Nayla Kei seorang gadis cantik dan manis memiliki sifat periang terpaksa dia menerima perjodohan dengan salah satu sahabatnya yang merupakan anak dari teman dekat ibunya.
Atas dasar balas budi Nayla menerima pernikahannya dengan terpaksa. Namun siapa sangka dalam perjalanan pernikahan itu Nayla mulai merasa hal lain pada suaminya.
Akankah suami Nayla menerimanya sebagai seorang istri?
Akankah Nayla mendapat perlakuan semestinya sebagai seorang istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maciba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 Bantuan
Setelah tiba di rumahnya, Nayla bergegas membersihkan tubuh karena ia merasa sudah lengket oleh keringat. Setelah lima belas menit berlalu, aktifitasnya pun selesai. Gadis itu keluar kamar mencari Bunda Nilla. Dilihatnya sosok hangat dan penyayang sedang fokus pada acara TV.
Nayla memeluk Ibunya dari belakang, “Bunda, besok Nay berangkat pagi ya ke kampus jadi ngga bisa sarapan bareng Bunda. Nay mau bawa bekal aja ya” ucap Nayla kemudian mengecup pipi Bunda Nilla.
Bunda Nilla menoleh pada putrinya, “Tumben nak, ada apa?”.
“Ada seminar tesis Bun, pagi jam 7 sampai siang. Doakan Nayla berhasil ya Bunda. Oh iya, sepulang dari kampus, mau langsung ke gym” ujar Nayla
“Iya Nayla, bunda selalu mendoakan anak-anak bunda.Nayra dan kamu selalu ada dalam setiap doa bunda”, Bunda Nilla tersenyum “Apa Rayden udah menghubungi kamu?, ada perkembangan hubungan kalian kah?”, tanya Bunda Nilla .
Nayla hanya menggelengkan kepalanya saja sembari tersenyum kecut. “Ya sudah, Rayden pasti sibuk, bunda denger dia lagi pembangunan cabang hotel lagi. Ayo kita tidur, bunda udah ngantuk. Kamu juga jangan begadang !. Besok berangkat pagi jadi tidur harus cukup”, tegas Bunda Nilla.
Gadis itu pun segera ke dapur dan meneguk satu gelas air hangat, guna menghilangkan rasa hausnya. Kemudian memasuki kamar kembali dan memejamkan kedua matanya.
Pagi telah tiba, sayup-sayup terdengar suara bising dari arah dapur. Nayla yang sudah siap dengan kemeja putih, rok hitam dipadukan blazer segera menuju sumber suara. Melihat sang bunda tengah menyiapkan bekal untuk ia bawa. “Makasih bundaku tersayang, Nay pamit ya” ucap Nayla dan mengecup tangan Bunda Nilla.
.
.
.
Sementara di sisi lain, seorang pria baru terbangun dari tidurnya. Ia segera masuk ke kamar mandi, tidak lupa merapikan janggutnya yang sudah mulai lebat, tentu saja agar telihat lebih segar dan tampan tentunya. Tiga puluh menit sudah ia menghabiskan waktu untuk mandi dan merapikan diri, sebagai pengusaha muda nan sukses sudah tentu harus terlihat sempurna dalam hal penampilan.
Rayden mulai berjalan menuju kedua orang tuanya yang sudah duduk bersenda gurau di meja makan. “ Pa, Ma” , sapanya dengan suara datar.
“Sayang, kamu mau ngantor? Ngga istirahat dulu hari ini? Baru sampai rumah tadi malem lho Ray”, tanya Mama Anggi dengan tidak sabaran.
”Ada pekerjaan penting ma”, sahut Rayden
“Sudah ma, Laki-laki memang harus seperti itu, bekerja keras”, sahut Papa Dave setelah melihat perubahan ekspresi wajah sang istri ketika mendengar jawaban Rayden.
Setelah selesai sarapan, ketiganya mulai beranjak untuk melakukan kegiatannya hari ini. Rayden sudah berangkat menuju hotel miliknya, sementara Papa Dave mengantar Mama Anggi terlebih dahulu ke toko bunga miliknya, setelah itu bergegas menuju kantor.
Tiba di kantor, Rayden disambut oleh para pegawainya, semua nampak menghormatinya sebagai pemilik sekaligus pimpinan hotel. Dalam ruang khusus pimpinan, sudah nampak berkas menumpuk menuntut untuk segera diselesaikan. Hingga siang hari ia masih sibuk dengan pekerjaannya, melewatkan waktu santap siangnya.
Tok
Tok
“Pak, ini saya Indra” ujar asisten pribadi Rayden sebelum memasuki ruangan.
