“Aku mencintaimu, Mey. Mari kita menikah.”
Mey seorang gadis yang terpaksa bekerja sebagai ladies companion alias LC di tempat karaoke demi membiayai kebutuhan hidupnya dan Liani, anaknya yang lahir di luar nikah. Ron mengentas Mey dari dunia hiburan malam, menjadikannya kekasih, dan kemudian melamarnya.
Sayang Ron tak bersedia menerima Liani dan meminta Mey tetap menitipkannya di panti asuhan. Pria itu berjanji takkan melarang Mey menemui anaknya dan memakai uang Ron untuk membiayai kebutuhannya. Gadis itu setuju. Dia mempercayakan Liani pada Bu Widya, pengelola panti.
Setelah menikah, karir Ron melejit dari sales biasa hingga menjadi distributor sepatu ternama. Dia dan Mey dikaruniai dua anak bernama Cyll dan Sam. Mey menjadi nyonya sosialita dengan hidup gemerlap hingga kemudian syok berat mengetahui kebobrokan perilaku suaminya.
Apa yang dilakukan Mey selanjutnya? Akankah dia mempertahankan pernikahannya? Lalu bagaimana hubungannya dengan Liani?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sofia Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Calon Mertua
“Mey, kenalkan ini ibuku.”
Sambil tersenyum ramah, Mey menyalami tangan calon mertuanya. “Selamat datang ke Bandung, Tante. Saya Mey.”
Perempuan tua bertubuh kecil di hadapannya mengangguk kecil. Diperhatikannya Mey dari ujung rambut hingga ujung kaki. Gadis itu bergidik. Tampang Bu Yuna terlihat galak. Mey takut membuat kesalahan di depan ibu kekasihnya itu. Dia jadi tak percaya diri dengan penampilannya. Padahal gaun lengan pendek berwarna biru muda dengan panjang selutut ini merupakan baju terbaiknya yang dianggap paling sopan untuk bertemu calon mertua.
“Kamu umur berapa, Mey? Kelihatan masih muda sekali.”
Si gadis menjawab grogi, “Saya umur dua puluh satu tahun, Tante Yuna.”
“Hmm..., beda sebelas tahun dengan Ron. Apa kamu yakin mau menikah dengan anakku? Tidak sayang dengan masa mudamu yang masih bisa buat senang-senang?”
Ron menatap ibunya tidak suka. “Sudahlah, Bu. Beda umur berapapun tak menjadi masalah. Yang penting kami berdua cocok. Mey juga bukan orang yang suka hura-hura. Dia hobi masak, bersih-bersih rumah, tipe gadis alim yang tidak neko-neko. Sesuai dengan kriteria istri yang kuidam-idamkan.”
Bu Yuna langsung diam. Sikap perempuan tua bertubuh pendek dan agak gemuk itu itu jadi canggung. Dia tak berani menatap Ron. Mey jadi heran. Masa Bu Yuna takut sama anaknya sendiri?
“Ayo sekarang kita makan di luar. Ibu pasti lapar. Sekalian kita ajak jalan-jalan melihat-lihat kota Bandung ya, Mey.”
Si gadis mengangguk. Di depan kamar kosnya terparkir mobil kantor yang dipinjam Ron untuk mengajak ibunya jalan-jalan. Tadi pria itu juga memakai mobil itu untuk menjemput Bu Yuna di stasiun. Kemudian mereka pulang ke tempat kos Ron untuk menaruh barang, lalu lanjut ke kos Mey.
Ron menggandeng tangan kekasihnya, mengajak keluar kamar. Tapi begitu sampai di teras, Mey baru sadar dan menoleh ke belakang.
“Bang, Tante Yuna ketinggalan di belakang. Biar kutemani.”
“Tidak usah, Mey. Ibuku biasa jalan sendiri. Dia sangat mandiri.”
Mey merasa heran. Dipandanginya sang kekasih. Ron tak peduli. Bu Yuna memecah keheningan. “Ron benar, aku biasa jalan sendiri. Sudahlah, ayo kita pergi.”
Mey merasa tidak enak. Dia kemudian bilang mau mengunci kamar kos. Dilepaskannya tangan Ron, lalu gadis itu berbalik ke arah pintu kamar. Setelah mengunci pintu, tangannya meraih lengan Bu Yuna. Perempuan tua itu tersenyum sopan sembari berkata, “Aku masih kuat, Mey. Biar aku jalan sendiri.”
Si gadis tak berkutik. Terpaksa dibiarkannya perempuan berambut ikal kelabu yang dipotong pendek seperti laki-laki itu berjalan sendiri menuju mobil. Mey melihat Ron langsung masuk ke dalam mobil, sama sekali tak membukakan pintu buat ibunya.
Mey merasa aneh melihat hubungan Ron dan ibunya tidak dekat. Terhadap Mey memang pria itu tak bersikap romantis seperti membukakan pintu kos ataupun mobil. Tapi ibunya kan sudah tua, meski masih terlihat bugar untuk nenek-nenek berumur enam puluh delapan tahun. Ron harusnya lebih perhatian, mengingat Bu Yuna satu-satunya orang tua yang dia miliki.
Tiba-tiba dahi Mey berkerut. Gadis itu teringat sesuatu. Berarti Bu Yuna melahirkan Ron waktu umurnya tiga puluh enam tahun. Hmm...usia yang terbilang tidak muda untuk generasinya.
Din, din!
Mey tersentak. Ron membunyikan klakson mobil sambil menoleh ke arahnya. Gadis itu bergegas menyusul ke mobil.
“Tante Yuna kenapa tidak duduk di depan?” tanyanya begitu melihat ibu Ron duduk di jok belakang.
“Ibu lebih nyaman duduk di belakang karena luas,” jawab Ron seolah tak memberi kesempatan pada ibunya untuk menjawab sendiri.
Mulut Mey membulat dan membentuk huruf “o” . Lalu gadis itu membuka pintu mobil depan duduk di sebelah sang kekasih.
Tak lama kemudian mobil meluncur. Bu Yuna memperhatikan anak dan calon menantunya dari belakang. Matanya berkaca-kaca. Dia bahagia sang putra akhirnya mendapatkan pasangan hidup.
***
“Tante Yuna tidak bisa makan masakan Jepang, ya? Kalau begitu kita pindah restoran saja,” ucap Mey begitu melihat calon ibu mertuanya tampak gelisah membolak-balik buku menu.
Ron menjawab, “Ah, Ibu bisa makan apa saja. Dia tidak rewel, kok. Aku sudah lama ingin makan di sini, Mey. Kamu kan, tahu itu.”
“Iya, tapi....”
Bu Yuna menengahi, “Sudahlah, Mey. Tante sudah tahu mau pesan apa, kok. Ini ada nasi sama ayam goreng tepung dipotong-potong tipis panjang. Dari fotonya kelihatan enak. Tante pesan ini saja.”
Ron langsung menimpali, “Nah, itu Ibu sudah nemu makanan yang mau dipesan. Kamu sendiri mau makan apa, Mey? Gimana kalau shabu-shabu dan yakiniku bareng aku?”
Mey mengangguk. Pelayan langsung mencatat pesanan. Setelah membacakan ulang untuk mengkonfirmasi pesanan dan disetujui oleh Ron, pelayan mempersilakan mereka menunggu sekitar dua puluh menitan. Ron mengangguk tanpa mengucapkan terima kasih.
Suasana menjadi lengang. Ron mengajak Mey bicara tentang rencana pernikahan mereka yang sederhana di gereja. Tak ada tamu undangan. Hanya Bu Widya yang datang sebagai saksi pernikahan.
Ibu Ron terkejut begitu mengetahui tak seorangpun anggota keluarga mempelai wanita yang hadir. “Jadi orang tuamu tidak hadir, Mey?”
Ron dengan sigap menjawab, “Mey sudah tidak punya orang tua, Bu. Dia sejak kecil tinggal di panti asuhan. Bu Widya itu pengurus panti yang sudah dianggap orang tua sendiri oleh Mey.”
