Dhita selalu percaya bahwa pernikahan yang ia bangun dengan Reza adalah rumah yang kokoh—tempat ia menaruh seluruh harapan, kasih sayang, dan kesetiaannya. Namun semua runtuh ketika cinta pertama Reza kembali muncul, menghadirkan bayang-bayang masa lalu yang tak pernah benar-benar padam.
Dalam hitungan hari, Dhita yang selama ini berjuang mempertahankan rumah tangga justru dipaksa menerima kenyataan pahit: Reza menceraikannya demi perempuan yang pernah ia cintai bertahun-tahun lalu. Luka itu dalam, merembes sampai ke bagian hati yang Dhita pikir sudah kebal.
Di tengah serpihan hidup yang berantakan, Dhita harus belajar berdiri lagi—menata hidup tanpa sosok yang selama ini ia sayangi, menghadapi pandangan orang, dan menerima bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan berakhir. Namun Tuhan tak pernah meninggalkan hati yang hancur. Dalam perjalanan menyembuhkan diri, Dhita menemukan kekuatan yang tak pernah ia sadari, serta harapan baru yang perlahan mengetuk pintu hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Cinta Pertama Reza
Setelah menikah, Dhita sempat menganggur, karena memang belum mau disibukkan dengan pekerjaan. Namun di bulan ketiga, dia diterima di sebuah perusahaan multi nasional yang bergerak di bidang ekspor impor. Karena pekerjaannya dinilai baik oleh atasan, dia bisa dengan mudah memiliki jabatan strategis di kantor. Hal inilah membuat pundi-pundi uang mereka bertambah terus. Apalagi dia merupakan affiliator andal.
Di tahun pertama pernikahan, mereka sudah memiliki rumah sendiri, rumah impian yang dibeli berdua. Mereka meninggalkan rumah lama Reza yang mungil, dan pindah ke rumah baru. Dhita juga sudah memiliki kendaraan sendiri, sehingga tidak perlu bergantung ke Reza. Di waktu senggang, mereka selalu mengunjungi tempat-tempat romantis berdua. Menonton pertandingan bola di Eropa juga pernah mereka lakukan.
Mereka merasakan indahnya mahligai rumah tangga sampai usia pernikahan ketiga. Karena memasuki tahun keempat, Bu Lastri_ibu mertua Dhita mulai mempertanyakan kesuburan rahimnya. Ada saja yang dipermasalahkan itu. Terlalu sibuk lah dengan pekerjaan, terlalu capek lah, atau kurang asupan nutrisi makanan.
"Dhit, kamu udah ngisi belum sih?” Bu Lastri mulai menginterogasiku saat mereka berkunjung ke rumahnya di awal bulan.
"Belum Bu.” Jawab Dhita sambil tersenyum.
"Periksa dong ke dokter, siapa tahu rahimmu kenapa-kenapa?”
"Iya Bu, nanti kalau ada waktu kami akan memeriksakan diri ke dokter.”
"Luangkan waktu, bukan kalau ada waktu!”
"Iya Bu. Soalnya susah meluangkan waktu bareng-bareng. Kadang saya ada luang, Mas Reza yang gak ada, begitu juga sebaliknya.”
"Gak usah sama Reza, dia sehat. Kami turunan orang yang banyak anak. Kamu aja tuh yang periksa. Kamu kan ada turunan mandul, nah itu tantemu, sampai usia lanjut gak memiliki anak, iya kan?” Bu Lastri berkata menyakitkan.
Dhita kaget mendengar kalimat tersebut. Dia melirik ke arah Reza yang duduk di sampingnya. Maksudnya meminta dukungan kalau periksa ke dokter itu harus berdua, bukan hanya dia saja. Karena menurutnya, belum tentu dia yang bermasalah dalam hal ini, bisa jadi Reza sendiri. Namun di luar dugaan, Reza malah pura-pura tak mendengar apa yang dikatakan ibunya, dan dia malah membahas masalah kerjaan.
Sebenarnya mereka tidak menunda-nunda memiliki momongan, namun kalau Allah belum memberikan kepercayaan kepada mereka, mau apalagi? Berdoa setiap saat, berusaha juga sudah mereka lakukan walaupun belum optimal. Selalu mengkonsumsi makanan yang bernutrisi tinggi dan minum jamu yang katanya bisa menambah kesuburan.
