Bijak-bijak memilih bacaan! Karena ini banyak cerita panas serta adegan yang tak terduga.
Nama aku Marsya Aulia, aku hanya anak dari keluarga yang kurang mampu. Ibu aku sedang sakit kanker paru-paru stadium akhir.
Suatu hari ibuku jatuh sakit dan harus segera dilarikan ke rumah sakit. Dokter mengatakan jika sebaiknya ibuku harus melakukan operasi pengangkatan kanker.
Aku tidak punya biaya sama sekali, hingga aku berjumpa dengan seorang wanita yang amat sangat cantik. Ia memberi sebuah bon pembayaran rumah sakit beserta uang.
Aku yang lagi bingung dengan senang hati menerima pemberian wanita tersebut.
Namun aku pikir dia ikhlas membantu, ternyata semua ada timbal baliknya.
Inilah kisah ku..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Minta jatah.
Part 11
_____
Tuan Agung perlahan berjalan meninggalkan kamar Marsya. Baru sampai di depan pintu tiba-tiba ia mendengar suara Marsya yang mengigau.
“Ibu! Ibu! Maafin Marsya.” Ucap Marsya sambil mengigau menyebut nama ibunya.
Sontak saja membuat tuan Agung berhenti dan menolehkan kepalanya melihat Marsya. Kemudian ia berjalan kembali keluar menutup pintu kamar Marsya dengan perlahan.
“Terlalu perih nasib gadis itu, aku ingat ketika ibuku meninggalkan aku, dia berjuang melawan sakit yang dideritanya demi menjaga aku yang masih kecil ia berusaha bertahan hingga ia menyerah untuk melawan sakitnya. Sedangkan papa, iya tidak pernah perduli kepada ibu hingga nafas terakhir.” Gumam tuan Agung sambil berjalan mengenang kepergian ibunya. Tiba-tiba pikirannya buyar, karena ia mendengar suara Wardani memanggil dirinya.
“Sayang! Kamu dari mana saja, mari kita tidur.” Wardani menghampiri tuan Agung lalu menggandeng tangannya dan mereka pun berjalan berdua menuju kamar.
Hari dan malam yang sedih sudah terlewatkan. Pagi yang indah menyapa dengan sinarnya yang begitu terang masuk melalui jendela kaca dan menembus kain gorden dan kain tilley yang menghiasi jendela Marsya.
“Sudah jam berapa ini.” Ucap Marsya sambil perlahan menepis silaunya matahari yang menerangi kamarnya.
“Setau Marsya semalam tidak pakai selimut! Siapa yang menyelimuti ya? Atau mungkin perasaan Marsya saja.” Gumam Marsya sambil melihat selimut yang menutupi tubuhnya.
Tok!
Tok!
“Nona! Apakah nona sudah bangun?” teriak pembantu dari luar pintu.
“Iya! Saya sudah bangun bi.” Jawab Marsya sambil bangkit dari kasur dan berjalan menuju pintu kamarnya, kemudian membuka pintu.
“Ada apa bi?” tanya Marsya.
“Nona di panggil sama tuan dan sudah di tunggu di ruang kerjanya.” Jawab bibi pembantu memberitahu.
“Terimakasih ya bi, nanti saya ke sana.” Ucap Marsya kemudian menutup pintunya. Dan pembantu itu berjalan Meninggalkan kamar Marsya.
“Ada apa ya?” gumam Marsya sambil masuk kedalam kamar mandi. Beberapa menit kemudian Marsya pun selesai mandi, kemudian ia berjalan perlahan-lahan dan berhenti di ruang kerja tuan Agung.
Tok!
Tok!
“Masuk saja!” sahut tuan Agung dari dalam.
“Maaf! Apa tuan memanggil saya.” Tanya Marsya yang perlahan berjalan dan kemudian berdiri di depan meja kerja tuan Agung.
Sedangkan tuan Agung, ia masih duduk membelakangi Marsya di kursi kerajaannya sambil menatap indahnya suasana pagi dari kaca jendelanya.
“Iya! Saya memang memanggil kamu.” Sahut tuan Agung yang masih membelakangi Marsya.
“Kalau saya boleh tahu! Ada apa sepagi ini tuan memanggil saya.” Tanya Marsya yang bingung.
“Saya ingin minta jatah dari kamu.” Ucap tuan Agung sambil tersenyum. Kemudian ia membalikkan kursinya menghadap Marsya.
“Jatah apa ya tuan.” Marsya bingung.
