Elara Wynther, seorang gadis yatim dari pinggiran kota Firenze, tak pernah membayangkan hidupnya akan bersinggungan dengan dunia gemerlap kaum bangsawan. Hidupnya sederhana, penuh luka kehilangan, tapi hatinya tetap bersih.
Di sisi lain, Lucien Kaelmont, pewaris tunggal keluarga Kaelmont yang kaya raya, tumbuh dengan beban besar. Kehidupan mewahnya hanya terlihat indah dari luar, sementara di dalam dia merasa hampa dengan kehidupan yang sudah ditentukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebaikan paman Erven
“Jangan bawa-bawa nama kakakku. Jika ia tahu kau tumbuh menjadi pembohong, tentu ia akan malu memiliki putri sepertimu!”
Dua anak laki-lakinya berdiri di belakang, berpura-pura memasang wajah prihatin.
Yang muda menunduk pura-pura sedih.
“Ibu, semalam aku melihat Elara berjalan keluar dari kamarmu…”
Elara menatapnya tak percaya.
“Kau berbohong! Aku tidak—”
“Cukup, Elara!” bentak Madam Lissandra.
“Kau sudah melewati batas. Keluarlah dari rumah ini sekarang juga sebelum aku memanggil polisi!”
“Bibi…” suara Elara melemah.
“Tapi kemana aku harus pergi? Aku mohon percayalah padaku.”
Madam Lissandra menepis tangan Elara yang berusaha memohon.
“Itu bukan urusanku. Ambil barangmu. Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi di rumah ini.”
Elara keluar dari rumah Madam Lissandra. Gadis cantik bertubuh mungil itu terus berjalan hingga tak terasa malam telah tiba. Angin dingin menusuk hingga ke tulang. Langkah Elara semakin gontai, kain lusuh yang menempel di tubuhnya sudah basah oleh keringat dan air mata. Ia menatap rumah di ujung jalan, sederhana tapi masih memancarkan cahaya hangat dari jendela.
Dengan sisa tenaga, Elara mengetuk pintu kayu itu tiga kali.
Tok… tok… tok…
Suara langkah mendekat terdengar dari dalam, lalu pintu terbuka. Seorang pria berusia empat puluhan berdiri di sana, tubuhnya tegap meski tampak letih.
“Siapa di luar sana pada jam seperti ini?” tanyanya dengan suara dalam.
Begitu matanya mengenali wajah Elara, alisnya terangkat.
“Elara Wynther? Benarkah ini kau?”
“Iya, Paman Erven. Maaf… jika aku datang di waktu yang tidak pantas.”
Raut wajah pria itu melunak seketika.
“Tuhan… kau tumbuh besar sekali. Masuklah, Nak. Udara malam tidak baik bagi gadis sepertimu.”
Pintu dibuka lebih lebar. Aroma kayu dan teh hangat segera menyambutnya.
Elara melangkah masuk, tubuhnya gemetar hebat.
“Duduklah dekat perapian,” ujar Paman Erven sambil menuangkan secangkir minuman hangat.
Elara menggenggam cangkir itu dengan tangan dinginnya.
“Terima kasih, Paman.”
"Sudah lama aku tak mendengar kabar dari ayahmu. Bagaimana kabarnya? Ia sehat, bukan?”
Pertanyaan itu membuat Elara terdiam. Suaranya pecah pelan.
“Ayah sudah tiada, Paman. Ayah meninggal beberapa bulan lalu.”
Paman Erven menunduk, wajahnya sendu.
“Apa yang terjadi Elara?”
Elara menahan tangisnya.
“Ayah sakit keras. Rumah kami direbut oleh paman dan bibi. Mereka mengusirku, Paman… Aku tidak punya tempat tinggal sekarang.” Lirih Elara yang sebenarnya tidak tahu harus berkata dari mana.
Paman Erven menghela napas panjang.
“Kehidupan kadang tidak tahu belas kasih.”
