Terbangun di kamar hotel, Fela syok setengah mati saat membaca KTP yang terjatuh dari dompet pria di sampingnya. Dia masih anak SMA!
Fela langsung kabur ketakutan demi menyelamatkan reputasinya.
Namun dunia Fela berantakan saat Kenzo, si anak SMA itu tiba-tiba masuk ke kantor periklanannya sebagai anak magang baru.
Di depan rekan kerja, Kenzo adalah asisten yang sopan. Tapi di balik pintu ruang rapat, dia adalah berondong posesif yang siap menjerat Fela kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 14 Tugas baru untuk Kenzo
"Kenzo, ke ruangan," perintah Fela.
"Baik." Di panggil Fela selalu jadi hal menyenangkan. Tanpa disadari, Kenzo menikmatinya.
Mirin yang tahu itu tersenyum samar. Bocah itu kesenangan di panggil Fela ke ruangannya. Apa dia jadi naksir ya? Apa mungkin, kan dia masih SMA meskipun mau lulus. Fela kan sudah dewasa umur mereka jaraknya lumayan. Mirin melihat bocah itu berjalan menuju ruang kubus Fela.
***
Kenzo sudah duduk rapi di kursi. Fela baru duduk karena ia masih harus melepas jaketnya.
"Aku beri kamu tugas," kata Fela.
"Merangkum?" tanya Kenzo mencoba menebak.
"Bukan. Tugas lain," sahut Fela cepat dengan geregetan. Entah kenapa Fela selalu kesal dengan nih bocah. Padahal dia tidak salah apa-apa. Mungkin itu sikap defensifnya perkara malam itu.
"Karena kemungkinan kamu aku ikutkan dalam proyek W-corp ini. Tapi tidak sepenuhnya. Kamu hanya memantau, belajar dari kami secara langsung," tegas Fela.
"Oh, terima kasih mentor yang baik."
Fela kesal dengan candaan bocah ini. Sepertinya semuanya bikin kesal.
"Aku kasih kamu tugas untuk mengumpulkan data iklan-iklan yang pernah dibuat oleh kompetitor utama W-Corp selama setahun terakhir," ujar Fela.
Kenzo mendengarkan dengan baik. "Sore ini harus dikumpulkan?"
Mata Fela menatap serius. "Aku tidak butuh laporan tertulis saja. Kamu juga perlu mempresentasikannya."
Kenzo mengangguk paham. Dia tahu Fela sengaja untuk memberi tugas yang sedikit naik levelnya dari sekedar merangkum.
"Besok pagi. Aku beri kamu waktu besok pagi untuk presentasi," kata Fela.
"Oke."
"Sekarang kembali ke tempatmu," perintah Fela seperti mengusir.
"Siap, Senior." Kenzo membungkuk sedikit. Dia tidak pernah menanggapi serius apapun yang keluar dari mulut Fela. Tanggapan Kenzo selalu tenang dan ramah.
***
Pulang kerja.
Fela menata berkas-berkas miliknya dengan rapi untuk bersiap pulang.
"Mau pulang, Senior?" tanya Kenzo.
"Tentu. Kalau kamu mau tinggal, silakan." Seperti biasa Fela selalu tampak jutek jika diajak ngobrol Kenzo.
"Tidak. Aku juga mau pulang. Biasanya pulang jam 2 paling lama, sekarang jam 6 baru pulang," keluh Kenzo.
"Jangan magang. Bilang pada orang yang meletakkan kamu disini untuk mengeluarkan mu agar hatimu senang," serang Fela.
"Aku enggak bilang kalau enggak senang sih. Disini aku cukup senang. Kan ada Senior Fela."
"Aku bukan teman bermain mu."
"Padahal malam itu kita sedang bermain-main."
Fela mendelik. Dia langsung mendekat ke meja Kenzo. Kebetulan kubikel mereka kosong. Orang-orang sudah pada keluar.
Melihat Fela mendekat, Kenzo melihat ke arahnya.
"Hei, dengerin bocah. Aku sudah bilang malam itu kesalahan. Aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi tapi itu kesalahan. Tolong jangan bahas itu lagi,"
"Kalau aku tidak membahas itu, kamu pasti menjauhi ku." Kenzo mode pria dewasa.
"Justru karena kamu bicara soal itu bikin aku kesal," geram Fela.
Kenzo diam sambil mendongak. Dia masih duduk soalnya. "Padahal aku senang, lho malam itu."
Arggh!!! Fela frustasi.
"Cukup, stop kamu ..."
"Apa cukup dengan enggak bahas itu, kamu mau aku sapa dengan ramah?"
Ogah. Namun Fela diam. "Ya." Akhirnya menjawab dengan setengah hati.
"Janji?"
"Janji apaan sih? Seharusnya kamu yang harus janji, bukan aku."
