Hidup bahagia menjadi ratu dalam sebuah keluarga. Memiliki suami dan anak yang begitu mencintainya. Husna namanya. Seorang ibu rumah tangga yang begitu dicintai suaminya dan keluarganya.
Namun, dia mendapatkan sebuah pesan rahasia yang membuat hidupnya berubah begitu drastis.
Apakah pesan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen's Suga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Arini
"Kemarin orang tua Lestari datang ke sekolah Lean. Dia mengatakan jika ayahnya adalah anak dari cucu dia. Dia juga bilang jika kamu menikah dengan Farhan karena kamu menggodanya. Lean bercerita padaku karena saat itu kamu sibuk berusaha mengembalikan Farhan ke rumah."
Ucapan Fadel selalu terngiang selama dalam perjalanan. Arini bahkan tidak bisa berkonsentrasi penuh karena pikiran dan hatinya dilanda amarah yang tak terkendali.
Beberapa kali dia membunyikan klakson mobil hanya untuk hal yang sepele hingga dia kerap dimarahi pengendara lain di depannya.
"Kenapa mereka tidak bijak sama sekali. Ini semua tidak ada sangkut pautnya dengan anak-anak. Kurang ajar!" Arini memukul kemudi dengan keras.
Mobil Arini sampai di cafe tempat dia dan Lestari akan bertemu. Dengan nafas ngos-ngosan karena menahan kesal, Arini buru-buru masuk ke dalam.
Matanya memindai kesana kemari mencari sosok Lestari. Wanita itu melambaikan tangan pada Arini yang terlihat sedang mencari dirinya.
Dengan langkah cepat Arini pun menghampiri dan ....
Plak!
Arini menampar pipi Lestari cukup keras. Orang-orang yang kebetulan ada di sana pun memperhatikan mereka berdua.
"Kalaupun memang aku simpanan Mas Farhan, tapi tidak seharusnya Lean menjadi sasaran. Kamu juga seorang ibu bukan? Harusnya kamu bisa mengerti jika masalah diantara kita tidak ada sangkut pautnya dengan anak-anak!" Arini berteriak.
"Aku ... aku tidak akan pernah sudi menikah dengan laki-laki yang sudah beristri jika tahu sejak awal. Aku ini bukan pelakor! Aku tidak salah apa-apa, anakku juga tidak tau apa-apa. Kenapa kalian malah melibatkan Lean? Huh!"
"Arini ... apa maksud kamu?"
"Ibu kamu. Dia datang ke sekolah Lean dan dia mengatakan hal yang tidak pantas pada anakku. Lagi pula, pernikahan aku dan Mas Farhan itu sah, kenapa bisa? Apa kamu menulis surat persetujuan?"
"Ya, aku menulisnya. Aku mengizinkan suamiku menikah lagi karena tidak ingin diceraikan saat dalam keadaan hamil. Aku terpaksa mengizinkan suamiku menikah lagi demi anakku, Arini." Lestari mulai menangis sesenggukan.
"Berarti bukan salahku jika menerima lamaran dia bukan? aku tidak tahu dia beristri. Tapi kenapa? Kenapa sekarang kalian seolah menginginkan Farhan menceraikan aku? Kalian licik! Kenapa harus melibatkan Lean? Dia itu masih kecil, Lestari ... anakku menderita karena ulah kalian." Arini yang semula membusungkan dada dan marah pada Lestari, ambruk ke lantai. Tubuh Arini lemas.
"Maaf, aku tidak tahu ibuku akan melakukan itu," ucap Lestari menyesal. Dia pun sama seperti Arini. Menangis dengan segala perasaan yang berkecamuk di dalam dadanya.
"Rin ...."
Fadel datang menghampiri Arini yang duduk lemas di lantai.
"Lean tidak salah apa-apa, Fad. Aku juga tidak salah apa-apa. Kenapa mereka harus melibatkan anak sekecil Lean ...." Arini kembali menangis lebih kencang.
Fadel menarik tubuh Arini ke dalam pelukannya.
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana Lean saat mendengar ucapan wanita tua itu. dia pasti sakit dan tertekan, Fad."
Fadel membelai lembut kepala Arini yang menangis dalam pelakunya.
