Menjalin hubungan dengan beda keyakinan tak membuat rasa cinta gadis bernama Tamara Adisti berkurang sedikitpun.
Namun saat Tara membulatkan tekad untuk berhijrah, ia terpaksa harus memutuskan tali cinta yang telah membuncah dihati mereka.
Vano yang sudah terperosok ke dalam lubang cinta dengan sosok gadis sederhana bernama Tara itu tak terima akan keputusan yang Tara berikan atas putusnya hubungan mereka.
"Dua tahun bukan waktu yang sebentar, Tar! Jalan yang kita lalui untuk kita bisa bersama seperti sekarang ini juga tidaklah mudah. Kenapa kamu seperti ini? Bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa kamu tidak akan mempermasalahkan keyakinan kita yang berbeda. Terus kenapa sekarang kamu menyerah hanya karena keyakinan? Apakah sepenting itu, Tar. Sampai kamu rela mengorbankan cinta kita!"
Bagaimanakah kisah kedua remaja labil itu?
Mari ikuti kisahnya....
(MASIH DALAM TAHAP REVISI)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 11
Sesuai dengan janji yang telah disepakati kemarin untuk bertemu, kini Tara dan Amir telah berada didalam studio bioskop untuk menyaksikan film kesukaan mereka.
Amir yang menyerahkan kepada Tara soal tempat bertemu mereka, ternyata Tara mengajak Amir menonton bioskop karena kebetulan saat itu film kesukaan mereka sedang tayang.
Amir memang menyukai film itu, tapi Amir kurang suka jika harus nonton dengan Tara. Tara jika sudah dihadapkan dengan film favoritenya, dia akan lupa dengan yang ada di sekitar. Seperti saat ini, Tara sangat menjiwai setiap adegan yang dimainkan oleh para actor/actris dilayar depannya.
Bukan film romance atau horor, mereka saat ini sedang menyaksikan film action berjudul 'Mission imposible 4'.
Setelah lampu studio menyala, barulah Tara menatapnya. "Keren banget ga sih?" tanyanya dengan mata berbinar.
Amir hanya tersenyum karena masih bete dengan Tara yang mengacuhkannya disepanjang film berlangsung.
"Mau kemana lagi?" tanya Tara saat mereka telah keluar dari area bioskop.
"Terserah kamu."
"Kamu kenapa?" Tara menyadari raut wajah Amir yang berbeda dari saat mereka datang, ia tak sungkan untuk bertanya.
"Kenapa?" tanya Amir balik seolah tak faham.
"Jangan marah dong, ntar jelek loh." Tara mencubit gemas kedua pipi Amir.
"Aku traktir, gimana? Tapi senyum dulu. Smile." Tara menarik kedua pipi Amir membentuk senyum dibibirnya lalu menggandeng tangan Amir menuju kesebuah restoran.
Amir tetaplah Amir, tak bisa berlama-lama marah pada wanita satu ini. Ia tersenyum tipis mengikuti arah kaki Tara melangkah.
Amir dan Tara cukup banyak memiliki kesamaan. Seperti yang sedang terjadi saat ini, mereka memesan dua hidangan dengan menu yang sama. Cumi saos padang dan air mineral. Mereka berdua memang bisa makan apa saja, tapi jika soal minuman, mereka tidak pernah absen dari air mineral.
Yang membedakan mereka hanyalah musik dan makanan manis. Jika Tara penyuka musik apalagi metal, sedangkan Amir tidak sama sekali menyukai musik. Dan Tara juga tidak menyukai makanan manis apapun itu, sedangkan Amir sangat menyukai makanan manis.
"Tar, aku mau ngomong sama kamu," seru Amir saat mereka menyelesaikan makan malam.
"Ngomong aja kali, serius banget sih."
"Aku serius, Tar ... Tapi tidak disini, kita cari tempat yang pas ya." Tara hanya mengiyakan, ia heran melihat Amir seperti sedang gugup.
Amir mengendarai sedan hitamnya menuju pasar malam yang masih ramai. Awalnya Tara bingung dengan pria disebelahnya ini, dia bilang mau bicara serius tapi kenapa ditempat yang seperti ini?
Tara mengedikkan bahunya, mungkin bukan pembicaraan serius seperti apa yang ada difikirannya. Lagian dia suka diajak kesini, bisa merefresh otak yang kusut akibat jumping hari ini.
"Mir, pengen banget naik itu," tunjuk Tara pada bianglala yang sedang berputar membawa beberapa pengunjung didalamnya dengan wajah imutnya.
"Aku ke toilet sebentar ya, kamu tunggu disini aja dulu, jangan kemana-mana." Amir meninggalkan Tara dengan terburu-buru.
Cukup lama untuk seorang pria menuntaskan hajatnya ditoilet hingga membuat Tara mengoam kecil. "Ck, Amir ngapain sih ditoilet lama banget," gerutunya kesal.
