Persahabatan tiga cowok yaitu Izam, Roki dan Martin disekolah menengah.cerita ini sudah direvisi silakan para pembaca untuk datang menikmati kisahnya. Jika ada kesalahan penulisan atau kata, saya meminta maaf. Ayo datang meriahkan kisah fantasi ini.Terima kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api Amarah dan Ikatan yang Terukir Darah
Di lorong rumah sakit yang sunyi, Martin berdiri mematung di ambang pintu, menatap punggung Mark. Hawa dingin dan menakutkan menguar dari tubuh Martin, tebal dan menusuk, seolah amarahnya membekukan udara di sekelilingnya.
“Apa mereka sudah pergi?” tanya Martin, suaranya serak dan sangat rendah, lebih mirip desisan daripada ucapan.
Mark, tanpa berbalik, merasakan gelombang kemarahan yang dipancarkan Martin. “Sudah,” jawabnya singkat.
“Sebaiknya kamu tenangkan diri kamu,” ucap Mark dengan tenang, suaranya kontras dengan suasana tegang di antara mereka.
Martin tidak menjawab. Ia hanya mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya, yang sebelumnya hangat, kini berkilat tajam, terbungkus dendam.
“Cari tahu di mana mereka bersembunyi,” perintah Martin mutlak. Ia berjalan melewati Mark tanpa menyentuh, bayangan amarahnya menutupi lantai lorong.
Martin terus berjalan, menenangkan badai yang mengamuk dalam pikirannya. Ia berhenti di depan pintu ruangan Ibunya dan kedua kakaknya. Ia menarik napas dalam, mencoba mengenakan topeng ketenangan sebelum masuk.
Martin melangkah masuk. Pemandangan itu langsung menyayat hatinya. Di sana, keluarganya berbaring tidak berdaya, tubuh mereka diperban, luka yang tidak bisa dibayangkan betapa parahnya. Mereka tampak begitu rapuh. Martin mendekat, duduk di samping ranjang Ibunya. Ia menundukkan kepala, suaranya keluar kesal dan pelan, penuh penyesalan dan kepahitan.
“Jika pak tua itu tidak mencari masalah... mungkin saja Ibu dan Kakak sedang di kafe melayani pelanggan,” ucap Martin, membiarkan kalimat itu tergantung di udara, sebuah kutukan bagi ayahnya sendiri. Kebenciannya terhadap Ayahnya, yang menjadi pemicu semua ini, kini terasa membakar.
Suara pintu ruangan terbuka memecah keheningan. Masuklah Mark. Dia berjalan menuju Martin. "Lokasinya sudah kudapatkan," Mark memberitahu, matanya serius. "Gudang di pinggiran kota. Mereka semua berkumpul di sana."
Mark tahu betul apa yang akan dilakukan Martin. “Apa kamu akan pergi sendirian?” ucap Mark, nada khawatir tak bisa disembunyikan.
Martin berdiri tegak. Ia menatap sebentar ke arah Ibunya, sebuah janji terukir di matanya, lalu keluar ruangan tanpa menjawab ucapan Mark. Mark hanya bisa menggeleng pelan, rasa prihatin memenuhi dirinya. “Anak itu,” ucapnya lirih.
Martin yang sudah mendapatkan lokasi preman, segera pergi ke tempat mereka dengan sendiri. Amarahnya adalah bahan bakar. Ia tidak peduli dengan strategi atau bala bantuan; ia hanya ingin melihat darah mereka. Sementara itu, Izam yang juga telah mengetahui lokasi preman itu melalui jaringannya sudah bergerak. Izam pergi ke tempat mereka untuk menghabisi semua yang ada.
Ketika Martin akhirnya sampai di sana, ia disambut oleh pemandangan yang dingin dan brutal. Gudang itu sunyi. Para preman sudah habis, tubuh-tubuh mereka tak bernyawa, penuh darah yang berceceran di tanah. Ini adalah pembalasan yang jauh lebih cepat dan lebih kejam dari yang ia bayangkan.
Martin masuk ke dalam gudang. Di dalam, ia melihat Izam wajahnya tanpa ekspresi, pedangnya masih meneteskan darah bersama temannya (Mizuki, meskipun Martin belum tahu namanya) yang telah menghabisi para preman tanpa ampun. Martin tersentak. Ia terkejut dengan apa yang dia lihat. Pemuda dingin yang duduk di bangku belakang kelasnya, yang selalu tampak mengantuk dan acuh tak acuh, adalah pembunuh yang efektif.
“Tidak aku sangka kalau dia bos geng SaNaHa,” gumam Martin dalam hati, fakta itu menghantamnya.
Setelah melihat Izam pergi menjauh, Martin tidak mendekat atau bertanya. Ia memilih untuk memendamnya. Tanpa berkata dan berpikir panjang, Martin menutup mulut dan berpura-pura tidak mengetahui apa-apa. Ia segera berbalik dan menuju rumah sakit untuk menemani Ibu dan kakaknya yang masih berbaring. Ia akan menunggu sampai semua anggota klan mereka berkumpul kembali, baru ia akan bertindak.
Martin kembali ke kamar rawat, wajahnya datar. Mark sudah menunggunya. “Kenapa kamu kembali?” tanya Mark, mengangkat alis.
“Apa?” Martin balik bertanya, pura-pura bingung.
Mark tersenyum tipis, membaca situasi dengan mudah. “Apa kamu didahului oleh teman kamu?” ucap Mark, mengacu pada kegagalan Martin.
Martin menghela napas. Ia tidak menjawab, hanya berjalan ke sofa dan duduk, tatapannya kembali tertuju pada Ibu dan kakaknya yang masih belum sadarkan diri.
“Kapan mereka keluar?” tanya Martin, suaranya tiba-tiba berubah dingin.
Mark paham yang dimaksud Martin adalah Kakak-kakaknya yang lain, yang saat ini berada di luar kota. “Jika tidak salah, mereka berdua keluar 3 bulan lagi. Sedangkan untuk yang satunya akan kembali 1 tahun karena jauh,” jawab Mark.
Mark menatap Martin dengan curiga. “Kenapa kamu menanyakan itu? Tidak seperti biasanya,” kata Mark.
“Hanya ingin melanjutkan apa yang belum selesai,” kata Martin, pandangannya tidak lepas dari keluarganya. Itu bukan janji, melainkan sumpah.
Martin berbalik, nada suaranya kembali santai seolah-olah baru teringat. “Apa kamu sudah menemukan pak tua itu berada?”
“Sudah,” ucap Mark, memberikan dokumen tebal kepada Martin.
Martin mengambil lembaran dokumen dan membacanya. Ekspresi dinginnya meleleh menjadi senyum yang menakutkan, penuh pembalasan. “Itu pantas untuk pak tua,” katanya, nada puasnya menusuk.
“Bukannya dia tetap ayah kandung kamu?” tanya Mark, mencoba mengingatkan.
“Aku tidak pernah mengakuinya sebagai ayahku,” ucap Martin, menutup dokumen itu dengan keras, menyegel putusnya ikatan keluarga mereka.
Mark berdiri. “Jika ada apa-apa, hubungi aku.”
Suara pintu tertutup, dan hanya keheningan yang ada dalam ruangan, ditemani bunyi mesin monitor. Martin kembali berjaga. Waktu berlalu dalam keheningan yang mencekam hingga Dokter datang untuk memeriksa.
Tiba-tiba, sebuah suara berat terdengar dari belakang pintu masuk. “Sebaiknya kamu istirahat,” kata Izam.
Martin, yang mendengar suara itu, hanya terdiam menatap keluarganya. Kemudian, Roki temannya yang ceria menghampirinya dan memeluknya erat.
“Mereka akan baik-baik saja, kamu jangan khawatir,” kata Roki, memeluknya dengan hangat, sebuah gestur persahabatan yang tulus.
Martin, yang selama ini menahan emosinya, hanya bisa menerima pelukan Roki tanpa perlawanan, merasakan sedikit kehangatan menembus lapisan esnya. Roki melepaskannya dengan sendirinya.
“Kenapa kamu bisa ada di sini?” ucap Martin, bingung. Ia tahu Roki adalah siswa yang patuh.
Martin melihat ke arah Izam yang memalingkan wajahnya, jelas menyembunyikan sesuatu. Martin menghela napas, memilih untuk mengabaikan Izam untuk saat ini.
“Bagaimana, Dok? Ibu dan kakak saya, apa mereka baik-baik saja?” Martin segera bertanya pada Dokter, fokusnya kembali pada hal terpenting.
“Mereka dalam kondisi pemulihan. Mungkin besok akan siuman,” ucap Dokter menenangkan.
“Jika tidak ada yang ditanyakan, saya akan memeriksa pasien yang lain,” kata Dokter.
“Baik, Dok, terima kasih,” kata Martin.
“Ayo, kita bicara di luar saja,” kata Izam, berjalan keluar ruangan. Martin dan Roki mengikuti di belakang Izam.
Di luar ruangan, di lorong yang lebih sepi, Martin segera menuntut penjelasan. “Apa yang kamu katakan?”
“Aku terpaksa,” ucap Izam, menoleh ke arah Mizuki teman Izam yang sudah ada di luar.
“Itu bukan salah Izam,” sela Roki cepat, “Aku yang memaksa dia untuk memberitahukan kemana aku tidak masuk kelas hari ini.”
“Aku tidak tahu kalau kamu mendapatkan musibah,” ucap Roki dengan nada sedih. “Kamu tidak usah khawatir, aku baik-baik saja. Hanya saja aku harus menjaga keluargaku. Aku juga sudah minta izin ke wali kelas tidak masuk,” kata Martin, bingung menjelaskan detail pada Roki.
“Seharusnya kamu bilang kepadaku! Kenapa kamu bilang kepada orang itu!” kata Roki yang kesal, menunjuk ke arah Izam.
“Tunggu dulu, kenapa kamu marah kepadaku?” tanya Izam, wajahnya kesal. “Aku tidak salah apa-apa di sini!”
“Dia tahu hanya kebetulan saja, bukan aku yang memberitahu dia,” Martin membantu Izam, menyembunyikan kebenaran tentang Izam yang memberi tahu Roki karena terpaksa.
“Apa itu benar?” kata Roki yang menoleh ke arah Izam, meminta kejujuran.
“Itu benar, hanya kebetulan,” ucap Izam.
“Oke, aku percaya dengan ucapan kamu. Tapi apa yang terjadi dengan Ibu dan kedua kakak kamu?” tanya Roki, tatapannya kini serius.
Martin tidak berkata apa-apa, menundukkan wajahnya. “Kamu tidak harus menjawab,” ucap Roki, segera menarik kembali pertanyaannya, menghormati privasi Martin.
“Lain kali aku akan menjelaskannya. Tapi kenapa kamu datang? Bukannya ini bukan waktunya pulang sekolah?” ucap Martin, melihat ke arah Izam dan Roki.
“Mereka berdua izin untuk bertemu denganmu,” ucap Mizuki, berbicara untuk pertama kalinya.
“Tidak biasanya orang yang rajin minta izin keluar sekolah hanya untuk ke rumah sakit,” kata Martin, mencibir ringan, mencoba meringankan suasana.
“Kamu tidak suka kami menjengukmu?” ucap Roki, ekspresinya kembali sedih.
“Tidak! Aku berterima kasih kalau kamu mau melihatku dan keluargaku,” kata Martin yang tersenyum kecil.
“Bagaimana kalau kita makan dulu? Pasti kamu belum makan,” kata Izam, menunjukkan kepedulian.
“Boleh! Kebetulan aku belum makan dari kemarin, sudah lapar,” ucap Martin.
