NovelToon NovelToon
PENYESALAN SUAMI

PENYESALAN SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.

​Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.

​Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.

​Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?

...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2 Tamu di Tengah Malam

...

Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang makan. Angin malam yang berembus dari celah jendela terasa begitu menusuk kulit, namun tak sebanding dengan rasa dingin yang menjalar di sekujur tubuh Pamela. Dia berdiri mematung di sisi meja, menatap lurus pada jemari lentik wanita asing yang sedang mengusap perut buncitnya di balik gaun mahal.

"Zid... siapa dia?" Suara Pamela terdengar sangat lirih, hampir habis tertelan sunyi. Tidak ada lengkingan histeris, tidak ada amarah yang meledak-ledak. Nada suaranya datar, seolah dia sedang menanyakan hal biasa, meski di dalam dadanya, seluruh organ tubuhnya terasa seperti diremas hidup-hidup.

Zidan mendengus pelan. Pria itu melepaskan rangkulan sang wanita dengan santai, lalu melangkah mendekati meja makan. Matanya sempat melirik sekilas ke arah kue tart kecil bersorotkan lilin angka 7 yang mulai meleleh mengotori lapisan krimnya. Alih-alih merasa bersalah atau tersentuh, Zidan justru menampilkan senyum sinis yang biasa dia gunakan untuk merendahkan Pamela.

"Ini Karina," jawab Zidan tanpa beban, nadanya dingin dan narsis, seolah dia baru saja membawa pulang sebuah piala baru ke rumah. "Dia sedang mengandung anakku. Sudah jalan empat bulan."

Empat bulan.

Kata-kata itu menghantam kesadaran Pamela bagai palu godam. Berarti, selama empat bulan terakhir saat Pamela pontang-panting merawat anak kembar mereka yang sakit, saat Pamela dimaki habis-habisan oleh Mama mertuanya karena dituduh boros anggaran dapur, dan saat Pamela meringkuk sendirian di sofa ruang tengah menanti suaminya pulang Zidan sedang memanjakan wanita ini. Zidan sedang menabur benih baru di rahim wanita lain, sementara rahim Pamela sendiri sudah dianggap tidak ada harganya lagi setelah melahirkan anak kembar mereka.

Karina, wanita di samping Zidan, melangkah maju dengan anggun. Sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer dengan suara klik-klak yang pongah. Dia memandang Pamela dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapannya penuh penghinaan saat melihat daster pudar yang dikenakan Pamela daster yang sudah robek kecil di bagian ketiak dan dijahit sendiri oleh Pamela karena dia tidak pernah diberi uang lebih untuk membeli baju baru.

"Oh, jadi ini istri kamu yang kamu ceritain itu, Sayang?" suara Karina terdengar manja, sengaja dibuat mendayu-dayu di depan Zidan. "Kelihatan... jauh lebih tua dari aslinya ya. Kasihan."

Pamela mengepalkan kedua tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih dan menusuk telapak tangannya sendiri. Rasa sakit fisik itu dia gunakan untuk menahan diri agar tidak ambruk di lantai. Dia menatap Zidan, mencari sisa-sisa pria yang delapan tahun lalu berlutut di bawah rintik hujan dan berjanji akan menjadikannya wanita paling bahagia. Namun, di mata elang yang dingin milik Zidan, Pamela hanya melihat pantulan dirinya sebagai sosok yang menjijikkan dan mengganggu pemandangan.

"Zidan, ini hari ulang tahun pernikahan kita yang ketujuh," ucap Pamela, menunjuk kue tart yang lilinnya kini sudah mati karena kehabisan sumbu. "Dan kamu membawa perempuan lain yang sedang hamil ke rumah ini? Di mana hati nurani kamu?"

Zidan tertawa remeh, sebuah tawa kering yang terdengar sangat kejam di telinga Pamela. Dia melangkah maju hingga jarak mereka hanya tersisa satu jengkal. Bau alkohol tipis dan parfum wanita mahal menguar kuat dari tubuh Zidan, membuat Pamela ingin muntah.

"Hati nurani?" Zidan mencengkeram dagu Pamela dengan kasar, memaksa wanita manis itu mendongak menatap wajah tampannya yang sedingin es. Kekerasan fisik yang tiba-tiba ini membuat Pamela memekik pelan, namun Zidan tidak peduli. Jarinya menekan kuat hingga kulit Pamela memerah.

"Dengar ya, Pamela. Aku sudah cukup sabar menghadapi kamu selama tujuh tahun ini. Kamu itu membosankan. Kamu gak becus jaga penampilan, bau dapur, dan selalu bikin Mama naik darah setiap hari. Karina ini perempuan berpendidikan, dia dari keluarga terpandang, dan yang paling penting, dia bisa memberikan apa yang gak bisa kamu kasih lagi, gairah." Zidan mengempaskan wajah Pamela dengan kasar hingga wanita itu terhuyung ke belakang, membentur pinggiran meja makan.

