Dalam Novel ini mengandung beberapa unsur dewasa untuk 21+.
Mohon bijak dalam membaca
Nafiza dan Brian mereka baru saja menikah. mereka menikah bukan karena saling mencintai, melainkan dijodohkan oleh kedua orangtua mereka.
Kedua orangtua nafiza dan brian adalah teman dekat mereka sering melakukan kerjasama bisnis sehingga mereka memutuskan untuk menikahkan kedua anaknya.
Nafiza baru berumur 17 tahun dan masih sekolah kelas XII sedangkan brian berumur 25 tahun sedang menjalankan perusahaan milik ayahnya meski begitu pernikahan ini dibolehkan karena mereka berasal dari keluarga kaya dan terpandang.
Tetapi nafiza dan brian sama-sama tidak saling menyukai, mereka mau menikah hanya untuk menuruti keinginan kedua orangtua mereka dan berkomitmen untuk sama-sama tidak akan saling jatuh cinta juga tidak tidur bersama. Lalu bagaimana kisah rumah tangga nafiza dan brian? sanggupkah mereka untuk tidak saling jatuh cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon athania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman Baru
Nafiza mengusap air matanya terlebih saat Brian meninggalkannya di kamar seorang diri, ia menarik kembali gaunnya menutup dadanya yang terbuka karena Brian. Ia berjalan keluar menuju kamarnya, merebahkan tubuhnya di ranjang ia tahu tidak seharusnya ia menolak walaupun ada kesepakatan dirinya dan Brian untuk tidak jatuh cinta dan tidak tidur bersama tetapi sesungguhnya baik secara hukum dan agama pernikahan mereka sah dan tentu tubuhnya adalah milik Brian hanya saja rasanya ia takut karena ia belum yakin atas perasaannya sendiri kepada Brian. Nafiza nyaman bersama Brian tapi ia tidak tahu apa ia benar-benar mencintai Brian dan menginginkannya walaupun Brian sudah mengakui kalau dia menyukai Nafiza.
Nafiza mengganti pakaiannya dan mencuci wajahnya kemudian ia memilih untuk tidur rasanya kepalanya mau pecah memikirkan apa yang terjadi barusan.
Berbeda dengan Nafiza, Brian masuk ke kamarnya dan Nafiza sudah tidak ada di sana, dia duduk di pinggir ranjang, dia merasa bersalah sudah memaksa Nafiza mungkin dia terlalu cepat bertindak. Brian terjaga semalaman merenungi tindakannya.
Pagi harinya Nafiza sudah memakai seragam sekolah dan menggendong tasnya ia turun menuju meja makan hendak sarapan dan brian terlihat sudah duduk di kursinya meminum teh. Brian agak sedikit pucat, matanya agak hitam.
"Pagi. . ." sapa Nafiza pelan ia rasa Brian pasti masih marah, ia duduk di kursi depan Brian dan menyantap sandwich di piringnya.
"Iya" jawab Brian singkat.
"Pasti dia masih marah" Nafiza dalam hati.
"Kalau sudah selesai ayo berangkat" ajak Brian sambil berjalan membawa tasnya.
"Eh iya" Nafiza segera menghabiskan sandwich dan meminum susunya menyusul Brian.
Mereka menaiki mobil dan Brian melajukan mobilnya.
"Kamu sakit? kamu agak pucat juga bawah matamu hitam." Tanya Nafiza.
"Aku baik-baik saja hanya kurang tidur"
"Kenapa kurang tidur?"
"Memikirkan kamu, maaf ya semalam aku memaksa kamu"
"Aku juga minta maaf belum bisa jadi istri yang baik buat kamu"
"Kamu tidak takut dekat denganku?" Brian tersenyum memandang Nafiza.
"Tidak, sebenarnya aku mau jadi istri yang baik tapi aku butuh waktu dan juga aku belum tahu perasaanku sebenarnya ke kamu, aku suka dekat kamu tapi aku tidak tahu ini cinta atau bukan"
Brian menghargai kejujuran Nafiza, pernikahan ini bukan atas kemauan mereka jadi wajar jika Nafiza belum menginginkannya.
"Aku janji akan tunggu sampai kamu mau dan siap"
"Hmmm sebenarnya kalau ciuman saja sih boleh" ucap Nafiza malu-malu, pipinya terasa panas dan berwarna merah. Ia menggigit bibirnya entah kenapa dia berani mengatakan itu pada Brian.
Brian menghentikan mobilnya letak sekolah Nafiza berada di depan ujung jalan.
"Kenapa berhenti?"
Secepat kilat wajah Brian sudah berada di depan wajah Nafiza, tangan Brian menarik tungkuk leher Nafiza. Brian mencium bibir Nafiza menariknya dengan lembut sedangkan Nafiza masih saja kaku.
"Nanti di rumah kita les privat" ucap Brian melepas ciumannya.
"Privat apa?" tanya Nafiza bingung.
"Privat ini" Brian mengecup bibir Nafiza.
Nafiza langsung mencubit perut Brian.
"Mesum!!!"
"Aw sakit nona" Brian terkekeh melihat wajah malu Nafiza.
Brian melajukan mobilnya sampai pintu gerbang sekolah, Nafiza kemudian turun.
"Nanti pulang di jemput pak Ramli ya" ucap Brian.
"Oke bos" Nafiza mengangkat tangannya ke dahi dan menutup pintu mobil, Brian kemudian pergi,Nafiza berjalan menuju kelasnya tiba-tiba ada yang merangkul tangannya.
"Nafiza, kamu sudah mengerjakan tugas kliping pak Sardi? tanya Tita.
"Sudah dong"
"Aku juga" mereka duduk di kursi dalam kelas.
Bel tanda masuk berbunyi dan pak sardi wali kelas XII Ips 1 masuk dengan seorang anak laki-laki.
"Selamat pagi anak-anak"
"Pagi pak" jawab anak satu kelas serentak.
"Hari ini kalian akan mendapat teman baru, ayo perkenalkan nama kamu"
"Halo nama saya Septa"
"Wah gantengnya" ucap salah satu murid perempuan.
"Cuit cuit" sorak yang lain.
Septa memiliki tubuh jenjang yang tinggi berkulit putih, hidung mancung dan tentu saja aura anak orang kaya sangat melekat pada dirinya.
Nafiza hanya tersenyum karena sudah mengenalnya.
"Tampan ya Fiz anak baru itu" ucap Tita.
"Dia anak rekan bisnis Brian"
"Kamu kenal?"
"Cuma tahu namanya saja"
Septa melihat Nafiza dan tersenyum ke arahnya.
"Septa kamu duduk di sana" pak Sardi menunjuk kursi di belakang Nafiza.
"Baik pak" Septa berjalan ke tempat duduknya.
"Kenalan dengan teman barunya nanti saja jam istirahat, sudah sekarang kumpulkan tugas kemarin!" Perintah pak Sardi karena kelas ramai melihat Septa terlebih siswi perempuan.
Bunyi bel istirahat sudah berdering...
Nafiza memutar tubuhnya ke arah Septa.
"Hai kamu masih ingat aku?" sapa Nafiza.
"Masih kamu Nafiza" senyum Septa.
"Kamu tidak bilang kalau masih sekolah juga kebetulan kita satu sekolah"
"Tidak ada yang kebetulan, aku cari kamu sampai ke sini Nafiza"