Sequel Kembalinya Sang Agen Rahasia & Heroes
Zyan kembali menjalani misi. Kali ini akan menjadi misi terakhirnya, mencari keberadaan Arkan, juniornya.
Siapa sangka kembalinya pria itu ke lapangan malah menemukan konspirasi sejumlah petinggi menggagas Project Black Lock. Diam-diam mereka mengembangkan virus yang diberi nama Regalis-V.
Ada enam target yang sedang dibidik untuk memproduksi Regalis-V. Salah satunya adalah Arsela, anak presiden.
Ketegangan semakin bertambah ketika Zyan tahu target terakhir adalah anaknya sendiri.
Bersama dengan Arkan, pria itu berjibaku, berusaha menyelamatkan target dan menghancurkan Black Lock.
Dalam aksinya, mereka mendapatkan bantuan dari seorang agen tambahan.
Siapakah agen tersebut?
Jangan lupa ikuti medsosku di
FB : Khairunnisa (Ichageul)
IG : ichageul9563
TT : @novelme @ichageul21
Threads : Ichageul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saling Menguatkan
“Kael masih mencarinya. Semoga ada kabar baik darinya,” ujar Armin mencoba menenangkan Nisa.
“Iya, Nisa. Aku juga percaya kalau Kolonel baik-baik saja. Aku yakin dia selamat, tapi masih belum bisa menghubungi siapa-siapa,” Yunan menambahkan.
Yunan terus meyakinkan Nisa dan juga dirinya kalau Zyan baik-baik saja. Dia sudah lama bekerja dengan atasan sekaligus sahabatnya itu.
Zyan sudah pernah mengalami hal buruk dan bisa lolos dari kematian. Besar harapan Yunan kalau kali ini keberuntungan masih berada di pihak Zyan.
“Kapan Bang Zyan mulai menghilang?” tanya Nisa setelah berhasil menguasai dirinya lagi.
“Sampai hari ini, terhitung sudah empat hari.”
Tubuh Nisa terasa lemas. Empat hari, hilang ditelan ombak, kemungkinan selamat cukup kecil. Kalaupun berhasil ditemukan, mungkin yang tersisa hanyalah jasadnya. Perasaannya yang tadi sudah tenang, kembali dibuat gundah gulana.
“Kamu jangan khawatir, Nisa. Kael terus berusaha mencarinya. Aku juga akan berangkat ke sana. Aku akan mencari sendiri Bang Zyan sampai ketemu,” Yunan kembali menenangkan.
“Ya, Nisa. Aku juga akan ikut mencari. Aku yang bisa kulakukan, akan kulakukan,,” suara Armin terdengar sangat bertekad.
“Terima kasih. Siapa saja yang sudah tahu soal ini?”
“Baru kami dan Jenderal Gantika. Kami juga tahu dari beliau.”
“Tina dan Hana belum tahu?”
“Belum. Aku … belum berani mengatakan pada mereka,” jawab Yunan pelan.
“Agam dan Febri juga belum tahu. Begitu juga dengan personel investigasi khusus,” sambung Armin.
“Lebih baik jangan beri tahu apa pun dulu sebelum ada kejelasan soal keadaan Bang Zyan. Kalaupun dia gugur dalam tugas, aku ingin melihat jasadnya, baru aku percaya kalau dia memang sudah meninggal,” suara Nisa bergetar hebat di bagian akhir kalimat. Sejatinya dia belum siap harus kehilangan suami tercinta secepat ini.
“Ya, aku juga. Aku akan berangkat ke Verentis, lusa.”
“Aku ikut,” sahut Armin.
“Jangan. Lebih baik kamu di sini, jaga Nisa dan anak-anak.”
Armin menganggukkan kepalanya pelan. Hatinya tak rela menyetujui usulan Yunan. Tapi dia memang harus tetap tinggal demi Nisa, terutama demi anak-anak Zyan.
“Apa kamu akan memberitahu Ummi?” tanya Armin hati-hati.
“Entahlah,” jawab Nisa gamang.
Armin tak bertanya lagi. Dia tahu benar bagaimana Nisa. Wanita itu tidak akan mengatakan apa pun sebelum beban yang ditanggungnya melewati batasnya. Namun untuk hal ini, Armin tidak mau Nisa menanggung semuanya sendirian.
“Aku keluar dulu.”
Armin beranjak dari duduknya lalu keluar dari rumah. Dia segera menghubungi istrinya. Secara singkat Armin menceritakan soal Zyan pada Taslima. “Tolong sampaikan pada Ummi. Tapi lakukan hati-hati, jangan sampai Ummi syok atau jatuh sakit.”
“Iya, Bang.”
“Untuk sementara Abang akan tinggal di Jakarta.”
“Iya. Sampaikan salamku untuk Kak Nisa.”
“Baik.”
Armin segera mengakhiri panggilan. Pria itu terkejut ketika di belakangnya sudah berdiri Abi, anak bungsu Zyan dan Nisa. Anak itu menatap wajahnya lekat.
“Om … apa benar Ayah hilang?”
Armin seperti dihantam gada besar mendengar pertanyaan Abi. Pria itu mengajak Abi untuk duduk di kursi yang ada di teras.
“Apa benar Ayah hilang?” tanya Abi lagi.
“Iya. Tapi Abi jangan khawatir, Bang Arkan masih mencari Ayah. Kamu tenang saja,” Armin menepuk pelan pundak anak berusia 10 tahun itu.
“Ayah orang yang hebat. Abi yakin Ayah akan baik-baik saja,” ujar anak itu dengan suara mantap.
Segurat senyum tipis tercetak di wajah Armin. Dalam hatinya berdoa, semoga apa yang dikatakan Abi menjadi kenyataan. Zyan masih hidup dan akan kembali ke tengah-tengah mereka.
“Om Armin jangan khawatir. Abi akan menjaga Bunda dan Kak Alya seperti yang Ayah bilang sebelum pergi.”
“Om percaya,” Armin mengusak puncak kepala Abi seraya melemparkan senyuman.
***
Sepeninggal Armin dan Yunan, Nisa lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar. Dia tak sanggup menatap wajah kedua buah hatinya. Wanita itu takut kalau Alya atau Abi menanyakan soal ayahnya.
Air mata wanita itu kembali mengalir. Sudah empat hari Zyan hilang ditelan ombak. Harapan untuk selamat terasa semakin tipis. Dia menutup mulut agar suara tangisnya tidak terdengar keluar kamar.
Sementara di luar, Alya dan Abi tanpa sengaja mendengar suara tangis bundanya. Kedua anak itu saling berpandangan. Alya menarik Abi sedikit menjauh. Dia mendudukkan Abi di kursi lalu ikut duduk di samping sang adik.
“Tadi Om Armin sama Om Yunan ke sini ngapain?” tanya Alya penuh selidik.
“Nggak tahu,” jawab Abi sambil mengangkat kedua bahunya.
“Pasti mereka bawa kabar soal Ayah, kan?”
“Mungkin.”
“Abi!” panggil Alya kencang. Anak itu yakin terjadi sesuatu pada ayahnya. Tidak mungkin bundanya akan mengurung diri di kamar dan menangis sendirian kalau tidak terjadi sesuatu. “Kamu tahu sesuatu, kan? Ayo ngaku!”
Mata Alya melotot. Dari sikap dan pembawaan Alya memang mirip dengan Nisa. Tegas, tanpa basa-basi dan keras kepala. Ditatap sedemikian oleh Alya, Abi menyerah. Dia akhirnya menceritakan apa yang dialami oleh ayah mereka.
“Nggak, nggak mungkin. Kamu bohong, kan?” wajah Alya seketika memucat. Matanya mulai berkaca-kaca, tangannya mencengkeram erat pergelangan sang adik. “Ayah baik-baik aja, kan?”
“Ayah hilang, Kak. Bang Arkan masih cari Ayah sampai sekarang. Tapi Kakak nggak usah khawatir, Abi yakin kalau Ayah baik-baik aja. Dan Abi akan jaga Kakak dan Bunda seperti perintah Ayah.”