“Kamu kan istri saya! Masa kamu tidak tahu.” Sahut tuan Agung dengan nada tinggi dan memandang wajah Marsya.
“Iya, saya memang tidak tahu. Apa tuan ingin saya buatkan sesuatu.” Jawab polos Marsya.
“Kamu ini pura-pura gak tahu! Apa kamu beneran bodoh.” Tandas tuan Agung.
“Saya gak ngerti, iya saya memang orang bodoh, tapi saya orang bodoh yang berusaha mau belajar tuan.” Sahut Marsya dengan polosnya.
“Aih!” tuan Agung mengusap wajahnya.
“Tuan kenapa? Lagi sakit ya.” Tanya Marsya cemas dan mendekati meja tuan Agung.
“Sudahlah! Payah bicara dengan gadis yang baru mekar semalam.” Gumam tuan Agung.
“Siapa gadis yang baru mekar semalam tuan.” Tanya Marsya dengan polosnya.
“Ada orang bodoh yang duduk berdiri di luar sana.” Ucap tuan Agung.
“Oh!” Marsya sambil mengangguk kepalanya.
“Marsya saya mau tanya ke kamu.” Tanya tuan Agung menggantung.
“Iya! Tanyalah tuan.” Seru Marsya sambil mendekatkan dirinya lebih dekat lagi.
“Apa benar yang saya dengar kemarin! Kamu ingin melepaskan ikatan kita.” Tanya tuan Agung dengan serius.
“Hem! Benar tuan.” Jawab Marsya sambil mengangguk.
“Apa yang membuat kamu ingin berpisah dengan saya dan membatalkan kerja sama tentang hubungan kita.” Tanya tuan Agung sambil menatap tajam Marsya.
“Karena sudah tidak ada lagi yang harus saya bayar. Ibu saya sudah tiada, apa lagi yang harus saya pertahankan. Kecuali hutang saya ke nona Wardani sebesar seratus lima puluh juta rupiah itu.” Seru Marsya dengan berani.
“Jika saya tidak mau melepaskan kamu gimana?” tanya tuan Agung sambil bertopang dagu di sebelah tangan kanannya.
“Tuan harus melepaskan saya, jangan bilang tidak mau. Saya janji bakal bayar hutang saya.” Tegas Marsya.
“Jika saya melipat gandakan hutang kamu sepuluh kali lipat gimana? Apa kamu masih mau berpisah dengan saya.” Ucap tuan Agung dengan santai.
“Tentu saja saya tidak bisa tuan, gimana kalau saya ikut kerja dengan tuan Agung saja.” Seru Marsya.
“Ok! Kalau begitu kamu bayar hutang kamu dengan bekerja ke saya, tapi dengan satu syarat!” seru tuan Agung sambil senyum jahat.
“Katakan saja tuan.” Jawab Marsya dengan santainya.
“Saya tidak akan melepaskan kamu sampai hutang kamu lunas. Dan kamu akan bekerja sebagai asisten saya, kemanapun saya pergi kamu harus ada di samping saya. Gimana.”Tuan Agung memberi syarat.
“Baik! Saya akan usahakan semampu saya. Tapi gimana dengan nona Wardani tuan.” Tanya Marsya menyetujui persyaratan.
“Kamu tenang saja! Silahkan kamu pergi keluar, dan kamu ganti baju. Di sana sudah saya siapkan baju untuk kamu.” Ucap tuan Agung sambil nunjuk kearah sofa di ruang kerjanya.
“Baik tuan! Kalau gitu saya permisi dulu.” Ucap Marsya kemudian membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya mendekati sofa. Kemudian ia mengambil perlengkapan mulai baju, tas dan sepatu kerjanya. Lalu meninggalkan ruang kerja tuan Agung.
“Dasar gadis lugu, saya tidak akan melepaskan kamu karena saya masih ingin mengetahui kamu lebih dalam. Kamu membuat saya penasaran.” Gumam tuan Agung sambil menatap pintu ruang kerja yang baru saja Marsya keluar dari situ.
Marsya pun terus berjalan menuju kamarnya, di tengah perjalanan ia berpapasan dengan Wardani. Wardani pun memperhatikan apa yang di bawa oleh Marsya kemudian ia berhenti dan bertanya.
“Marsya! Apa yang kamu bawa itu.” Tanya Wardani.
“Begini nona! Ini adalah baju kerja saya, karena saya ingin melunasi hutang saya dengan cara bekerja di tempat tuan Agung.” Jawab Marsya dengan polosnya.
