Ini adalah novel yang menceritakan tentang kehidupan seorang wanita yang mengalami segala jenis permasalahan dalam kehidupan rumah tangganya.
Arinda Rahma adalah wanita beranak satu yang hidup menumpang di rumah orang tuanya karena suaminya hanya memiliki gaji pas-pasan.
Tiada hari tanpa mengeluh tapi ketika dia merasa tak ada yang mendengar keluh kesahnya, Arin memilih diam.
"Mulai saat ini aku akan diam. Semua permasalahan akan kutanggung sendiri. Tak peduli rusak raga dan batinku."
Jangan lupa siapkan tisu karena banyak bawang yang akan othor tabur.
Kalian hanya perlu tabur bunga dan secangkir kopi tiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirwana Asri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gagal enak
Sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya Arin hanya diam saja. "Dek, kamu marah ya gara-gara teman kita mengira aku menikah dengan Dina?" tanya Ikbal sambil menaiki motornya.
"Menurut Lo," batin Arin kesal. Dia masih mendiamkan suaminya. Malas sekali kalau berdebat jika ujung-ujungnya Ikbal Playing victim.
Merasa istrinya masih marah, Ikbal tak melanjutkan pembicaraannya. Arin menaruh helm setelah itu masuk lebih dulu karena Flora tidur selama perjalanan pulang.
Ikbal menghela nafas. Dia bingung harus bagaimana menenangkan hati Arin. Maka dia membiarkan Arin sampai dia yang lebih dulu mulai pembicaraan. Tapi siapa sangka Arin seharian penuh mendiamkan Ikbal.
Biasanya Arin akan melayani saat Ikbal makan tapi hari ini Ikbal harus mengambil makanan sendiri. "Rasanya nggak enak kalau kamu diemin kaya gini, Dek," gumam Ikbal.
Ketika jam tidur, Ikbal membangunkan istrinya. "Dek, sampai kapan kamu marah sama aku?"
Arin bangun. "Apa kamu tidak merasa bersalah padaku?" tanya Arin.
"Soal salah paham tadi pagi ya?" tanya balik Ikbal. Arin memutar bola matanya jengah. "Aku harus apa supaya kamu nggak marah lagi?"
"Susah ya bilang maaf?" balas Arin. Ikbal menepuk jidatnya setelah itu tersenyum.
"Maaf ya sayang," ucap laki-laki itu. Dia mencium pipi Arin agar istrinya luluh. Dasar Arin gadis lugu yang gampang dirayu dicium pipi saja membuat wajahnya merona.
"Flora udah tidur kan?" Arin mengangguk.
"Mau nggak?" tanya Ikbal meminta sesuatu. Arin tersipu malu. Dia mengangguk ragu-ragu. Ikbal pun tersenyum senang.
Laki-laki itu menepis jarak di antara mereka. Arin menerima ciuman bibir dari suaminya. Ikbal menarik ujung bibirnya karena sang istri dirasa sudah tidak marah lagi. Dia pun melanjutkan permainannya malam ini.
Memberikan sentuhan demi sentuhan lembut pada istrinya hingga membuat Arin terbuai. Arin menahan mulutnya agar suara desa*han tak keluar dari mulutnya itu. Arin takut dia akan membangunkan Flora.
Ketika baru setengah permainan Flora tiba-tiba terbangun. Arin cepat-cepat menutup bagian tubuhnya yang terbuka. Ikbal menjadi kesal karena dia belum sempat melakukan pelepasan. Dia mengepalkan tangan untuk menahan ha*sratnya yang tertunda.
"Maaf, Mas," ucap Arin secara lirih karena dia harus menghampiri Flora agar gadis kecil itu tidak menangis.
Ikbal memakai bajunya lalu tidur membelakangi Arin. Dia sangat kesal karena gagal enak malam ini. Arin bisa memaklumi sikap suaminya itu.
Kalau istri hanya butuh satu pelukan untuk charger semangat, beda sama suami yang butuh lebih dari sekedar pelukan untuk charger semangatnya.
Hingga pagi ini Ikbal masih badmood. Arin mempersiapkan kebutuhan suaminya seperti biasa. Namun, dia tak mau banyak bicara karena Ikbal terlihat kesal. "Aku berangkat dulu."
Dia menyodorkan tangan agar Arin mencium tangannya. "Hati-hati Mas," pesan Arin.
Flora belum bangun. Dia memang terbiasa bangun siang. Sementara menunggu Flora bangun, Arin mencuci terlebih dulu. Dia mencuci menggunakan tangan karena mereka tidak memiliki uang untuk membeli mesin cuci.
"Ibu, ibu."
