Yuoru Tsushima adalah kepala kepolisian termuda pada masanya. Karena kepintaran dan ketegasan tindakannya, Yuoru bisa dipercaya oleh Kaisar untuk menduduki posisi tersebut.
Banyak yang meragukan Yuoru karena usianya yang masih muda dan tampak tidak serius dalam menghadapi masalah. Akan tetapi, ia bertemu dengan gadis desa bernama Ayuna Tanaka yang memiliki sikap polos dan sopan untuk menjadi asisten pribadinya.
Siapa sangka dibalik sikap dingin dan acuh Yuoru pada semua orang, ia akan menurut dengan apa yang dikatakan oleh Ayuna.
Tak habis sampai disitu, masalah terus bermunculan di dalam kepolisian. Yuoru sebagai kepala kepolisian harus bisa membuktikan bahwa ia bisa memegang posisi itu dengan penuh tanggung jawab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Xin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ATSUI AME
Keesokan harinya...
Pagi-pagi sekali Yuoru dan Ayuna sudah membantu nenek Ochi menyapu halaman rumah. Mereka berdua terlihat seperti sepasang suami-istri yang sesungguhnya. Bahkan nenek Ochi juga tidak bisa berkata-kata, dia hanya duduk sambil menebarkan senyuman di wajahnya.
Yang lain baru saja bangun, Remi langsung menghampiri nenek Ochi yang sedang duduk di halaman depan.
" Nenek, mereka sudah berbaikan? " tanya Remi seraya duduk di samping sang nenek.
Nenek Ochi mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari Yuoru dan Ayuna. " Iya, tampaknya begitu. "
" Yang satu menyapu, yang satu lagi mengumpulkan sampah dedaunan kering dan memasukkannya ke dalam kantong sampah. Wah, sangat rajin. " ucap Remi dengan lantang sampai Yuoru dan Ayuna menoleh ke arahnya.
Ayuna menunduk sebagai sapaan untuk Remi. " Remi-San, Ohayōgozaimasu. "
Remi tersenyum. " Hai, oneesan, Ohayō. "
Setelah menyapa Remi, Yuoru dan Ayuna melanjutkan pekerjaan mereka. Sementara itu, para medis sudah mulai memindahkan beberapa meja dan kursi untuk diletakkan di halaman depan, yang nantinya akan digunakan untuk mengobati warga desa. Dan memasang tenda supaya sedikit lebih teduh, juga untuk mengantisipasi ada nya hujan yang datang tiba-tiba.
Angkat dengan perlahan-lahan, tidak perlu buru-buru!
Hai!
Yang perempuan bantu rapikan kamar yang kosong saja, itu kita gunakan sebagai ruang pemeriksaan.
Hai, dokter Sasaki!
Ada 4 meja panjang untuk di luar ya teman-teman. Sisa nya dipakai untuk ruang pemeriksaan.
Oke.
Ganbatte, semuanya!
Semangat! semangat!
Kenzi menghampiri Remi yang tengah mengobrol dengan nenek Ochi. " Remi-chan, aku ada kesibukan, tidak apa-apa kalau hari ini tidak banyak bicara denganmu? "
Remi mengangguk. " Ng, Daijoubu. Bekerja lah, aku akan melihat dari sini sama nenek. "
Kenzi tersenyum seraya mengelus kepala Remi. Hai, aku ke dalam dulu ya. " pamitnya lalu bergegas pergi ke dalam rumah untuk ikut membersihkan ruangan yang akan dipakai.
Semua orang sudah sibuk sejak pagi untuk menyiapkan kegiatan berobat gratis untuk warga sekitar. Sementara semua para medis, dibantu oleh beberapa warga yang masih muda sedang mengurus urusan di luar dan di dalam, Yuoru dan Ayuna yang sudah selesai membersihkan halaman depan hanya melihat semua orang sibuk.
" Yuoru-Sama, ini sudah hampir jam makan siang. Apakah Anda benar-benar tidak ingin makan sesuatu? Anda belum makan apa pun sejak kemarin siang. " tanya Ayuna dengan nada pelan.
