𝓐𝓼𝓼𝓪𝓵𝓪𝓶𝓾'𝓪𝓵𝓪𝓲𝓴𝓾𝓶 𝓦𝓻. 𝓦𝓫.
Ini adalah karya kedua dari saya. Mohon dukungan dan do'anya selalu!🙏😊
Dan ini adalah kisah fiksi, imajinasi dari author 🤗🙏.
Dan kisah ini hendaknya hanya dibaca untuk ***.
Menjadi kondektur kereta api bagi seorang Dimas adalah hal yang patut untuk ia syukuri. Dari situ ia belajar tanggungjawab, kepercayaan dan kebijaksanaan yang lebih besar didalamnya.
Nama lengkapnya "Dimas Adityama Putra Wijaya" Ia bertugas membantu sebagai juru langsir membantu masinis dan bertugas pula dalam menertibkan setiap perjalanan pada transportasi darat. Transportasi darat ini adalah kereta.
Suatu ketika Dimas dipertemukan dengan wanita yang cukup galak pada kali pertemuan mereka. Namun kegalakan wanita itu seketika langsung berubah, menjadi penuh kasih sayang saat sedang bersama dengan wanita yang nampak seperti Ibu dari wanita galak tersebut.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Dimas akan menaruh hati padanya? Ataukah sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan
Sangat disarankan untuk membaca episode sebelumnya karena masih ada sedikit perubahan dan perbaikan.🙏
Mohon maaf dan atas pengertiannya saya sampaikan banyak terimakasih.😚
.......
.......
.......
Begitu selesai meminta solusi dan meluapkan rindu kepada Dimas, Pak Wijaya memberikan informasi Pada Zalfa dan Ayunda terkait perubahan kendaraan yang akan mereka naiki. Zalfa yang sudah terbiasa naik kereta tidak keberatan dengan hal itu begitu juga dengan Ayunda walaupun itu akan menjadi pengalaman pertama ia naik kereta.
Dan Pak Wijaya memutuskan untuk mengurus tiket di stasiun kota M pada 3 jam sebelum jadwal kereta berangkat.
Dari situ Pak Wijaya menyuruh Zalfa dan Ayunda untuk tinggal berangkat saja dan masalah tiket kereta akan diuruskan oleh beliau-Pak Wijaya. Karena Pak Wijaya merasa bahwa bagaimanapun itu adalah tanggung jawabnya. Menunggu 3 jam tidaklah seberapa dibandingkan saat diminta pertanggungjawaban ketika di akhirat kelak.
"Alhamdulillah Ma. Papa hampir saja merasa bersalah dan sangat tidak bertanggung jawab kalau mereka besok tidak bisa berangkat." ucap Pak Wijaya dengan memegang boarding pass sebagai pengganti tiket.
Bu Wijaya ikut senang dan bersyukur atas keberuntungan dan pertolongan yang Allah berikan pada suaminya.
...----------------...
Sedari waktu subuh dan sebelum subuh hujan turun dengan sedang. Hujan seakan-akan memberikan sebuah kabar sejuk pada hari ini.
Kegiatan Dimas adalah bangun di sepertiga malam, melaksanakan shalat tahajud dan berdoa mengenai segala hajat dan keluh kesahnya.
Dan dimalam itu Dimas juga berdoa untuk hatinya yang tengah dilanda rindu pada seorang wanita.
"Ya Allah Engkau Yang Maha Halus Yang membolak-balikan hati, tetapkanlah hati ini diatas agama-Mu," Dimas masih melanjutkan do'anya,
"Ya Allah aku tengah dilanda rindu pada seseorang dan aku mohon pertemukanlah aku dengannya kembali kalau memang akan ada hal baik yang bisa aku jalin bersamanya ... aamiin."
Tak selesai disitu, Dimas kemudian membuka mushaf Al-Qur'an. Ia membaca dan mentadaburi makna yang terkandung pada setiap ayat-ayat yang dibacanya sampai ketika datang waktu subuh ia bergegas pergi ke masjid dan mengumandangkan adzan subuh. Hal itu ia lakukan sebagai bentuk rasa syukurnya diberikan kesehatan, tubuh yang kuat untuk memulai aktivitas seperti biasanya dan bekerja membantu/melayani umat/masyarakat.
Sesuai ajaran dari Mamanya yang basicnya guru agama, Mamanya Dimas selalu mengajarkan kepada Dimas bahwa,
"Hidup harus seimbang antara dunia dan akhirat agar kita tak merasakan lelah dan gundah gulana dalam menjalani kehidupan di dunia yang fana dan penuh hiruk-pikuk inj," kemudian Dimas juga masih ingat lanjutan dari pesan Mamanya tersebut yaitu, "Mengingat sang Pencipta akan membuat hati kita lebih tenang dan kita tau tujuan hidup kita selama ini."
Dimas tersenyum sendiri mengingat pesan Mamanya itu, pesan yang disampaikan sang Mama kepadanya saat ia begitu kerja keras dalam meraih cita-citanya saat masih remaja.