Mulut Bu Yuna membulat membentuk huruf “o”. Mey tersenyum malu. Dalam hati dia berharap semoga perempuan itu mempercayai perkataan Ron. Mey sebenarnya tak ingin berbohong. Tapi kalau dia menceritakan pada Bu Yuna tentang kenapa keluarganya tak hadir, hal itu akan berlanjut pada kisah keberadaan Liani di muka bumi ini.
Ron tak ingin ibunya tahu bahwa Mey punya anak di luar nikah. Jadi sebaiknya tak perlu ada perkenalan keluarga. Lagipula Mey sudah tak berhubungan lagi dengan ayahnya di Jambi. Sejak ibu Mey, ayah gadis itu menikah lagi dengan perempuan yang umurnya jauh lebih muda dan pantas menjadi kakak Mey. Setahun kemudian si ibu tiri melahirkan anak laki-laki yang menjadi kebanggaan suaminya. Mey semakin kehilangan perhatian ayah tercinta.
Gadis tak beribu itu mulai mencari kasih sayang di luaran. Dia berpacaran dengan Boy, teman SMA-nya. Hubungan mereka terlalu bebas hingga akhirnya menumbuhkan janin dalam tubuh Mey. Boy tak mau bertanggung jawab. Pemuda itu menghilang. Menurut teman-temannya, Boy kuliah di Bandung. Mey percaya karena memang itulah cita-cita kekasihnya sejak dulu. Kuliah di ITB jurusan Desain Komunikasi Visual.
Berbekal uang tabungan dan perhiasan-perhiasan peninggalan ibunya, Mey minggat ke Bandung. Ditelusurinya segala penjuru kampus ITB, tapi tak ditemukannya sosok sang kekasih. Tak seorangpun di jurusan Desain Komunikasi Visual mengenal atau bahkan pernah mendengar nama Boy Dignita. Staf bagian administrasi yang ditemui Mey pun dengan tegas menyatakan bahwa nama itu tak terdaftar sebagai mahasiswa di kampus ITB jurusan manapun!
Mey syok. Dia sadar telah ditipu mentah-mentah oleh teman-teman Boy. Tentu saja mereka sudah diminta merahasiakan keberadaan pemuda itu. Mey frustasi. Setiap hari dia berdiam diri di kamar kos. Gadis itu hanya keluar untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Perutnya membesar dan uangnya mulai menipis. Dia melamar kerja dimana-mana, namun tak ada yang menerima.
Gadis itu melahirkan sendirian di rumah sakit. Semangat hidupnya yang meredup di bulan-bulan terakhir tiba-tiba naik kembali begitu mendengar suara tangisan bayi perempuan yang dilahirkannya. Bayi merah yang kemudian oleh perawat dipindahkan dalam pelukan Mey. Bayi itu diberi nama Liani, yang artinya penuh semangat. Mey jadi bergairah kembali. Dia bekerja pontang-panting mencari nafkah demi sang buah hati.
“Mey, kamu ngelamun apa? Ayo kita makan.”
Suara Ron membuat si gadis tersentak. Oh, shabu-shabu dan yakiniku sudah datang. Hmm, enak sekali kelihatannya. Sontak pandangan Mey beralih pada Bu Yuna. Perempuan tua itu tengah menyantap nasi dan ayam katsu.
“Enak, Tante?” tanya Mey ramah. Si ibu mengangguk. Dia makan lahap sekali, seolah-olah sudah kelaparan dari tadi.
Mey memasukkan kuah shabu-shabu beserta isinya seperti mie kuning, bakso, irisan halus daging, crab stick, dan sayuran ke dalam mangkuk kecil, lalu menghidangkannya tepat di depan Bu Yuna.
“Silakan, Tante,” ucap gadis itu ramah. Bu Yuna malah berkata, “Aku sudah cukup makan nasi dan ayam ini. Sop itu buat Ron saja.”
Tanpa ba-bi-bu, Ron langsung meraih mangkuk kecil isi shabu-shabu tersebut dan memakannya. Mey semakin heran. Tapi dia memutuskan untuk diam saja. Gadis itu merasa aneh kenapa Bu Yuna kelihatan takut terhadap anaknya. Ron sendiri tampak tak begitu peduli pada ibunya. Hmm....
***