Sebuah insiden besar yang menimpa keluarganya,Edward harus kehilangan papa tercintanya dan juga kakaknya yang hilang di culik orang yang tak di kenal.
Dengan melakukan penyamaran,Edward mencari Nicko hingga ke suatu kampung.Di kampung dia bertemu dengan seorang gadis yang tomboi dan juga pandai berkelahi.
Akankah mereka berjodoh?
Di manakah Nicko?
Cus kita kepoin ceritanya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummi asya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11.Hati Bayu
Setelah pulang dari pasar,Edward menunggu di kamar.Rencananya siang ini pak Dori akan datang mengunjunginya.
Pintu kamar di ketuk dari luar,lalu Edward bangkit dari duduknya menuju pintu dan membukanya.Terlihat Hasan yang ada di depan pintu.
"Ada apa?"tanya Edward.
"Itu,ada yang nyariin kamu di luar."kata Hasan.
"Oh,ya saya segera keluar."kata Edward.
Lalu Hasan pergi dari hadapan Edward,Edward masuk kembali setelah Hasan pergi,dia mengambil ponselnya yang dia sembunyikan di dalam tumpukan baju lalu keluar dari kamarnya.
Di luar ternyata memang pak Dori sedang menunggu Edward di bangku di bawah pohon beringin yang besar.
Edward menghampiri pak Dori dan duduk di sebelahnya.Pak Dori bangkit lalu sedikit membungkuk sebelum Edward duduk.
"Ngga usah seperti itu paman,nanti di lihat orang lain aku tidak enak."kata Edward.
"Tidak apa-apa tuan muda,hanya sesamar saja."
"Ada apa paman kemari?Apa ada informasi penting?"tanya Edward.
"Belum ada tuan muda,saya menyampaikan pesan nyonya kalau tuan muda segera menghubungi beliau."kata pak Dori.
"Iya,tadinya aku juga mau menghubungi mama nanti sore,tapi harus ke bukit di desa sebelah kata teman saya."ucap Edward.
"Saya melarang nyonya datang kemari,tuan muda.Takut penyamaran tuan muda terbongkar."
"Iya,paman.Sebisa mungkin mama tidak boleh kesini.Aku akan kerepotan dengan mama nantinya di sini."
"Bagaimana dengan tuan muda?Apa di sini betah?"
"Lumayan,walau aku tidak bisa menggunakan ponsel sesuka hati dan tidak bisa mendapatkan sinyal bagus."
"Iya,saya pikir sedang mengajukan pada direktur di perusahaan untuk membuat jaringan telepon dan internet di wilayah sini."kata pak Dori.
"Iya paman,terus terang saja aku kewalahan kalau harus menuju ke bukit sana untuk menelepon.Tapi aku heran dengan orang-orang di sini,tetap nyaman dengan segala kekurangan fasilitas,tak ada keluhan."
"Mungkin karena sudah biasa dengan keadaan serba terbatas.Makanya mereka biasa saja.Juga menurutku tempat ini sangat cocok untuk bersembunyi dari orang-orang."
"Paman benar,aku akan terus cari informasi di sini.Walaupun rasanya sangat sulit untuk mencarinya di mana dan pada siapa."
"Apa saya harus menambah pengawal di sekitar sini lagi tuan muda?"
"Tidak usah.Aku pikir cukup dua orang yang berjualan di pasar saja,karena saya sering ke pasar di pagi hari."
"Menurut pengawal yang di pasar,mereka melihat tuan muda berkelahi dengan preman pasar di sana."
"Iya,aku sempat berkelahi dengan preman-preman itu.Mereka mengeroyok seorang gadis sendirian,jadi aku tolong.Tap tidak sendirian,ada teman juga yang membantu.Tadinya mau aku ganti dengan uang yang di minta,tapi para preman itu malah memancingku untuk berkelahi."
"Kalau bisa,jangan berkelahi lagi untuk saat ini tuan muda.Segalanya bisa di curigai."
"Iya,aku mengerti paman."
"Ya sudah,saya harus kembali ke kota lagi."kata pak Dori berpamitan.
