NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Alyra

Suami Dadakan Untuk Alyra

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Hamil di luar nikah
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lylia Yuu

“Kau itu memang benalu! Mengganggu dan menempel seperti parasit. Gagal mendapatkan kakaknya, sekarang adiknya yang kau incar? Dasar wanita sampah!”

Hidup Alyra hancur hanya dalam satu malam. Semua bermula saat ia memergoki lelaki yang begitu dicintainya tengah bercumbu dengan wanita lain. Alyra memilih pergi, tetapi pria itu tak terima ditinggalkan. Dalam amarah dan ego yang membabi buta, ia merenggut paksa kehormatan Alyra sehingga gadis itu hamil.

Sejak saat itu, hidup Alyra berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih bertanggung jawab, mantan kekasihnya justru menikahi wanita simpanannya. Sementara Alyra, yang menanggung malu seorang diri, dipaksa menerima keputusan dua keluarga untuk menikah dengan adik dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.

Bisakah Alyra bertahan dalam ikatan tanpa dasar cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SDUA 02

“Anda baik-baik saja, Tuan—” Sang asisten hendak memeriksa, namun gerakan tangan tuannya mencegah.

Sosok rupawan dengan setelan semi casual berdiri, alis terangkat sebelah. Memandangi Alyra yang memunguti lembaran demi lembaran dengan tatapan yang sulit ditebak.

“Sial banget hari ini. Udah macet, lift antri, ngerjain revisian sampai pagi. Dan sekarang … malah ketemu sama orang aneh, jalan nggak pakai mata!” gerutu gadis berpakaian formal namun rambutnya diikat asal.

Dagunya terangkat, mendongak, melototi laki-laki yang hanya berdiam menyaksikan dirinya bergelut dengan kekacauan.

“Bantuin dong, Mas! Jangan bengong aja!” Intonasinya meninggi.

Pria itu tersentak, kemudian berjongkok pelan, meraih selembar kertas di lantai, ia sodorkan kepada Alyra.

Disambarnya dengan cepat. “Lain kali kalau jalan tuh pakai mata! Jangan asal nyelonong. Nggak liat apa ada orang lewat!” Gadis berwajah pucat tanpa polesan riasan wajah, masih menggumam kesal.

Pria yang semula diam mengawasi, memutar jengah bola matanya, menghela napas. “Eh, Mbak. Anda itu yang main nyelonong! Grasak-grusuk, jalan nggak lihat kanan kiri, depan belakang.”

Alyra menghentikan gerakan, melirik geram. “Anda yang salah kok malah marah-marah. Lihat kiri kanan, depan belakang … dikira mau menyeberang jalan!”

Pemuda dengan tinggi badan 180 cm lebih itu lekas berdiri, sudut bibirnya terangkat malas. “Udah nabrak, bukannya minta maaf malah ngomel-ngomel nggak jelas!” Ia menarik kasar kerah blazer abu tua, merapikan penampilan dengan gerakan tegas. “Apes banget hari ini. Keluar dari kandang singa malah ketemu sama macan betina!”

Alyra ikut berdiri. “Apa? Saya nggak salah dengar, ‘kan?” Matanya memicing. “Macan betina? Yang Anda maksud … itu saya?”

Pria itu merapatkan bibir, dahinya mengerut, air mukanya berubah ciut kala melihat Alyra tampak meradang. Ia pun tersadar, salah bicara barusan.

“Eh, Mas. Denger, ya.” Alyra menekankan kalimatnya. “Jangan sembarangan kalau bicara. Seenaknya ngatain saya nggak jelas, kayak macan betina. Ngaca dong! Situ mukanya macam curut meriang!”

Ia mendengus, menahan umpatan.

Gaya rambut mullet setengah pendek yang disisir klimis oleh baluran pomade, berpadu dengan wajah masam yang sedikit pucat, membuat Alyra spontan nyeletuk — mengingatkannya pada ‘curut meriang’.

Pria itu memang tampan, namun hari ini entah mengapa wajahnya terlihat suram seperti diselimuti kekesalan.

Sosok bertubuh tegap itu mendelik tak percaya. “C–curut?” Rahangnya mengeras seketika. “Eh, Mbak—”

“Udah deh, Mas!” Belum juga pria itu bicara, Alyra sudah memotong cepat. “Saya lagi sibuk. Malas sekali berurusan sama orang nggak jelas seperti Anda! Buang-buang waktu saja!”

Brak!

Ia menghentakan kaki, melengos dengan raut wajah berapi-api.

