NovelToon NovelToon
Candu Ragamu

Candu Ragamu

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Dark Romance / Obsesi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Syela

Book #1 of The Walter Brothers Dia pria, pengacara paling licik di New York. Dia wanita, CEO muda yang kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu kasus mempertemukan mereka dengan syarat yang tak masuk akal. Emily Cooper hanya ingin memenangkan kembali hak atas hidupnya. Raphael Walter hanya tertarik pada permainan yang membuat tubuhnya panas. "Aku menangkan kasusmu. Tapi kau harus menghiburku di ranjangku." Dalam dunia penuh siasat, tubuh dan kuasa adalah alat tawar. Tapi ketika menyecap panasnya hasrat, dan tiap sentuhan menjadi candu nikmat, siapa yang sebenarnya dikendalikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Syela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dirty Proposition (A)

Walter & Co. Law Firm

Midtown Manhattan, New York City

Siang itu, di salah satu ruangan bergaya klasik modern di lantai tertinggi gedung Walter & Co.—firma hukum paling berpengaruh, paling mewah di jantung Manhattan—tiga pria mapan, tampan dan berpakaian mahal elegan, tengah duduk memangku kaki. Sofa kulit berwarna espresso tempat mereka duduk menambah aura keangkuhan di wajah ketiganya, ditemani cahaya matahari yang menembus jendela kaca setinggi langit-langit.

Tegas rahang mereka, cokelat mata mendominasi—darah Walter begitu kentara di wajah dan sorot-sorot itu. Kakak-beradik, pria yang duduk saling berhadapan dengan tubuh tegap dan bahu lebar bidang, nyaris identik dalam kegagahan. Asap rokok mengepul dari bibir dua di antaranya, melingkar di udara.

Tak heran, wanita-wanita di luar sana banyak membuka kancing bajunya sukarela—tanpa malu. Mengemis untuk disentuh. Mengiba untuk mendapatkan mereka dengan utuh. Beberapa bahkan saling sikut, berebut antrean hanya untuk bisa ditiduri salah satu dari mereka, atau semua sekaligus bahkan.

The Walter Brothers bukan hanya visual impian semua wanita. Mereka liar. Brutal di ranjang. Tatapan tajam mereka seperti racun yang membuat wanita menggigit bibir terpesona, mabuk, gemetar, basah hanya karena satu seringai. Dan sialnya, mereka tahu itu. Mereka tahu betapa menggoda mereka—dan mereka menikmatinya dengan kesombongan.

Kali ini, entah topik berat macam apa yang tengah mereka bahas di sana—karena biasanya, tiga pria dari keluarga Walter itu hampir-hampir tak pernah duduk dalam satu ruangan kecuali ada urusan yang sangat penting. Masing-masing hidup di kota berbeda, menjalankan bisnis mereka sendiri-sendiri. Namun hari ini, mereka ada di tempat yang sama. Dan dari gestur dingin, tatapan tajam, dan minimnya basa-basi di antara mereka, jelas sekali sesuatu yang serius sedang terjadi.

Hingga tiba-tiba, perbincangan serius itu disela.

BRUK!

Pintu ruangan terhempas terbuka dengan kasar. Seorang wanita menerobos masuk dengan mata menyalang bak ingin membunuh. Napasnya memburu, rambutnya sedikit berantakan tapi tetap terlihat cantik, gaun mahal yang membungkus tubuh indahnya nyaris robek karena melangkah cepat, liar dan penuh amarah. Kaki mulus dan jenjangnya mengintip jelas setiap kali melangkah panjang. Seksi, namun sedikit agresif.

Tiga pria yang ada di sana—Raphael, Renzo, dan Reynard—langsung serempak menoleh. Mengernyitkan dahi, bingung dengan kehadiran wanita itu.

"Nona! Kau tidak bisa sembarangan masuk ke ruangan ini!" teriak Simone, salah satu bodyguard pribadi Raphael, segera menyergap sisi kirinya. "Sudah ku katakan, kau harus punya jadwal janji temu terlebih dahulu!"

"Lepas, anjing sialan! Sentuh aku lagi, akan ku tendang burung perkutut kalian sampai tak hidup lagi! Coba saja!" bentak Emily mengancam, matanya menyalang ganas.

Gabin, juga salah satu rekan Simone, menarik tangan wanita itu di sebelah kanan. "Jangan membuat kami nekat, Nona! Tuan Walter sedang ada rapat penting—"

"Aku tidak peduli, bangsat! Kau dengar, hah?!" Emily menyentak lengannya lepas, menghantam dada Gabin dengan siku tajamnya. "Aku mau bertemu si bajingan congkak itu sekarang juga! Raphael fucking Walter! Dia pikir dia siapa? Tuhan? Hanya karena dia bisa membeli segalanya dan membungkam semua orang, bukan berarti aku akan diam diremehkannya!"

Tubuhnya ramping, tapi tenaganya setan. Dua bodyguard pria bertubuh besar itu sungguh kewalahan. Kalau mereka gagal mengeluarkannya sekarang, bukan hanya mereka—tapi karier mereka tamat di tangan Raphael Walter.

Emily Cooper.

Melihat kegaduhan itu, Raphael mendengus. Kesal.

Bodoh sekali. Mengurusi satu wanita saja tidak becus. Percuma memperkerjakan dua pria berbadan seperti gorila jika otaknya ditaruh di dengkul.