Yuoru menjauh dari Ayuna seraya mengambil sebatang rokok dan pematik dari saku celananya. " Tidak. Nanti saja. "
Nenek Ochi dan Remi yang masih memperhatikan mereka saling bertatapan dan tersenyum.
Di saat Yuoru menghidupkan pematiknya, Ayuna bergegas menggenggam tangan kanan Yuoru yang memegang rokok. Mereka saling menatap, kedua ekspresi yang datar itu bertemu di jarak yang dekat seperti itu. Tinggi badan mereka berbeda 18 cm, itu membuat Yuoru menunduk cukup lama di hadapan Ayuna.
" Doushite? " tanya Yuoru.
" Tadi pagi kamu sudah merokok, bukan hanya satu, tapi 11 batang rokok. Dan sekarang kamu akan merokok lagi? Shujin, kamu meremehkan diriku. " jawab Ayuna sambil menatapnya tajam.
Ayuna melepas genggaman tangannya dari Yuoru. Yuoru langsung menyimpan kembali rokok dan pematiknya ke saku celananya, lalu mengangkat kedua tangannya sejajar dengan telinganya. " Aku tidak akan merokok lagi. " ucapnya.
Karena Yuoru tidak jadi merokok, perasaan Ayuna jadi lebih tenang.
Berapa detik kemudian, dua orang para medis berlarian dari dalam rumah saling lempar barang. Satu orang berlari ke arah Ayuna yang sedang membelakangi semua orang kecuali Yuoru, jadi dia tidak tahu apa yang ada di belakangnya.
Hei, kemarilah! aku akan menangkapmu.
Kau dari tadi membual saja, buktikan kalau bisa.
Kalian berdua jangan berlari-lari begitu!
Jangan lempar-lempar barang juga! Nanti kena orang lain.
Tanpa disadari, sebuah botol berukuran 500ml di lempar ke arah orang yang berlari tepat di belakang Ayuna. Orang itu bisa menghindari botol tersebut, tetapi bagaimana dengan Ayuna yang tidak mengetahuinya.
Tidak kena! kau salah sasaran, haha.
Awas kau ya dasar bodoh!
Kau sedang tidak menyebut diri sendiri, kan?
Kau yang bodoh!
Yuoru yang masih fokus menatap Ayuna tidak menyadari ada benda yang mengarah pada Ayuna tepat di depannya.
" Oniichan, oneesan, awas! " teriak Remi seraya berdiri.
Seketika Yuoru langsung sadar ada benda yang mengarah pada Ayuna. Dia pun langsung mendorong Ayuna ke pelukannya dan mengganti posisi dengan Ayuna, yang tadinya dia yang membelakangi semua orang, kini Yuoru yang melakukan itu. Sehingga Yuoru yang terkena botol air tersebut hingga mengenai kepalanya.
Ayuna kaget jadi dia hanya menatap Yuoru dan tidak melepaskan pelukan itu. Walau terkena benda itu, Yuoru tidak bergeming, dia masih saja bersikap dingin seolah baik-baik saja.
" Oniichan, oneesan, kalian baik-baik saja? "
Setelah membuat orang lain terkena barang, kedua para medis itu tidak merasa bersalah. Mereka malah masih lanjut melempar barang dan saling mengejek tanpa memikirkan keadaan sekitar.
" Yuoru-Sama, kepala Anda kena.." Ayuna gemetaran.
Melihat Ayuna ketakutan padahal hanya terkena benda seperti itu, membuat Yuoru marah. Namun, pada saat dia baru saja akan melepas pelukan dari Ayuna dan menghampiri kedua orang itu, belum sempat berbalik saja Yuoru sudah disenggol sehingga dia kembali memeluk Ayuna dan tidak sengaja bibir mereka berdua menyatu.
Mata mereka sama-sama terbuka lebar, detak jantung keduanya juga terdengar selaras. Seolah waktu berjalan lambat dan dedaunan kembali gugur karena ditiup angin pagi.
Gomen'nasai, Tsushima-sama!
Mereka.....?
.....Berciuman?
