Pernikahan yang diawali dengan perjodohan dan tak saling cinta, biasanya berakhir dengan sebuah cinta diantara keduanya. Namun ternyata apa yang Salma alami berbeda dengan kisah romansa pada umumnya.
Dua puluh tahun menikah dengan Aidil dan dikaruniai dua orang putra ternyata tak membuat Aidil bisa membuka hatinya untuk Salma. Hingga di suatu malam, akhirnya Salma mengetahui jika suaminya memiliki wanita idaman lain dalam pernikahan mereka.
Manakah yang akan Salma pilih? Bertahan demi anak-anaknya atau memilih berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinkanmiliar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Rumor Menyebar
Pukul tujuh malam, Salma telah selesai menyiapkan makan malam untuk Evita. Setelahnya Salma memilih untuk kembali ke kamarnya. Ia membiarkan ibu mertuanya makan sendirian kali ini.
Salma duduk di depan meja rias dan menatap dirinya di cermin. Salma memiliki wajah yang cantik. Kulitnya putih bersih dan masih kencang.
Salma tidak peduli dimana suaminya saat ini. Aidil mengirim pesan jika dirinya akan pulang terlambat. Salma sudah bisa menebak apa yang sedang dilakukan suaminya saat ini.
Salma menyisir rambutnya kemudian memoles sedikit makeup diwajahnya. Salma meraih tas kecil miliknya kemudian meraih kunci mobil.
Salma melewati Evita yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Mau kemana kau?"
Salma menghentikan langkahnya. "Ada urusan sebentar. Mamih tidak perlu menungguku. Jika mamih mengantuk langsung tidur saja."
Evita hanya mengedikkan bahunya. "Hmm, biarkan sajalah! Mungkin saja dia sedang suntuk."
...***...
Salma tiba di depan lobi hotel yang pernah detektif katakan padanya jika suaminya sering datang kesana. Salma turun dari mobil dan langsung menuju ke meja resepsionis.
"Kamar 501," ucap Salma.
Si resepsionis memberikan kunci kamar yang Salma katakan.
"Terima kasih." Salma menyambar kunci kemudian menuju ke lift.
Si resepsionis hanya menatap heran. "Kenapa nomor 501 sangat ngehits ya? Ada apa dengan nomor itu?"
Gumaman si resepsionid ternyata di dengar oleh Sandi. Ia segera bertanya pada si resepsionis.
"Ada apa?" tanya Sandi.
"Oh itu, Pak. Barusan ada yang memesan kamar 501. Bukankah ini aneh? Kenapa banyak orang menyukai kamar nomor 501? Ada apa dengan kamar itu?"
Sandi membelalakkan matanya. "Siapa yang memesannya?"
"Seorang wanita. Baru saja dia masuk lift."
Sandi segera berlari ke ruangannya. Ia mengecek kamera CCTV yang ada di dalam lift.
"Salma? Apa yang dia lakukan disini?"
Sandi segera menghubungi Marina, sang istri. Ia meminta Marina untuk datang ke hotel tempatnya bekerja. Ia takut terjadi sesuatu dengan Salma.
Dua puluh menit kemudian, Marina tiba di hotel. Sandi menceritakan secara singkat apa yang ia lihat tadi. Mereka berdua segera menuju ke kamar 501 dimana Salma berada.
Tak lupa Sandi membawa kunci cadangan kamar untuk berjaga-jaga. Mereka memasuki kamar dan mencari keberadaan Salma.
"Salma!"
Marina berteriak ketika melihat Salma sedang menangis di kamar mandi. Marina segera memeluk Salma.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Marina ketika Salma dalam kondisi sudah tenang. Mereka duduk di sofa kamar hotel itu.
"Kenapa kau bisa ada disini?" Salma malah bertanya balik.
"Sandi menelponku. Dia takut terjadi sesuatu denganmu."
Salma mengulas senyumnya. "Aku baik-baik saja. Aku hanya..." Salma menatap Marina dan Sandi.
"Jadi, kalian sudah tahu mengenai hal ini?" tanya Salma menyelidik.
"Maafkan aku, Salma. Ini semua adalah salahku!" Marina terlihat amat menyesal.
"Aku yang sudah membuat pak Aidil mengenal Jihan. Maafkan aku!" Marina menangis sesenggukan.
"Sudahlah! Aku tidak apa-apa kok. Jangan menyalahkan dirimu."
Marina yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan Salma, langsung memeluk Salma. Marina tidak menyangka jika Salma lebih kuat dari yang ia kira.
Sementara itu di tempat berbeda, Jihan memasak menu istimewa untuk makan malam bersama Aidil. Pria beristri itu membatalkan makan malam dengan Salma dan malah makan malam di apartemen Jihan.
Jihan menata makanan diatas meja makan. Ia memanggil Aidil dan Keisya untuk bergabung di meja makan.
"Terima kasih, ya." Tanpa malu-malu Aidil mengambil makanan ke dalam piringnya.
"Silakan di makan! Jika tidak enak maaf ya!"