Lima menit kemudia Amir datang dan mereka segera menuju bianglala. Sepi. Hanya ada beberapa pengunjung yang berada disekitar bianglala, sedangkan wahana lain tampak ramai.
"Kok jadi sepi sih?" gumam Tara pelan. Tara mengendikkan bahunya, ia berfikir mungkin mesin ini akan beroperasi saat sudah ramai pengunjung.
Tapi saat ia dan Amir duduk manis dikursi penumpang, wahana besar itu mulai berputar.
"Loh kok kita sendirian sih, Mir? Gak nunggu pengunjung lain apa?" tanya Tara heran saat dirinya telah mencapai atas bianglala hendak turun kembali.
Amir tak menjawab, ia hanya tersenyum gugup. Diputaran kedua, tepat diatas ketinggian tiba-tiba mesin wahana bundar itu berhenti. Tara terlonjak takut, ia tidak takut ketinggian namun jika kondisinya seperti ini, fikirannya berkeliaran kemana-mana. Ia mulai memikirkan bagaimana jika bianglala itu tiba-tiba jatuh? Tara mencengkrang erat tangan Amir.
"Mir, ini kenapa? Mir, astagaa Amir cepat telfon siapa aja atau ... Toloooonnggg." Tara berteriak, tak bisa lagi melanjutkan ucapanya pada Amir.
Sebelum teriakan Tara terdengar kebawah sana dan menghebohkan para pengunjung, Amir mengeluarkan sebuah kotak hitam kecil dari saku dalam jaketnya.
"Tar?" Amir meraih tangan Tara lembut. "Tar, diem dulu."
"Hei, hei, tenang dulu." Amir memegang kedua bahu Tara yang masih terdapat raut ketakutan diwajah manisnya.
"Kamu suruh aku tenang disaat kita lagi seperti ini? Kamu bukannya telfon orang atau teriak, ini malah suruh aku tenang, gimana sih kamu," sentak Tara membuat Amir menahan tawanya.
"Ini sengaja aku yang suruh petugas wahana untuk stopin mesinnya diatas sini." Tara mengernyitkan alisnya masih tak mengerti.
Melihat Tara tak sehisteris tadi, Amir berjongkok dihadapan Tara. Ia membuka kotak kecil yang sedari tadi masih setia ditangan kirinya dihadapan Tara.
"Tar, will you marry me."
Tara semakin dibuat bingung akan situasi saat ini. Ia masih terbengong melihat wajah Amir.
"Maafin aku jika aku lancang. Jujur, aku suka sama kamu, Tar. Aku gak tahu kapan perasaan ini muncul. Tapi yang jelas, sejak setahun lalu aku sudah memantapkan hatiku untuk melamarmu." Amir menghela nafas tak mendapatkan respon apapun dari Tara yang masih dengan keterkejutannya.
"Tar ..."
"Tunggu! Jadi mesin wahana ini gak rusak? Kamu sengaja buat wahana ini berhenti?" tanya Tara.
Amir mengiyakan. "Jadi gimana, Tar?" tanya Amir kembali pada lamarannya yang sempat dihiraukan Tara.
Tara menaikkan salah satu alisnya. "Kamu mau gak nerima lamaran aku?" tanya Amir kembali.
"Aku gak tahu tempat seperti apa yang pas untuk melamar seseorang. Kamu tahu sendiri kan kalau aku susah bergaul, temanku saja hanya kalian. Aku tidak pandai merangkai kata-kata indah untuk meyakinkan kamu akan perasaanku ini, Tar ... Maaf jika ini mendadak dan terkesan jauh dari kata indah."
"Mir!" Tara menarik tangan Amir agar duduk kembali pada kursinya. "Kita bicarain ini dibawah ya, gak enak kalau stopnya kelamaan, nanti pengunjung lain mau naik wahana ini gimana."
"Aku mau jawaban kamu sekarang, Tar. Disini!" tegas Amir.
"Aku janji, Tar. Apapun keputusan kamu malam ini, persahabatan kita gak akan ada yang berubah kok. Aku akan tetap jadi Amir sahabat kamu." Amir mengusap punggung tangan Tara. "Jujur saja, Tar. Jangan bohongi perasaan kamu. Aku gak apa kok."
"Mir ... Sebenernya aku juga memiliki perasaan sama kamu." Wajah Amir berbinar mendengar penuturan Tara. "Aku juga sebenarnya pengen banget nikah, tapi ..."
Kalimat gantung Tara membuat jantung Amir berdegup kencang untuk mendengar kalimat selanjutnya.
"Aku belum siap sampai ketahap itu, Mir." Tara menatap Amir sendu, sedetik kemudian ia mengembangkan senyumnya. "Bagaimana jika kita pacaran dulu ... Untuk lebih saling memahami pribadi lebih dalam lagi."