Sontak semua orang langsung bersemangat menyaksikan kejadian langka itu. Apa lagi Yuoru dan Ayuna memang dikenal sebagai pasangan yang canggung padahal sudah menikah cukup lama. Mereka bahkan tidak pernah menunjukkan saling berpegangan tangan.
Setelah kejadian itu, Yuoru dan Ayuna jadi saling menjauh. Mereka semua berkumpul kembali di ruang tamu untuk makan siang, terlihat begitu jelas Yuoru dan Ayuna tak saling menatap sejak pagi. Semua orang yang melihat hal itu menjadi kebingungan, karena mereka hanya tahu bahwa Yuoru dan Ayuna adalah sepasang suami-istri.
" Kenapa hanya di lihat saja? Ayo, makanlah semuanya! " ucap nenek Ochi mencoba membuka topik.
Iya nek, arigatōgo.
Itadakimasu!
Ayo, makan-makan!
Tolong ambilkan yang di sana dong!
Kamu ingin yang mana?
Berikan dulu yang lebih dekat, nanti baru gantian.
Oh, oke. Aku paham.
Itadakimasu, semuanya!
Nenek Ochi berhasil mengalihkan perhatian para medis, hanya saja Yuoru dan Ayuna benar-benar tidak tertolong lagi. Remi dan Kenzi juga sudah menyerah untuk membantu supaya hubungan mereka membaik, hasilnya nihil.
" Bagaimana? " tanya Remi berbisik pada Kenzi yang duduk di sebelahnya.
Kenzi mendekat padanya. " Serahkan saja pada mereka sendiri! Kita lihat saja. Mereka kan bukan anak kecil lagi. " balasnya berbisik.
Remi begitu mencemaskan hubungan kakaknya dengan orang lain. Apa lagi, sebelumnya Yuoru tidak pernah dekat dengan wanita, jadi sikapnya yang dingin itu benar-benar sulit untuk dibuang.
Semua orang sudah mulai menyantap makanan mereka dan terkadang juga berbincang satu sama lain.
Kalian jangan begitu lagi, tidak sopan.
Kami sudah minta maaf kok.
Iya, gak akan kami ulangi lagi.
Baru sadar? Kalian berdua memang kekanak-kanakan.
Mereka itu keluarga dokter Sasaki. Tsushima-sama adalah kepala polisi, bisa saja kalian di proses.
Aku benar-benar menyesal. Kami juga sudah meminta maaf pada Tsushima-Sama dan istrinya.
Lain kali jangan begitu lagi! Kalian buat malu kami semua saja.
Iya, kami mengerti.
Walau Ayuna masih merasa malu menghadapi Yuoru, ia tetap harus memperhatikan kesehatan Yuoru. Sejak berangkat, Yuoru belum memakan sesuatu, dia hanya menghabiskan energi dengan merokok. Hal itu tentu membuat Ayuna khawatir.
Ayuna memperhatikan Yuoru yang hanya diam sambil menatap mangkuk nya yang kosong. Tidak ada yang bisa menebak isi kepalanya.
" Nissan, silahkan makan! Anda membuat Ayuna-San khawatir. " suruh Kenzi.
Kenzi sudah menyuruhnya makan, tetapi Yuoru tetap diam seolah-olah tidak mendengarnya.
" Oniichan? " panggil Remi.
Lagi-lagi Yuoru tidak menjawab. Dia hanya tertunduk sejak tadi.
Karena tidak juga merespon, Ayuna berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan ke tempat duduk Yuoru. Ia berhenti melangkah tepat di sebelah Yuoru yang duduk di paling pinggir kiri.
Setelah itu dia duduk di samping Yuoru seraya mengambilkan lauk yang ada di meja ke dalam mangkuk Yuoru. " Shujin, jangan tidur di sini! Kamu harus makan dulu, setelah itu silahkan istirahat di dalam. " tegurnya dengan nada lembut.
Mendengar Ayuna mengatakan itu, Yuoru terbangun dan langsung menatap Ayuna.
Nenek Ochi tertawa karena ternyata Yuoru tertidur di tengah-tengah keramaian orang. Mereka padahal baru makan siang, tapi Yuoru sudah terlihat kelelahan.
