IG. Suliani_Cucu
Seasen 1
Aksara Pramudiya adalah seorang pria muda yang kaya raya, dia menyukai seorang perempuan yang terlihat cantik dan sederhana.
Dilihat dari sisi manapun perempuan itu terlihat sangat cantik dan masih terlihat berusia dua puluh tahunan.
Sayangnya dia berbeda keyakinan dengan nya, bahkan ternyata dia sangat kaget jika perempuan yang dia sukai ternyata lebih tua lima tahun dari nya.
Lebih parah nya, perempuan itu ternyata adalah seorang janda beranak satu.
Season 2
Banyak anak membuat hidup Aksa dan juga Najma penuh warna, bahkan kisah anak-anak mereka pun begitu beragam.
Pastinya, diantara salah satu anak Aksa dqn Najma ada yang kecantol sama Janda.
Siapa ya?
Yuk kita kepoin kisah nya.
Mohon dukungan nya buat si aku penulis yang masih amatiran ini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resmi Menjadi CEO
Sesampainya di kantor Aksa dan nenek Wina langsung keluar dari mobilnya, mereka langsung melangkahkan kaki menuju gedung pencakar langit bertuliskan PT. Adiyaksa Group .
Aksa terlihat sangat tampan dengan setelan kerjanya, sedangkan nenek Wina tampak cantik di usia senjanya. Penampilannya selalu saja elegan dan membuat semua orang kagum walaupun usianya sudah enam puluh tahun.
Saat baru sampai di lobi perusahaan, nenek Wina melihat Najma yang baru saja keluar dari lift. Nenek Wina menyempatkan diri untuk sekedar menyapanya, entah kenapa nenek Wina begitu mengagumi sosok Najma yang terlihat sangat tegar itu.
"Pagi Najma!" sapa Nenek Wina.
Najma yang sedang berjalan menghentikan langkahnya, lalu dia membungkukkan badannya sebagai tanda hormat kepada nenek Wina.
"Eh, pagi Nek. Maaf saya tadi tidak melihat Nenek, jadinya malah Nenek yang nyapa saya duluan." Najma berucap dengan tidak enak hati, dia bahkan tersenyum canggung saat bersitatap mata dengan wanita tua itu.
"Tak apa, Sayang. Nenek yakin pasti kamu sudah sangat sibuk pagi ini," ucap Nenek Wina sambil terkekeh melihat penampilan Najma yang sedikit berantakan.
Bagaimana tidak berantakan jika dari dia bangun tidur, wanita itu sudah harus bekerja. Tentunya pekerjaan yang melelahkan tetapi menghasilkan.
"Iya, Nek. Berkat pesanan dari Nenek, aku sudah bangun dari jam tiga pagi. Tapi ini sangat nikmat Nek, karna rezeky yang Allah kirimkan buat aku dan putriku lewat tangan Nenek sangatlah banyak."
Najma tersenyum-senyum karena usahanya kian berkembang, tentunya dia begitu sadar karena Allah mengirimkan rezeki lewat tangan-tangan orang baik seperti nenek Wina.
"Ehm,!"
Aksa yang sedari tadi terasa diabaikan pun langsung berdehem dengan sangat keras, Najma yang mendengar deheman dari Aksa langsung menolehkan wajahnya ke arah pria itu.
"Eh? Kok kaya kenal, ya?" tanya Najma sambil menunjuk ke arah Aksa.
Aksa hanya terdiam mendengar pertanyaan dari Najma, berbeda dengan nenek Wina yang langsung tersenyum lalu berkata.
"Dia Aksa, cucu Nenek. Penerus PT. Adiyaksa Group, dia yang akan menggantikan Nenek." Nenek Wina menjelaskan akan hal itu seraya tersenyum hangat.
"Ah, iya. Aku sudah ingat, dia adalah Mas Aksa. Selamat ya atas kenaikan jabatannya. Semoga bisa menjadi orang yang amanah dan tentunya semoga bisa mengelola perusahaan dengan baik." Do'a tulus dari bibir Najma diucapkan, dia bahkan memandang Aksa dengan tatapan penuh harap.
