NovelToon NovelToon
Bai Anshu STORY.

Bai Anshu STORY.

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: Delia Ata

Menemukan batu bintang, tersambar petir lalu koma tiga hari. Setelah bangun semua berubah, rumah jerami reot perlahan menjadi mewah dan nyaman. Bubur sayuran liar hilang dari meja makan, berganti dengan nasi dan gandum wangi.
Setiap hari akan ada ikan, daging, telur, yang kesemuanya cuma dapat mereka makan setahun sekali.

Bagaimana bisa perubahan itu terjadi pada keluarga miskin tanpa bakat dan kemampuan..?

Apa sebenarnya yang dialami gadis itu saat koma tiga hari..?

Batu bintang, benda apa dan darimana asalnya itu...?

Ikuti perjalanannya dan dapatkan jawabannya di Bai Anshu Story.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18

Kerumunan kian bertambah ramai, sampai meluber kejalan utama. Bahkan orang-orang yang berada dilantai dua dan tiga bangunan sekitar, turut memusatkan perhatian.

Ini sungguh diluar nalar, hal yang menurut mereka konyol karena bergembira dalam menyaksikan seorang gadis kecil kurus menantang dua pria dewasa berbadan kekar.

Banyak bisikan yang mencaci bocah perempuan itu, mengganggap jika ia sudah tidak waras.

Sementara yang lain, memandang terperangah dengan keberaniannya. Mereka pun tak sabaran untuk melihat atraksi bocah perempuan itu.

Satu security toko bergerak lebih dulu, menerjang Bai Anshu guna melayangkan tinjunya.

Bai Anshu tetap berdiri diam, menatap nyalang pria berjanggut tebal itu.

"Mati kau bocah sialan..!"

Wus

Kepalan tangan berotot itu melesat, membelah udara kosong, mengincar hidung Bai Anshu.

Jerit para wanita yang menonton terdengar, saat tinju besar tersebut berada dekat diwajah Anshu.

"Adik, awas...!"

"Ya Dewa, apa dia akan mati..?"

"Bodoh, cepat menghindar...!"

Anshu abai, ia tetap diam anteng.

Dua inci jarak tersisa, Bai Anshu bergerak gemulai, melengkungkan punggungnya kebelakang, dengan kaki kanan terangkat lurus.

BUG

Dagu pria penjaga dihantam keras.

"Arch...!"

Penjaga toko berteriak kesakitan, terbang terhempas ketanah.

Seluruh mata penonton membola, wajah cemas yang dua menit lalu terpahat, kini berubah warna.

"Apa...!"

"Bagaimana bisa...?"

Tuan toko terbelalak, berdiri kaku dimulut pintu bangunan miliknya.

Satu satpam terperangah, menatap bergantian Anshu dan rekan sejawatnya yang terlentang ditanah.

Bai Anshu mendengus, mengacungkan jari telunjuknya pada satu penjaga lain.

"Apa paman mau mencoba juga tendanganku..?"

Penjaga itu mengeram, wajah cengonya langsung menghitam. Ia marah karena merasa terhina.

"Sialan, mati kau bocah...!"

Pria kekar berlari cepat, mengayunkan kakinya, mengincar kepala Bai Anshu.

Putri sulung Bai Dashan itu mengibaskan lengannya, sebelum meluruskan satu kaki, sementara kaki lainnya ditekuk dengan badan melengkung kebelakang sampai menyentuh tanah, menghindari tendangan seraya meluncur melewati celah kaki si bodyguard.

Penjaga toko mendelik, ia menendang udara kosong. Pandangannya turun guna melihat raga lawan yang menggelinding bak bola.

Sementara Bai Anshu kini sudah berada dibalik punggung pria kekar itu, berdiri gesit mengangkat kaki, lalu menendang sekuat tenaga pinggang si pria kekar.

KRAK

"Arch...!"

Penjaga toko terbang, terhempas keras bertemu tanah dijarak tiga meter.