Meski lamarannya ditolak Tara secara halus, namun ia senang karena Tara masih memberi dia kesempatan dengan hubungan yang lebih dari sekedar teman. Tapi ia berjanji jika hubungan ini tidak akan lama, ia ingin segera menjadikan Tara halal baginya.
"Jadi sekarang kita pacaran?" tanya Amir memastikan.
Tara mengiyakan dengan manganggukkan kepalanya.
Amir sangat senang malam ini, tak sia-sia rupiah yang ia korbankan untuk menyewa bianglala ini selama setengah jam.
"Cincinnya gak mau dipakai nih?" Amir menunjuk cincin ditangannya.
"Kan kita pacaran, gak jadi lamaran."
"Udah gak apa. Nanti kalo aku melamar kamu lagi, aku beli yang baru." Tara menatap senang jarinya yang telah terpasang cincin mungil nan indah setelah Amir menautkan dijarinya.
Amir menautkan kedua jari tangan kanannya pada sela-sela jari tangan Tara. Dengan bangganya Tara memotret tangan mereka dengan cincin dijari manis sebagai pusat utama dalam foto itu. Tanpa ragu Tara membagikan hasil potretnya ke story whatsappnya.
"Turun yuk, gak enak nih sama yang lain. Mereka kan kesini juga mau naik ini, Mir."
"Aku sudah menyewanya setengah jam, sekarang baru jalan ... Lima belas menit. Masih ada lima belas menit lagi."
"Kelamaan. Ayo pulang, aku capek banget nih." Melihat wajah lelah Tara, dengan berat hati Amir pun menuruti kemauan gadis itu. Gadis yang baru beberapa menit lalu telah menjadi pacarnya.
"Langsung tidur ya, jangan main hp lagi." Tara mengiyakan lalu masuk kedalam rumahnya dan bergegas untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah karena pekerjaannya.
Amir melajukan mobilnya saat Tara telah menghilang dibalik pintu hitam rumahnya. Sebuah senyuman tak lepas dari wajahnya sepanjang jalan hingga memasuki rumahnya.
"Assalamu'alaikum, Bun." Amir mendekati Bundanya yang ternyata ada didapur sedang membuat kopi, lalu mencium punggung tangannya.
"Wa'alaikumsalam, Kak," sahut Bunda Oca.
"Bunda mau begadang lagi?" tanya Amir melihat gelas kopi diatas meja dapur.
"Pokoknya bunda gak boleh begang. Udah istirahat sana, gak usah minum kopi." Amir menyingkirkan gelas kopi yang telah disedu Bunda Oca lalu menggantinya dengan segelas air mineral.
"Seharusnya bunda yang bilang begitu sama kamu, Kak. Kamu dari mana jam segini baru pulang? Lihat tuh wajah kamu pucat lagi. Ayo masuk kamar, tidur, jangan bedagang." Amir masuk kedalam kamar untuk bersiap tidur sesuai instruksi Ibu negara tercinta, ia tidak mau membuat Bundanya khawatir.
🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱
Seorang gadis meninggalkan ponselnya yang masih terpampang jelas ruang obrolan bersama pacar barunya karena seorang customer telah berada didepan mesin kasirnya.
"Widiiihh, baru lagi nih," seru seorang pria bernama Novry kepada Tara yang masih melayani pembeli.
"Terimakasih, datang kembali." Tara tersenyum ramah kepada customer itu setelah selesai akan tugasnya.
Tara mengalihkan pandangannya pada seorang pria yang tengah memandangi isi ponselnya. Dengan cepat ia meraih benda pipih itu sebelum semua percakapannya dengan Amir dibaca Novry.
"Iiih, iseng banget sih." Tara memberengut namun tak sampai marah karena ia sudah hafal tabiat partner kerjanya yang selengean itu.
"Lo juga sih, ganti-ganti cowo terus."
"Enak aja ganti-ganti cowo," seru Tara cepat tak setuju ucapan Novry.
Tak lama terlihat Deska memasuki mini market bersama seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat cantik.
Deska hanya tersenyum kepadanya lalu melangkah menuju freezer ice cream.
"Ada lagi?" tanya Tara saat Deska telah meletakkan tiga cup ice cream diatas meja kasir.
"Gak ada, Kak."
"Tumben kamu yang kesini Des, biasanya Kakak kamu!" tanya Tara karena memang biasanya Vano yang kesini untuk membeli makanan dingin itu.
"Iya, Kak. Gak tahu tuh mood nya lagi gak bagus, akhir-akhir ini dia jarang ngomong juga," jawab Deska.
"Kalian kenal, Ka?" tanya wanita cantik paruh baya disamping Deska.
"Iya, Ma. Ini Kak Tara, calon Kakak ipar Deska." Deska cekikikan sedangkan Tara hanya tersenyum, ia tahu jika Deska hanya bercanda jadi ia tak ambil pusing.
"Cuma temen kok, Tante!" terang Tara saat melihat wanita cantik itu terkejut.
******
Jangan lupa Like, Koment, serta Vote nya ya..