"Iya paman,dan tolong mama jangan sampai datang kemari."
"Baik tuan muda.Kalau begitu saya permisi."
Kemudian pak Dori berpamitan pada Edward.Dia tidak mampir ke rumah kyai Sobri karena memang kyai Sobri sedang tidak ada di rumahnya.
_
Sore hari,Edward di ajak Bayu untuk jalan-jalan ke bukit.Sekalian membawa ponselnya karena dia akan menghubungi ibunya.
Berjalan ke bukit yang landai namun asri,seperti perbukitan sebuah film anak-anak yang dulu terkenal dan populer.Edward senang sekali,daerahnya sangat asri.Masih segar udaranya walaupun matahari sudah geser ke arah barat.
"Di desa ini tenang ya suasananya."kata Edward sambil menghirup udara sekencang-kencangnya.
"Iya,ini desanya Aya."
"Apa?Aya tinggal di desa ini?"
"Iya,dia kalau berangkat jalan kaki atau naik sepeda.Biasanya kalau siang sampai sore membantu ibunya di ladang."kata Bayu lagi.
"Kamu banyak tahu ya tentang gadis itu.Apa kamu suka sama dia?"tanya Esward penasaran.
Bayu hanya tersenyum,dia menatap lurus ke depan.
"Aya itu teman dekat adikku yang hilang di culik.Makanya aku tahu banyak tentang Aya."masih menatap lurus ke depan dengan wajah datar.
"Tapi tidak menutup kemungkinan kalau kamu suka dengan teman adikmu."ujar Edward,ada rasa tidak suka jika memang Bayu benar menyukai Aya.
"Tidak,aku sudah katakan kalau aku akan menikah setelah adikku di temukan."kata Bayu meyakinkan.
"Ngomong-ngomong,apa di desa ini juga penduduknya banyak yang mondok di kyai Sobri?"
"Iya,sebagian orang anaknya di pondokkan di pesantren kyai Sobri."jawab Bayu,amsih mode datarnya.
Lalu mereka menuju bukit yang beberapa meter lagi sudah sampai.Di sana memang terlihat sepi,tapi ada beberapa orang yang masih mencangkul sawahnya.
Edward melihat ada dua gadis berkerudung sedang memetik sayuran di ladang.Satu orang dia kenal,ya Aya yang tadi dia bicarakan dengan Bayu.
Dan satu lagi entah siapa.Tapi gadis satunya itu mirip dengan Aya.Edward heran,apa dia kakaknya Aya?atau kembaran gadis itu.
Edward menoleh ke arah Bayu,dia melihat Bayu sedang menatap sedih gadis yang bersama Aya itu.Mata Bayu tidak berkedip menatapnya,hingga Edward membuyarkan lamunan Bayu.
"Mm,aku tahu siapa gadis yang kau sukai."kata Edward yang menepuk pundak Bayu.
Bayu pun kaget,dia gelagapan dengan tepukan keras dari Edward.Bayu membuang mukanya ke arah lain,lalu menengok ke orang yang tadi menepuknya.
Edward tersenyum miring,dia lalu mendekati Aya yang sedang memetik buah tomat.Rencana semula ingin menghubungi ibunya kini terlupakan.
Sampai di dekat Aya,Edward berdehem keras.
"Ehm!"
Aya menoleh mendengar ada yang berdehem,dia heran dengan adanya Edward di situ.
"Sedang apa di sini?"tanya Aya heran.
"Sedang mengantarkan seseorang menemui.pujaan hatinya."ucap Edward yang melirik ke arah Bayu.
Yang di lirik membuang muka,Aya melihat Bayu di belakang Edward agak jauh.Lalu dia menoleh ke arah gadis yang tadi bersamanya.Salma,kakaknya.
Salma yang sejak tadi sudah melihat Bayu hanya bisa menunduk malu,lalu dia pergi meninggalkan Aya yang sedang berbicara dengan Edward.
Aya maklum dengan sikap kakaknya itu,lalu dia melihat Edward kembali.