" Haha, aku juga tidak mengira kalau dia tertidur. Bagaimana kamu tahu Ayuna-San, bahwa suamimu sedang tertidur? " tanya nenek Ochi.
" Iya, siapa juga yang tahu. Sejak tadi dia duduk menunduk seperti itu, aku kira karena malu, ternyata...hadehh. " Remi menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kakaknya.
" Silahkan makan dulu! Kalau memang sedang tidak sehat, kembali lah ke dalam dan istirahat. " suruh Ayuna dengan wajah datarnya.
Seperti anak kecil yang baru bangun tidur dan dipaksa untuk makan, Yuoru mendengarkan apa yang diperintahkan Ayuna padanya tanpa mengatakan apa pun. Dia langsung mengambil sumpit, lalu mulai menyantap makanannya.
" Sepertinya suhu tubuhnya naik. " ucap Kenzi singkat.
Ayuna langsung menempelkan telapak tangannya di tangan kiri Youru untuk memastikan suhu tubuh Yuoru. Dugaan Kenzi benar, suhu tubuh Yuoru sangat panas, dia terkena demam lagi.
Ayuna menatap Kenzi. " Benar, kan? Ini karena terlalu memaksakan diri. Dia juga sudah dari kemarin siang belum makan, jadi itu yang membuatnya demam. " Kenzi langsung berdiri dari tempat duduknya. " Aku akan mengambilkan obat di dalam untuknya dulu. "
Kenzi pergi untuk mengambilkan obat demam yang akan diberikan pada Yuoru. Sementara itu, Yuoru tiba-tiba berhenti mengunyah makanannya dan meletakkan sumpitnya di atas mangkuk.
" Doushite? Kamu baru makan sedikit. " tanya Ayuna.
Yuoru memalingkan wajahnya ke hadapan Ayuna. Wajahnya terlihat pucat, tatapan matanya yang biasanya tajam dan dingin, sekarang terlihat lesu dan tidak bertenaga.
Tak lama menatap Ayuna, matanya meredup dan akhirnya terjatuh di pelukan Ayuna yang langsung menahan tubuhnya supaya tidak terjatuh ke lantai.
" Shujin? Daijoubu? " tanya Ayuna yang terlihat panik.
Remi sontak langsung berdiri dan menghampiri Yuoru yang di peluk Ayuna. " Oniichan, baik-baik saja kan? "
" Itu pasti karena kepala nya kena benturan tadi. Sekilas memang terlihat sepele, tapi lihat lah apa yang sudah terjadi. " ucap nenek Ochi sambil melihat ke arah para medis.
Kenzi yang baru saja mengambil obat, langsung bergegas memeriksa Yuoru. " Satu orang bantu saya membawanya ke dalam kamar! "
Hai, dokter Sasaki.
Ayo, cepat yang laki-laki!
Kami akan membereskan barang-barang di kamar.
Setelah di bawa ke kamar dan diberikan cairan infus untuk membantu penyerapan makanan. Suhu tubuh Yuoru mulai kembali normal dan wajahnya tidak lagi terlihat pucat. Yuoru di baringkan di kasur tipis di lantai dan dipakaikan selimut yang tebal sampai menutupi bahunya.
Langit sudah mulai berubah menjadi biru tua dan muncul bulan. Ayuna masih setia menunggu Yuoru terbangun dari tidurnya itu.
Remi datang untuk mengantarkan makanan karena Ayuna melewatkan makan malam bersama di ruang tamu.
Tok...tok...
" Sumimasen, oneesan. Aku membawakan oneesan makan malam, di makan ya! " ucap Remi seraya meletakkan makanan di lantai, tepat di samping Ayuna.
Ayuna menunduk. " Hai, arigatōgo Remi-San. " Ia langsung mengambil mangkuk dan sumpit, lalu menyantap makanannya.
Remi membungkuk. " Sama-sama, oneesan. Arigatōgo, karena sudah menjaga oniichan. Aku kembali ke luar dulu, selamat makan! " ucapnya lalu keluar dari kamar itu.
