NovelToon NovelToon
Akhir Cinta Apoteker Cantik

Akhir Cinta Apoteker Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Nikahmuda / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romansa
Popularitas:16.7k
Nilai: 5
Nama Author: INRUMIDITAH

Alisha, seorang gadis cantik berumur dua puluh empat tahun. Alisha seorang yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal pada saat Alisha berumur dua tahun. Alisha dirawat oleh paman dan bibinya.

Paman dan bibinya Alisha, mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Amalia. Amalia tidak menyukai apapun tentang Alisha. Bahkan, terkadang Amalia mengerjai Alisha.

Suatu hari, Amalia menyuruh teman laki-lakinya untuk mengambil sesuatu yang paling berharga bagi Alisha, yaitu keperawanannya.

Akankah Alisha berakhir ditangan pria itu? Ataukah ada seseorang yang menolongnya? Mari, cari tahu takdir Alisha!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INRUMIDITAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehilangan paman

Selepas sholat isyak, Alisha dan Citra melanjutkan perbincangan mereka kembali. Mereka tidak makan malam saat itu, perut mereka sudah kenyang memakan dua kotak martabak manis yang hanya tersisa beberapa potong saja.

"Sha, ngomong-ngomong Om tadi siapa?" tanya Citra.

"Kamu nggak tahu kah kalau itu papanya Kak Dikta?" tanya Alisha balik.

"Nggak tahu, aku kan hanya kenal di rumah sakit sebagai teman aja, nggak lebih. Kalau kamu kan ... spesial." Citra merangkul bahu Alisha.

"Cerita dong, kemarin malam ngapain aja di rumah calon mertua," goda Citra.

"Apaan sih, kamu," respon Alisha.

Karena desakan dari Citra, akhirnya Alisha menceritakan apa saja yang dilakukannya di rumah Dikta. Citra pun menjadi pendengar yang baik. Aih, si Citra kepo banget deh, batin Alisha.

"Wah-wah, udah dapat lampu hijau nih. Bahkan dua calon mertua juga sayang banget sama kamu," seru Citra.

"Iya, mereka memang baik banget sama aku. Eh iya, ternyata Om Wisnu itu sahabat orang tuaku dulu," jelas Alisha.

"Benarkah? Kok kamu bisa tahu?" tanya Citra penasaran.

"Kata Om Wisnu, wajahku mirip sama ibuku," jawab Alisha.

"Begitu," respon Citra.

"Semoga kamu bahagia setelah menjadi bagian dari mereka," ucap Citra serius.

"Entahlah, Cit. Untuk saat ini aku belum menyukai Kak Dikta," ujar Alisha.

"Cinta mungkin akan tumbuh seiring berjalannya waktu, Sha. Tapi, mungkin tak akan mudah mendapatkan orang seperti Kak Dikta dan keluarganya." Citra ingin Alisha mempunyai kehidupan yang bahagia dimasa yang akan datang.

Alisha terdiam, ia ragu merespon penuturan dari Citra. Apa bener ya yang dikatakan Citra ini ? batin Alisha." Mungkin benar seperti itu, Cit. Eh iya, aku sudah ngantuk ini, tidur yuk," ajak Alisha kepada Citra.

"Iya deh, kita tidur," respon Citra.

Alisha dan Citra masuk ke kamar mereka masing-masing setelah menggosok gigi. Ah, ngantuk banget aku, tidur ah, batin Alisha. Alisha langsung terlelap setelah membaringkan tubuhnya diatas kasur.

*

*

*

Pagi hari pukul delapan. Alisha dan Citra kini berada di apotek, mereka menjalani rutinitas seperti biasanya di apotek tersebut. Dua jam setelah itu, Alisha mendapat sebuah pesan, tapi Alisha tak mendengar jika ada notifikasi pesan masuk karena saat itu ia sedang sibuk melayani banyak pelanggan.

Setengah jam kemudian, suasana sedang sepi pelanggan. Hal itu tentu tak disia-siakan oleh para apoteker untuk beristirahat sejenak. Disela-sela istirahat, mereka memeriksa ponsel mereka. Eh, ada pesan masuk? batin Alisha saat melihat layar diponselnya.