Belum sampai membilas pakaian Flora berteriak. Dia menangis karena tidak melihat satu orang pun ketika bangun tidur. Arin pun mencuci tangannya kemudian menghampiri Flora. "Cup cup sayang. Jangan menangis lagi ya," kata Arin yang mencoba menenangkan Flora.
"Arin, gimana sih nyuci kok ditinggalin gitu aja," teriak Bu Nia.
"Nanti aku terusin, Bu. Flora lagi rewel soalnya baru bangun tidur."
"Jangan lama-lama ibu juga mau mandi."
"Iya, Bu."
"Kapan ya dek ayah punya uang buat bangun rumah sendiri. Rasanya hidup menumpang kaya gini nggak enak banget ya. Nggak bisa bebas. Ini itu ditegur ibu jadi susah bergerak."
Arin curhat pada anaknya meski gadis kecil itu belum tahu apa yang ibunya bicarakan. Flora hanya tersenyum ketika Arin mengajaknya ngobrol. "Aku sayang ibu."
Ucapan Flora membuat Arin terharu. "Ibu juga sayang sama Flora," balas Arin setelah itu memberikan satu kecupan di kening anaknya.
Arin memang membiasakan anaknya untuk bilang sayang. Selain itu dia juga mengajari Flora banyak hal. Beda cerita kalau ibunya yang mengasuh. Flora terus menerus dibelikan jajanan yang banyak mengandung micin dan pemanis buatan.
Kalau Arin melarang ibunya tidak pernah peduli. Bagi ibunya ucapan seorang Arin tidak bisa dipercaya karena dia bukan dokter atau ahli gizi. Biasalah pikiran orang tua dulu selalu menuruti apa yang diminta oleh cucunya. Tidak peduli apa resikonya.
Arin mengajak Flora bangun. Dia memberi mainan pada anaknya sementara Arin melanjutkan mencuci baju. Bu Nia mengajak Flora keluar tanpa memberi tahu Arin terlebih dahulu.
"Flo ayo kita mandi, ibu sudah selesai mencuci pakaian." Arin panik ketika tak melihat anaknya. Apalagi sedang marak pemberitaan tentang penculikan anak.
Arin mencari ke seluruh sudut ruangan yang ada di rumah yang dia tinggali. Namun, dia tidak juga menemukan Flora. Setelah itu dia keluar barangkali diajak main sama ibunya. Benar dugaan Arin. Ibunya mengajak sang anak main di rumah Bu keknya.
"Ya ampun ibu kira kamu ilang, nak. Ayo pulang kita mandi dulu," ajak Arin pada flora.
"Ya ampun jadi dari tadi dia belum kamu mandikan, Rin?" tanya sang Bu lek.
"Arin baru selesai nyuci Bu Lek," jawab ibu satu anak itu.
"Makanya lain kali bangun lebih pagi supaya saat anak bangun kita bisa fokus menjaganya," tutur sang Bu Lek.
"Iya, Bu Lek. Makasih sarannya aku pulang dulu."
"Itu anak nggak pernah berubah ya, Mbak. Kapan dia akan menurut kalau dikasih tahu sama orang tua." Bu Lek mengadu pada Bu Nia.
"Hidup hampir setengah abad tapi punya anak nggak pernah bahagiain orang tua. Aku pun sedih melihatnya. Menikah sama laki-laki tampan tidak menjamin hidupnya yang sekarang," gumam Bu Nia.
"Dulu sih Arin terlalu pilih-pilih jodoh. Dijodohin sama orang yang mapan tapi dia nggak mau. Kebanyakan nolak jodoh jadi dia dapat sisanya," ledek sang Bu Lek.
Bu Nia tak tersinggung dengan ucapan adiknya karena Arin memang selalu menolak jika dijodohkan. Alasannya hanya karena belum saling kenal jadi dia ragu kalau menjalani rumah tangga dengan orang asing.
Waktu itu keluarganya sampai malu karena mengira tidak ada lagi yang mau menikahi Arin. Namun, suatu hari dia membawa Ikbal ke rumah untuk dikenalkan pada orang tuanya.
tokoh Iqbal blm seberapa toxic,,msh mau ada untuk istrinya..tp pa negaraku 10 taun LDR hidup terus d rmh ortuku tanpa berpikir untuk berpindah kerja agar bisa ngontrak satu kota dengan ku nyatanya hanya ilusi oasis d tengah Padang gurun..
masyaallah related bgt sama kehidupan nyata ku ,, punya ortu kandung yg toxic tp bedanya rumah tangga ku LDR selama 10 taun..Ntah apa rencana Tuhan sampai lelah utk mempertahankan semuanya...