Berharap jika pria itu mampu mengelola perusahaan milik nenek Wina dengan baik dan benar, penuh dengan semangat dan bekerja dengan sangat baik.
"Terima kasih," ucap Aksa seraya memaksakan senyumnya.
Setelah mengatakan hal itu, Aksa nampak menolehkan wajahnya ke arah neneknya. Dia terlihat tidak sabar untuk segera pergi dari sana.
"Ayo, Nek. Lima belas menit lagi meeting-nya akan segera di mulai," ajak Aksa.
"Hem," jawab Nenek Wina.
Namun, sebelum pergi nenek Wina nampak mengelus tangan Najma dengan lembut. Wanita tua itu menatap Najma dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Nenek pergi dulu ya, salam buat Callista dari eyang Wina," ujar Nenek Wina.
"Siap Nek, sekali lagi terima kasih atas kepercayaannya untuk selalu memesan kue di toko saya," ucap Najma dengan tulus.
Nenek Wina hanya menganggukan kepalanya, kemudian dia segera berlalu bersama Aksa. Karena pastinya mereka sudah di tunggu di ruangan meeting oleh para petinggi perusahaan.
Berbeda dengan Najma, dia langsung pergi dari sana. Karena memang masih banyak pesanan kue yang harus dia antarkan dan banyak pula yang harus dia kerjakan.
Bahkan, pulang dari sana pun dia harus menjemput Callista di sekolah TK-nya, memang sangat berat jika menjadi single parent .
Semuanya harus dilakukan sendiri, sanggup atau pun tidak tetap harus merasa sanggup. Kuat atau tidak, tetap saja harus terlihat sangat tegar di mata semua orang.
Setibanya di ruang meeting, nenek Wina langsung memperkenalkan cucunya sebagai penerus perusahaannya, dia meresmikannya sebagai CEO baru di perusahaan PT. Adiyaksa Group. Banyak pasang mata yang memandang remeh kepada anak muda itu, karena mengingat usianya yang masih sangat muda.
Karena biasanya pria yang masih muda tidak memiliki pengalaman, mereka hanya mengandalkan bawahan tanpa mau mengerjakan sendiri.
Akan tetapi, banyak pula di antara mereka yang menaruh harapan besar kepadanya, mengingat potensi yang dimiliki nenek Wina memanglah sangat bagus walaupun usianya tak lagi muda.
Tentu saja dia juga mengharapkan hal itu ada pada diri Aksa, karena pepatah selalu mengatakan jika buah akan jatuh tidak jauh dari pohonnya. Semoga saja kemampuan Aksa akan sama baiknya dengan nenek Wina, kalau bisa dia harus lebih baik lagi.
Selsai peresmian pengangkatan CEO baru, Aksa langsung di ajak ke dalam ruangannya di ikuti oleh Agam sang kepercayaan nenek Wina.
Berbeda dengan nenek Wina yang memilih untuk pulang terlebih dahulu ke rumah, karena dia rasa tugasnya kini sudah selesai. Kini tiba saatnya untuk dia menikmati masa tuanya, berkebun mungkin adalah hal yang akan menyenangkan yang bisa ia lakukan.
Hari ini Aksa akan di ajarkan tentang bagaimana caranya berbisnis, walaupun pada dasarnya saat dia di luar negeri memang dia kuliah di bidang bisnis. Bahkan dia kuliah sambil bekerja di sebuah perusahaan ternama di sana, bukan tanpa alasan dia melakukan itu.
Selain dia bisa mendapatkan ilmu, dia juga bisa mendapatkan pengalaman yang baru. Jadi tidak ada waktu untuknya bergaul bebas di sana, yang ada waktunya hanya dia habiskan untuk belajar dan bekerja.