"Mama ..." ucap Dimas sambil membuat jamuan sarapan kesukaannya. Jamuan sarapan yang paling mudah dan enak baginya, yaitu sarapan omelette dengan kopi hitam manis sedang menjadi pelengkap.
Dimas sudah berpakaian rapi lengkap dengan seragam dan jaz yang melekat pada tubuh atletisnya. Kini ia menatap cermin untuk menggunakan pet (topi) sebagai pelengkap.
"Allahumma anta hassanta khalqi fahassin khuluqii wa haram wajhii' alannari. Aamiin" ucap Dimas dengan khusyuk melafalkan do'a saat bercermin yang pernah diajarkan oleh Mamanya yang berprofesi sebagai guru agama. Dan sifat khusyuknya Dimas sedikit banyak merupakan ajaran dari Mamanya.
Dan adapun arti dari do'a bercermin yang dilafalkan Dimas, artinya sebagai berikut:
"Wahai Allah Engkau telah membaikkan tubuhku, maka baikkanlah perangaiku dan haramkan diriku atas neraka."
Tak banyak yang tau memang tentang kepribadian Dimas. Dimas yang ternyata diam-diam dibalik tampilan gantlenya saat mengenakan seragam putih dan jaz hitamnya, Dimas juga begitu menyelaraskan kegantlen fisik dan tampilannya dengan ketaatan dan keinginannya untuk senantiasa dekat kepada Sang Maha Kuasa melalui dengan melaksanakan amalan-amalan sunnah yang dapat Menjadikan-Nya lebih mencintai salah seorang dari hamba-Nya tersebut.
~Di Stasiun Terbesar di Kota S~
Pagi dingin dengan dikawal oleh rintik-rintik hujan yang menyambut dan menemani Dimas bersama kru yang bertugas.
Semua sudah siap, Dimas dan kru yang bertugas sudah selesai melaksanakan apel sebelum kereta berangkat.
Tak berapa lama kemudian Dimas perlahan masuk begitu juga dengan kereta itu perlahan tapi pasti, kereta berangkat menyusuri perjalanan penuh kesejukan dan keasrian suasana pagi apalagi diiringi rintik-rintik hujan yang mengisyaratkan kepada para anak manusia untuk selalu mengingat akan kuasa-Nya dan Rahmat-Nya yang begitu besar dan luar biasa.
Bersama kru yang bertugas di kereta itu, Dimas melaksanakan tugas dengan sebaik mungkin. Menjalani semua semata-mata karena Lillahita'ala atau Karena-Nya menjadi tujuan utama mereka dalam melaksanakan tugas mereka disetiap waktu.
~ Pagi menjelang siang di stasiun kota Terbesar di kota M~
Seperti bergantian sesuai urutan suasana pagi menjelang siang di stasiun kota M diiringi juga dengan rintik-rintik hujan yang menghiasi jalanan stasiun hari itu.
Sebelum kereta berangkat pada jam 11.05 waktu setempat, sekitar 3 atau 2 jam sebelum kereta berangkat Pak Wijaya dan Bu Wijaya sudah standby di stasiun membeli tiket untuk kepergian Zalfa dan Ayunda mengikuti studi banding yang berlangsung pada jam 13.00 waktu setempat di SDN 1 Bumi Pertiwi kota S.
Penumpang kereta secara bergilir memasuki kereta mereka. Pak Wijaya dilanda kekhawatiran karena Zalfa dan Ayunda yang belum sampai di stasiun padahal sudah jam 11.00 (WIB) waktu setempat.
Ditengah kekhawatiran yang melanda Pak Wijaya diberi kejutan tak terduga. Saat ini tepat di depannya seorang laki-laki berpakaian rapi lengkap dengan jaz serta atribut yang melekat pada tubuh atletisnya. Laki-laki itu menyunggingkan sebuah senyuman dan memberi hormat kepada Pak Wijaya.
Tanpa tunggu lebih lama lagi, seketika itu Pak Wijaya langsung memeluk laki-laki itu secara berganti dengan Bu Wijaya yang sedari malam memaksa untuk ikut ke stasiun kota M. Degan harapan siapa tau bisa ketemu Dimas atau paling enggak bisa melihat Dimas, ya meskipun cuma melihat dari jauh setidaknya itu membuat rindunya cukup terobati. Harapan dari seorang Ibu yang begitu rindu dengan putranya.
"Dimas ini kamu sayang?" ucap Bu Wijaya menyentuh wajah Dimas kemudian memeluk putranya yang sering jauh darinya. 3 jam membeli dan menunggu di stasiun tidak terasa apa-apa saat didepannya kini, putra kesayangannya berdiri gagah dan berhambur dalam pelukannya.
Masih saling memeluk dan meluapkan sejenak rindu yang terobati dengan pertemuan tak direncanakan namun sudah menjadi suratan takdir dari Sang Ilahi.