Pegangan di tangan Abi terlepas. Buliran bening yang sedari tadi menggenang, sekarang sudah jatuh bercucuran di pipi. Alya menarik Abi ke dalam pelukannya. Sekarang dia mengerti mengapa bundanya tampak terpukul.
Abi balas memeluk sang Kakak. Sedari tadi anak itu tetap berusaha tenang. Tapi mendengar suara tangis Nisa dan reaksi Alya, tak ayal membuat hati anak itu was-was juga. Keyakinan yang sedari tadi dipegang teguh olehnya, perlahan mulai memudar.
***
Saat menjelang makan malam, suasana meja makan diliputi keheningan. Alya dan Abi sudah duduk di kursi masing-masing. Mata mereka menatap tak berselera ke makanan di depan mereka.
Nisa melirik kursi kosong yang biasa ditempati Zyan. Hati Nisa terasa tercabik-cabik ketika membayangkan kursi itu akan kosong selamanya. Wanita itu menarik napas panjang untuk mengisi rongga parunya yang terasa terjepit.
“Ayo makan dulu, sayang,” ajak Nisa pada kedua anaknya.
Alya hanya menundukkan kepalanya. matanya kembali berkaca-kaca. Anak itu masih belum bisa menerima kalau ayahnya benar-benar tiada. Air mata jatuh tepat di atas piring miliknya. Punggungnya tampak bergetar menahan tangis yang hendak pecah.
“Alya,” panggil Nisa dengan suara tercekat. Dia tahu apa yang dirasakan anaknya saat ini.
Pelan-pelan Alya mengangkat kepalanya. Wajahnya sudah bersimbah air mata. “Ayah,” ujarnya dengan suara tercekat. “Ayah akan kembali kan, Bun?”
Pertahanan Nisa akhirnya runtuh juga. Tangis yang sedari tadi ditahannya akhirnya pecah juga. Alya dan Abi langsung berlari mendekati Nisa. Keduanya memeluk wanita yang saat ini terlihat begitu rapuh.
“Kita berdoa saja, sayang. Semoga Ayah baik-baik saja,” ujar Nisa dengan suara bergetar. “Sambil menunggu Ayah pulang, kita harus tetap semangat menjalani hidup. Ayah pasti tidak suka melihat kita bersedih. Kalian harus kuat, kita harus kuat.”
Kepala Alya dan Abi mengangguk bersamaan. Perlahan keduanya melepaskan pelukan lalu kembali ke kursi makan masing-masing. Meski tidak bernafsu, ketiganya memaksakan diri untuk makan.
Selesai makan malam, semua kembali ke kamar masing-masing.
Nisa duduk di sisi ranjang. Di tangannya terdapat pigura kecil berisi foto dirinya bersama Zyan. Tangis wanita itu kembali pecah. Dipeluknya pigura tersebut sambil bercucuran air mata. “Abang,” gumam Nisa di sela tangisnya.
BZZZ … BEEP! BEEP! BEEP!
Nisa tersentak mendengar suara itu. Dia segera bangun lalu mendekati lemari. Wanita itu tahu kalau suara itu berasal dari dalam lemari. Nisa menyibak deretan pakaian yang tergantung. Di dinding lemari terdapat ruang kecil seperti laci berbentuk persegi.
Nisa menarik laci tersebut dari bagian bawah. Di dalamnya terdapat berbagai paspor yang sering digunakan Zyan ketika menjalankan tugas dan juga sebuah pager. Wanita itu mengambil pager yang layar kecilnya menyala. Di sana tertera sebuah tulisan yang membuat tubuh Nisa membeku.
911 CALL +388 78 211 8147
Napas Nisa tercekat.
Nomor pager itu sangat rahasia.
Hanya satu orang yang mengetahuinya.
Zyan …
***
Mungkinkah ...
iddiiiihhhh Arman ngaamuk....
coba Kamu kerjakan sendiri becus gk nangkep mereka 😏