Hidup Lylac yang datar tapi penuh perjuangan karena orangtuanya yang miskin, berubah total ketika tak sengaja ia bertemu hantu cantik Mika, di gudang sekolah saat ia ingin sendiri.
Mika terus merengek pada Lylac untuk mendekati Evan, Anak basket yang populer. Itu idolanya dulu saat masih hidup. ini membuat Lylac harus berhadapan dengan Angel geng cewek cantik dan populer yang merasa kesal melihat Lylac ada disekitar Evan. Padahal Lylac hanya disuruh Mika, hantu cantik itu.
Baca dan lihat bagaimana Lylac yang malas mengurusi orang malah bertemu dengan geng cowok dan cewek paling populer itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 2 Gudang
"Ya mau Evan lah! Kan dari awal aku udah bilang!" jawab Mika santai sambil melayang santai, memutar tubuhnya di udara seolah lantai gudang yang kotor itu adalah panggung dansa.
"Gara-gara kamu. Aku jadi tontonan mereka semua!" Lylac geram.
"Kok aku?" Mika tidak mau dituduh. Dia melayang memutar.
"Ya jelas kamulah," tunjuk Lylac jengkel.
Mika mencibir dengan imut. "Lagian, kamu kenapa sih pakai acara teriak sekencang itu, Lylac? Kan kita udah sepakat. Kamu bisa ngomong di dalam hati aja, aku tetep bisa dengar kok. Sekarang lihat akibatnya, seantero sekolah pasti makin yakin kalau julukan 'Lylac Si Gadis Hantu' itu beneran fakta." Hantu ini malah nyalahin Lylac.
"Kamu malah nyalahin aku?" Mata Lylac mendelik.
Mika tersenyum manis menjengkelkan.
"Aku nggak peduli mereka mau panggil aku apa!" Lylac menggeram, matanya berkilat-kilat tajam seperti pisau.
Langkahnya maju satu langkah, membuat Mika refleks mundur sedikit walau dia tahu Lylac tidak bisa menyentuhnya secara fisik.
"Tapi jangan pernah paksa aku untuk jadi cewek agresif di depan cowok itu yang bahkan nggak tahu kalau aku ini hidup di sekolah yang sama!"
"Evan namanya," ujar Mika malah mengoreksi Lylac.
Lylac mendelik.
Mika cuek.
"Kamu itu hantu, Mika. Sadar diri. Kamu udah mati satu tahun lalu, dan tugas kamu sekarang itu tenang di alam sana, bukan malah sibuk ngurusin cowok yang aku enggak tahu namanya itu."
"Evan namanya." Mika mengoreksi lagi.
"Kamu ...." Lylac jengkel. Dia menunjuk Mika dengan kesal. "Dasar hantu centil."
Mika seketika merengut. Dia melayang turun hingga kakinya-yang tampak transparan-seolah-olah menapak di atas tumpukan meja kayu bekas. Bibirnya dikerucutkan manja, tangannya bersedekap di dada dengan gaya paling dramatis yang dia miliki.
"Tapi Evan itu crush aku satu-satunya waktu aku masih hidup, Lylac... Tega banget sih kamu. Masa kamu rela lihat hantu secantik, seimut, dan sepopuler aku dulu, harus gentayangan terus di pojokan loker berdebu cuma gara-gara urusan cinta yang belum selesai? Aku cuma mau dia tahu kalau aku pernah suka sama dia. Itu aja, kok!"
Lylac memejamkan matanya rapat-rapat. Dia menyandarkan punggungnya pada tembok gudang yang dingin dan sedikit berlumut.
"Jangan bersender di dinding itu. Kotor. Evan nanti malas lihat kalau baju kamu kotor," nasehat Mika jijik.
"Aku enggak peduli!" Meski begitu Lylac menjauh dari dinding berlumut itu. Lalu mengangkat tangan untuk memijat pangkal hidungnya yang mendadak terasa pening luar biasa.
Menghadapi guru bimbingan konseling yang paling galak sekalipun tidak pernah membuat kepalanya se-berdenyut ini.
"Aku kasih satu peringatan terakhir," kata Lylac, membuka matanya dan menatap Mika dengan pandangan sedingin es.
"Kalau sampai kamu bikin aku kelihatan kayak orang gila lagi di depan umum, atau sengaja bikin aku teriak-teriak nggak jelas kayak tadi... Aku bersumpah bakal cari cara, entah pakai garam, daun kelor, atau manggil dukun beneran, buat nanam roh kamu di dalam pohon beringin paling tua dan paling seram di kota ini. Paham?"
Mika terdiam selama beberapa detik. "Pohon beringin jauh. Sekitar sini enggak ada."
"Aku akan cari pohon beringinnya sampai ketemu," tegas Lylac.