Alisha pun langsung membuka pesan tersebut, betapa terkejutnya Alisha saat melihat isi dari pesan tersebut. Apa? Paman meninggal dunia? Apa benar? Paman, mengapa meninggalkanku secepat ini? batin Alisha. Tak terasa air mata Alisha telah jatuh membasahi kedua pipinya.

Citra yang menyadari jika Alisha sedang menangis, langsung menghampiri Alisha. "Kamu kenapa, Sha?" tanya Citra khawatir.

"Pamanku, Cit. Pamanku meninggal dunia," jawab Alisha lesu.

Mendengar penuturan dari Alisha, Citra pun langsung memeluk Alisha. Citra tahu jika Alisha sangat sedih saat itu, karena kata Alisha, pamannya adalah keluarganya satu-satunya yang tersisa.

"Cit, tolong bantu aku ijin, aku ingin pergi ke rumah paman," pinta Alisha.

"Baik, Sha. Aku akan ijinkan untuk kamu. Tapi, bagaimana kamu akan pergi kesana?" tanya Citra.

"Aku akan pesan ojek online," jawab Alisha.

"Kamu yakin? Apa nggak minta tolong sama Kak Andi supaya jemput kamu dan memintanya untuk mengantarkan kamu ke rumah paman kamu." Citra khawatir dengan keadaan Alisha.

"Aku nggak apa-apa kok naik ojek online. Ya sudah ya, Cit. Aku pergi dulu, wassalamu'alaikum," pamit Alisha.

"Wa'alaikum salam, hati-hati ya, Sha," ujar Citra.

"Iya, Cit." Alisha berlalu meninggalkan Citra.

Kini, Alisha sedang berdiri dipinggir jalan menunggu ojek online yang sudah ia pesan melalui ponselnya. Tak lama, ojek online itu pun tiba dilokasi penjemputan. Alisha segera naik ke motor, motor pun langsung melaju.

Setelah menempuh perjalanan, akhirnya Alisha sampai didepan rumah pamannya. Disana sudah ada banyak orang yang melayat. Paman, aku belum sempat bertemu lagi dengan paman setelah itu, batin Alisha. Pertemuan terakhir Alisha dan pamannya, ketika Alisha mengunjungi Amalia di kantor polisi saat itu.

Alisha berjalan pelan menyebrangi lautan orang yang melayat. Setelah beberapa saat, Alisha kini berada didepan pintu rumah yang terbuka lebar. Di ruang tamu terlihat seseorang ditutupi kain putih, Alisha merasa teriris.

Alisha berjalan pelan menuju seseorang yang tertutup kain tersebut. "Bibi, apakah ini paman?" tanya Alisha pelan. Bibinya Alisha tak menjawab, hanya kepalanya saja yang dianggukkan pelan.

Beberapa saat kemudian, datang rombongan polisi membawa Amalia. Semua orang mengalihkan pandangan mereka kepada Amalia dan polisi-polisi itu. Amalia yang merasa ditatap, tak menghiraukannya saat itu. Yang Amalia pikirkan saat itu, adalah bertemu dengan jasad ayahnya.

Saat Amalia masuk ke ruang tamu, Amalia langsung berlari ke jasad ayahnya. Amalia menangis sambil memeluk ayahnya. Tangisan Amalia terhenti ketika melihat Alisha.

"Mau apa kamu kesini? Hah!" Amalia membentak Alisha.

"Jangan membuat kegaduhan!" ucap salah satu polisi yang berjaga.

Amalia langsung terdiam. Amalia kembali memeluk erat ayahnya. Amalia membuka tutup wajah ayahnya, ia melihat wajah ayahnya yang nampaknya tenang seperti orang yang sedang terlelap tidur.

Alisha tak membuang kesempatan untuk melihat wajah pamannya untuk terakhir kalinya, saat Amalia membuka penutup wajah pamannya. Alisha mendo'akan pamannya agar mendapat tempat terbaik di-sisi Allah.