"Oke. Kita deal." Kenzo tampak senang. Itu yang bikin Fela makin merinding. Ia menjauh dari meja Kenzo. Menyambar tasnya di meja lalu berjalan keluar. Kenzo meraih tasnya lalu berjalan menyamai langkah Fela.
Sepanjang koridor mereka hanya diam. Fela capek. Lebih capek sejak anak ini magang di kantor. Mendadak tubuh Fela terasa limbung.
"Fela?" Kenzo langsung sigap menyentuh punggung Fela. "Kamu enggak apa-apa?" Kenzo tampak cemas.
Fela masih diam merasakan kepalanya yang nyut-nyutan.
"Kamu sakit? Aku antar ke rumah sakit ya?" tanya Kenzo serius.
Tangan Fela bergerak menolak. Dia masih belum bicara.
"Kita cari tempat duduk dulu." Sambil tetap memegangi tubuh Fela, Kenzo melihat ke sekitar. "Ada tempat duduk disana. Ayo," ajak Kenzo sambil membimbing jalan Fela. mereka duduk di lobi kantor.
Karena tampak mau ambruk, Fela terpaksa setuju. Dengan bimbingan tangan Kenzo, Fela melangkah menuju bangku. Kenzo mendudukkan tubuh Fela pelan.
Kepala Fela terasa berputar. Makanya ia terus menatap mata.
"Orang sakit itu harus ke dokter, periksa," tegur Kenzo.
Fela menipiskan bibir menerima Omelan bocah ini. Masih dengan mata tertutup.
Kenzo melihat Fela yang tetap menutup matanya. "Kepala muter-muter, ya?"
Fela mengangguk.
"Kamu sering tidur malam? Sering telat makan?" tebak Kenzo.
"Jangan tanya terus," gerutu Fela.
"Oke." Kenzo patuh karena sepertinya Fela benar kurang sehat. Namun ia masih tetap disana.
Pusing ini akibat dia memikirkan ibunya. Tentang ibu memang seringkali membuatnya kepikiran.
***
Menghabiskan waktu di tempat sunyi seringkali membuat Fela tenang. Baginya, keheningan adalah ruang perlindungan terbaik untuk mengistirahatkan kepalanya yang penat setelah seharian dihantam urusan kantor. Angin sore dan sudut kafe yang sepi ini perlahan membuatnya santai.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Detik berikutnya, kilasan bayangan di koridor kantor tadi mendadak berputar kembali, memaksa ingatan soal Dion mampir ke dalam otaknya tanpa permisi.
"Dia ... setelah jadi orang penting malah berlagak. Mengesalkan," umpat Fela lirih pada udara kosong.
Fela menyesap espresso hangat di tangannya. Merasakan rasa pahit espresso dengan tenang. Mencoba mengalihkan rasa sesak yang tiba-tiba merayap di dada. Cangkir keramik itu ia genggam erat.
Padahal dulu, dia begitu mencintai pria itu. Sangat mencintainya, hingga Fela dengan yakin menyerahkan seluruh hatinya dan memutuskan untuk melangkah ke pelaminan bersama Dion.
Fela meletakkan cangkirnya dengan sedikit hentakan ke atas meja. Mengingat bagaimana Dion dengan angkuh menguliti harga dirinya membuat Fela mencengkeram jemarinya sendiri.
Sekarang cinta itu sudah menguap, diganti dengan rasa muak.
Bola matanya turun melihat jam di ponsel. Pukul 11 malam. Fela menghela napas berat. Sepertinya ia lumayan lama di sini, tenggelam dalam cangkir espresso dan lamunan pahitnya sendiri. Akhirnya ia memutuskan untuk menghentikan kesunyian ini dan bersiap untuk pulang sebelum larut malam semakin menguras energinya.
Namun, begitu melangkah keluar dari kafe, hawa malam langsung menyergapnya bersamaan dengan sekelebat bayangan cowok jangkung di dekat area parkir. Ia melihat seseorang yang tidak asing. Itu Kenzo.
Kening Fela berkerut dalam. Kenapa anak itu ada di sini? Enggan berurusan lebih jauh, Fela buru-buru mempercepat langkahnya menuju ke mobil. Ia merogoh tas, mencari kunci dengan gerakan buru-buru.
"Aku pikir kamu ada di rumah dan tidur. Ternyata malah ada di sini." Sebuah teguran meluncur dengan lancar dari arah belakang. Suaranya berat dan tenang. Fela paham betul itu siapa tanpa perlu menoleh. Itu si bocah.
Fela menghentikan gerakannya di depan pintu kemudi, lalu berbalik dengan tatapan ketus. "Apa urusanmu?" tanya Fela defensif.
"Enggak ada, tapi kalau kamu minum-minum lagi dan berakhir di ranjangku kan aku repot lagi," ujar Kenzo seraya melirik sebentar ke arah kafe dengan ekspresi wajahnya yang lempeng tanpa dosa.