“Astaga ….” Pria itu mengelus dada, guna menurunkan amarah yang menyala. “Kesurupan, ya, tuh cewek? Mulutnya nyerocos kayak kereta api nggak ada remnya!”

Matanya sama menajam, menatap punggung Alyra yang melenggak cepat. Sesekali gadis itu melempar lirikan sinis dan dibalas tak kalah sinis.

“Tuan, Anda baik-baik saja?”

Pria berusia kepala tiga, dengan setelan jas hitam, menenteng tas kerja, mendekati laki-laki yang masih dirundung rasa kesal.

“Andi!” Suaranya tegas memanggil nama sang asisten. “Seperti apa rupa curut yang sedang meriang?”

Yang diajak bicara segera merogoh ponsel di saku jas, jemarinya lihai menekan ikon search di layar, begitu didapat langsung ia sodorkan hasil pencarian pada tuannya.

Mata yang semula menyipit kesal, berubah membulat tatkala melihat layar ponsel milik asistennya.

“Aish!” Ditatapnya nyalang sosok berpakaian rapi dan hanya dibalas dengan tatapan datar, wajah tanpa ekspresi.

“Gadis itu ….” Ia mendengus, memandang lorong arah Alyra pergi, lalu menoleh lagi kepada Andi. “Cari tahu informasi tentang macan betina itu!”

.

.

.

Gadis berkacamata transparan baru saja memarkir mobil di sebuah basement gedung kelas menengah. Ia turun dari mobil, raut wajahnya terlihat lelah.

“Iya, Ann. Ya udah, nanti gue kabarin lagi, masih kesel banget ini gue. Bayangin! Gue harus rombak total naskah dalam tenggat waktu yang singkat!” gerutunya dalam sambungan telepon. Ia mengobrol dengan sahabatnya. “Ada gila-gilanya, ya, tuh si tua!”

Dari seberang, tawa renyah terdengar nyaring dalam sambungan.

Annika; ha ha ha!

Alyra; sialan! Lo ngetawain gue?

Annika; semangat, ya. Gue cuma bisa bantu do’a. Hahaha!

Alyra; jahat ya, Lo. Jadi temen!

Ia menghela napas berat.

Alyra; ya udah, nanti gue telpon lagi. Bye!

Setelah panggilan ditutup, ia memasukan kembali benda pipih ke dalam saku celana.

Alyra berjalan sambil sesekali menghela napas malas. Tiba-tiba, telapak tangan lebar nan kasar membekapnya dari belakang. Erat, sangat kuat, sehingga Alyra kewalahan, tak bisa melawan.

Satu sosok lain memegang kakinya, mengangkat, buru-buru membawanya masuk ke sebuah mobil type Alphard hitam.

Ia dibekap layaknya seorang sandra, mulut ditempel lakban, sisi kiri dan kanannya dipegang begitu kuat.

“Eukh!—” Alyra berusaha meronta, namun tak memberikan efek apapun, tubuh besar pria itu terlalu dominan.

Entah hendak di bawa ke mana, Alyra hanya pasrah, tak memiliki celah untuk melarikan diri atau meminta pertolongan.

Beberapa saat kemudian, mobil berhenti di sebuah basement gedung yang tak asing baginya.

'Gedung ini ....'

Dua pria bertubuh tinggi nan besar kembali menyeretnya dengan paksa setelah berhasil memarkirkan mobil di tempat paling ujung. Tangan diikat dengan tali, Alyra di bawa masuk lewat undakan tangga yang jarang sekali dilintasi penghuni gedung. Mereka bergerak cepat, sehingga tak ada satupun pasang mata yang melihat.

Bruk!

Alyra dihempas kasar begitu tiba di sebuah hunian apartemen, tubuhnya tersungkur ke lantai. Ia menunduk, bahunya naik-turun tersengal.

Sepatu oxford hitam digoyangkan tepat di hadapannya. Alyra perlahan mendongak, menatap terkejut sosok berkemeja putih tulang, duduk menyilangkan kaki di atas peraduan, bibir menyeringai tajam.

“Hai, Sayang ….”

Ervin menatap penuh cinta, namun dibalas tatapan tak percaya dari sorot mata Alyra.

Ia turun dari ranjang, berjongkok di hadapan gadis malang, dirundung ketakutan.

“Pasti sakit sekali, ya?” Diusapnya pelan wajah mulus berpeluh, ada sedikit memar di pipi bekas tangan kasar yang membekapnya. Ervin kemudian menoleh, tatapannya membidik dua orang suruhan. “Sudah ku peringatkan jangan gunakan kekerasan kepada kekasihku!”

