampir menunjukkan angka 7. Gadis itu langsung berlari ke kamar mandi guna untuk membersihkan diri sekedarnya mengingat waktu yang sudah tak memadai jika ia berlama-lama di kamar mandi. Belum ada 10 menit ia di kamar mandi Sandra sudah keluar dengan wajah fresh nya. Dengan cepat ia menggunakan pakaian simpelnya tak lupa pula ia memakai bedak tipis dan lipstik berwarna pink pada muka dan bibirnya.
Setelah menyambar tas kuliahnya Sandra dengan langkah tergesa-gesa menuruni tangga rumahnya.
"Sayang sarapan dulu," ucap bunda Diana.
"Gak usah bunda, Sandra udah telat. Makan di kampus aja. Sandra berangkat bunda, i love you," teriak Sandra tanpa menghentikan langkahnya.
Bunda Diana hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat Sandra terburu-buru, ia sedikit kesal dengan Sandra karena suara teriakannya tidak di dengar oleh Sandra.
"Jangan lupa makan, maag kamu bisa kambuh kalau telat makan." peringat bunda Diana yang di dengar oleh Sandra atau tidak pasalnya gadis itu sudah keluar dengan cepat menuju garasi mobil miliknya.
Tanpa menunggu lama Sandra menjalankan mobilnya dengan cepat, ia sedikit takut karena hujan mulai jatuh dengan derasnya. sandra mendengus mengingat cuaca akhir-akhir ini sangat tak bersahabat.
"Hujan lagi, Om Alex sih harus ke luar negeri beberapa hari." kesalnya. sebab jika Alex ada di sini maka dengan senang hati ia akan di antar oleh kekasih dudanya itu. Sandra mengecek Handphonenya siapa tau Alex memberikannya kabar namun ia harus mendesah kecewa ketika tak ada satu pun notif dari kekasihnya itu, yang ada hanya pesan dari Tasya yang menanyakan keberadaannya. Dengan hati-hati ia membalas pesan dari Tasya bahwa ia masih di jalan dan sebentar lagi akan sampai.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Tepuk tangan menggema di ruang rapat, ketika Alex mengakhiri presentasinya tentang project baru perusahaan yang akan membangun sebuah kawasan wisata di sebuah pulau yang sangat cantik di daerah bali dan lombok dan juga di sebuah kawasan wisata di jepang, para petinggi perusahaan berjabat tangan dengan Alex sang pemimpin perusahaan yang sangat berwibawa dan terkesan dingin pada siapa saja. Pengecualian kepada anaknya dan juga kekasihnya. Mengingat kekasih, Alex ingat ia lupa memberi kabar kepada Sandra, pasti gadis itu kesal padanya. Alex yakin itu. Sebenarnya, alasan ia terbang ke jepang bukan hanya membahas rapat tetapi juga ada sedikit masalah di kantornya ini yang mengharuskan ia datang ke sini dan alasan ini pula yang membuatnya lupa mengabari Sandra. Alex keluar dari ruangan rapat dengan langkah tegas dan hembusan leganya. Masalah perusahaannya sudah di tangani dan akhirnya ia bisa pulang dengan cepat ia sudah sangat rindu dengan Sandra, Ah ia lucu sekali sebelum ia menjadi kekasih Sandra ia tak seperti ini bahkan ia terkesan santai dan cuek jika ia tak pulang beberapa hari bahkan beberapa minggu. Sekarang ia menjadi uring-uringan tak jelas jika sebentar saja ia tak melihat wajah Sandra dan mendengar suara manja gadis itu, cinta sudah membuatnya gila dan Alex tak ingin kehilangan cintanya karena sejak saat Sandra menjadi miliknya maka tak ada seoarang pun yang bisa mendekati Sandra.
"Siapkan penerbangan saya sekarang." perintah Alex pada sekretarisnya yang berjenis kelamin pria tersebut. sekretaris pria membuat Alex di kabarkan dengan kabar miring bahwa ia adalah lelaki yang suka sesama jenis karena memang Alex tak pernah di kabarkan dekat dengan seorang wanita sekali pun. Alex tak ambil pusing dengan berita itu karena kenyataannya ia sudah mempunyai kekasih yang sangat cantik sekarang. Dan ah Alex merindukan Sandra sangat merindukan gadis itu.
"Baik tuan."
"Tunggu aku sayang." gumam Alex menatap foto cantik Sandra yang ia jadikan walpaper Handphonenya.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
"Hay mahmud ku." goda Tasya pada Sandra yang baru sampai di kelas.
"Apaan mahmud?" tanya Sandra yang tak mengerti.
"Mama muda, hahaha." Tasya tergelak dengan ucapannya sendiri dan melihat muka lucu Sandra yang cengo menatap ke arahnya.
"Tasya, jangan keras-keras nanti ada yang dengar," ucap Sandra dengan menahan malunya.
"Iya mama ku sayang, hihihi."
"Tasya." rengek Sandra
"Hahahaha."
Tawa Tasya terhenti saat dosen memasuki kelas mereka, ia melirik ke arah Sandra yang memayunkan bibirnya karena kesal dan tentu saja malu terlihat dari pipi gadis itu yang tampak memerah.
"udah jangan cemberut gitu."
"Aish, kamu nyebelin." rajuk Sandra.
"Maaf deh, tapi kan bener kamu sebentar lagi akan jadi mama aku." bisik Tasya karena takut ketahuan dosen ia mengobrol dengan Sandra.
"Iya tapi gak usah keras-keras juga ngomongnya."
"Iya-iya."
Waktu berlalu begitu lambat bagi Sandra dan Tasya, dengan hembusan nafas lega keduanya keluar dari kelas ketika sudah menghabiskan waktu tiga jam untuk mata kuliah yang menurut mereka sangat membosankan.
