NovelToon NovelToon
Takdir Di Ujung Janji

Takdir Di Ujung Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Menikahi tentara
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: NonaAns

Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.

***

Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 : Masa Depan

"Tahan Aira! Jangan masuk ke sini!" teriak Genta, kepala instalasi gawat darurat saat menerima pasien emergency di lobi rumah sakit.

Aira tertegun. Tidak biasanya Genta menolak bantuan dan meminta dirinya menjauh dari pasien. Sedetik kemudian, Aira paham manakala ia melihat Rahma turun dari ambulance.

"Mama?"

Rahma mendongak dan segera memeluk Aira. Mata Aira membulat saat brangkar itu dibawa masuk ke ruang instalasi gawat darurat. Dokter Genta berlari kencang bersama beberapa perawat lain. Aira melihat Hendra tidak sadarkan diri.

Aira menangis histeris. Namun, Rahma mencoba untuk terus menenangkannya. Ia ingin membantu, tapi Sinta dan Genta memintanya untuk tetap tenang dan menyerahkan semuanya pada rekan yang lain.

"Gue mau bantu, Sin," pinta Aira dengan suara paraunya.

"Lo mending disini aja. Tenangin diri lo dan temenin mama. Semua udah ditangani dengan baik, Ra," ucap Sinta seraya menepuk pundak Aira beberapa kali.

"Code Blue! Code Blue!" Teriak Genta dari dalam ruangan.

Kaki dan tubuh Aira lemas seketika. Ia masih menangis dan memeluk Rahma di sampingnya.

"Papa," gumam Aira.

"Cek darah lengkap dan minta CT Scan," ucap Dokter Genta seraya berjalan keluar dari ruang penanganan Hendra.

Aira berdiri seketika ia mengusap air mata dan mendekati Genta.

"Gimana papa saya, Dokter?" tanya Aira dengan suara bergetar.

"Kondisinya masih belum sadar. Ada indikasi pendarahan di bagian kepala karena benturan. Tadi sempat blackout, beruntung semua bisa kembali normal. Bu Atun sedang mengambil sampel darah untuk diperiksa dan Sinta meminta CT Scan agar kita tahu penyebab tidak sadarkan diri. Kalau menurut pemeriksaan EKG (Elektrokardiogram) irama jantung Pak Hendra tidak normal. Apa bapak punya riwayat serangan jantung sebelumnya?" tanya Genta.

Aira menoleh, menatap Rahma untuk memastikan. Karena sepengetahuannya, Hendra tidak pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya.

"Dulu sekali, Dokter. Waktu Aira masih umur 5 tahun. Sempat mengeluh sesak napas dan dadanya sakit. Sempat di rawat di ICCU beberapa hari."

Genta mengangguk paham. "Ini akan dilakukan prosedur CT Scan terlebih dahulu. Kalau ada riwayat sakit jantung, saya juga akan mengajukan permintaan untuk Rontgen dada dan USG jantung untuk memastikan keadaannya. Untuk sementara kondisi bapak stabil. Kamu temani ibu dulu saja, Aira."

Aira mengangguk beberapa kali. "Terima kasih, Dokter."

Genta mempersilakan Aira dan Rahma untuk masuk ke ruang penanganan. Hendra masih belum sadarkan diri, tapi semua kondisinya stabil. Aira menggenggam tangan Hendra dan mulai menangis di samping brangkar.

"Tetap di sini ya, Pah. Aira masih butuh papa," gumam Aira dengan napas tercekat.

"Permisi, Dokter Aira, izin bawa papanya untuk pemeriksaan lanjutan, ya," ucap Bu Atun, perawat senior di ruang instalasi gawat darurat itu.

Aira mengangguk. Rahma menggenggam erat tangan putrinya.

"Mama lemes sekali, Aira," bisik Rahma.

"Mama duduk dulu di sini. Aira ambilkan minum."

Rahma menggeleng. "Kamu temani papamu saja. Mama istirahat sebentar di sini."

Aira mendongak menatap seorang perawat yang ada di ruang jaga.

"Dek Alma, titip mama saya sebentar, dong. Beliau mengeluh badannya lemas."

"Oh, baik, Dok. Lebih baik berbaring saja, Bu sembari menunggu."

Rahma menggeleng. "Nggak perlu, Suster saya duduk saja."

Aira dengan cekatan mengambil segelas teh manis panas dan memberikannya pada Rahma.

"Minum dulu, Ma."

