NovelToon NovelToon
Sisi Yang Tak Ingin Ku Tunjukkan

Sisi Yang Tak Ingin Ku Tunjukkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Teen
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: See You Soon

Warning! Reverse Harem!!


Ratu Ahimsa Yunanda hanya ingin menjadi siswi SMA biasa. Di tahun ajaran barunya, Yuna sudah membuat satu keputusan sederhana:

Jangan mencolok.

Jangan sampai orang lain menyadari bahwa cara berpikirnya tidak seperti kebanyakan orang.

Bagi Yuna, menjadi terlalu berbeda hanya akan membuatnya sulit diterima. Maka ia belajar menahan diri.

Menahan analisis yang terlalu dalam.

Bahkan menahan komentar-komentar yang sebenarnya sudah berdesakan di kepalanya.

Ia hanya ingin menjalani masa SMA seperti remaja lainnya.

Namun ternyata, menyembunyikan dirinya sendiri jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.

Sebab tanpa disadari Yuna, justru sisi dirinya yang paling berusaha ia tutupi mulai menarik perhatian tiga orang pemuda. Dan terpaksa menghadapi satu masalah yang tidak pernah masuk dalam perhitungannya.

Bagaimana jika orang-orang yang selama ini ingin ia jauhi justru menjadi orang-orang yang paling memahami dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masuk Kelas

Jleg!

Pintu belakang mobil menutup sedikit lebih keras dari yang seharusnya. Membuat Yuna tersentak sampai memejamkan matanya.

Padahal...

Suara itu sama sekali tidak mengganggu orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya.

Hanya saja, entah mengapa telinganya menangkap bunyi itu terlalu jelas. Mungkin karena jantungnya memang sedang bekerja sedikit lebih cepat dari biasanya.

"Udah semua, Dek?"

Suara lembut itu membuat Yuna mengalihkan pandangan.

Nazwa tersenyum hangat dari balik kemudi. Sabuk pengamannya masih terpasang rapi. Sementara mesin mobil masih berdengung halus menunggu untuk dijalankan.

Jemari Yuna merapikan kerah putih seragamnya. Dasi abu-abu yang menggantung kembali ia luruskan. Lalu tangannya. Lalu naik ke rambut pendeknya—merapikan beberapa helai yang bahkan belum sempat berantakan.

Dan terakhir, membetulkan posisi kacamata bulatnya yang berbingkai hitam.

Rupanya untuk menjadi normal...

...ternyata jauh lebih sulit daripada dugaanku.

Bukan normal menurut versinya.

Melainkan...

Normal menurut kebanyakan orang.

"Sudah rapi semua, Kakak ipar," ucapnya tanpa senyum sama sekali.

Melihat ekspresi itu, Nazwa langsung mendesah panjang.

"Duh, Yuna..."

Ia tersenyum geli.

"Panggil 'Kakak' aja. Gak usah pakai embel-embel 'ipar'."

Yuna mengangguk pelan.

"Baik, Kak."

Jawaban itu singkat. Namun cukup membuat senyum Nazwa melebar sedikit.

Pandangan Yuna beralih ke arah gerbang besi yang terbuka lebar. Berdiri dibaliknya sebuah bangunan tiga lantai bercat putih dengan deretan pohon ketapang yang berjajar rapi di sepanjang halaman.

Beberapa siswa berseragam putih abu-abu mulai berdatangan.

Ada yang berjalan berkelompok.

Ada yang masih diantar orang tuanya.

Ada pula yang sibuk berfoto di depan papan nama sekolah.

Yuna menarik napas dalam-dalam. Lalu mengembuskannya perlahan.

"Nervous?" tanya Nazwa dari sebalik kemudi.

Yuna menoleh setengah.

"Sedikit."

"Wajar, atuh."

Nazwa tersenyum hangat.

"Hari pertama memang biasanya bikin deg-degan."

Yuna mengangguk singkat. Lalu berjalan menuju gerbang.

"Semoga saja tidak ada sesuatu yang menarik perhatian."

"Hm?"

"Tidak apa-apa."

Nazwa terkekeh pelan.

"Yang rajin ya sekolahnya!"

"Terus... semoga nanti rankingnya bagus."

Yuna menggeleng pelan.

"Aku justru berharap sebaliknya loh."

Nazwa berkedip.

"Lho? Maksudnya?"

Tak ada jawaban.

Yuna hanya mengedipkan sebelah matanya sembari menjulurkan lidahnya kecil. Lalu berlari kecil menjauh dari mobil Nazwa.

"Dasar Yuna..."

"Orang lain berlomba-lomba jadi ranking satu. Kamu malah gak mau."

....

Yuna melangkah melewati gerbang sekolah. Sepatu hitamnya beradu pelan dengan jalur paving yang masih sedikit basah oleh embun pagi.

Tatapannya perlahan menyapu sekeliling.

Bangunan utama sekolah berdiri kokoh dengan dominasi warna putih gading yang dipadukan aksen abu-abu gelap. Jendela-jendela kaca besar memantulkan cahaya matahari pagi. Sementara taman kecil yang dipenuhi bunga kertas dan tanaman hias membuat suasananya terasa sejuk.

"Tata ruangnya cukup baik..."

Pandangannya beralih ke koridor yang membentang lurus.

"Lebar lorong sekitar tiga meter. Cukup untuk menghindari kepadatan saat pergantian jam pelajaran."

Yuna buru-buru mengalihkan pandangan ke taman sekolah. Memaksa dirinya menikmati bunga-bunga itu, meski pikirannya masih ingin menghitung jumlah pot yang berjajar.

Ia mengangguk kecil pada dirinya sendiri. Lalu mulai mencari papan petunjuk yang menunjukkan letak kelas X.

Namun...

Tap.

Tap.

Tap.

Suara langkah kaki berlari dari belakang membuat telinganya menangkap sesuatu.

Refleks, Yuna menoleh terlalu cepat.

Terlambat—

"YUNAAA!"

Bruk!

Dua lengan langsung melingkar di bahunya dari belakang. Sampai-sampai tubuh Yuna ikut terdorong setengah langkah ke depan.

"Aku seneng banget bisa ketemu kamu!"

Suara ceria itu menggema di antara siswa-siswi yang berlalu-lalang. Beberapa orang bahkan sempat menoleh penasaran.

Yuna menutup mata sejenak.

"Melody..."

Ia menggeliat kecil.

Bukan karena marah.

Melainkan...

Ia benar-benar tidak terbiasa dipeluk.

Namun nasihat Nazwa sebelum berangkat sempat terlintas di kepalanya.

"Cari teman."

Yuna akhirnya mengurungkan niat untuk melepaskan diri. Ia hanya membiarkan Melody memeluknya sambil berusaha bernapas senormal mungkin.

"Wah!"

Melody tiba-tiba memperhatikan sesuatu.

"Yun!"

"Kamu pakai bando hari ini?"

Tangannya langsung memainkan bando biru tua sederhana yang bertengger di atas rambut bob Yuna.

"Cocok banget! Kamu jadi lucu!"

Yuna berkedip.

"Itu hanya untuk merapikan rambutku."

"Iya, tapi lucuu!"

"T-terima kasih..."

Yuna berusaha tersenyum tipis. Namun beberapa detik kemudian wajahnya mulai memerah.

"...Mel."

"Hm?"

"Kamu..."

"Iya?"

"...terlalu dekat."

Melody masih belum sadar.

Baru ketika Yuna mengeluarkan suara lirih,

"Arkk..."

Ia buru-buru melepaskan pelukannya.

"EH! MAAF!"

Melody mundur satu langkah sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Hehehe aku keblabasan."

Yuna menarik napas panjang beberapa kali sambil mengelus dadanya.

"Paru-paruku hampir kehilangan kapasitas kerja normal."

Melody berkedip.

"Hah?"

Yuna ikut membeku.

Ia buru-buru merevisi ucapannya.

"M-maksudku... aku agak sesak."

"Oh!"

Melody tertawa kecil.

"Maaf yaa!"

Tanpa menunggu jawaban, ia meraih tangan Yuna.

"Yaudah! Yuk kita masuk bareng!"

"Apa—"

Belum sempat selesai berbicara...

Grep!

Melody melangkah cepat sambil menarik tangan Yuna hingga membuat tubuhnya ikut terseret.

"Awh! Energimu terlalu banyak!" serunya sembari membenarkan kacamata bulatnya disela larinya.

Melody hanya menoleh sambil tertawa lepas.

Yuna dibelakangnya pun hanya bisa memandangi tangan mereka yang masih saling menggenggam.

"Apa seperti ini cara berinteraksi kebanyakan orang?"

Ia tidak tahu jawabannya.

Namun...

Untuk pertama kalinya...

Pertanyaan itu tidak terasa terlalu buruk untuk dicari jawabannya.

...

Keduanya akhirnya tiba di depan sebuah ruangan.

X IPS 1

Tulisan itu terpampang rapi di atas kusen pintu.

Yuna menghentikan langkahnya sejenak sembari membetulkan kacamatanya.

Tatapannya menyapu isi kelas.

Ruangan itu belum sepenuhnya terisi. Beberapa siswa sudah duduk berkelompok sambil mengobrol, sebagian lainnya masih sibuk memilih tempat duduk terbaik.

"Hari kedua berinteraksi dengan teman-teman baru. Semoga aku bisa," batinnya sembari menganalisis beberapa sikap teman yang berhasil ia tangkap.

Namun—

Terasa sedikit lebih lama berdiri di ambang pintu tanpa distraksi oleh seseorang.

"Loh?"

Alisnya terangkat ketika ia menoleh ke samping. Karena mendapati bahwa Melody saat ini, sedang menggigit bibir bawahnya.

"Dia juga nervous."

Yuna pun menggenggam jemari Melody dengan sentuhan lembut. Membuat tubuh gadis dengan cardigan krem itu tersentak kecil.

"Lebih baik... kita segera cari tempat duduk."

Melody melirik sekilas.

Seolah mendapat energi yang tersalurkan dari dalam tubuh Yuna, gadis itu kembali tersenyum. Kemudian melangkah masuk lebih dulu.

Cahaya matahari yang masuk membentuk garis lurus memaksa masuk dari jendela yang berada di selatan ruangan. Memantul sempurna pada papan tulis digital di depan kelas yang layarnya masih gelap.

Di sampingnya, terdapat meja guru dengan taplak meja bermotif bunga dengan dasar hijau muda. Disertai pot bunga plastik yang semakin menambah kesan estetik.

"Begitu rapi..." gumam Yuna.

Gadis itu terus berjalan menuju bangku paling belakang yang berada di sudut ruang. Dekat dengan rak peralatan kebersihan kelas yang tertata rapi—warisan kakak kelas sebelumnya.

"Perfect!"

Bangku itu strategis untuk memberikan vision ke penjuru kelas. Juga tak terlalu menarik perhatian dari tatapan tajam guru killer.

Sudut bibir Yuna terangkat tipis. Posisi yang terlalu efisien menurut kalkulasinya.

Ia memang sengaja memilih jurusan IPS.

Bukan karena tidak mampu mengikuti IPA. Melainkan karena sejak kecil ia jauh lebih tertarik pada manusia daripada rumus.

Mengapa sebuah negara bisa berkembang.

Mengapa budaya berbeda mampu melahirkan cara berpikir yang berbeda pula.

Bahkan mengapa tiap negara bisa saling bertempur dengan alasan yang katanya demi perdamaian.

Baginya...

Tidak ada laboratorium yang lebih menarik daripada kehidupan itu sendiri.

"Sip."

