💫 Sebelum baca 👉 Azka & Anna, ada baiknya mampir ke season 2 ( Cinta Masa Kecil Presdir Cantik ) 💫
.
.
Season 3 :
Di alun-alun kota Lubuk PAKAM, berlari sepasang bocah kembar berusia 5 tahun. Melihat ada seorang pria dewasa sedang duduk termenung, Azka mendekati pria dewasa tersebut, dan berkata:
" Paman yang jelek, dan orang dewasa yang penuh dengan banyak tekanan dalam hidup. Kenapa kau terlihat murung? Apakah kamu sedang memikirkan hutang yang belum kau bayar? "
Melihat kembarannya berkata seperti itu, Anna menarik tangan Azka, dan berkata :
"Abang, Mama biyang tidak boyeh berkata kasar kepada orang yang lebih tua. Cekalang Abang harus minta maaf sama Om Jeyek ini!"
Pria dewasa itu tidak menjawab, ia hanya menatap dengan tatapan penuh tanda tanya. Kenapa bocah perempuan ini memiliki bola mata sama seperti wanita ia cintai 6 tahun lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Kami merindukan kamu
Aulia, Anna, Azka, dan Azzuri sudah berada di rumah ruko Aulia, duduk di kursi makan, di depan atas meja juga sudah tersedia banyak menu makanan. Ada sayur bening, ikan asin, sambal belacan, dan tempe goreng daun sop.
Azzuri tercengang melihat menu makan sederhana tersedia di atas meja. Ia tidak menyangka jika Aulia benar-benar bisa memasak, dan mau makan dengan menu makan sederhana. Sangat jauh dari kehidupan mewahnya dulu.
"Kenapa Papi diam aja?" tanya Azka, membuyarkan lamunan Azzuri.
"Eh...Papi hanya tak menyangka jika Mami kalian bisa masak sebanyak ini," sahut Azzuri, menetralkan pikirannya.
"Kalau tak suka pergi saja makan di luar!" usir Aulia.
"Papi ndak suka masakan Mami?" tanya Anna polos.
"Suka sayang, nih Papi sedang mengambil nasi," sahut Azzuri, tangannya menciduk nasi, dan lauk, menaruhnya di atas piring.
"Alhamdulillah, adek pikil Papi ndak suka. Adek jadi ingat teman sekelas adek, makannya cuman pakek nasi sama bakwan. Kasihan!" curhat Anna, bola mata hitam pekatnya mulai berkaca-kaca.
"Jadi, apa pelajaran yang adek ambil setelah melihat teman adek makan hanya dengan nasi putih dan bakwan?" tanya Aulia, sekaligus mengajari Anna, arti bersyukur atas makanan kita punya.
"Kita ndak boyeh membuang makanan, nanti Owoh (Allah) malah. Sudah itu, masih banyak oyang lain yang membutuhkan makanan, jadi nda boyeh buang makanan," sahut Anna, air mata tadi menggenang di bola mata indahnya kini perlahan surut.
"Pintar, sekarang mari kita lanjut makan," puji Aulia.
"Hem," sahut Anna mengangguk.
Aulia, Anna, Azzuri, dan Azka kembali makan. Mereka makan dengan hikmat, di selingi canda-tawa. 20 menit sudah berlalu, Anna, dan Azka membantu Aulia, beberes sisa makanan di meja. Azzuri sendiri hanya diam, ia berdiri melihat Aulia mampu mendidik kedua anaknya menjadi anak baik, dan patuh.
'Aulia sangat hebat, aku jadi benar-benar seperti tidak di butuhkan di sini. Tapi tidak, aku tidak boleh menyerah, agar aku bisa hidup bersama dengan anak-anak, dan Istriku, aku harus segera membawa Zalfa ke sini. Dia harus segera mengklarifikasi semuanya kepada Aulia,' gumam Azzuri, bola matanya menatap Azka, dan Anna sedang menyapu sisa makanan di lantai.
"Papi kenapa diam aja?" tanya Azka, berdiri di hadapan Azzuri, tangannya memegang sapu.
"Papi sangat bangga mempunyai kalian berdua," puji Azzuri, tangannya mengelus puncak kepala Anna, dan Azka.
"Terimakasih Papi," sahut Anna, dan Azka serentak.
"Anna ....Azka, karena sudah selesai makan. Kalian masuk ke kamar dulu, kerjakan PR. Nanti Mami akan menyusul," perintah Aulia lembut.
"Baik Mami," sahut Azka, dan Anna serentak. Mereka berdua balik badan, kakinya melangkah menuju kamar mereka.
Setelah Azka dan Anna pergi, Aulia mendekati Azzuri, dan berdiri di sampingnya.
"Kamu benar-benar wanita hebat. Maafkan aku, Aulia. Aku janji akan membawa Zalfa ke hadapan kamu," puji dan janji Azzuri.
"Buktikan saja," sahut Aulia singkat.
"Aku sudah dapat rumah di daerah kota Medan. Aku juga sudah membeli Vila di Berastagi, untuk memudahkan kita membawa anak-anak berlibur ke sana," Azzuri berdiri menghadap Aulia, "Mari hidup dan tinggallah bersama ku," pinta Azzuri tulus.