"Lagipula," Zidan melanjutkan sambil merapikan lengan kemejanya yang kusut dengan lagak narsis, "kamu harusnya tahu diri. Rumah ini milik keluargaku. Kamu cuma menumpang di sini karena kebaikan hatiku yang mau menikahi perempuan miskin sepertimu. Jadi, jangan pernah berani mengatur dengan siapa aku pulang malam ini."

Rasa sakit di dagunya tidak seberapa dibandingkan dengan rasa hancur di lubuk hatinya. Pamela memegangi dadanya yang sesak. Di depan matanya, Karina kembali bergelayut di lengan Zidan, tersenyum penuh kemenangan seolah dia baru saja memenangkan sebuah pertempuran besar.

"Lalu, kamu mau aku bagaimana, Zidan?" tanya Pamela, suaranya kini bergetar hebat. Emosi yang selama tujuh tahun ini dia pendam rapat-rapat, mulai mendesak keluar dari dadanya yang bergemuruh. "Kamu mau aku menyambut selingkuhanmu? Memasakkan makanan untuknya? Menjadi pembantu untuk anak yang dia kandung?"

Sebelum Zidan sempat menjawab, sebuah suara langkah kaki yang berat dan tegas terdengar dari arah tangga melingkar di ruang tengah.

"Ada apa ini malam-malam ribut? Mengganggu orang tua tidur saja!"

Mama mertua Pamela berjalan turun dengan jubah tidur beludru mewahnya. Wajah wanitanya yang sudah berkerut namun penuh riasan tebal itu tampak masam. Di belakangnya, menyusul adik ipar Pamela, sebut saja namanya Keysha, yang berjalan sambil mengucek matanya yang mengantuk, memegang ponsel mahal terbaru di tangannya.

Namun, begitu mata Mama mertua menangkap sosok Karina yang cantik dan bersinar di samping Zidan, ekspresi masamnya seketika berubah. Matanya berbinar cerah, terutama saat melihat perut buncit Karina yang sengaja dipamerkan.

"Zidan... ini... perempuan yang sering kamu ceritakan itu?" tanya Mama mertua, mengabaikan keberadaan Pamela sepenuhnya, seolah Pamela hanyalah patung pajangan yang tak bernyawa di sudut ruangan.

"Iya, Ma. Ini Karina. Dia sedang mengandung cucu laki-laki untuk Mama," jawab Zidan dengan nada bangga.

Mendengar kata 'cucu laki-laki', Mama mertua langsung bergegas mendekat, meraih kedua tangan Karina dengan senyum lebar yang tidak pernah sekali pun dia berikan kepada Pamela selama tujuh tahun ini. "Ya ampun, cantik sekali kamu, Sayang. Kulitmu bersih, auranya beda ya kalau anak orang kaya. Masuk, masuk... kenapa berdiri di sini? Zidan, kenapa kamu gak bilang kalau mau bawa menantu idaman Mama pulang malam ini?"

Pamela merasa dunianya runtuh berantakan saat mendengar kata 'menantu idaman' keluar dari mulut wanita yang selama tujuh tahun ini dia layani dengan cucuran keringat dan air mata. Jadi, selama ini, pengabdiannya tidak pernah dianggap. Rasa hormatnya dibuang ke tempat sampah.

Keysha, sang adik ipar, juga ikut mendekat dengan mata berbinar. Dia melihat tas tangan bermerek internasional yang ditenteng Karina. "Kak Karina! Ya ampun, tasnya edisi terbatas yang baru rilis bulan lalu kan? Kak Zidan beneran pinter milih pacar, gak kayak yang di sana itu," sindir Keysha sambil melirik sinis ke arah Pamela yang masih berdiri gemetar di dekat meja makan. "Udah miskin, kuno, gak tahu gaya lagi. Malu-maluin kalau diajak kumpul keluarga."

Karina tersenyum manis, merasa di atas angin karena mendapat dukungan penuh dari pemilik rumah. "Halo Tante, halo Keysha. Nanti kapan-kapan kita belanja bareng ya, aku tahu butik bagus yang baru buka di pusat kota."

"Aduh, baik sekali kamu, Sayang. Beda jauh sama si miskin yang cuma tahu cara ngabisin uang bulanan dari Zidan," puji Mama mertua sengit, sengaja mengeraskan suaranya agar menembus gendang telinga Pamela.

Pamela menatap pemandangan di depannya dengan rasa mual yang memuncak. Mereka berempat berkerumun, tertawa, dan saling melempar pujian, sementara dia berdiri di sana seperti hantu kelaparan yang tidak diinginkan. Tidak ada satu pun dari mereka yang mengingat bahwa hari ini adalah hari penting dalam pernikahan Zidan dan Pamela. Tidak ada yang peduli pada air mata yang mulai mengering di pipi Pamela.

Tiba-tiba, Mama mertua menoleh ke arah Pamela, wajah ramahnya seketika berubah menjadi sedingin es dan penuh perintah.