"Arch, pinggangku..!"

Bai Anshu berbalik, menatap satu penjaga yang tadi melempar Bai Hanzi.

"Minta maaf pada adikku..!"

"Bocah gila, sialan...!" raung penjaga toko, bersiap melancarkan pukulan lagi.

Tanpa mau memberi kesempatan, Bai Anshu melesat bak angin. Melompat tinggi, mengarahkan tinjunya kerahang, mengapit leher security menggunakan lengannya, lala diputar dengan tubuh si penjaga didorong menggunakan kaki kemudian dibanting.

"Arch..!"

Seluruh penonton tercengang, pemilik toko mendelik dengan kaki bergetar.

Badan tinggi besar, dibuat tak berkutik bak lalat.

Puluhan pasang mata menelisik raga Bai Anshu. Ceking mungil dengan tangan dan punggung kurus, tapi kuat mengangkat badan yang beratnya delapan puluh pon.

Luar Biasa.

Bai Anshu bertepuk tangan, menoel hidung bangirnya dengan gaya konyol, lalu mencebikkan bibir meledek.

"Ach pinggangku, tolong, pinggangku..!" rintihan penjaga yang sedang mencoba berdiri.

Namun sayangnya cidera tulangnya tak bisa diajak kompromi.

Bai Anshu menghampiri, pria kekar bergidik ngeri.

"Sudah cukup, maafkan aku yang buta dan tuli ini. Ampun nona, ampun...!" ucapnya meringis.

Satu alis Bai Anshu naik tinggi "kemarikan tangan paman."

"Tidak, jangan...!" seru panik pria kekar, dengan wajah yang membiru.

Anshu memutar bola matanya, berdecih lirih "paman mau sembuh atau tidak..?"

"Mau, tentu saja mau..!"

"Kalau begitu, miringkan badannya kekanan, dan kemarikan tangan kiri paman."

"Tidak mau..!" jawab cepat si pria kekar bergetar.

Anshu berdecak kencang "mau aku patahkan sekalian pinggangmu..? atau patuhi kata-kataku..?"

"Jangan, eh, iya, aku turuti maumu..!"

Para insan pemerhati terkekeh, merasa lucu dengan tingkah kedua orang itu.

Penjaga toko memiringkan tubuhnya dengan susah payah, lalu mengulurkan tangannya ragu-ragu.

Anshu meraih tangan berotot penjaga itu, menaruh kaki kanannya kepinggang yang bengkok.

"Tidak, apa yang kau lakukan..?" teriak panik si pria kekar, mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman Bai Anshu.

"Diam...!"

 "Tidak, lep-----

KRAK

Anshu menarik tangan dan mendorong pinggang lelaki penjaga toko secara bersamaan.

Gerakannya persisi, akurat dan tepat.

"Arch...!"

Para penonton meringis, menyusutkan leher bergidik ngeri.

Mereka mengutuk kebodohan si penjaga, yang mau-maunya diperdaya oleh gadis kecil musuhnya itu.

Bai Anshu acuh, menatap penjaga lainnya yang merangkak mundur seraya memegangi rahang yang kebas ngilu.

"Mau aku pasangkan lagi gigi paman yang patah..?" sarkas Anshu.

Pria kekar menggeleng cepat, menghiba sedih. Ia sangat malu karena dibuat babak belur tak berdaya oleh bocah perempuan kurus ceking didepannya ini.

"Eh, pinggangku sembuh...!" seru penjaga lainnya, berdiri tegap sembari bergoyang kekanan dan kekiri.

Pria itu memandang berbinar Bai Anshu, kesombongan yang sempat tersirat kini berubah menjadi segan.

"Nona muda, terimakasih..! sekali lagi aku mohon maaf karena telah menyinggungmu." pria penjaga membungkuk rendah.

Anshu mencibir, beralih kepria yang masih duduk bersandar kesakitan.