Aidil menyuapkan makanan ke mulutnya. "Hmm, ini sangat enak! Rasanya sangat pas." Aidil mengulas senyumnya.
"Benarkah? Syukurlah jika Mas menyukainya." Jihan amat senang karena mendapat pujian dari Aidil.
Mereka bertiga makan dengan lahap dan sesekali saling melempar canda. Keisya menyukai Aidil yang memiliki sikap seperti seorang ayah untuknya.
Pukul sembilan malam, Aidil keluar dari apartemen Jihan. Beberapa orang tetangga Jihan membicarakan soal Aidil yang sering bolak balik ke rumah Jihan yang notabene seorang janda.
Pagi harinya, Marina yang ingin membeli sarapan tiba-tiba dikejutkan dengan para ibu yang sedang bergosip tentang Jihan. Rupanya rumor tentang hubungan Jihan dan Aidil mulai menyebar.
Marina tidak ikut menanggapi karena dirinya sudah tahu kebenarannya.
"Huh! Orang-orang mulai bergosip tentang Jihan." Marina menggerutu di depan Sandi.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?"
Marina mengusap wajahnya. "Entahlah. Aku merasa kasihan pada Salma. Apa aku harus bicara dengan Jihan? Aku harus menasehati dia agar tidak mengganggu rumah tangga Aidil dan Salma."
Marina hampir saja kembali keluar dari rumah kalau saja Sandi tidak menghentikannya.
"Sayang, sudahlah. Sebaiknya kita tidak ikut campur urusan mereka. Apalagi ini menyangkut rumah tangga Salma dan Aidil. Aku yakin Salma bisa menyelesaikan masalahnya dengan Aidil."
Marina menatap suaminya. "Kita harus bagaimana? Aku merasa bersalah pada Salma." Marina terlihat frustrasi.
Sandi memeluknya agar bisa membuat Marina lebih tenang.
#
#
#
Seminggu telah berlalu sejak rumor yang menyebar tentang Jihan dan Aidil. Wanita cantik itu kini tidak lagi bekerja di PRM Group. Jihan mulai tidak nyaman dengan gunjingan dari sesama karyawan yang mulai mencurigai hubungannya dengan Aidil.
Kini Aidil memilih untuk bertemu Jihan di tempat lain selain rumah dan kantor tentunya. Kamar hotel 501 masih terbilang aman menurut Aidil.
Sebenarnya Aidil sendiri terkadang merasa bersalah pada Salma. Tapi apa mau dikata, hatinya berpihak pada Jihan, wanita yang berhasil menggetarkan hatinya. Sulit untuk dimengerti, tapi Aidil bertekad jika suatu saat ia pasti akan mengakui semuanya di depan Salma. Ia ingin jujur di depan Salma.
Malam itu, Salma sengaja menunggu Aidil pulang ke rumah. Salma sudah cukup menahan semua ini sendirian. Ia tak bisa menahannya lagi.
Aidil pulang ke rumah pukul sembilan malam. Pria itu sama sekali tak tahu menahu jika Salma sudah menyiapkan kejutan untuknya.
Aidil menyapa Evita yang masih duduk di ruang TV. Ia menyapa sekilas ibunya kemudian meminta wanita itu agar masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
Aidil menuju kamarnya dan Salma. Disana Salma sudah menantinya.
"Dari mana saja kamu, Mas?" Pertanyaan ketus Salma membuat Aidil bingung.
"Aku dari ka..."
"Apa kamu baru saja menemui wanita itu?"
Aidil masih pura-pura tidak mengerti. "Wa-wanita itu? Wanita itu siapa?"
Salma menatap Aidil dengan tatapan tajam.
"Biasanya aku sangat bahagia jika kau kembali pulang. Tapi kali ini tidak!" Salma melemparkan foto-foto kebersamaan Aidil dan Jihan tepat kearah wajah Aidil.
Pria itu memunguti foto yang tercecer. Kini ia mulai paham apa yang sedang Salma bicarakan dengannya.
"Sayang, ini tidak seperti yang terlihat!" Aidil mencoba bernegosiasi.
"Kalau begitu jelaskan! Jelaskan apa yang kau lakukan bersama dengan wanita itu!" Suara Salma mulai meninggi.
Salma menarik kerah baju Aidil. "Katakan kenapa kau melakukan ini padaku, Mas? Kenapa? Aku sangat mencintaimu, Mas. Tapi apa yang kau lakukan padaku? Kau malah menduakan cintaku! Kau berselingkuh!"
Tubuh Salma merosot ke lantai. Ia duduk menangis sambil memukuli dadanya yang terasa sesak.
"Bagaimana bisa kau mengkhianati aku setelah 20 tahun?"
"Maaf..."
#bersambung
^^^"Cinta memiliki masa. Masa dimana cinta akhirnya kadaluwarsa."^^^
^^^-Author-^^^
dewasa banyak ilmu yg d dapat dr cerita ini tentang kesabaran kedewasaan dalam ambil sikap meski cerita nya sederhana
Tapi ya sudahlah jk mmg sdh hrs ending.Terima kasih utk ceritanya kak
Di tunggu next ceritanya..semangat