“Kalau begitu, ayo kita cari makan!” ucap Roki yang bersemangat dan menarik Izam dan Martin. “Kamu juga ikut,” katanya, menoleh ke arah Mizuki.
Di kantin rumah sakit, mereka memesan makanan. Roki, yang selalu ingin tahu, memecah keheningan.
“Izam, siapa dia?” kata Roki, melihat ke arah Mizuki.
“Dia Mizuki,” kata Izam dengan singkat.
“Kamu sudah mengenal dia?” ucap Roki, melihat ke arah Martin.
“Sudah, kemarin. Karena dia yang mengantar Ibu dan kakakku ke rumah sakit,” kata Martin.
“Kenapa kamu melihatku seperti itu? Itu sedikit aneh jika kamu menatapku seperti itu,” kata Mizuki, merasa tidak nyaman.
“Aku hanya penasaran. Kamu memiliki aura yang sama dengan Izam,” kata Roki jujur.
Izam yang mendengar sedikit terkejut, tetapi berusaha menutupinya. “Aura apa yang kamu maksud?” katanya, berpura-pura tidak tahu.
“Aura yang negatif dan hawa membunuh di sekitar kamu,” kata Martin, yang asyik menikmati makanannya dengan lahap, melontarkan pengamatan yang mengerikan seolah-olah itu hanya komentar cuaca.
“Iya,” timpal Roki.
“Mungkin hanya perasaan kamu saja itu,” kata Izam, berusaha mengelak.
“Perasaan bisa menjadi salah satu sifat,” kata Martin.
Roki melihat ke arah Martin yang menikmati makanannya. “Apa yang kamu ketahui?” ucap Roki, tatapannya menuntut.
“Apa?” ucap Martin yang kembali sadar.
“Apa kamu tidak menyembunyikan sesuatu dariku?” kata Roki, firasatnya kuat.
“Apa yang aku sembunyikan memangnya?” kata Martin yang tidak paham dengan suasana di meja saat itu.
“Tadi kamu mengatakan kalau kami memiliki aura membunuh yang sangat kuat,” ucap Izam, kembali ke topik yang membuatnya gelisah.
“Oh, yang itu? Aku kira yang mana,” kata Martin. “Itu karena dia yang selalu takut dengan kamu. Dia menyimpulkan kalau kamu berbahaya, apalagi dia pernah melihat kamu berantem dengan kakak kelas di gang belakang gedung sekolah beberapa hari yang lalu,” Martin menjelaskan dengan santai.
“Apa benar kamu takut denganku?” ucap Izam, melihat ke arah Roki.
“Itu benar, tapi dulu. Sekarang tidak karena kamu temanku,” ucap Roki. “Tapi kenapa kamu melihat Mizuki seperti ada sesuatu tadi?” tanya Izam, membalas.
“Apa?” ucap Roki yang kembali gelisah.
“Jangan... jangan kamu su...” kata Martin, belum selesai.
“Tidak! Aku hanya merasa kalau dia sama dengan kamu, Izam, itu saja. Tidak lebih, dan tidak ada perasaan apa-apa!” ucap Roki menjelaskan dengan cepat, wajahnya memerah.
Martin hanya tersenyum melihat tingkah laku Roki. Tiba-tiba, ponsel Martin berbunyi.
“Apa ini dengan Martin?” kata seorang wanita yang menelepon.
“Iya, benar. Maaf, ini siapa, ya?” kata Martin, melihat ke luar jendela.
“Kami hanya memberitahukan kalau salah satu kakak kamu menghilang,” ucap wanita tersebut.
Bersamaan dengan itu, Martin yang melihat keluar jendela melihat sekelompok preman yang menyamar dan membawa seseorang. Karena ada yang aneh, sampai dia diberitahukan kalau kakaknya tidak ada. Martin dengan cepat keluar dari kantin dan menuju jalanan, wajahnya kembali diselimuti hawa dingin yang mematikan. Pengejaran baru saja dimulai.