"Sudah, Rin. Ayo kita duduk. Orang-orang memperhatikan kita." Perlahan Fadel membantu Arin berdiri dan duduk di atas kursi.
Mereka saling diam untuk waktu yang lama. Saling menenangkan diri masing-masing.
"Aku benar-benar tidak tahu apa yang ibuku lakukan pada Lean. Aku minta maaf mewakili Ibuku."
"Aku tidak akan memaafkan siapapun yang menyakiti anakku. Baik itu ibumu atau Farhan sekalipun," ucap Arini geram.
"Sssttt, Rin." Fadel mengusap punggung Arini.
"Mana ada orang dewasa yang melabrak anak SD? Dia itu bukan cuma dewasa tapi tua bangka. Tidakkah ada otak dalam kepalanya? Apa hatinya sudah terkontaminasi virus sampai dia kehilangan hatinya?" tanya Arini menatap Fadel.
"Aku tahu, dia memang salah. Tapi tidak benae jika kamu melampiaskannya pada Lestari."
"Lalu pada siapa? Apa aku juga harus melabrak anak-anak dia? Begitu?"
"Bukan begitu, Arini."
"Aku akan bicara pada ibu. Aku akan minta dia agar meminta maaf padamu dan Lean, Arini."
"Tidak! Jangan sampai wanita tua itu menunjukkan wajahnya di hadapanku dan anakku lagi. Jika tidak, aku tidak akan menjamin jika aku akan diam saja dan tidak membalas kalian."
"Aku mengerti. Sekali lagi aku minta maaf."
"Kamu ingin Farhan seutuhnya bukan? Ambil saja! Aku tidak butuh laki-laki sampah seperti dia. Katakan padanya untuk datang di pengadilan nanti."
"Arini ...." Antara percaya dan tidak, bahagia dan tidak Lestari mendengar ucapan Arini.
"Ayo kita pulang, Fad." Arini menarik tangan Fadel yang sama-sama terkejut mendengar ucapan Arini yang akhirnya mau melepaskan Farhan.
Seulas senyum menghiasi wajah Fadel saat dia diseret keluar dari cafe oleh Arini.
Dengan kesal Lestari marah pada ibunya. Dia tidak terima karena diperlukan kasar oleh Arini karena ulah ibunya.
"Tapi lihat bagaimana hasilnya, Nak. Akhirnya dia melepaskan suami kamu, bukan?"
"Iya, itu aku senang. Tapi cara Ibu menemui Lean bukanlah sikap yang baik, Bu. Aku malu karena hal itu."
"Apa pun caranya, yang terpenting hasilnya sesuai dengan keinginan kita. Tari, ibu itu sudah kesal pada sikap suami kamu. Dia itu tidak tahu diri. Perusahaan yang dia jalankan sekarang adalah milik ayah kamu. Dia hidup enak seperti sekarang karena kita orang kaya. Dia itu hanya benalu. Tapi gayanya selangit, pake acara poligami segala. Menjijikan!"
"Cukup, Bu. Hentikan! Dia itu suami aku, hatiku sakit jika mendengar dia dihina terus seperti ini."
"Tari ... tari ... harusnya kamu belajar dari Arini. Dia wanita cerdas yang akhirnya mau melepaskan suami seperti Farhan. Lah kamu? Dari dulu masiiihhhh saja bertahan. Apa, sih, hebatnya dia? Duit gak punya, tahta pun tidak ada."
"Karena aku mencintai dia dengan tulus. Aku mencintai dia apa adanya, Bu."
"Ya ampuuun, Tari. Buka mata dan hati kamu. Dia itu pria brengsek! Kamu jadi janda pun pasti banyak yang mau. Ketimbang bertahan dengan laki-laki yang bisanya nyakitin kamu terus."
"Aku tidak akan bercerai! Dia menikah lagi, silakan. Lihat saja, pada akhirnya dia kembali padaku bukan? Itu karena di hatinya hanya ada aku, Bu."
Ibunya Lestari hanya bisa mengelus dada melihat sikap anaknya yang sudah dibutakan oleh cinta.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
bener ini 🤣🤣🤣novel isinya g harus perempuan merebut milik orla tp memang lakinya yg g benar🤭🤣🤣
lestari alamku lestari desaku....