Dua sosok tinggi dengan wajah tertutup masker, menunduk hormat. “Maaf, Tuan.”

Ervin memejamkan mata, menghela napas berat. “Kalian boleh keluar.”

Usai dua insan itu keluar, sisalah dirinya bersama Alyra di dalam. Pintu dikunci dari luar, keadaan menjadi semakin menegang.

Ervin melepas perlahan lakban yang membungkam Alyra, ikatan yang mengunci pergelangan, lalu sedikit maju, mengikis jarak. Tangannya terulur.

Sementara Alyra memilih mundur, sorot matanya waspada. “Jangan sentuh aku!”

Pria pemilik senyum licik itu hanya menyeringai. “Aku kangen, Sayang. Cuma pengen peluk kamu.”

“Jangan macam-macam, Ervin. Kita sudah putus!” tolak Alyra dengan tegas.

Wajah yang semula memancar penuh cinta, seketika berubah dingin. “Aku nggak pernah setuju untuk putus, Alyra.”

“Tapi aku ingin putus. Aku nggak peduli, kamu setuju atau tidak.”

Tawa hampa Ervin membahana, sampai-sampai ekor matanya berair. “Alyra … jangan bercanda, Sayang.” Ia usap ujung mata, lalu kembali menatap lembut. “Aku tahu telah membuat kesalahan fatal, bermain perempuan di belakang. Tapi, Alyra … itu hanyalah sebuah khilaf, aku nggak benar-benar mencintai Velisa. Cintaku hanya satu, dan itu sudah menjadi milikmu. Dahulu, detik ini dan sampai kapanpun.”

“Cih!” Alyra berdecih. “Aku nggak main-main, Ervin. Aku serius dengan ucapanku barusan.”

Ervin merapatkan bibir, pancaran matanya meredup, digantikan raut wajah kesal, tak terima atas sebuah penolakan. “Enggak! Sampai kapanpun aku nggak akan setuju untuk putus!”

Dia mencengkram erat dagu Alyra, mengecup paksa bibir ranum merah muda alami.

Sementara Alyra berusaha memalingkan wajah, sebisa mungkin menghindari serangan brutal mantan kekasihnya.

PLAK!

Satu tamparan tanpa peringatan mendarat keras di pipi sebelah kiri sehingga yang ditampar tertoleh ke kanan. Ervin diam sejenak, rahangnya mengetat.

“Dasar brengsek!” Alyra menjerit, napasnya tak teratur, dada terasa sesak menahan murka.

Ervin masih menoleh ke sisi kanan, kedua tangan mengepal kuat. Lalu perlahan menggeser pandang dan berhenti tepat di depan Alyra. “Kamu ... membuat kesabaranku habis, Alyra.” Sosok bengis itu menatap tajam, segera merogoh saku dan mengambil sebutir pil. Ia membuka paksa mulut Alyra, menjejalkan pil itu, kemudian membekapnya tanpa ampun.

“Telan! Telan pil itu!”

Tubuh Alyra meronta, tapi tenaganya kalah jauh. Matanya membelalak, menatap sengit ke arah pria di hadapannya. Hanya bisa mengutuk dalam diam.

'Dasar insan durjana!'

Perlahan, pandangannya mengabur. Suara Ervin terdengar sayup-sayup, tenggelam bersama kesadarannya.

Ervin dengan cepat mengangkat tubuh mungil Alyra, menghempaskannya di atas ranjang berpadu selimut tebal.

Pria itu tersenyum tanpa perasaan, gerakan tangannya ringan, melepas dasi dan kancing kemeja. Ia menyergap tubuh Alyra yang tak berdaya.

“Ahh … ahh ….” Ervin meremas kuat sepasang gunung mulus nan bulat. Senyumnya merekah, penuh gairah. Bibirnya maju, menghujani Alyra dengan kecupan ganas, mirip anjing biraahi yang beringas.

Aksi bej_at itu berlangsung cukup lama. Alyra hanya pasrah, kehabisan tenaga. Ujung matanya berair, menitikan bulir pilu.

‘Masa depanku … telah hancur. Hidupku ….’ Ia terisak dalam diam, hingga kesadarannya benar-benar hilang.

.

.

.

“Dasar anak nggak tahu diri!”

PLAK!!

*

*

Bersambung.

1
partini
jajat sekali kalian,,tapi orang selalu berhasil wehhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!