Kedatangan murid baru di SMA Adiwijaya langsung jadi perbincangan hangat. Kabar bahwa anak pemilik sekolah ikut pindah di hari yang sama, membuat suasana sekolah makin ramai dan penuh teka-teki.
Sekelompok murid berpengaruh berambisi mencari siapa sosok pewaris asli yang disembunyikan. Siapa pun yang dianggap mengganggu atau tidak pantas, akan mereka singkirkan tanpa ampun.
Naysilla, gadis pindahan yang polos dan tak paham aturan keras di sana, tiba-tiba jadi sasaran utama kecemburuan dan perundungan. Di saat ia dikucilkan, disudutkan, dan tak ada satu pun yang berani mendekat, selalu ada satu sosok yang diam-diam hadir.
Raynor Mohan, cowok berkacamata yang penampilannya sederhana, pemalu, dan selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang. Namun bagi Naysilla, sosok itulah satu-satunya tempat aman untuk pulang. Di balik sikapnya yang cupu, Naysilla perlahan menemukan sisi lain yang hanya ia bisa lihat sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2.
"Ah sial, gue lupa. Sekolah di Indo masuknya pagi banget, jam tujuh. Dan sekarang udah jam tujuh kurang dua menit. Aduh, mampus deh gue"
Naysilla memoleskan lipstik berwarna peach sebagai sentuhan terakhir. Walau terburu-buru, penampilannya harus selalu sempurna.
Ia mengaitkan ransel kesayangannya sembarang di bahu, lantas bergegas membuka pintu. Bersamaan dengan itu, pintu kamar sebelahnya juga ikut terbuka.
"Hah, dia?"
Ia ingin terkejut tapi tak sempat. Ia berjalan cepat sebisanya, bersamaan dengan tetangga kamarnya.
"Aneh banget, biasanya kalo orang cupu itu dimana-mana rajin. Tapi ini kok lain ya" celetuknya sembarangan. Sialnya orang yang disindir itu mendengar perkataannya dengan sangat jelas.
"Siapa yang cupu?"
"Hah, siapa? Lo ngomong sama siapa?"
"Ngga heran sih, biasanya yang cantik itu lemot"
"Hah, apa lo bilang?" Ia menghentak-hentakkan kakinya, kesal.
"Sial banget gue hari ini, udah telat bangun, ngga sempet sarapan, abis itu ketemu cowok nyebelin" gerutunya kesal.
Ia meninju udara, matanya mengikuti bayangan si cupu yang berjalan lebih dulu di depan, bagai tanpa beban.
Sesuai dugaan, ia pasti akan telat hari ini. Hari pertama ia masuk ke sekolah barunya. Sungguh memalukan.
"Bagi yang merasa telat, silahkan berbaris di sebelah Utara!"
"Saya ulangi lagi, bagi yang merasa telat, silahkan berbaris di sebelah Utara. Terimakasih" tutur seorang siswa dengan papan nama Firmansyah.
Dengan malas, ia bergabung ke dalam barisan, yang sialnya lagi-lagi ada si cupu disana. Dan satu lagi gadis berambut sebahu yang tak asing baginya.
"Baik, untuk kalian bertiga. Saya tau kalian semua murid baru, atau murid pindahan dari sekolah lain"
"Lah itu tau, makanya jangan hukum kami yah kak, Please....!" Ucap Naysilla dengan wajah memelas.
"Heh kamu, rambut panjang" ia memandang penampilan Naysilla dari atas sampai bawah, lantas menggelengkan kepala. "Banyak sekali yang perlu di bahas" sambungnya, sambil meremas kasar rambutnya.
Ia memainkan ponselnya sejenak, tak lama kemudian seorang siswa dengan almamater OSIS berjalan mendekat.
Pria remaja berparas tampan dengan tampilan rapih dan wangi. Sangat ramah dipandang. Apalagi senyumnya yang memikat kaum hawa. Tak terkecuali Olivia yang sampai menganga di buatnya.
"Jaga sikap kalian, dia ini salah satu kerabat yang punya sekolahan ini" bisik Firmansyah lirih, lantas bertukar tempat.
Tak ada hukuman, hanya wejangan membosankan bagi Naysilla. Matanya mulai sumringah saat siswa yang di duga menjabat sebagai ketua OSIS itu mengakhiri narasinya.
"Baiklah, sekarang kalian boleh bubar untuk masuk ke kelas masing-masing" ucap ketua OSIS, dengan papan nama Arka.
*****
"Perkenalkan, nama gue Naysilla Violetta. Asal Jakarta, gue pindahan dari sekolah negri...." Ucapannya belum usai, tapi terputus oleh tawa seseorang.
"Hahahaha, ternyata pindahan dari sekolah negri guys"
"Hahahaha...."
Naysilla memasang wajah bingung yang di balut kekesalan. Otaknya masih mencerna situasi yang ada. Dari hari pertama, ia sudah mendapat masalah, dan bermasalah dengan beberapa siswi disana.
"Sudah anak-anak sudah cukup. Selanjutnya, silahkan perkenalkan diri kamu ke teman-teman!"
"Halo teman-teman, perkenalkan nama aku Olivia. Aku asal Bandung" ucapnya dengan wajah ceria disertai senyum.
"Pindahan dari sekolah mana nih?" Tanya seseorang yang duduk di pojokan.
"Yang pasti, bukan dari sekolah kampung lah" ucap siswi sambil memainkan rambut keritingnya.
"Huuuuuuuu"
Sorak sorai memenuhi ruangan seisi kelas. Ia menatap kosong kearah depan, tak mengerti situasi yang ada, ia nampak kebingungan.
"Sudah anak-anak, untuk Naysilla dan Olivia, kalian silahkan duduk. Silahkan menempati kursi yang kosong" ucap sang guru, bijaksana.