"Kenapa muka kamu kusut gitu?"
"Papa kamu kapan pulang sih?"
"Kan udah di bilang tiga hari mama ku, kenapa kangen banget ya?"
"Om Alex nyebelin, gak ada kabarin aku."
"Mungkin papa lagi sibuk, nanti juga di kabarin. Tenang aja, papa gak macam-macam kok. Kalau macam-macam di jepang kita tebas aja kepalanya."
"Pulang yuk, aku lemes banget."
"Eh, kok muka kamu pucat sih, kenapa sakit?"
"enggak kok, cuma capek doang."
"Pulang ke rumah aku aja ya, kan dekat."
"Iya deh, aku udah lemes banget."
Keduanya berjalan menuju mobil Sandra, kali ini Tasya yang membawa mobil Sandra karena memang gadis itu sudah sangat lemas terlihat dari wajah Sandra yang sedikit pucat.
"tidur aja dulu biar kalau udah sampai aku bangunin."
"ekhem."
Sandra benar-benar memejamkan matanya, Tasya fokus pada jalanan sesekali ia melihat Sandra yang tertidur dengan meringis kecil memegangi perutnya.
"pasti belum makan dari pagi." gumam Tasya lirih. Jika tau papanya pasti akan panik melihat Sandra yang seperti ini.
Mobil Sandra memasuki rumah mewah Alex dan Tasya, Tasya memasuki mobil Sandra di garasi.
"Sandra, bangun udah sampai." ucap Tasya pelan mengguncang lengan Sandra pelan.
"perih banget perut aku."lirihnya.
"Tuh kan, pasti kamu belum makan pagi."
Sandra mengangguk membenarkan ucapan Tasya.
"aku buru-buru karena bangun kesiangan, tadi kan kuis sama pak Hamid. Rencananya mau beli makan di kantin tapi pak Hamid udah datang kan." jelas Sandra lirih sesekali ia meringis.
"Aku belikan obat, tapi kamu istirahat di kamar aku cepat."
"Iya, maaf selalu merepotkan kamu."
"Tidak merepotkan Sandra."
"Makasih ya."
Tasya tidak menjawab ia keluar dari mobil dan membantu Sandra, memapah gadis itu masuk ke kamarnya. Belum sempat ia masuki rumahnya kedua gadis itu sudah di hadang oleh tubuh kekar di depan pintu utama dan menatap keduanya tajam.
"Tasya, Sandra kenapa?" tanya Alex panik.
"i...tu Pah, Sandra lupa makan pagi. Maag nya kambuh." ucap Tasya sedikit tergagap.
"Eh, Om kok sudah pulang?" tanya Sandra dengan suara lirih tersenyum tipis pada kekasihnya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan Sayang, kamu bandel banget sih gak sarapan. Maag kamu kambuh kan sekarang." omel Alex dengan nada datar nan khawatirnya
"Jangan galak-galak kan Sandra kangen sama Om."
"Sini Biar Sandra sama Papa."
"Jangan macem-macem Pah." peringat Tasya saat Alex menggendong Sandra di depan dengan mesranya membuat Tasya memutar bola matanya jengah.
"Satu macem aja," jawab Alex santai membawa Sandra ke kamarnya tanpa takut di omeli oleh Tasya.
Tasya mendengus berjalan memasuki kamarnya, tak ingin mengganggu dua kekasih yang saling melepas rindu.
Alex membuka pintu kamarnya, harum wangi kamar Alex tercium oleh Sandra. Wangi tubuh Alex yang membuat Sandra nyaman.
"Minum obat maagnya Sayang, terus makan. Ingat jangan bandel lagi, kamu buat aku khawatir."
"Iya, tapi perut aku perih."
"di minum obatnya sayang, biar sakitnya reda. Tuh bibir kamu udah pucat juga kan."
"Bawel ih, Sandra rindu Om."
"Mas lebih rindu kamu,"ucap Alex mengecup seluruh wajah Sandra setelah Sandra meminum obat maag nya.
"Peluk," ucap Sandra manja
"Manja banget sih," balas Alex memeluk Sandra erat.
"Kan udah lima hari gak ketemu om, rindunya udah numpuk hehehe."
"Iya mas juga rindu, jangan panggil Om dong. Mas sayang, biasain dari sekarang sebelum kita nikah dan punya anak. Masa di depan anak kita kamu panggil aku Om sih, kan gak lucu sama sekali Sayang."
"Iya mas Duda Sayang." ucap Sandra malu-malu.
"Sandra."
"Hahaha iya Mas, bakal Sandra biasain kok."
"Pinter banget sih hmm, Mas kangen banget sama Sandra. Minta obat rindu ya Sayang."
"Emang ada obat rindu? obat maag Sandra ada tuh."tunjuk Sandra
"Ada nih bibir kamu."
Cup
"Manis banget sih, jadi ketagihan Mas. Pingin lagi."
"Ih jangan rese deh."
Alex memajukan wajahnya menarik Sandra kepangkuannya.
"Bibir ini milikku, jangan memberikannya pada orang lain Sayang, mengerti."
"Iya, Sandra milik Mas."
"Kalau gitu cium Mas dong."
"Tapi..."
"Jangan lama Mas kangen."
Cup.
Saat Sandra ingin menjauhkan bibirnya dari bibir Alex, Alex menahan tengkuk gadis itu dan mencium bibir Sandra penuh rindu.
Nafas keduanya terdengar tersengal-sengal saat Alex menyudahi ciuman mereka. Kening mereka masih menyatu menatap cinta.
"Tunggu aku di rumahmu aku akan minta kamu pada ayahmu."
nyimak dulu
sandra sama om Alex