Dia menatap Lylac dengan mata membulat, tampak sedikit terintimidasi oleh ancaman itu. Namun, sifat dasarnya yang jahil dan tidak bisa diam dengan cepat mengambil alih kembali. Sebuah senyuman tipis yang sangat mencurigakan terukir di wajah pucatnya.
"Paham, Bos Lylac! Paham banget!" Mika memberi gestur hormat dengan dua jarinya. "Tapi... kamu tahu nggak? Pas kamu teriak 'TIDAK' di kantin tadi, si Evan itu beneran ngeliatin kamu, lho. Pandangannya itu kayak... heran, kaget, tapi ada sedikit rasa penasaran gitu. Menurut analisis aku sebagai mantan siswi populer, strategi antimainstream kamu tadi sebenarnya berhasil menarik perhatian dia!"
Lylac hanya bisa menarik napas panjang, menatap langit-langit gudang dengan pasrah. Dia meratapi nasib sialnya yang entah bagaimana bisa terikat kontrak gaib dengan hantu paling keras kepala dan paling bawel di seluruh dunia.
***
Lylac melangkah keluar dari gudang tua dengan tangan terlipat di dada. Di belakangnya, Mika masih melayang-layang sembari bersenandung kecil tanpa dosa, mengabaikan fakta bahwa dia baru saja membuat Lylac dicap sebagai orang gila seantero SMA 27.
Sambil berjalan menyusuri koridor yang mulai sepi karena bel masuk kelas sudah berbunyi sejak dua menit lalu, pikiran Lylac melayang pada kejadian seminggu yang lalu. Kejadian sial yang menjadi akar dari segala kekacauan hidupnya hari ini.
Semua itu bermula karena ia suka makan bekalny sendiri di bangku dekat gudang lama. Koridor itu sepi. Padahal ada taman kecil yang indah dan sejuk di dekat gudang. Ada pohon mangga yang sering berbuah lebat juga.
Saat itu ia sungguh lelah karena habis kerja paruh waktu tadi malam. Badannya terasa remuk, tapi ia harus tetap sekolah. Karena tidak ingin ibunya tahu kalau dia bekerja.
Meski miskin, beliau pasti tidak mau melihat anaknya ikut mencari uang dengan susah payah.
Tempat ini jarang dilewati murid karena gosipnya yang angker. Bagi Lylac yang seorang introvert, tempat sepi itu awalnya adalah sebuah surga. Apalagi saat tubuh dan pikirannya lelah.
Sampai saat ia harus agak terjungkal karena mengantuk.
Whuuush!
Udara di sekitar koridor mendadak turun drastis hingga sedingin es. Entah dari arah mana, sesosok bayangan transparan muncul dengan lambat. Wajahnya yang pucat mendadak berubah menjadi menyeramkan dengan mata melotot dan seringai lebar.
"Pergiiiii... atau kamu akan matiiii..." bisik sosok itu dengan suara gaib yang bergema.
Lylac, yang saat itu setengah mengantuk sama sekali tidak berkedip. Jangankan menjerit, mundur satu langkah pun tidak. Dia hanya menatap datar wajah menyeramkan di depannya dengan tatapan sedingin es.
Lylac melihat arloji di pergelangan tangannya. "Lapar."
Sosok menyeramkan itu seketika mematung. Seringai seramnya perlahan luntur, digantikan oleh ekspresi melongo yang sangat bodoh. Wajahnya kembali berubah menjadi gadis SMA yang cantik alami dengan rambut kucir kuda berpita merah.
"Kamu... nggak takut?" tanya hantu itu heran, yang tak lain adalah Mika.
"Diamlah. Aku lapar dan capek. Jangan ngajak debat," jawab Lylac lemah tapi tetap tajam kata-katanya. Dia menghalau pelan tubuh transparan Mika dengan tangannya karena lupa bawa bekal. Ia malas ke kantin karena akan bertemu banyak orang.
Anehnya halauan tangan Lylac membuat Mika sedikit tergeser.
Sejak hari itu, harga diri Mika sebagai hantu penunggu koridor lama runtuh total. Bukannya pergi, hantu centil itu malah merasa tertantang dan mulai menguntit Lylac ke mana pun dia pergi. Sialnya lagi, ternyata pesona Evan si anak basket adalah satu-satunya hal yang membuat Mika betah bertahan di dunia fana ini.
"Evan!!"
Suara pekikan tajam itu seketika membuyarkan lamunan Lylac, menariknya kembali ke realitas. Ternyata barusan para penggemar Evan yang berteriak histeris dari kelas lain, menyadarkan dirinya dari lamunan masa lalu. Dengan malas, Lylac segera menuju ke kelasnya agak cepat.