"Dimas Mama kangen sama kamu!" ujar Bu Wijaya begitu dalam dan tak dapat ditahan olehnya, buliran air mata pun mengalir pada kedua pipinya.
Sudah merasa cukup saling mencurahkan kerinduan secara tak sengaja, Dimas dan kedua orang tuanya langsung merenganggkan pelukan nya karena ingat waktu Dimas tak banyak.
Kereta akan segera berangkat. Pak Wijaya kembali teringat dengan Zalfa dan Ayunda yang begitu ditunggu ya.
Dan tepat 11:00:55 (WIB) mereka datang dengan cukup tergesa-gesa.
Zalfa dan Ayunda datang bersamaan dari satu mobil. Semalam setelah mendapat informasi dari Pak Kepsek untuk berpindah naik transportasi kereta api dengan tiket yang sudah dipesankan oleh Pak Kepsek sebagai bentuk tanggungjawabnya kepada Zalfa dan Ayunda, Zalfa dan Ayunda pun sepakat untuk berangkat bersama, dengan Ayunda menjemput Zalfa di kediaman Zalfa. Tapi ternyata cukup ada beberapa kendala hingga mereka tidak bisa sampai lebih awal.
Zalfa dan Ayunda masih berjalan menuju ke tempat Pak Wijaya dengan langkah cepat karena jarak yang lumayan jauh. Dari kejauhan Zalfa juga melihat Pak Wijaya dengan didampingi seorang wanita sedang berbicara cukup serius, kemudian setelah itu seorang laki-laki di depan Pak Wijaya meraih tangan Pak Wijaya dan mencium tangan Pak Wijaya. Secara bergantian pula laki-laki itu maraih dan mencium tangan wanita yang mendampingi Pak Wijaya.
Tangan Dimas masih mengenggam tangan Mamanya sembari Mamanya tersebut berpesan pada Dimas,
"Dimas, dimanapun kamu berada jangan lupa untuk senantiasa mengingat-Nya, ya Nak!"
Dimas mengangguk dan mencium kembali tangan wanita yang begitu berarti untuknya dalam hidup nya.
Dimas masih mencium tangan Mamanya bersamaan dengan itu datang Zalfa dan Ayunda tepat disamping Pak Wijaya.
"BU Zalfa, Bu Ayunda!" sapa Pak Wijaya hangat kepada Zalfa dan Ayunda, tapi Zalfa dan Ayunda yang cukup begitu malu karena telat mereka pun membalas sapaan Pak Wijaya dengan senyum getir karena tidak datang lebih awal.
Disaat itu pula Dimas sudah selesai bersalaman dan mencium tangan Mamanya. Alhasil Dimas menoleh ke sumber suara yang berada dekat dengan Papanya.
Dan tatapan Dimas dan kedipan matanya yang sekali kedip tapi begitu dalam menjadi pertanda akan hatinya yang begitu bahagia dan bersuara dengan sosok yang ada di depannya saat ini.
"Zalfa ...?" panggil suara hati Dimas tak menyangka.
Siang itu diiringi masih dengan diiringi rintik hujan di kota M yang berjatuhan cukup tenang, seperti bergantian berdatangan dari kota S ke kota M, hujan turun turut menjadi saksi pertemuan tak terkira untuk laki-laki yang tengah dilanda rindu dalam hatinya semenjak pertemuan mereka berminggu-minggu yang lalu. Pasalnya tak cuma bisa bertemu dengan Zalfa tapi ia juga bisa bertemu dengan kedua orang tuanya.
"Beruntungnya kamu Dimas! Kalau sudah begini, Nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang kamu dustakan?" Dimas memuji Pada-Nya penuh rasa syukur dalam hatinya. Ia dipertemukan dengan orang-orang yang dirindukannya hari itu.
Dan bagaimana sikap Zalfa saat bertemu dengan Dimas kembali?
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!
......(untuk dicerita ini Author mohon maaf kalau ada yang kurang tepat, di episode ini author sudah juga sudah berusaha untuk menyesuaikan pada situasi umumnya yang ada pada kereta apai, "Bahwa untuk memesan tiket go show harus berangkat 3 jam sebelum jadwal kereta berangkat. Dan apabila ternyata masih ada yang salah atau kurang tepat perihal sesuatu yang masih berhubungan dengan perkeretaapian, saya mohon maaf yang sebanyak-banyaknya🙏, karena saya (author) juga cuma manusia biasa yang masih banyak salah dan khilafnya dan cerita ini Author buat dari sudut pandang author tanpa adanya niat menyinggung salah satu pihak atau pihak manapun sekalipun🙏. Dan selanjutnya Author akan selalu berusaha untuk mencari berbagai sumber terpercaya untuk menunjang kebaikan cerita ini dan kebaikan bersama.🙏)......
btw profilmu juga mengundang bawang @A.bahtiar Lfc 😭🤭🙂🙈