Tidak butuh waktu lama untuk Ayuna menghabiskan makanannya. Ia langsung membawa kembali benda-benda itu ke luar untuk membersihkannya di dapur.
Semua orang sedang bermain kartu bersama di ruang tamu setelah makan malam, suara yang ramai terdengar ke dalam kamar. Terlihat semua orang senang dengan permainan itu, bahkan nenek Ochi juga ikut bermain dengan anak-anak muda.
Ayo, mulai lagi dari sana!
Kamu curang! Tadi aku yang mendapatkan nilai 10.
Tidak, dia juga mendapatkan angka 10, kita harus bermain ulang!
Tidak adil.
Haha, tidak perlu marah, kita hanya bersenang-senang saja.
Ayo, giliran nenek Ochi sekarang.
Oh, sudah giliran diriku ya? Sebentar, biarkan nenek ini melihat kartu dulu.
Baik, silahkan nenek.
Ayuna masih di dapur untuk mencuci mangkuk dan piring bekas makan malam tadi. Di saat semua orang sedang fokus bermain di ruang tamu, mereka kaget saat melihat Yuoru keluar dari dalam kamar sambil memegang dinding untuk berjalan.
Tsushima-sama?
Oh, kenapa Anda bangun dari kamar?
Anda harus istirahat di dalam.
Kenzi langsung menghampiri Yuoru. " Astaga, kenapa kamu berjalan ke luar nissan? Kamu harus istirahat! " suruhnya dengan wajah khawatir.
Yuoru tidak menghiraukan Kenzi, dia melihat ke orang-orang seperti mencari seseorang.
" Mencari siapa, oniichan? " tanya Remi yang baru saja dari halaman belakang.
" Ayuna. " jawab Yuoru dengan nada pelan.
" Oneesan? Aku akan membantumu mencarinya, oniichan duduk saja dulu di dalam! " saran Remi.
Sudah dibujuk untuk kembali ke dalam kamar oleh Remi dan Kenzi, tetap saja Yuoru bersikeras tidak mau. Dia mengatakan ingin mencari Ayuna, padahal Ayuna masih di dapur, sibuk membersihkan piring-piring yang habis dipakai tadi.
Ayuna baru saja siap mencuci mangkuk, lalu mendengar suara ribut di ruang tamu. Ia pun langsung bergegas melihat apa yang sedang terjadi di sana.
" Apa yang terjadi? " tanya Ayuna dengan wajah datarnya.
" Nah, ini istrimu! sekarang kembali lah istirahat. " ucap Remi dengan wajah khawatir.
Ayuna kaget melihat Yuoru siuman dan langsung berjalan dari dalam kamar. " Kenapa kamu berjalan keluar? "
Setelah menemukan Ayuna, Yuoru berjalan ke arah luar rumah. " Ikut bersamaku! Di sini terlalu sesak. " suruhnya.
Ayuna pun langsung menyusulnya karena khawatir Yuoru akan kembali pingsan.
" Yuoru nissan, neesan? kalian mau ke mana? ini sudah malam. " tanya Kenzi tetapi Yuoru dan Ayuna sudah pergi ke jalan.
Apa alasannya itu?
Tinggal bilang saja kalau ingin bicara berdua, kenapa harus mengatakan begitu?
Setiap orang punya sisi masing-masing untuk menunjukkan sikap.
Benar. Jangan membicarakan orang seolah dia tidak baik!
Wakatta, wakatta.
" Biarkan saja mereka. Kalian tidak akan mengerti hal yang dihadapi orang yang sudah menikah. " ucap nenek Ochi seraya berdiri. " Aku akan tidur saja! kalian lanjut bermain lah tanpa diriku. "
Hai, nenek Ochi.
Selamat malam, nenek.
Yuoru berjalan tertatih-tatih karena masih belum lemah. Ayuna yang melihatnya ingin membantu, tetapi dia ingat bahwa mereka tidak boleh terlihat dekat karena hubungan kerja. Jadi, dia hanya melihat dan mengikuti Yuoru dari belakang saja, seperti orang yang mengawasi seseorang dari balik bayangan.
