Sejak Tuhan menitipkan sebuah janin dalam rahim seorang ibu. Sejak itu pula Tuhan telah menuliskan TAKDIRnya.
Hidupnya, masa depannya, kisah cintanya, jodohnya, bahkan sampai bagaimana cara dia meninggal.
Itu semua sudah tertulis indah dan sempurna di langit.
Pun, begitu dengan kisah cinta Daniel dan Ayara. Kisah cinta mereka tidak berjalan dengan mulus. Takdir membawanya ke dalam masalah-masalah yang pelik tak berujung.
Akankah keduanya bisa bertahan, sampai bahagia itu datang?
Atau justru mereka menyerah, dan membiarkan takdir mengambil alih semuanya?
Ikuti kisah selengkapnya!
A story'by Myhani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gagal
Setelah makan romantis di pinggir pantai tadi. Kini mobil milik Daniel melaju perlahan menuju ke arah rumah kekasihnya. Bukan untuk pertama kalinya Daniel mengantar Ayara pulang, hanya saja ia tidak pernah sampai masuk dan berkenalan dengan orang tua kekasihnya. Daniel merasa belum waktunya.
Daniel yang sangat tahu bahwa keluarga Ayara adalah rekan kerja papanya, jadi semisal dia datang ke sana dan mengaku sebagai pacar Ayara maka papanya Ayara tentu akan menceritakan pada orang tuanya juga. Dan Daniel sangat menghindari itu.
"Kamu yakin mau ketemu papa sekarang?" tanya Ayara, ketika mobil sudah memasuki gerbang kompleks perumahannya.
Daniel menghela napas sejenak sebelum menjawab, "Yakin. Tapi, papa kamu nggak gigit, kan?"
Mata Ayara membulat mendengar pertanyaan aneh dari kekasihnya itu, satu pukulan mendarat di lengan Daniel.
"Kamu ini, memang papa aku bulldog apa?"
Daniel tertawa, tangannya terulur mengusap gemas puncak kepala Ayara. Membuat rambut panjang itu sedikit berantakan.
"Ya, nggak. Soalnya kata orang kalau ketemu calon mertua itu lebih menakutkan dari pada ketemu client yang super perfek." Daniel melirik Ayara sekilas yang cemberut di sampingnya.
"Itu mah kamunya aja yang lebay, papa aku baik Daniel," ucapnya dengan sedikit penekan diantara kata-katanya.
"Iya, Sayang, aku percaya kok. Anaknya aja baik kayak gini, gimana papanya." Ayara tersipu mendengar ucapan Daniel.
Mereka tida lagi berbicara karena mobil sudah semakin melambat, ketika sebuah rumah berpagar hitam tinggi menjulang sudah terlihat.
Detak jantung Daniel semakin kencang melihat rumah itu sudah terpampang nyata di depan sana, apalagi melihat gerbang yang terbuka membuat Daniel yakin bahwa orang tua Ayara sedang ada di rumah.
Namun, baru saja mobil Daniel ingin berbelok masuk. Daniel menginjak pedal rem dengan cepat, membuat Ayara terkejut. Beruntung ia memakai seat belt kalau tidak, pasti keningnya sudah terbentur ke dasboard mobil.
"Niel, kamu kenapa sih?" tanya Ayara heran, ia melihat Daniel yang diam mematung dengan wajah hampir tanpa ekspresi.
Karena tidak mendapatkan jawaban, Ayara mengikuti arah pandangan Daniel. Di depan sana, tepatnya di depan rumah Ayara berdiri empat orang manusia.
Yang keduanya Ayara kenal. Mereka orang tuanya dan dua orang lelaki berbeda usia serta masih berpakaian kerja lengkap itu, dia tidak tahu siapa mereka.
"Niel?" Ayara menepuk bahu kekasihnya dengan hati-hati.
"Ya, Sayang." Daniel menoleh dengan bibir tersenyum, sangat terlihat jelas jika senyum itu terkesan dipaksakan.
"Kamu kenapa?" tanya Ayara masih tidak paham dengan kelakuan Daniel yang mendadak diam.
"Ah nggak," Daniel menggeleng, "Sayang, mungkin hari ini bukan waktu yang tepat untuk bertemu orang tuamu."
"Loh, kenapa?"
"Aku ... aku," Daniel bingung harus mencari alasan apa.
"Niel, kamu jujur sama aku, ada apa?" tanya Ayar semakin mendesak. Pasalnya tadi Daniel yang begitu antusias untuk bertemu dengan orang tuanya, tetapi kenapa sekarang tiba-tiba saja lelaki itu berubah.
"Sayang, kamu lihat mereka?" Daniel menunjuk dua orang yang saat ini masih mengobrol dengan orang tua Ayara, gadis itu mengangguk.
"Itu papa aku dan bang David. Aku bingung, kalau aku ke sana pasti akan menimbulkan keributan. Mereka tidak akan semudah itu mengizinkan aku melamar kamu saat ini," jelas Daniel diiringi helaan napas berat.
Ayara ikut mengembuskan napas panjang, terpaksa ia harus menunda lagi pertemuan Daniel dan orang tuanya. Ayara juga tidak mau membuat posisi Daniel sulit.
"Aku ngerti, ya sudah kamu lebih baik pulang saja, kita atur lagi waktunya untuk bertemu orang tuaku," jawabnya seraya tersenyum tulus, membuat Daniel ikut tersenyum walau ia merasa bersalah karena telah mengecewakan gadisnya.
"Maafkan aku, Sayang." Daniel mencium tangan Ayara.
"Aku paham, kamu tidak perlu minta maaf," tutur Ayara lembut.
Perlahan Daniel memundurkan mobilnya sedikit, supaya tidak terlihat oleh orang-orang di dalam sana. Kemudian ia membantu Ayara mengeluarkan kopernya dari dalam bagasi, dengan berat hati ia membiarkan Ayara masuk ke dalam rumah sendirian.
"Yara,"
Merasa namanya dipanggil Ayara menoleh. Daniel mendatanginya dengan langkah cepat, ia membawa tubuh ramping itu ke dalam pelukannya. Kata maaf berulang kali terucap, serta beberapa kecupan di puncak kepala gadisnya.