Hanya ada dua kursi kosong di kelas itu, tepatnya di pojok belakang samping jendela. Yang sialnya, persis berada di belakang dua gadis menyebalkan yang pernah berurusan dengannya.
Mereka memandang dengan tatapan remeh, tapi Naysilla mana peduli.
Beberapa menit berlalu, akhirnya tiba di jam istirahat. Beberapa siswa mendekat, sekedar ingin berkenalan secara langsung dengan anak baru.
Bukan, bukan Naysilla. Ia dibiarkan begitu saja, di abaikan, tanpa sapaan. Di sampingnya, Olivia tak henti-hentinya mengulas senyum, pada para siswa yang sangat antusias padanya.
"Olivia, kalo ada sesuatu yang lo butuhin, lo bisa minta tolong gue"
"Olivia, kalo ada yang bingung, lo bisa tanya gue"
"Olivia, mulai sekarang kita temenan yah"
"Iyah teman-teman, salam kenal yah. Makasih, kalian semua udah baik banget sama aku" ucap Olivia lembut.
Naysilla memandang kearah luar jendela. Kehadirannya bagaikan tak nampak Dimata mereka. Ia seperti benda tanpa nyawa.
Rasanya sudah tak tahan lagi, ia menerobos paksa kerumunan siswa yang melingkari mejanya.
"Eh, eh... Naysilla, mau kemana? Katanya tadi mau ke kantin bareng!" pekik Olivia di sudut kelas. Naysilla berbalik dengan wajah malas.
"Udah dulu yah teman-teman, aku mau ke kantin"
"Ke kantin sama kita ajah" ucap si gadis pirang.
"Tapi aku udah janji sama Naysilla, atau kalian mau gabung juga?"
"Idih... ogah. Lo ajah duluan"
Selayaknya orang yang baru kenalan, mereka berjalan dalam diam, tanpa obrolan. Apalagi dari karakter Naysilla yang memang sulit bergaul. Olivia ingin membuka obrolan, tapi sungkan.
"Naysilla, aku ke toilet dulu yah. Kamu duluan ajah ke kantin!"
Tak sempat menjawab, ia hanya memandang bayang yang kian menghilang. Terpaksa ia berjalan sendirian. Sedikit kebingungan karena ini pertama baginya.
Rasa tak nyaman mulai mendera. Apalagi setiap ia melewati kerumunan siswa. Bisik-bisik terdengar, yang bahkan sangat jelas di telinga.
"Eh, itu cewek yang bermasalah sama ratu bully kan?"
"Kayaknya sih iya. Anak baru, cewek, rambutnya panjang"
"Liat tuh, wajahnya songong banget, judes gitu. Pantes ajah ngga punya temen"
Ia terus berjalan tanpa mempedulikan. Karena ia tak paham, bahwa sebenarnya dirinya lah yang mereka bicarakan.
"Orang-orang pada kenapa sih, aneh banget. Perasaan dari tadi kaya banyak banget yang liatin gue. Perasaan ngga ada yang aneh" batinnya.
Langkahnya melambat saat mencapai pintu area kantin. Keributan yang terdengar dari arah luar lenyap seketika.
Ia mencoba melawan kegugupan yang tiba-tiba mendera, dengan rasa percaya diri yang masih tersisa. Kini, semua mata tertuju padanya.
Ia melangkah pelan ke dalam. Tanpa aba-aba, tanpa perhitungan. Lagi-lagi kekacauan menyambutnya tanpa permisi.
Byuuur.......
Satu ember air bekas cuci piring mengguyur tubuhnya tanpa permisi. Oh ayolah, apa ini ? Ia baru beberapa jam masuk sekolah, tapi hal tak mengenakan sudah menyambutnya berkali-kali.
Seluruh penghuni kantin diam, hanya suara tetes air sebagai pemecah kesunyian. Ia menunduk, memandang sepatunya yang basah. Tangannya mengepal kuat, tapi mulut terkunci rapat.
"Psstt... Psstt... Diem ajah dia, kayaknya mau nangis nih"
"Wah, makin seru ajah. Menurut lo, dia bisa bertahan sampai berapa lama di sekolah ini?"
"Gue tebak sih, ngga bakal sampe sebulan"
"Atau malahan ngga sampe seminggu"
"Hahahaha"
Ia masih berdiri kokoh dengan pandangan menunduk ke bawah. Kepala bagai dipukuli cacian dan makian dari berbagai sisi. Bibirnya bergetar samar. Matanya memerah, menahan amarah.
"Liat bro, ada yang warna merah" celetuk salah satu siswa yang tak jauh darinya.
Spontan ia menyilangkan tangan di dada.
Pandangannya memudar, embun mata mulai menggenang. Di tengah kegusaran, amarah yang hampir memuncak, serta rasa malu.
Kakinya bergetar, perlahan meluruh ke bawah seakan tak lagi bertulang. tapi sepasang tangan kokoh menahannya. Memberikan tumpuan agar ia tidak benar-benar ambruk disana.
"Teruslah berjalan kedepan! Lo akan semakin hancur jika hanya berdiam diri disini" suara bariton terdengar tepat di samping telinga.
Apa yang bisa ia lakukan? Selain patuh pada satu-satunya orang yang peduli saat terpuruk seperti ini. Mereka berjalan beriringan tanpa tuntutan.
Mematikan pendengaran, ia hanya fokus pada jalan yang dilaluinya. Tak lagi peduli bisikan, tawa, atau tatapan tajam yang mengikuti setiap gerak-geriknya. Baginya, saat ini satu-satunya hal yang penting adalah melangkah terus, menjauhi pandangan mereka, dan menyelamatkan sisa harga dirinya yang hampir hancur.
cupu tuh apaan ?