"Biarkan dia masuk," ucap Raphael akhirnya—pelan, datar, angkuh. Dagunya terangkat sedikit, sorot matanya memalas. Ia bahkan tak sudi beranjak dari sofa empuk tempatnya duduk.

"Baik, bos." Simone dan Gabin langsung menunduk, patuh. Mereka segera melepaskan cengkeraman dari lengan Emily yang kini tampak memerah. Wanita itu mengusap bekas cekalan di tangannya dengan geram, meludah ke lantai saking muaknya.

Raphael mengangkat satu tangan dan mengayunkan jarinya ke arah pintu—sinyal bagi kedua bodyguard agar enyah.

Simone dan Gabin menurut, keluar dan menutup pintu rapat-rapat.

"Well. Tampaknya kita kedatangan tamu istimewa," kata Renzo dengan kekehan rendah, pun setelah itu bersiul genit, bersandar pada sofa seakan sedang mendapatkan jatah pemuasnya yang menarik. Satu lengannya terlipat di dada, tangan satunya lagi mengusap dagu sambil menatap Emily dari atas ke bawah tanpa sopan santun. Semua tahu, dari ketiga Walter bersaudara, Renzo-lah yang paling mesum, paling flirty, dan tak pernah menyembunyikan gairah dari sorot matanya.

Mendengar itu, Raphael menyeringai kecil, penuh arti. Bicara soal selera wanita, mereka bertiga sudah terlalu piawai membedakan mana yang layak dicecap di atas ranjang mereka dan mana yang cuma pantas dilirik—cukup dari cara berjalan, bersikap dan potongan tubuhnya saja. Dan Emily Cooper? Sudah jelas masuk kategori pertama.

Emily memutar bola matanya, tak peduli. Sudah terlalu sering. Ucapan cabul, pandangan haus, komentar murahan dari pria-pria yang pikir kelaminnya lebih berharga dari otaknya—semua sudah pernah ia dengar. Sudah terlalu biasa. Lelucon murahan seperti itu sudah menjadi santapannya sehari-hari.

Ia melipat tangan di dada, mencoba tenang walau pandangan matanya menusuk. Ia tahu betul pria seperti Raphael dan dua saudaranya itu. Brengsek, digilai wanita-wanita haus status, tapi di matanya? Hanya tiga pria dewasa yang terlalu bangga dengan selangkangannya. Sayang, tak satu pun dari mereka masuk kriterianya.

Emily bukan wanita yang akan luluh hanya karena wajah tampan atau fasilitas mahal, mewah. Cantik, elegan, cerdas, pekerja keras dan mampu mengharagi, ia mencari yang sepadan. Tidak sudi dijamah oleh pria yang menilai perempuan cuma dari lekuk tubuh dan sejauh mana mereka bisa memuaskan ego serta aset mereka yang tak seberapa itu.

Cih.

"Nona Emily Cooper," gumam Raphael, suaranya rendah dan malas. Tentu ia sudah tahu siapa wanita ini sejak pertama kali permohonan kasusnya masuk. Malam itu, begitu melihat paras cantik Emily dari foto di email, Raphael langsung tertarik. Ia menyelidiki semuanya—riwayat, kebiasaan, bahkan hal-hal yang wanita itu sendiri tak tahu dia simpan. Sudah ia perkirakan wanita ini akan datang, cepat atau lambat. Tapi yang tidak ia sangka, Emily Cooper yang katanya dikenal elegan dan classy itu justru menerobos masuk seenaknya, berdiri di depannya sekarang dengan tatapan menantang.

Menarik.

Tatapan menantang di wajah yang begitu memikat itu justru menyulut sesuatu yang gelap di dalam diri Raphael. Alih-alih merasa terintimidasi, insting predatornya justru bergejolak hebat, melahirkan fantasi liar untuk segera meruntuhkan seluruh dinding keangkuhan wanita itu. Ia ingin mencengkeram bahu Emily, mengurung tubuh rampingnya di atas meja kerja tersebut, dan mengikis habis setiap jengkal mereka hingga Emily kehilangan kata-kata. Raphael ingin menekan ego wanita itu begitu dalam, menghancurkan topeng keberaniannya tanpa ampun, sampai Emily benar-benar menyesal pernah memandangnya dengan tatapan seberani itu.

Raphael melanjutkan, "Tak adakah sopan santunmu? Masuk ke kantor pria asing, mendobrak pintu tanpa izin, kau kira itu etika yang benar, hm?"

Cih. Kembali Emily memutar bola matanya, lambat dan sengaja, lalu menyilangkan tangan di dada. "Lucu sekali mendengar kata etika dari pria yang balasan emailnya menghina. Dan lebih lucu lagi, bersama dua saudaranya, ia sekarang memandangi wanita dengan tatapan cabul." Ia tersenyum tipis, tajam. "Apa itu yang kalian sebut perilaku terhormat? Untuk orang-orang sekelas kalian? Kedengaran murahan di telingaku."

1
Mita Paramita
Ralph lagi curhat nih 🤣🤣🤣
Mita Paramita
semangat Emily 💪 Ralph terlalu memaksa kn Emily jadi takut 🤣🤣🤣 lanjut Thor 💪💪💪
Nona Syela: Wkwk iya nih Raphael mau enaknya doang
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: Okay😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor semangat nulisnya 🔥🔥🔥 ceritanya bagus
Nona Syela: Thank you kak semoga betah😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: 😍💪 siap
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor double up 💪💪💪
Nona Syela: 😍💪 Thank you kak
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: Siap kak 😍💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!