"Pamela! Kamu ngapain berdiri aja di situ kayak patung?" bentak Mama mertua kasar. "Gak lihat menantu idaman saya baru datang? Cepat ke dapur, buatkan susu hangat untuk Karina! Ingat, jangan terlalu manis, dia sedang hamil muda. Dan buatkan teh chamomile untuk saya dan Keysha, kami susah tidur lagi gara-gara keributan yang kamu buat!"

Pamela tidak bergerak. Tubuhnya kaku. Di dalam kepalanya, suara-suara penghinaan selama tujuh tahun terakhir berputar seperti kaset rusak.

“Kamu perempuan miskin beruntung.”

“Bersihin lantai kamar mandi sekarang!”

"Mama bau bawang, aku gak mau dipeluk Mama!”

“Jangan serakah jadi perempuan, Pamela.”

"Pamela! Kamu budeg ya?!" bentak Keysha ikut-ikutan, melangkah maju sambil berkacak pinggang. "Buruan ke dapur! Kak Karina kecapekan itu nungguin kamu!"

Zidan hanya diam, bersedekap dada sambil bersandar di pilar rumah mewah itu. Matanya menatap Pamela dengan tatapan kosong dan mengancam, seolah memberi isyarat agar Pamela menuruti perintah ibunya jika tidak ingin menerima hukuman yang lebih berat malam ini.

Pamela menarik napas dalam-dalam. Sesuatu yang mengganjal di dadanya selama tujuh tahun ini rasa takut, rasa rendah diri, rasa cinta yang membabi buta tiba-tiba menguap tanpa sisa. Yang tersisa hanyalah rasa hampa yang luar biasa. Rasa hampa yang membuatnya merasa sangat ringan, seolah beban berat yang selama ini menekan pundaknya diangkat paksa oleh takdir.

Dia menatap mereka satu per satu. Zidan yang angkuh, Karina yang licik, Mama mertua yang kejam, dan Keysha yang serakah.

"Aku tidak akan membuatkan apa-apa," ucap Pamela. Suaranya tidak keras, namun begitu tegas hingga gaungnya memutus tawa manja Karina dan obrolan Mama mertua seketika.

Ruang makan itu kembali sunyi senyap. Mama mertua melotot seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari mulut menantu yang biasanya selalu menunduk dan berkata 'ya' pada setiap perintahnya.

"Apa kamu bilang?!" pekik Mama mertua, suaranya melengking tinggi menembus keheningan malam. "Kamu berani membantah saya, Pamela?! Kamu mau saya usir dari rumah ini, hah?!"

Zidan melangkah maju, wajah tampannya mengeras karena emosi yang meluap. "Pamela, jaga ucapan kamu. Jangan bikin aku kehilangan kesabaran dan main tangan malam-malam begini. Cepat lakukan apa yang Mama suruh!" ancam Zidan, suaranya berdesis rendah namun penuh intimidasi yang nyata.

Pamela tersenyum tipis. Sebuah senyuman manis namun tampak sangat mati di matanya. Dia tidak menanggapi ancaman Zidan. Dengan gerakan yang sangat tenang dan anggun, Pamela mengulurkan tangannya, meraih lilin angka 7 yang sudah padam di atas kue tart, lalu membuangnya begitu saja ke lantai marmer dengan bunyi pluk yang pelan.

"Kalian tidak perlu mengusirku," kata Pamela, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Zidan yang sedingin es. "Karena malam ini juga, aku yang akan pergi dari neraka ini."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Pamela berbalik memunggungi mereka semua, melangkah dengan pasti menuju kamar kecil di dekat dapur tempat dia biasa menyimpan barang-barang pribadinya, meninggalkan keluarga Zidan yang sempat terpaku diam karena shock mendengarkan perlawanan pertamanya yang begitu tenang namun mematikan.

...

1
Ma Em
Pamela setelah papa mantan mertuamu mendingan lbh baik pulang tinggalkan manusia2 yg tdk tau diri itu sekarang mantan mertuamu yg sakit bkn urusan Pamela lagi , lbh baik Pamela kerja yg giat agar nanti kehidupan Pamela bisa berubah menjadi lbh baik .
it's me
ceritanya bagus tapi sayang gagk ad endingnya
kikyoooo: ditunggu up bab selanjutnya....
tenang aja1setiap satu hari pasti up. entah itu 1 bab atau lebih
total 1 replies
it's me
penulisnya gak jelas sih,masa ceritanya dibuat menggantung.
Adam Markelov izaan
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
Allea
mama mertua mulu ngetiknya kan si pamela lg dikampung bingung eike
Allea
kira2 endingnya balikan ga nih ,kesel kl balikan mah udah nunggu2 😁
Himna Mohamad
kereeen👍👍👍👍👍
Himna Mohamad
rasain
Himna Mohamad
lanjut kk
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉




saling support sabi kali ya😉
kikyoooo: siapp... gue kan baik dan tidak sombong hihihi😍 btw semangat thorr😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!