Entah belajar di universitas atau pun di dalam ruang lingkup pekerjaannya, bahkan di sana dia sudah cukup di kenal dalam dunia bisnis.
Seharian penuh dia belajar dengan serius dengan Agam, pria paruh baya itu begitu pandai dalam mengajarkan seluk beluk bisnis yang mereka geluti.
Bahkan, baru satu hari bekerja saja dia sudah bisa menguasainya, Agam sangat bangga padanya. Dia merasa jika esok Aksa sudah sangat siap dalam bekerja, tentunya tanpa bimbingan darinya lagi.
Aksa melihat jam yang melingkar di tangannya, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Aksa pun segera merapikan beberapa berkas yang tadi dia kerjakan, setelahnya dia pun langsung menelpon sopirnya jika dia sudah menunggu di lobi kantor.
"Ini sangat melelahkan, tetapi juga sangat menyenangkan. Semoga saja aku bisa membanggakan keluargaku," ujar Aksa.
Saat Aksa sampai di lobi, ternyata sopirnya sudah menunggunya di sana. Tanpa membuang waktu Aksa pun langsung masuk kedalam mobilnya, sang sopir pun langsung melajukan mobilnya.
Saat di perjalanan pulang, Aksa melihat gadis kecil berkerudung sedang duduk di bangku sendirian. Aksa merasa mengenal gadis itu tapi siapa, Aksa pun meminta sopirnya untuk menepikan mobilnya.
"Tunggu sebentar ya, Pak!" ujar Aksa sebelum turun dari mobilnya.
Aksa langsung menghampiri anak itu, saat sudah dekat barulah dia tahu jika si kecil Callista-lah yang dia lihat.
"Hai! Cantik, kamu sedang apa sendirian di sini?" tanya Aksa
Callista terlihat sedikit mengerutkan dahinya, lalu kemudian anak itu pun tersenyum ke arah Aksa. Tentunya karena dia sudah mengingat pria yang ada di dekatnya itu.
"Om Aksa, ya? Aku hampir tak mengenali Om, maaf ya?" ucap Callista penuh sesal.
"Memangnya kenapa kamu tidak mengenali Om?" tanya Aksa penasaran.
"Hari ini Om nampak keren dan terlihat sangat tampan, berbeda dengan saat kita bertemu di taman," jujur Callista.
"Memangnya saat kamu ketemu Om di taman, Om ngga kelihatan keren?" tanya Aksa lagi.
Callista terlihat tersenyum memamerkan sederetan gigi putihnya, karena saat mereka bertemu Aksa terkesan judes dan juga galak.
"Om tetap tampan kok, cuman kalau pakai baju seperti ini Om terlihat lebih keren." Callista langsung mengacungkan kedua jempolnya.
"Oiya, Sayang. Kenapa kamu sendirian? Di mana Bunda kamu?" tanya Aksa.
Pria itu terus saja bertanya, dia sudah seperti seorang wartawan yang bertanya kepada narasumber untuk memburu sumber berita.
"Bunda lagi nganter kue ke gedung sebrang jalan, aku baru saja pulang ngaji. Jadi aku tunggu Bundanya di sini aja," jawab Callista.
"Kenapa kamu ngga ikut bunda kamu aja?" tanya Aksa.
"Ribet Om, suka males aku tuh kalau ikut bunda. Banyak yang bilang aku tuh adek nya, padahalkan aku putri kesayangan nya Bunda. Nyebelin kan, Om!" keluh Callista.
Emang bener sih di lihat dari mana pun Najma memang terlihat masih muda dan sangat cantik, pasti banyak orang yang akan salah sangka tentang statusnya."
Aksa hanya mampu berkata di dalam hatinya, karena nyatanya dia tidak berani berkata secara langsung kepada Najma atau kepada Callista.
obrolan bunda sama ayah bilang kuliah 2 tahun udah belagak udah jadi dokter kalo ada yg sakit
menggoda 🤧
emezing kali 💃💃💃
he he he he