"Kamu temani papa saja. Mama biar sama Mbak Alma."

Aira mengangguk paham. Ia pun segera berlari menyusul brangkar Hendra yang sudah tidak terlihat. Aira berlari menuju ruang CT Scan dan melihat Sinta sedang menunggu di sana.

"Mama lo?"

"Badannya lemes. Gue suruh nunggu di IGD aja."

Aira mengambil catatan medis yang ditulis oleh Genta dan membacanya dengan saksama diagnosa dari seniornya itu. Tak lama Aira membuang napas kasar.

"OP ya?"

"Kalau lihat dari diagnosa Dokter Genta dicurigai pendarahan intrakarnial (pendarahan otak) ada riwayat hipertensi?"tanya Sinta.

Aira mengangguk. "Tekanan darahnya memang agak tinggi, tapi masih dalam batas toleransi. Cuma kadang-kadang pola makannya yang nggak bisa di rem. Beberapa hari ini gue lihat sering makan kambing sama teman-teman dan anak buahnya. Udah diingetin, tapi ya gitu ... bandel," ucap Aira sedikit kesal.

"Sabar, Ra. Paling nggak sekarang papa lo udah tertangani."

Aira dan Rahma menunggu dengan sabar prosedur operasi yang dilakukan oleh dokter bedah saraf sebagai upaya penyelamatan.

"Operasi berjalan lancar. Pendarahan di otak bisa ditangani dengan baik. Hanya saja, kemungkinan Bapak akan mengalami gangguan saraf karena efek dari pembuluh darah yang pecah. Jadi, saat sadar nanti keluarga juga harus menyiapkan diri apabila bapak menjadi pelo saat berbicara, kehilangan fungsi pada tangan atau kakinya. Kondisi organ vitalnya baik. Untuk permasalahan jantung nanti akan dijelaskan oleh Dokter Budi."

Aira dan Rahma bernapas lega. Mereka kembali berpelukan dan mengucap syukur karena Hendra masih dapat kembali berkumpul dengan mereka.

Usai mendapat kamar di ruang intensif, Aira memilih mencari makanan dan minuman untuk dirinya dan sang ibu. Ketika kembali ke ruang tunggu, Aira mengernyit manakala Rahma menemani seorang pria setengah baya menjenguk sang ayah di dalam ruang intensif itu. Orang itu mengenakan seragam hijau lumut dengan empat bintang di kedua pundaknya.

"Aira, salam dulu. Ini Om Gunawan. Masih ingat?" tanya Rahma saat mengantar Gunawan keluar dari ruang perawatan itu.

Aira memberi salam, ia dengan senyum ramahnya mencium tangan Gunawan dengan sopan.

"Oh, ini Aira? Anak semata wayangmu yang jadi dokter itu, Mbak?" tanya Gunawan.

Rahma mengangguk. "Dia dokter di sini, makanya saya bawa Mas Hendra ke rumah sakit ini."

"Setelah besar tambah cantik. Waktu kecil suka sekali minta gendong Om. Om ingat sekali dulu gigi kamu habis karena ompong," ucap Gunawan membagi ingatannya mengenai masa kecil Aira.

Aira tersipu malu. Wajahnya memerah karena menurutnya, Aira kecil sungguh tidak dapat dibanggakan. Gendut, ompong, dengan rambut potong model bob setelinga.

Sepulangnya Gunawan, Rahma mengajak Aira untuk bertemu dengan ayahnya yang masih terbaring lemah di atas brangkar dengan banyak peralatan yang menempel di tubuhnya.

Hendra tidak dapat berbicara dengan jelas. Bibirnya sedikit miring, tapi Aira mencoba memahami ucapan sang ayah.

"Kamu sudah bertemu Om Gunawan? Dia sahabat papa," ucap Hendra seraya membalas genggaman Aira.

Aira mengangguk. "Barusan tadi sebelum Om Gun pulang."

"Dia bilang apa?"

"Nggak ada. Cuma bilang dulu pernah ketemu Aira waktu kecil."

Hendra mengangguk. Ia menatap putri semata wayangnya dengan mata berkaca-kaca. Sorot matanya begitu hangat dan sangat teduh.

"Aira, ada yang ingin papa sampaikan. Papa dan Om Gunawan dulu punya satu janji, jika tiba waktunya nanti kami sama-sama memiliki anak. Jika sama-sama laki-laki, maka biarlah mereka bersahabat meneruskan persahabatan kami. Namun, jika yang satu memiliki anak laki-laki dan yang lain memiliki anak perempuan, maka ... biarlah mereka menikah agar hubungan persahabatan ini berubah menjadi keluarga.