“Ya” sahut Rayden
Melihat bosnya masih sibuk dan belum makan siang, Indra berinisiatif akan memesan makanan untuk Rayden, “Pak, saya akan pesankan makan siang ke bagian kitchen” ucap asisten Indra.
Lima belas menit Indra menunggu, akhirnya makanan yang dipesan pun telah tiba di lantai 5. Tanpa buang waktu, pria itu segera memberikannya pada Rayden, “Ini Pak, sudah saya pesankan, permisi” ia pun pamit meninggalkan ruangan itu.
**
Sore Hari
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30, akhirnya pekerjaan Rayden sudah selesai. Sebelum kembali ke rumah, Ia pun bergegas menuju cafe miliknya.
Mobil merah berlogo kuda jingkrak milik Rayden mulai bergerak dan berjalan membelah jalan ibu kota yang cukup ramai. Butuh waktu lebih lama untuknya tiba di cafe R and B. Setelah hampir satu jam perjalanan, pria itu tiba di cafe pertama miliknya. Ia pun langsung turun dan memantau seluruh cafe.
Dua jam sudah berlalu, kini pria tampan nan kharismatik itu kembali mengendarai mobil merahnya menuju rumah, karena Mama Anggi sudah berkali-kali menghubunginya.
Antrian kendaraan malam ini cukup padat, mobil merah melaju dengan lambat. Sesekali Rayden melihat sekitarnya ke kanan atau ke kiri. Netranya menangkap wajah gadis yang ia kenali sedang berdiri didepan sebuah bengkel, terlihat mengatupkan kedua telapak tangannya memohon pada salah satu montir.
Rayden langsung menepikan kendaraannya. “Mas, tolong ya bantu saya, ban motor saya bocor, mau ya mas?” Nayla memohon pada salah seorang montir. Nayla tidak menyadari jika Rayden menuju kearahnya dan mendengar perkataan Nayla.
“Maap mba, tapi bengkel ini sudah mau tutup mba” tegas seorang montir.
“Bantu saja, aku akan membayar dua kali lipat” ucap Rayden dengan suara dan tatapan dinginnya.
Nayla pun tersentak mendengar suara yang tidak asing bagi telinganya. Pria bertubuh tinggi itu kini telah berdiri tepat di samping calon istrinya. Nayla hanya melirik sedikit ke arah pria itu, “Rayden” ucap Nayla dengan lirih.
“Eh, ini Ka Rayden kan?” tanya montir.
“Ya” jawab seorang Rayden singkat.
“Iya ka, sebentar aku keluarkan dulu alat-alatnya. Kakak silahkan tunggu didalam” ucap montir bengkel
Rayden segera berjalan masuk menuju ruang tunggu, tapi rasanya cukup aneh karena tidak ada seseorang yang mengikutinya. Ia pun menoleh pada Nayla, “Nay” ucapnya. Gadis itu mengerti dan segera mengikuti Rayden menunggu di ruang tersebut.
Suasana canggung diantara keduanya sangat terlihat. Tidak ada perbincangan atau saling tegur sapa, masing-masing menoleh ke arah berlawanan, sesekali ekor mata Rayden melirik gadis disampingnya.
“Ka Ray, maap ternyata ukuran ban yang sesuai dengan motornya habis. Barang baru datang ke bengkel besok pagi. Besok saya perbaiki, setelah semua beres saya antar motornya, gemana Ka Ray, mba?” ungkap seorang montir.
Nayla nampak lesu mendengar semuanya, saat ini sudah cukup malam bagaimana ia pulang tanpa motor kesayangan?. Rayden pun manggut-manggut, “Oke, alamatnya saya kirim” ucap rayden . kemudian ia menarik tangan Nayla menuju mobil yang terparkir di depan sebuah ruko.
“Eh eh, apa ini?”, gadis itu pun terperanjat karena tiba-tiba saja Rayden menariknya.
“Ayo pulang” ajak Rayden tanpa menoleh sedikit pun.
“Iya tapi motornya.....” tunjuk Nayla pada motor matic hitam miliknya.
“Ayo pulang, aku antar” ajak Rayden.
“Hah? Lo mau anterin gue ke rumah?” tanya Nayla tak percaya.
“Heeemmm “, Rayden langsung menarik tangan Nayla dengan cepat menuju mobilnya, membuka pintu dan mempersilahkan Nayla masuk mobil merah miliknya.
Lelaki itu pun segera menyalakan mesin mobil dan melaju dengan sedikit cepat menuju rumah calon istrinya. Nayla menoleh pada Rayden yang nampak asyik memandangi gelapnya jalanan.
“Aku, tadi dia bilang aku? Tumben” ucap Nayla dalam hati.