"Terus,kamu ngapain di sini saja?"tanya Aya heran Edward masih di sini.
"Aku juga sama,mau menemui bidadari yang sedang memetik buah tomat."kata Edward dengan gombalannya.
Entah sejak kapan dan dari mana dia belajar menggombali perempuan.Dulu dia tidak pernah sedikitpun mau mendekati perempuan jika dia tidak suka.Apa lagi menggombal,tidak ada dalam kamusnya Edward menggombali perempuan.Dan Emil akan bertindak tegas pada perempuan-perempuan yang selalu mendekati majikannya.
Dan sekarang,dengan mudahnya dia menggombali Aya dengan kata-kata rayuannya.Entahlah,dia pikir sangat suka menggoda gadis yang sangat acuh dan ketus seperti Aya.
Aya pergi meninggalkan Edward tanpa pamit,dengan langkah cepat Aya menghampiri Salma yang sudah jauh meninggalkan mereka.
"Apa ada yang sedang kecewa saat ini?"tanya Edward seolah dia bertanya pada pohon-pohon di sekitarnya.
Bayu hanya menunduk,dia diam dan tak mau menanggapi ucapan Edward.
"Sudahlah,ayo kita lebih ke atas lagi.Katanya kamu mau menghubungi ibumu."kata Bayu menepuk pundak Edward dan melangkah maju untuk lebih ke atas lagi.
Edward mengikuti Bayu yang naik dengan cepat.
Hari sudah beranjak sore,Edward masih menghubungi ibunya.Di seberang sana nyonya Karina menangis tiada henti mendengar anaknya menelepon.Dia terus mendesak Edward untuk pulang saja.
"Ngga bisa ma,Edward harus tetap di sini sebelum mendapatkan info tentang kak Nicko.Edward yakin kak Nicko pasti di ketemukan."kata Edward sambil berbisik,takut Bayu mengetahui pembicaraannya dengan ibunya.
"Tapi mama khawatir denganmu,sayang.Kamu baij-baik aja kan?Mama jadi ngga bisa menghubungi kamu,nak."kata nyonya Karina.
"Mama sabar ya,nanti Edward juga pulang kok."menenangkan mamanya.
"Mama sendirian di rumah.Papa kamu sudah ngga ada.Hik hik hik."tangisan nyonya Karina pun makin pecah.
Edward mendesah pelan,dia berat sekali sebenarnya meninggalkan mamanya saat ini.Namun mau bagaimana lagi,semua harus kembali seperti dulu.
"Bagaimana kalau mama pergi ke Inggris aja di sana sama Sania."usul Edward pada mamanya.
"Mama ngga mau,kamu pulang aja ya."entah kenapa mamanya sekarang lebih sensitif setelah kehilangan papanya.
"Ma,mama harus mau.Nanti Edward suruh Emil membelikan tiket untuk mama pergi ke Inggris."kata Edward memaksa mamanya.
Lalu sambungan itu terputus,entah mamanya yang memutuskan karena marah Edward memaksanya atau memang sinyal tidak sedang bersahabat kali ini.
Kemudian Edward mengirim pesan pada Emil untuk membelikan tiket untuk mamanya.Emil harus membujuk mamanya agar mau pergi ke Inggris,tinggal di sana dengan adiknya Sania.
Setelah selesai,Edward menghampiri Bayu yang sedang melamun di bawah pohon turi.
"Kamu jangan menyakiti diri sendiri dengan janji yang belum pasti itu.Jika kamu suka pada gadis tadi,dekati dia.Aku pikir dia juga suka sama kamu,kenapa kamu selalu mengingkari perasaanmu sendiri?"kata Edward dengan bijak.
"Aku tidak mengingkarinya,hanya saja aku sudah berjanji pada ibuku kalau aku tidak akan menikah dulu sebelum adikku di temukan."kata Bayu.
Lalu dia bangkit dari duduknya kemudian melangkah mendahului Edward pergi dari situ.
_
_
_
☆☆☆☆☆
\=> jangan lupa dukungannya..😉😊🙏🙏🙏
menambah misteri