"Tidak bisa, aku akan tetap membesarkan anak-anakku di sini, dengan gaya dan caraku!" tegas Aulia.
"Baiklah, aku tidak akan memaksa. Tapi kalau aku bisa membawa Zalfa ke sini, kamu akan ikut bersamaku, 'kan?" tanya Azzuri menyakinkan usahanya.
"Hem," sahut Aulia mengangguk.
"Kalau gitu aku pulang. Kamu harus hati-hati di rumah. Aku juga minta tolong kepada kamu untuk menjauh dari pria tadi pagi. Entah kenapa perasaan ku tak enak saat melihatnya," pesan Azzuri cemas.
"Tak perlu kuatir, aku bisa jaga diri di sini dengan baik," sahut Aulia tenang.
"Aulia, boleh tidak aku memeluk mu?"
"Tidak!"
"Baiklah, aku pulang dulu," pamit Azzuri, wajahnya terlihat kecewa.
Azzuri melangkah pergi, diikuti Aulia mengantarnya pergi sampai pintu samping rumah ruko nya. Azzuri pun melangkah, tanpa menoleh ke belakang.
Setelah Azzuri masuk ke dalam mobil, Aulia balik badan, menutup pintu samping, karena Aulia ingin mengajari Anna, dan Azka untuk belajar, dan menemani tidur siang.
Azzuri masih di depan rumah ruko Aulia, ia mengambil ponsel miliknya, menekan nomor Jack. Tak sampai dering kedua, Jack langsung mengangkat panggilan telepon.
📞 [ "Halo, tuan muda. Ada apa?" ] tanya Jack dari sebrang sana.
📞 [ "Jack, apa perusahaan Aulia, dan tuan Agung, bangkrut?" ]
📞 [ " Tidak, malah bisnis nona muda, dan tuan Agung berkembang pesat, dan kini sedang membuka cabang baru di KL." ]
📞 [ "Oh..." ]
📞 [ "Kenapa tuan?" ]
📞 [ "Jack, tolong carikan dimana keberadaan Zalfa Hanin. Sebelum 2 hari kepulanganku, aku ingin kamu menemukannya!" ]
📞 [ "Baik tuan muda, segera akan saya carikan keberadaannya. Oh ya tuan muda, kalau saya boleh tahu. Gimana keadaan nona muda, dan calon tuan, nona muda kecil?" ]
📞 [ "Mereka sangat baik, dan Aulia mendidiknya dengan cara sederhana. Aku jadi tidak sabar ingin berkumpul bersama dengan mereka." ]
📞 [ "Semoga disegerakan, dan masalah kesalahpahaman ini cepat selesai." ]
📞 [ "Amin. Kalau gitu aku tutup dulu." ]
Azzuri menutup panggilan teleponnya, sesudah Jack membalas salam penutup. Azzuri menyimpan ponselnya di dashboard , memasang seatbelt, menyalahkan mesin mobil.
"Aulia, tunggu aku!" gumam Azzuri, pandangannya mengarah ke rumah ruko Aulia.
Azzuri pun melajukan mobilnya meninggalkan rumah Aulia menuju kota Medan, rumah baru ia beli di daerah Medan, sekitar Ringrood, Setia Budi.
.
.
💫 Di sisi lain, Kota B 💫
Di dalam kafe tengah duduk 2 orang lelaki membelakangi pintu masuk kafe, dan salah seorang dari mereka sedang memegang ponsel berisi foto gadis, dan anak remaja tanggung.
"Bagaimana sekarang keadaan gadis yang ada di dalam foto ini. Kenapa dia tidak menghubungi aku, apakah dia sudah melupakan ku? Dan bagaimana dengan cucu kembarku?" tanya seorang pria berumur. Namun, tubuhnya masih terlihat segar dan berotot.
"Tenanglah, aku sangat yakin jika Azzuri pasti akan menemukannya. Dan aku juga sangat yakin jika gadis kita adalah gadis yang tangguh, kemanapun dia berada, dia pasti akan selamat," sahut pria lebih muda darinya.
"Iya, aku berharap kesalahpahaman mereka akan segera terselesaikan."
"Kenapa tidak mencoba menghubunginya saja, aku rasa dia akan sangat senang," usul pria lebih muda darinya.
"Tidak, aku tidak bisa melakukan hal itu. Meski aku sangat merindukannya, aku akan tetap mengikuti privasinya. Aku akan menunggu sampai ia menghubungi ku."
"Aku dengar perusahaannya sekarang berkembang pesat. Meski dia tidak memimpin secara langsung. Aku benar-benar salut melihatnya sekarang. Istri ku di rumah juga sangat merindukannya, dia selalu menceritakan gadis kita ke anakku sekarang. Haah...aku berharap gadis kita akan segera menghubungi kita, dan mau bertemu dengan kita lagi," ucap pria lebih muda dari pria tersebut.
"Kamu benar. Aku akan menunggu kamu, Aulia, dan cucuku, Azka, Anna. Datanglah kepada kakek."
...Bersambung...