Separuh jalan yang tanpa tujuan itu, Yuoru baru sadar kalau Ayuna hanya berjalan di belakangnya, dia pun berhenti berjalan seraya berbalik.
" Kenapa hanya diam dan mengikuti dari belakang? " tanya Yuoru.
Ayuna membungkuk. " Gomen'nasai, Yuoru-Sama. Saya hanya menyesuaikan diri dengan keadaan saja. "
" Keadaan apa? "
" Seperti sekarang, hanya ada Anda dan saya. Kita kembali menjadi atasan dan bawahan. Saya hanya asisten Anda dan Anda hanyalah tuan Komisaris. " jelas Ayuna tanpa sadar bahwa yang dikatakannya sangat tidak ingin di dengar oleh Yuoru.
" Kau benar-benar tidak menyadarinya atau kau berpura-pura tidak menyadarinya? " tanya Yuoru dengan wajah serius.
Ayuna sangat paham apa yang dikatakan Yuoru padanya, tetapi dia mencoba menahan perasaan yang sebenarnya karena harus ada batasan di antara mereka.
Tiba-tiba air turun dari langit, perlahan-lahan membasahi semuanya. Ayuna tetap berusaha menyembunyikan perasaannya dari Yuoru, walau Yuoru sudah membuka lebih dulu hatinya.
Ayuna terdiam. Bukan tidak ingin menerima Yuoru, tetapi dia merasa tidak pantas. Walau hujan sudah mengguyur mereka, Ayuna tetap diam dan menutupi perasaannya sekeras mungkin.
Yuoru yang masih dalam pemulihan mulai merasa kepalanya berdenyut lagi. Ayuna langsung tersadar dan menghampiri Yuoru yang menahan sakit.
" Daijoubu desu ka? Yuoru-Sama? " tanya Ayuna sambil memegang tangan Yuoru.
Hujan semakin deras, tapi mereka berdua tidak mencari tempat untuk segera berteduh.
Yuoru menggelengkan kepalanya, " Apa seperti ini juga termasuk atasan dan bawahan? " tanya Yuoru seraya menggenggam tangan Ayuna.
Ayuna kembali sadar bahwa sikapnya sudah melewati batas. Ia segera melepas genggaman tangan Yuoru dan melangkah mundur beberapa langkah.
" Gomen'nasai, Yuoru-Sama. " ucapnya sambil membungkuk lalu kembali berdiri.
Mereka terpisah 2 meter dari jarak yang dekat tadi. Ayuna benar-benar ingin memutuskan jalan, supaya mereka hanya sebatas atasan dan bawahan sampai kapan pun.
" Walau aku biasanya bersikap acuh, bukan berarti aku tidak merasakan apa yang orang lain rasakan. " ucap Yuoru. " Kau juga merasakannya, bukan? "
Ayuna menggeleng sambil mencoba menahan air mata yang sudah menggantung di bawah matanya. Dadanya juga terasa sesak, karena berusaha menahan perasaannya.
Karena sikap Ayuna yang ingin memutuskan perasaannya, Yuoru langsung berlari ke arah Ayuna dan mendorong wajah Ayuna ke wajahnya sehingga bibir mereka berdua bersatu.
Ayuna memberontak, berusaha melepaskan dirinya dari Yuoru, tetapi tidak bisa. Yuoru memeluk Ayuna sangat erat dan bibir mereka masih menyatu, sehingga sulit menghindar.
Awalnya Ayuna masih berusaha melepaskan dirinya dari Yuoru, tetapi beberapa menit kemudian, dia memikirkan banyak hal yang akhirnya membuat Ayuna menerima perasaan yang ada di hatinya untuk Yuoru.
Kedua tangannya yang tadinya berada di kedua bahu Yuoru untuk mendorongnya, ia lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Yuoru seraya memejamkan kedua matanya.
Mereka berdua menjadi lebih bergairah, merasakan api yang membakar di dalam hati. Detak jantung mereka juga selaras, seolah mereka merupakan 1 jiwa.
BERSAMBUNG.....