“Apa! Kamu ingin melunasi hutang kamu dan suami saya setuju.” Wardani heran.
Tiba-tiba tuan Agung datang kemudian ia berjalan dan mendekati Wardani.
“Iya sayang! Saya menyuruh ia menjadi asisten pribadi. Jika ia mau melunasi hutang-hutangnya.” Sambung tuan Agung sambil merangkul bahu istrinya.
“Tapi suamiku! Gimana tentang keturunan kita.” Seru Wardani cemas.
“Sudah kamu pergi ganti baju dan kemudian kamu turun kebawah. Jangan sampai kita terlambat. Soal istri saya, biar saya yang menjelaskan.” Seru tuan Agung memberi perintah.
“Kalau begitu saya permisi dulu tuan dan nona.” Kemudian Marsya membalikkan badannya dan melangkah menuju kamarnya.
Sedangkan Wardani dan tuan Agung masih berdiri di situ. Wardani wajahnya sangat begitu gelisah, hingga cemberut tak karuan.
“Sayang! Mari kita berjalan menuju ruang makan.” Tuan Agung menggandeng istrinya. Kemudian mereka menuju ruang makan.
Sampailah tuan Agung dan Wardani di meja makan. Kemudian tuan Agung menarik kursi dan menyilahkan duduk istrinya.
“Sayang kamu jangan seperti itu.” Ucap tuan Agung kemudian berjalan ke kursinya.
“Kamu sih, tidak memberitahu sebelumnya. Mau cari pengganti yang masih bener-bener bagus di mana lagi nanti. Aku sudah intai dia dari lama loh sayang!” ucap Wardani yang merasa kesal.
“Saya tidak akan melepaskannya! Saya sengaja buat dia bekerja kepada suami kamu ini, agar dia tidak terus-menerus meraung ingin keluar dan memutuskan perjanjian kita. Sudahlah kamu jangan cemberut seperti ini, apa tidak sayang perawatan kamu yang tiap bulan itu menghabiskan dana ratusan juta rupiah.” Ucap tuan Agung sambil membelai wajah istrinya.
“Maaf sedikit lama! Tapi, baju ini apa tidak terlalu ketat buat saya tuan.” Tiba-tiba Marsya datang.
“Ya ampun anak ini! Selalu mengagetkan.” Gumam Wardani sambil mengelus dada.
“Tidak! Memang begitu pakaian sebagai asisten pribadi saya. Silahkan kamu duduk dan sarapan bersama, saya tidak suka jika kerja banyak bicara dan mengulur waktu.” Ucap tuan Agung mempersilahkan duduk.
“Marsya! Kamu sekarangkan kerja dengan suami saya, kamu jangan tergoda dengan pria lain nanti ya.” Tandas Wardani.
“Hem! Mana ada pria yang ganteng mau sama saya nona, nona bisa aja bercandanya.” Sambung Marsya sambil tersenyum malu.
“Saya serius! karena jika kamu tergoda dengan yang lain dan ingin berpisah dengan suami saya. Kamu harus mengganti hutang itu menjadi satu milyar.” Jawab Wardani dengan sedikit menakut-nakuti.
“Nona tenang saja, tujuan saya hanya bekerja bukan yang lain.” Sambung Marsya.
Tuan Agung hanya mendengarkan saja. Sambil melirik ke Marsya sesekali.
“Ehm! Sudah selesai, mari kita berangkat Marsya.” Seru tuan Agung sambil berdiri dari duduknya. Kemudian mendekati Wardani dan mencium keningnya.
“Sayang, kamu semangat kerja dan hati-hati jika keluar nanti ya.” Ucap tuan Agung memberi semangat.
Sedangkan Marsya hanya tersenyum, sambil mempraktekan dengan tangannya sendiri kemudian pura-pura mengecup keningnya, lalu tertawa pelan.
“Ada apa! Kenapa kamu tertawa.” Tanya tuan Agung sambil menatap Marsya.
“Tidak apa-apa, mari tuan kita pergi.” Ucap Marsya.
“Nona saya permisi dulu ya.” Marsya pamit ke Wardani.
Kemudian tuan Agung dan Marsya pun pergi melangkahkan kakinya keluar dari rumah mewah dan berjalan menuju mobil yang sudah siap menunggu tepat di depan rumah tuan Agung. Begitu juga dengan para penjaga dan supir pribadinya.
Bersambung..
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu