NovelToon NovelToon
Read Zone

Read Zone

Status: tamat
Genre:Patahhati / Permainan Kematian / Teen School/College / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Tamat
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Litlerose

Kisah ini tentang aksi seorang anak laki-laki yang bernama Annas. Ia ingin membalaskan dendam almarhum ayahnya dengan cara menjadi seperti dirinya. Menegakkan keadilan. Meskipun dia masih menginjak usia 17 tahun di bangku kelas 2 SMA, tapi bagi dirinya, tidak ada kamus ketakutan, selama jalan yang ia ambil demi mengungkap kebenaran.

Seperti saat ini, ketika di sekolahnya terjadi sesuatu yg mencurigakan, dia tidak bisa diam saja. Bahkan dia mengincar kedudukan ketua OSIS demi mendapat akses penuh untuk mencari tahu siapa dalang yang sebenarnya.

Tak disangka, dia juga dipertemukan dengan seorang gadis yang mampu membaca pola kasus yang sama di setiap tahunnya ketika disadarkan oleh pemuda yang selalu mengejarnya sejak dulu. Sama seperti dirinya, dia mampu membaca pola aksi pelaku.

Selain itu, Annas juga bekerja sama dengan seorang pemuda tengil yang pandai sekali di bidang TIK. Tak usah diragukan lagi, semua rencana dan strateginya adalah hasil kedua otak pemuda ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Litlerose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tantangan dari Satria

Keesokan harinya. Di kantin SMAN Cahaya.

​"Sumpah, Feb. Itu kejadian langka banget! Kayak ngelihat komet Halley!"

​Ani heboh sendiri sambil mengaduk es teh manisnya. Suasana kantin saat istirahat sangat padat, bising oleh denting sendok dan obrolan ratusan siswa.

​"Apanya yang langka?" tanya Febby sambil menyuap bakso, berusaha tidak peduli meski matanya tetap waspada menatap sekeliling.

​"Itu lho! Liat arah jam dua belas! Pojok kanan!"

​Febby mengikuti instruksi Ani. Di meja pojok kantin yang biasanya kosong, duduk seorang siswa laki-laki sendirian. Di depannya hanya ada sebotol air mineral dan sebuah buku tebal yang terbuka. Dia tidak makan. Dia hanya membaca dengan tenang di tengah hiruk-pikuk kantin yang ramai.

"Ketua OSIS kita yang super sibuk dan introvert itu, tumben-tumbenan nongkrong di kantin? Biasanya 'kan dia semedi di ruang OSIS atau perpus."

​Febby langsung terdiam.

​"Liat deh, Feb. Para cegil udah mulai beraksi," bisik Ani sambil melirik ke arah datangnya beberapa siswi.

​Di meja seberang, Fitri dan gengnya tampak salah tingkah. Mereka bolak-balik ke stan minuman hanya untuk bisa melewati meja Annas, berharap dilirik. Ada yang pura-pura tertawa kencang, ada yang sengaja mengibaskan rambut.

​"Annas baca buku di kantin? Keren banget sumpah, emang beda dia mah." desis Fitri yang terdengar sampai ke meja Febby.

​"Tau tuh! Auranya mahal banget!" timpal temannya yang lain.

​Febby hanya menggeleng pelan, kembali fokus pada baksonya.

"Biarin aja, An. Orang mau baca doang."

​Namun, tidak semua orang terpesona. Di meja lain yang dikuasai geng cowok-cowok, ada sepasang mata yang menatap Annas dengan curiga.

​"Sat," panggil Bayu sambil menyenggol lengan Satria. "Lo nyadar nggak sih?"

​"Nyadar apaan?" Satria sedang sibuk memain-mainkan sedotan, mood-nya sejak tadi sudah jelek karena Febby menolak diajak makan bareng.

​"Tuh, si Ketos!" Bayu menunjuk dengan dagunya. "Dari pagi gue perhatiin. Pas Febby ambil buku di loker, Annas berdiri di ujung koridor sambil main HP. Pas Febby ke toilet, Annas ngobrol sama Fadhil di deket wastafel luar. Sekarang, Febby di kantin, dia juga di sini?"

​Satria menegakkan punggungnya. Matanya menyipit, menatap Annas yang masih tenang membaca, lalu beralih menatap punggung Febby di kejauhan.

​"Lo yakin?"

​"Weh! Lo udah ngga percaya sama mata-mata andalan lo? Polanya sangat jelas, Bos. Dia ngebuntutin Febby. Tapi alus banget mainnya."

​Rahang Satria langsung mengeras. "Ngebuntutin? Maksud lo dia naksir Febby?"

​"Bisa jadi!"

"Si*lan!" ​Satria membanting sedotannya ke meja, membuat beberapa temannya terkejut.

KRING!!!

​Bel masuk berbunyi. Suara keluhan siswa terdengar langsung di kantin. Memang, waktu istirahat mereka sangat singkat. Tiga puluh menit. Padahal dulu, sebelum ganti kepala sekolah, waktu istirahat mereka bisa hampir satu jam.

Beda dengan meja yang ditempati Ani dan Febby. Kedua siswi itu ​kini sudah berjalan menuju perpustakaan untuk mengembalikan buku paket sebelum kembali ke kelas.

​"Kamu duluan aja, An. Aku cuma balikin ini bentar kok."

​"Oke, jangan lama-lama ya. Pak Dimas kalau telat suka nyindir halus tapi pedes." Ani melambaikan tangannya, lalu berlari kecil ke arah tangga.

​Febby pun mengangguk sambil tersenyum tipis, lalu masuk ke perpustakaan.

​Beberapa detik kemudian, dari balik pilar koridor, Annas muncul. Dia tidak langsung masuk. Dia berdiri di dekat papan pengumuman luar perpustakaan, berpura-pura membaca info beasiswa.

​Dari kejauhan, di balik tembok tangga, Satria memperhatikan semua itu dengan napas memburu.

​"Bener kata lo, Bay," gumam Satria geram. "Dia beneran ngintilin Febby."

​Beberapa menit kemudian, saat Febby keluar dari perpustakaan, Annas menunggu beberapa detik, lalu berjalan santai di belakangnya dengan jarak aman.

"Liat aja nanti pulang sekolah." ucap ​Satria sambil mengepalkan tangannya.

Pukul15.38 WIB.

​Parkiran sekolah sore itu cukup ramai. Siswa-siswa berebut mengeluarkan motor.

​Annas baru saja memasang helm full face-nya dan hendak menaiki motor sport hitamnya, tapi tiba-tiba jalannya dihadang. Bukan oleh cewek-cewek genit seperti kemarin.

​Tapi oleh Satria dan anggota gengnya.

​"Turun lo!"

​Suasana parkiran yang bising mendadak senyap. Para siswa yang ada di sana langsung berhenti beraktivitas karena mencium bau keributan. Annas vs Satria. Dua kutub magnet sekolah akhirnya bertabrakan.

​"Minggir. Gue mau lewat."

​"Gue bilang turun!" Satria maju selangkah, menendang ban depan motor Annas pelan. "Lo ngapain ngintilin Febby kayak bayangan setan?"

​Alis Annas terangkat satu. "Bukan urusan lo."

​"Jelas urusan gue, lah!" bentak Satria. "Febby risih, asal lo tau! Lo ketua OSIS apa stalker? Kalau lo naksir bilang! Jangan main kotor ngebuntutin cewek kayak psikopat!"

​Bisik-bisik pun mulai terdengar di kerumunan para siswa yang memperhatikan mereka.

​Di tengah ketegangan itu, suara lengkingan yang familiar tiba-tiba memecah kerumunan.

​"HEH! KUTIL BADAK! JAGA MULUT LO YA!"

​Fitri dan pasukannya menyeruak maju, berdiri membentengi Annas dari Satria. Gadis itu berkacak pinggang, wajahnya merah padam karena idolanya dituduh macam-macam.

​"Enak aja ngatain Annas stalker! Ngaca dong!" semprot Fitri sambil menunjuk wajah Satria. "Lo tuh yang dari dulu ngejar-ngejar Febby tapi ditolak mulu! Annas mah nggak perlu ngebuntutin cewek, cewek yang ngantri buat dia! Iri bilang bos!"

​"Gak usah ikut campur lo, Nenek Lampir!" Satria menepis tangan Fitri dengan kasar. Dia menatap lurus ke mata Annas yang masih duduk tenang di atas motor.

​"Dan lo! Nggak usah sembunyi di balik rok fans norak lo ini. Kalau lo emang cowok, kita selesaiin ini."

​Annas akhirnya melepas helmnya. Dia turun dari motor dengan gerakan perlahan. Para siswa yang sudah sampai gerbang kembali lagi ke parkiran hanya untuk melihat adegan kedua siswa yang tingginya setara itu.

​"Mau lo apa?" tanya Annas singkat.

​Satria menyeringai. Dia melemparkan bola basket yang sejak tadi dipegang Bayu ke arah Annas.

​Dan pria di hadapannya langsung menangkap bola itu dengan satu tangan.

​"Besok. Istirahat pertama. Lapangan basket. Kita by one." tantang Satria dengan lantang, sengaja agar semua orang mendengar. "Kalau gue menang, lo berhenti ngebuntutin Febby dan berhenti nyuruh-nyuruh dia di luar jam OSIS!"

​"Kalau lo kalah?"

​"Gue bakal akuin lo di depan satu sekolah, dan gue nggak bakal ganggu lo lagi!"

​"Ih, apaan sih, Annas, nggak usah—"

​"Oke," potong Annas dengan wajah datar.

​Mata Satria membelalak, tidak menyangka tantangannya diterima semudah itu.

​Annas mendribble bola itu sekali ke aspal, lalu melemparkannya kembali ke dada Satria dengan keras.

​"Siapin mental lo." ucap Annas dingin, lalu kembali naik ke motornya dan menyalakan mesin, meninggalkan Satria yang terpaku dan sorak sorai penonton yang mulai menggila.

-BERSAMBUNG.

1
icaaaa
😭
Vena
Masih sempet" nya ya
Vena
Awal yang menyedihkan tor
Vena
Tuh kannnnn
Vena
Hmmm seperti ada firasat buruk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!