"Papa tahu, kondisi papa tidak baik, papa tidak tahu sampai kapan akan bisa menemanimu. Harapan kami sebagai orang tua, kamu bisa mendapat masa depan yang baik, termasuk pasanganmu kelak. Papa ingin kamu mendapat yang terbaik. Papa cuma ingin melihatmu bahagia, Aira. Untuk itu, papa menagih janji lama papa pada Om Gunawan. Papa ingin menikahkanmu dengan putranya, Baskara Wirayudha."

Duar!

Ucapan Hendra barusan membuat Aira terdiam. Ia tertegun dan seperti disambar petir, tiba-tiba tubuhnya kaku. Matanya terpaku menatap Hendra dengan sorot tidak percaya.

"Maksudnya?" gumam Aira bingung.

Rahma yang sejak tadi berdiri di belakang Aira, mulai melingkarkan tangan ke tubuh Aira.

"Papa dan mama berniat menjodohkan kamu dengan Baskara yang sudah jelas bibit, bebet, dan bobotnya. Yang sudah jelas kami mengenal dekat kedua orang tuanya. Yang sudah jelas masa depannya, Aira. Om Gunawan juga sudah setuju."

Mata Aira membulat.

"Tunggu dulu. Om Gun setuju, tapi belum tentu sama anaknya, Ma. Aira juga belum tentu setuju. Sampai detik ini bahkan Aira belum kepikiran buat nikah," ucap Aira tidak percaya.

Aira terkesiap manakala Hendra kembali menyentuh jemari tangannya, kali ini pria setengah baya itu menggenggam tangan Aira lebih erat dari sebelumnya.

"Kami hanya ingin yang terbaik, Aira. Demi masa depanmu. Papa ingin melihatmu bahagia, itu yang jadi permintaan papa sebelum Tuhan memanggil papa," ucap Hendra dengan suara bergetar.

Rahma menangis, demikian juga dengan Aira. Ia memejamkan mata. Sepertinya, tidak ada pilihan lain.

Jam besuk telah usai. Rahma pun kembali ke ruang tunggu ICU yang berada di seberang ruang perawatan Hendra. Sementara itu, Aira memilih untuk berjalan keluar mencari udara segar karena sekarang dadanya terasa sangat sesak.

Aira berjalan di koridor rumah sakit. Malam sudah mulai larut, jam besuk rumah sakit sudah selesai, dan rumah sakit pun mulai sepi. Hanya ada Aira dan beberapa perawat yang lewat. Aira tiba-tiba berjongkok ketika melewati taman rumah sakit. Ia menunduk dan mulai menangis.

"Aira?"

Aira masih terisak manakala namanya tiba-tiba disebut. Ia mendongak menatap orang yang berdiri tepat disampingnya. Sepatu PDL, celana loreng warna hijau, dan seorang pria gagah dengan rahang yang kokoh sedang menatap Aira dengan mata elangnya.

Aira menghapus air matanya. Ia berdiri dan menatap heran pria berseragam tentara itu. Pria itu mengulurkan tangan mengajak Aira bersalaman.

"Perkenalkan, saya Baskara Wirayudha. Putra Gunawan Wirayudha."

Detik itu juga Aira sadar. Nama itu baru saja ia dengar dari kedua orang tuanya. Dan pria di hadapannya inilah pria yang dijodohkan dengannya.

_______________________

1
Ema Soleha
ceritanya bagus,tapi iklanya MasyaAllah....bikin nyebut,iklanya udah ngelebihi apliksi novel berbayar
Ana Dww
/Sob/maaf bas, wanita punya prinsip sedia payung sebelum hujan walau itu kemarau
NonaAns: 🤣 iya lagi wkwkwkwk
total 1 replies
Nasyya
👍🏻👍🏻
Nasyya
wadidauw 🤣
Ana Dww
waittt!
Ana Dww
kalau nggak, paling parah jelita hamil anak orang😶
Ana Dww
ya emang jelita bohong!
Ana Dww
/Determined/
Ana Dww
😭😭😭😭 Istri lo abis ngamukkk
Ana Dww
tetap negatif thinking jelita bohong karena suka ibasss
Ana Dww
😭😭😭
Agustinus Wisnugroho
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!