Dua cerpen menarik dari dua genre berbeda, horor dan juga psikologi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Regina Maharani Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ego Penghalang Doa 1
"Ayo cepetan! Yang lain udah pada nunggu di terminal." Suara Putra menusuk tajam ke dalam telingaku. Dengan bergegas, aku berusaha memasukkan barang terakhir ke dalam tas carrier.
"Hayu?" ajakku.
Tanpa menjawab, Putra memutar tubuhnya dan keluar dari kamar.
***
Namaku Nyx, aku seorang mahasiswa yang memiliki hobi mendaki gunung. Dengan dua sahabat yang juga memiliki hobi sama, kami berencana untuk melakukan pendakian ke gunung Halimun. Gunung Halimun terletak di kabupaten Bogor, kabupaten Sukabumi Jawa Barat dan kabupaten Lebak Banten. Gunung ini termasuk dalam konservasi Taman Nasional Halimun - Salak.
Pada pendakian kali ini, bukan hanya kami bertiga yang akan pergi seperti biasa. Galih, sahabatku yang lain berkata jika ia akan membawa dua sepupunya, Fatah dan Doni, yang ingin merasakan sensasi naik gunung dan berkemah. Mereka bertiga telah sampai di terminal tempat kami janjian dan berulang kali menelepon Putra. Itulah kenapa, Putra sedikit senewen dan memintaku bergegas.
Setengah jam kemudian, kami berdua sudah berada di terminal dan menunggu bis yang akan membawa kami ke tujuan.
***
"Ini kan pendakian perdana aku sama Doni, gimana kalau kita ke gunung Salak aja?" tanya Fatah.
Aku, Putra dan Galih serentak menengok ke arah pemuda tersebut.
"Kok ke Gunung Salak sih? Kan rencana kita ke Halimun," kata Galih.
"Ya ngga apa-apa Kak. Halimun kan udah rame, udah ngga aneh. Jangan gunung yang biasa-biasa dong, yang menantang gitu," jawab Doni.
"Ngga bisa segampang itu ngerubah rencana. Gunung Salak medannya cukup sulit, kalaupun mau ke sana, persiapan kita harus bener-bener lengkap. Belum lagi dengan peralatan," jelas Putra. "Kita cuma bawa perlengkapan seadanya dan ngga sesuai standar kalau untuk dipake mendaki Gunung Salak."
"Alah, ngga apa-apa kali Kak. Semua gunung mah sama aja. Tinggal naek doang aja kan?" elak Fatah.
Aku masih diam dan mendengar pembicaraan mereka berempat. Dalam hati, mulai timbul rasa tidak suka pada kedua sepupu Galih.
"Gimana Nyx?" Galih menatap wajahku lekat.
"Agak susah sih kalau mau ganti rencana sekarang. Gunung Salak dibuka terbatas hanya untuk pendaki profesional karena cuaca di sana lagi ngga stabil," jelasku. "Selain itu juga perlengkapan yang kita bawa ngga memadai."
Putra mengangguk dan membenarkan. Mendaki gunung tidak semudah yang orang awam pikir. Kami harus bersiap menghadapi segala sesuatu yang mungkin terjadi saat pendakian. Belum lagi dengan cuaca yang cenderung cepat berubah.
Mendengar penjelasanku, kedua sepupu Galih kembali merengek dan membujuk kami agar mengikuti keinginan mereka.
"Gini deh, kita tetap ke Gunung Salak, tapi kalo misal ngga kuat di tengah jalan, kita turun lagi ya?" Galih membuka suara setelah terdiam beberapa saat dan direspon anggukan dari kedua sepupunya tersebut.
"Mau pake rute mana kita, Nyx?" tanya Galih.
"Cimelati aja kali ya? Ambil yang paling cepet," jawabku.
Gunung Salak juga termasuk dalam konservasi Taman Nasional Gunung Halimun - Salak atau masih satu lokasi dengan Gunung Halimun. Rute pendakian menuju Gunung Salak ada empat, dari semuanya, rute Cimelati yang paling mudah. Sayangnya, rute ini minim air bersih sehingga pendaki disarankan untuk membaca cadangan persediaan air minum cukup banyak dari awal pendakian.
"Lewat mana aja lah Kak, yang penting bisa ke Gunung Salak. Ribet banget deh harus nentuin rute, cuma mau naik gunung aja banyak mikir," timpal Doni.
Wajah Putra berpaling menatapku yang tersenyum simpul.
"Pokoknya harus bisa nyampe Puncak Salak I," gumam Fatah.
Puncak Salak I adalah titik tertinggi Gunung Salak dengan ketinggian 2211 mdpl ( Meter dari permukaan laut ). Tidak banyak pendaki yang bisa sampai ke titik ini dikarenakan sulitnya medan pendakian dan cuaca di atas gunung yang cenderung berubah dengan cepat.
"Kita liat ntar aja deh," balasku.
***
Rute Cimelati terletak di kabupaten Sukabumi. Untuk ke Gunung Salak, pendaki harus melalui desa Kutajaya serta melewati ladang dan kebun pertanian penduduk untuk menuju ke pintu masuk konservasi. Di sini, kami akan melaporkan diri sebagai pendaki pada Ranger atau penjaga Taman Nasional yang akan memberikan informasi penting kepada para pendaki. Selain itu, di sini pendaki akan mendapatkan Simaksi atau Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi.
Setelah masuk, tepat di kaki Gunung Salak terdapat beberapa makam keramat dan dipercaya merupakan tempat menghilangnya Prabu Siliwangi. Dianjurkan bagi para pendaki, untuk berjiarah dan meminta ijin pada juru kunci makam terlebih dahulu sebagai tanda kesopanan memasuki wilayah.
***
Setelah beberapa jam perjalanan, kami tiba di Desa Kutajaya dan berjalan masuk mengikuti punggungan gunung. Walaupun tidak terlalu tinggi, Gunung Salak yang menjulang di hadapan kami terlihat gagah dan misterius. Kami terus berjalan untuk menuju ke pintu masuk kawasan konservasi. Sayangnya, karena cuaca hujan. Tidak ada satupun petugas yang berjaga.
"Langsung masuk aja sih, ribet banget nungguin petugas," keluh Doni.
Putra menjelaskan padanya jika kami wajib untuk melaporkan diri untuk kemudahan kami sendiri karena petugas menerapkan aturan kuota pendaki yang bisa memasuki kawasan. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pendataan berapa banyak pendaki yang masuk dan keluar serta melakukan evakuasi jika ada hal yang tidak diinginkan terjadi pada saat di atas gunung.