Dia menatap Elara dalam-dalam, lalu berkata lirih,
“Maafkan paman Elara. Jika saja aku memiliki lebih banyak harta, aku akan menampungmu tanpa ragu.”
Elara menunduk dalam, matanya berkaca-kaca.
“Aku mengerti, Paman. Aku tidak akan menuntut apa pun. Aku hanya… ingin berteduh satu malam, sebelum aku melanjutkan perjalanan.”
Paman Erven memandangnya lalu menepuk pundak Elara lembut.
“Kau boleh tinggal di sini malam ini. Aku tak punya banyak, tapi rumah ini masih memiliki kehangatan untuk dibagi.”
Air mata Elara jatuh pelan.
“Terima kasih, Paman… aku tidak tahu harus berterima kasih dengan cara apa.”
Erven tersenyum lembut.
“Sudah tidak perlu dipikirkan, istirahatlah Elara.”
Dan, malam itu, untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, Elara bisa beristirahat tanpa rasa takut.
*****
Pagi itu udara masih lembap setelah hujan semalam. Sinar matahari menembus tirai tipis, menimpa lantai kayu yang berderit halus setiap kali Elara melangkah. Aroma roti hangat dan teh menyebar di udara.
Paman Erven duduk di meja makan dengan segelas teh di tangan. Di hadapannya, Elara berdiri dengan kepala tertunduk sopan.
“Duduklah, Elara,” ujarnya lembut. “Kau pasti belum makan.”
Elara menurut, duduk perlahan di kursi tua itu.
“Terima kasih, Paman. Aku tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikanmu semalam.”
Erven tersenyum samar.
“Tidak perlu balas budi, Elara. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh keluarga.”
Ia menatap gadis itu beberapa saat, lalu menarik napas panjang.
“Tapi… aku sudah memikirkan ini sepanjang malam.”
Elara menatapnya, sedikit cemas. “Ada apa, Paman?”
Erven meletakkan cangkirnya, lalu mengambil selembar kertas kecil dari saku mantel. Ia menulis sesuatu dengan tinta hitam, lalu melipatnya hati-hati dan menyerahkannya kepada Elara.
“Pergilah ke Valenbourg, itu kota di selatan, sekitar dua hari perjalanan dari sini.” katanya pelan.
“Valenbourg?” Elara mengulang dengan nada ragu.
Erven mengangguk.
“Di sana tinggal seorang pria bernama Alden Marwick. Ia adalah sahabat dekat ayahmu. Meski keras dan berhati dingin. Aku yakin, jika dia tahu siapa dirimu, dia takkan membiarkanmu terlunta-lunta.”
Elara menatap surat kecil di tangannya, lalu kembali menatap pamannya.
"Maafkan aku karena tak dapat menampungmu di sini. Aku sendiri tengah berjuang dengan penghidupan kami. Aku khawatir, bila kau tinggal lebih lama, hidupmu akan jauh dari kata layak.”
Elara menggeleng cepat, matanya mulai berkaca-kaca.
“Tidak, Paman. Aku sudah sangat berterima kasih. Semalam aku tidur dengan atap di atas kepala dan hati yang tenang. Itu sudah lebih dari cukup.”
"Erven bangkit dari kursinya dan menatap Elara lama.
“Kau benar-benar anak yang baik, seperti ayahmu dulu. Dunia ini kejam, tapi jangan biarkan hatimu berubah karena kekejaman itu.”
Elara menunduk, menahan air mata. “Ayah sering berkata begitu juga, Paman.”
“Kalau begitu, teruslah hidup dengan nasihat itu,” ucapnya sambil menepuk lembut bahu Elara.
“Paman akan mengantarmu sampai ke gerbang timur. Setelah itu, kau harus melanjutkan perjalanan sendiri.”
“Terima kasih atas segalanya, Paman Erven. Aku takkan melupakan kebaikanmu.”
Erven itu tersenyum tipis
“Pergilah, Elara, dan semoga kali ini, dunia sedikit lebih ramah padamu.” Ujar Erven dengan suara bergetar.