Theo Falcon menganggap Zarlin Rahesa tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga yang membosankan dan parasit. Demi ambisi dan pesona Bianca Amsel, Theo memfitnah, mengabaikan, dan bahkan menceraikan Zarlin tanpa memberinya sepeser pun. Dengan sebuah koper dan hati yang hancur, Zarlin pergi. Theo mengira Zarlin akan sangat terpukul. Namun, ia sangat salah. Zarlin menghilang dan kembali sebagai sosok yang sama sekali tidak dikenali, satu-satunya pewaris sebuah konglomerat yang cemerlang.
Situasi menjadi semakin kacau ketika Tristan Avalanka, CEO paling disegani dan dihormati dari perusahaan besar itu, berdiri di garis depan untuk melindungi Zarlin. Ketika bisnis Theo runtuh dan topeng Bianca terbongkar, Theo hanya bisa berlutut di tengah hujan deras, merangkak untuk memohon maaf kepada mantan istrinya. Tetapi bagi Zarlin, pintu pengampunan telah tertutup rapat, dan penyesalan Theo... sudah terlambat.
Follow tiktok : aricia.agestis6
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reenie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Amarah Theo
Zarlin telah bangun lebih awal untuk merencanakan kabur dari rumah itu. Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden kamar tamu, namun tidak ada kehangatan yang dirasakan oleh Zarlin.
Dia sudah terbangun sejak pukul lima pagi. Matanya menatap koper hitam yang sudah rapi terkunci di sudut kamar. Di atas meja, cincin pernikahan mereka sudah dia letakkan begitu saja.
Hari ini, Zarlin mengenakan setelan pakaian yang rapi, bersiap melangkah keluar dari rumah yang telah menjadi penjaranya selama tiga tahun ini.
Pintu kamar tamu didorong kasar dari luar. Theo berdiri di ambang pintu dengan setelan kerja yang sudah rapi. Wajahnya langsung mengernyit dan matanya membelalak tak percaya saat melihat keberadaan koper hitam di sudut ruangan.
"Apa-apaan ini, Zarlin?!" suara Theo menggelegar, dipenuhi rasa tidak percaya yang bercampur amarah.
"Kau tidur di kamar tamu dan sekarang bersiap dengan koper? Jangan bilang kau mau membuat drama lagi dengan mengancam kabur dari rumah hanya karena masalah semalam?"
Zarlin membalikkan badannya dengan tenang.
"Aku tidak sedang mengancam, Theo. Aku akan pergi, surat perceraian bisa kamu kirimkan lewat pengacaraku nanti."
Mendengar kata cerai keluar dari mulut wanita yang selama ini selalu tunduk padanya, ego Theo langsung menaik dan rasa angkuhnya meledak.
Dia melangkah maju dengan cepat, mencengkeram lengan Zarlin dengan sangat kuat hingga koper di tangan Zarlin terlepas dan jatuh ke lantai.
"Cerai kau bilang?! Melangkah keluar dari rumah ini berarti kita cerai, dan aku bersumpah tidak akan pernah memberikan sepeser pun harta untuk wanita tidak tahu diri sepertimu!" ancam Theo, matanya memerah murka.
"Simpan saja uangmu, Theo. Aku tidak butuh," sahut Zarlin dingin, mencoba menarik tangannya.
Penolakan Zarlin justru membuat amarah Theo benar-benar meledak tak terkendali. Pria itu kehilangan akal sehatnya.
"Kurang ajar! Kau pikir kau bisa pergi begitu saja setelah mencoreng wajahku?!"
Tanpa memedulikan rintihan Zarlin, Theo menarik paksa tubuh istrinya keluar dari kamar tamu. Dia menyeret Zarlin menaiki anak tangga menuju kamar utama di lantai atas.
"Theo, lepaskan! Kau gila?!" jerit Zarlin, mencoba memberontak. Namun kekuatan fisik Theo jauh di atasnya. Cenckeraman tangan Theo di lengan kanan Zarlin begitu erat, seolah ingin meremukkan tulang wanita itu.
...*Brak*...
Theo menghempaskan tubuh Zarlin ke atas ranjang kamar utama, lalu dengan cepat mengunci pintu kamar dari dalam. Dia berdiri di depan pintu dengan napas terengah-engah, menatap Zarlin dengan penuh amarah.
"Dengar, Zarlin! Siang ini Ibu dan Bianca akan datang ke rumah untuk membahas jamuan bisnis penting Falcon Corp! Kau tidak akan pergi ke mana-mana sebelum tugasmu selesai!" bentak Theo, suaranya menggema penuh intimidasi.
"Kau harus memasak makanan terbaik dan melayani mereka dengan becus! Jangan harap bisa kabur dan mempermalukanku di depan ibuku dan sekretarisku!"
Zarlin meringis kesakitan, memegangi lengan kanannya yang kini mulai memar keunguan akibat cengkeraman kasar Theo. Dia menatap suaminya dengan pandangan yang tidak lagi menyimpan cinta, melainkan kebencian yang mendalam.
"Jadi kau mengurungku hanya demi egomu? Demi Bianca?!" desis Zarlin, suaranya bergetar menahan perih di lengan dan hatinya.
"Kalau iya, kenapa?! Tugasmu di rumah ini adalah melayaniku! Sampai jamuan makan siang itu selesai, kau adalah tahanan di rumah ini!" Theo melangkah mendekati Zarlin, lalu mencengkeram dagu wanita itu dengan kasar, memaksanya mendongak.
"Masak yang becus di dapur. Jangan coba-coba kabur lewat belakang kalau kau tidak mau aku berbuat lebih nekat dari ini. Paham?!"
Setelah melampiaskan amarahnya, Theo melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar, membuat kepala Zarlin terenggut. Theo berbalik, membuka kunci pintu, lalu melangkah keluar dan membanting pintu kamar dengan keras, menguncinya kembali dari luar.
Zarlin perlahan bangkit dari ranjang. Dia melangkah ke depan cermin besar, menyingkirkan lengan bajunya. Di sana, bekas lima jari Theo tercetak jelas, memar merah kebiruan yang terasa sangat ngilu saat disentuh.
Air mata Zarlin menetes, bukan karena dia lemah, melainkan karena dia meratapi tiga tahun usahanya yang sia-sia demi pria berhati iblis seperti Theo.
Zarlin menyeka air matanya dengan kasar. Tatapan matanya berubah menjadi tajam.
"Kau mau aku memasak untuk ibumu dan selingkuhanmu, Theo?" Zarlin berbisik pada bayangannya di cermin, senyum dingin nan misterius terukir di bibirnya.
"Baik. Aku akan memasak hidangan terakhir yang paling berkesan untuk kalian. Mari kita lihat, apakah kalian sanggup menelannya saat seluruh dunia kalian hancur setelah siang ini."
Zarlin melangkah menuju pintu penghubung balkon, bersiap turun ke dapur. Penindasan Theo hari ini adalah kesalahan terbesar dalam hidup pria itu, karena Zarlin tidak akan pernah memaafkannya lagi.
itu justru malah menguatkan kebenaran...