Setelah itu, Alisha beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari rumah pamannya. Alisha pergi, karena dia tak ingin membuat Amalia marah lagi karena kehadirannya. Pada saat itu suasana sedang ramai, Alisha tak mau jika kemarahan Amalia menjadi buah bibir para tetangga.

Alisha kini sedang termenung ditepi jalan. Tiba-tiba ada suara klakson mobil, mobil itu pun menepi didepan Alisha. Alisha tersadar dari lamunannya, ia mendongakkan kepalanya, lalu melihat siapa pemilik mobil didepannya itu.

"Kak Dikta," ucap Alisha saat melihat seseorang setelah kaca mobil diturunkan.

"Iya, ayo naik," ajak Dikta.

Alisha pun membuka pintu belakang mobil dan masuk kedalamnya. Didalam mobil Alisha hanya diam, dan menjawab singkat pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Dikta.

"Sha, kita ke rumahku ya, mama kangen sama kamu katanya," ajak Dikta.

"Baik, Kak," respon Alisha.

Setelah beberapa saat, mobil Dikta telah sampai di halaman rumahnya. Dikta dan Alisha turun dari mobil, lalu berjalan masuk kedalam rumah. Di ruang tamu, sudah ada mama Sonya yang menunggu kedatangan Alisha. Mama Sonya diberi kabar oleh Dikta, jika Alisha akan dibawa ke rumah. Tentu saja hal itu membuat mama Sonya gembira, karena ia akan bertemu dengan Alisha.

"Sayang, kamu datang. Mama Sonya kangen banget sama kamu." Sonya memeluk erat Alisha. Sonya heran dengan sikap Alisha yang tampak murung.

"Ma, pamannya Alisha baru saja meninggal," ucap Dikta menjelaskan.

Sonya terkejut mendengar penuturan anaknya. Sonya pun kini tahu, apa yang membuat Alisha murung. Sonya langsung memeluk erat Alisha sambil mengelus punggung Alisha. Sonya tak ingin banyak bicara saat itu, Sonya hanya ingin meminjamkan bahunya untuk Alisha bersandar.

1
𝕱𝖗𝖔𝖒 𝖙𝖍𝖊 𝖗𝖎𝖛𝖊𝖗 𝖙𝖔 𝖙𝖍𝖊 𝖘𝖊𝖆
menjadi yatim piatu di usia semuda itu, kasihan Alisha
Dehan
selamat alisha dan dikta
Dehan
alhamdulillah.. akhirnyaaaa
Dehan
dikta selalu ada disaat alisha sedih
Dehan
dikta juga baik kok.. ayo sha buka hati untuk dikta
Dehan
sudah aku favoritin karyanya kak.. bagus ceritanya
Dehan
hallo kak inru.. aku mampir kesini, lanjut baca novelmu selanjutnya
🌻⃝⃟𝓜֟፝•ᴿʸ MENTARY
Makin Seru Kk
Salut ama sikap Alisha
Perjuangan Ucup mampir
Authophille09
citra adalah aku ketika mendengar gratisan🤣
Inru: 😅😅😅😅..
total 1 replies
Star
Cepat sembuh, Alisha.
Nenie desu
sudah aq favoritkan kak bagus
Inru: Terima kasih banyak..
total 1 replies
Dewi
Moga aja Amalia mengakui kejahatannya, dia menuai apa yang dia tanam
Dewi
Untungnya pria itu datang tepat waktu, jago beladiri juga
TK
👍
TK
bunga semangat untuk Thor 🌷👍✍️
Rini Antika
innalillahi..kasihan baru jg nikah
Authophille09
karya yang sangat luar biasa😍
Authophille09
holla kak Inru, aku mampir nih👋 udh sekalian d favorite kan juga biar ga ketinggalan notifnya🤭 yuk mampir juga di karya ku dengan judul "janji Aksara"
Inru: Oke, Terima kasih
total 1 replies
Rini Antika
baru jg menikah, kok udah ketembak aja 😢
Rini Antika
si Elena kebawa Kak, 🤭
Rini Antika: yg aku komen Kak d Bab Resepsi Pernikahan
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!