Yuna meletakkan tasnya di kursi pojok belakang.

Menarik kursi perlahan.

Lalu ketika ia hendak menurunkan lutut belakangnya untuk duduk—

"Yun!"

Suara Melody menghentikan tindakannya.

Ia mendongak.

Lalu mendapati Melody yang sedang menepuk-nepuk kursi kosong di sampingnya.

"Sini!"

Yuna mematung.

Tatapannya bergeser perlahan ke bangku sebelahnya Melody.

Barisan...

Paling depan.

Tepat menghadap papan tulis.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Karena posisi yang Melody pilih terlalu berisiko.

Yuna menelan ludah gugup.

"Yun!"

"Ayooo!"

Yuna pun menstabilkan ritme napasnya.

Lalu—

"...Baik."

Ia mengangkat tasnya kembali. Lalu melangkah menuju bangku depan.

"Nah, gitu dong! Temenin aku."

Yuna hanya membalas dengan senyum tipis.

Ia duduk perlahan.

Tangannya langsung merapikan posisi buku tulis, tempat pensil, dan botol minumnya hingga sejajar sempurna di atas meja.

Melody memperhatikannya sambil tersenyum geli.

"Kamu rapi banget."

"Efisiensi."

"Efisiensi?"

Yuna hanya mengangguk. Karena pikirannya tanpa diminta kembali berlari.

Bangku depan.

Berarti peluang guru mengajukan pertanyaan sekitar dua hingga tiga kali lebih besar dibanding barisan belakang.

"Mudah-mudahan..."

"Hari pertama berjalan tanpa kejadian yang tidak perlu."

Tepat saat itu...

Teng... Teng... Teng...

Bel masuk berbunyi nyaring. Suara obrolan di seluruh kelas perlahan mereda.

Dan tanpa Yuna sadari...

Keputusannya menerima ajakan Melody untuk duduk di bangku depan menjadi langkah pertama yang akan membuat rencananya hidup "biasa-biasa saja" mulai runtuh, sedikit demi sedikit.

1
Arni Arlinawati pratiwi
andito kaya nemu temen harta karun, pake nangis bjirrr... /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
mampus andito.. mampus.. /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
/Doge/
Arni Arlinawati pratiwi
yuna.. andito.. 😭😭 mampus, /Facepalm/
Hs Mochi
dan lebih berkesan pastinya. jd pengen sekolah lagiiiii...😢
Hs Mochi
kebayang seru tapi ribet sih. harus cari orang ngumpet di sekolah🤣
Hs Mochi
eh.. seru ini.. jd teringat masa sekolah dulu. harus gesit dan lincah
Arni Arlinawati pratiwi
gak gitu juga thor.. 😭😭
Arni Arlinawati pratiwi
ya allah.. lucu banget, mana kebayang lagi mereka kayak gimna pindah nya.. /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
bener lagi kayak bicara sama ai.. /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
ya ya.. masih menjadi murid SLTA sederajat keseharian mah masih sama.. tumpukan tugas sisa pembelajaran dari guru setiap hari.. adalah makanan sehari hari mereka yang masih sekula, biasa.. /Proud/
Arni Arlinawati pratiwi
cepet nya udah 1 bulan aja nak.. masa masih canggung canggungan sama temen sekelas, gak kan.. 💪
My_Lucia
wihhh ... ternyata paket komplit.. 🤭
My_Lucia
tuh kannn .. ganteng banget tau dia ini /Shy/
My_Lucia
widihh Angga cowok tampan dan berprestasi ini jago olahraga ga ya 🤭
My_Lucia
mau di analisis lagi Bae dia mah 🤣
sebelumnya lebar lapangan
My_Lucia
cowok tengil begini biasanya jadi idola di sekolah sih 🤭
M. T🌻
ihhh baca ini jadi kangen sekolah🤭
kenzi moretti
dito udh terbayang-bayang yuna/Chuckle/
kenzi moretti
duh blak-blakan sekali perkataanmu😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!