"Paman tidak mau meminta maaf pada adikku..?"

Penjaga yang dimaksud gegas bersujud, meminta maaf pada Bai Hanzi berulang kali.

Bai Anshu menghampiri sang adik, mengambil keranjang lalu menggendongnya.

Sekali lagi, Anshu menatap bengis pemilik toko yang pucat pasi, bergeser kepada dua penjaga, kemudian berlalu pergi dari sana.

Ratusan insan yang menonton masih terbengong-bengong, memandang punggung dua bersaudara dengan bermacam penilaian.

Seumur hidup, ini kali pertama mereka melihat bocah perempuan berpenampilan rakyat jelata, memiliki bakat beladiri luar biasa.

Meski di negeri Huancu banyak praktisi beladiri, bahkan dikota Tiankeng setiap hari para pendekar berlalu lalang. Tapi kesemuanya adalah pria dari usia remaja sampai dewasa.

Sementara itu dilantai dua restoran Huolai, tiga pasang mata terus menatap dua bersaudara dengan ekspresi rumit.

Antara kagum, terpesoan dan penasaran.

"Menarik..!" ucap seorang remaja pria berusia kisaran tiga belas tahun yang mengenakan jubah Akademi Zhejiang.

Remaja ini sudah sejak awal memperhatikan Bai Anshu dan Hanzi, sedari mereka diusir oleh pemilik toko Yuehou.

Bangunan Yuehou bersebelahan dengan toko buku Tepekong, dan kebetulan tadi remaja pria itu sedang berada disana.

Murong Canfeng, tuan muda berprestasi dari keluarga pensiunan Jenderal besar Murong.

Ayahnya, Murong Chengli, Jenderal utama pasukan Elite Cangba.

Kakak lelakinya, menjabat sebagai Jenderal muda dipasukan kavaleri Daoxing.

"Luar biasa...!" ucap remaja lain. Sebut saja dia Liu Hongli, putra tuan kota Tiankeng bergelar Marquis.

Memiliki ratusan toko yang tersebar diberbagai kota-kota besar dinegeri Huancu.

Murong Canfeng menyeringai, menatap Bai Anshu yang sedang memasuki menara Guangdong.

Remaja tampan itu menantikan, apakah kali ini gadis cilik berparas cantik itu akan diusir lagi atau berhasil dengan misinya.

1
Anna Setyo
up yg banyak thor biar puas bacanya
SENJA
mantabs lah nambah pekerja terus 👌
Erna Fkpg
tetap semangat thor dan terimakasih untuk upnya 😘😘😘
Datu Zahra
tumben banyak typo thor...?
Delia ATA: Sudah direvisi ya kak 🫰

Terimakasih sudah mengoreksinya.
total 1 replies
Datu Zahra
Aku juga beruntung karena dapat bacaan keren dan seru lagi 🤩
Erna Fkpg
keberuntungan keluarga bai dan Chen dan seluruh desa
Dewisiregar
up thor yang banyak, tambah seru ceritanya💪🙏👍
Maria Lina
kok 2 thor kmrin 3 bab kurang ni
vipp
semangat thor
Rai Gojess
lagi thor, kenapa ceritamu ini best sekali, koin ku sdh habis, belum top up..tunggu ya aku top up
SENJA
mantabs maju terus bisnis sabun 👌
Datu Zahra
Kurang kak 🤪
SENJA
buseh bisnis baru lagi
Datu Zahra
Selama ada air suci, apa pun paati menghasilkan banyak dan enak
Datu Zahra
Murong Canfeng jpdohnya Anshu kek'y 🤭
SENJA
songong sih lu padab🤣
Fauziah Daud
trusemangattt... seru
Chen Nadari
mantulll Thorr
Dewiendahsetiowati
kayak dikit deh authornya nulis,apa ceritanya bagus jadi gak sadar sudah habis bacanya😭😭
SENJA
bagus jangan kasih kendor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!