Biasanya berkunjung ke rumah mertuanya merupakan moment yang sangat menyenangkan bagi Dhita. Tiap bulan selalu ditunggu. Namun sejak saat itu, justru dia malas untuk berkunjung ke sana. Karena selalu saja Bu Lastri mengungkit-ungkit masalah anak. Mending kalau bahasanya halus, ini seringkali kasar dan menyakitkan.
"Kalau kamu gak mau periksa ke dokter dan bertahan dengan keputusanmu itu, Reza bisa mencari wanita lain. Laki-laki kan punya hak untuk beristri lebih dari satu.” lagi-lagi pada kunjungan bulan berikutnya Bu Lastri berkata yang membuat telinga dan hati panas.
"Bukan gak mau, Bu. Saya siap kapan saja periksa. Masalahnya di Mas Reza, dia yang menolak terus. Ada aja alasannya.” Dhita mulai berani membela diri.
"Kan ibu sudah Bilang, gak usah sama Reza. Dia itu sehat, keturunan banyak anak. Gak mungkin dia bermasalah.”
"Tapi gak bisa gitu Bu. Kita belum tahu kan masalahnya di siapa? Maka jalan satu-satunya ya periksa ke dokter. Tapi harus dua-duanya, bukan hanya aku aja.” Dhita bertahan dengan pendiriannya.
"Ah kamu alasan aja, ngulur-ulur waktu.” Bu Lastri melangkah ke kamar dengan jengkel. Dia mengomel panjang pendek.
***
Dan bencana itu benar-benar terjadi dua bulan setelah kunjungan terakhir. Sore itu Dhita pulang agak cepat, karena setelah tugas luar ke klien, dia tidak kembali lagi ke kantor. Saat sedang merebahkan diri sambil buka-buka medsos, Bi Asih asisten rumah tangganya mengetuk pintu.
"Masuk aja Bi, gak dikunci kok.” Dhita menjawab ketukan Bi Asih.
"Ada apa Bi?” Dhita langsung bangkit dari tidurnya saat Bi Asih sudah masuk.
"Itu Non, ada ibunya Mas Reza.”
"Ibu Mas Reza?” Dhita mengerutkan kening.
"Iya Non, sama seorang wanita cantik.”
"Wanita cantik?” kening Dhita tambah berkerut.
"Iya Non, itu yang suka pake baju seksi dan super ketat.”
"Emang sebelumnya pernah ke sini?”
Sering, kan temannya Pak Reza, pas pertamakali ke sini, pakai rok segini.” Bi Asih meletakkan tangannya di atas lutut.
"Ya sudah, Bibi bikin minum saja, saya segera menemuinya.” Dita berkata sambil menyambar kembali kerudung yang baru beberapa saat dibuka.
Setelah memakai kembali kerudung dan merapikan baju yang agak kusut karena tadi sempat rebahan, dia keluar kamar. Dhita berjalan ke ruang tamu untuk menemui Bu Lastri. Terdengar suara wanita yang tertawa di sela-sela obrolan. Suara itu terdengar renyah dan manja. Mereka langsung berhenti ketika Dhita sampai di ruang tamu.
"Apa kabar, Bu?” Dhita meraih tangan Bu Lastri untuk salaman, kemudian cipika cipiki.
"Kabarku akan baik kalau mendengar kamu mengandung cucuku, Dhit.” Bu Lastri menjawab tanpa perasaan. Dhita hanya bisa menarik nafas panjang.
"O ya, kenalkan, ini Tari, teman SMAnya Reza.”
"Oooh teman Mas Reza ya?” Dhita tersenyum sambil mengulurkan tangan. Wanita itu menyambut uluran tangan Dhita. Matanya melihat dari atas sampai bawah, seperti menilai penampilannya.
"Rezanya belum pulang ya?” Tari bertanya tanpa menjawab pertanyaan Dhita.
"Belum, Mas Reza biasa pulang sore. Paling cepat sebelum Adzan Maghrib.” Dhita menjelaskan.
"Tapi Tante sudah bilang kan ke Reza kalau aku mau ke sini?” Tari berkata manja ke Bu Lastri
"Sudah, mungkin masih di jalan.”
"Kalau boleh tahu, ada perlu apa ya ke Mas Reza?” Dhita bertanya karena penasaran.
"Dhit, Tari ini adalah cinta pertama Reza. Reza pacaran sama Tari sejak masuk SMA sampai mereka keluar. Cinta mereka berakhir karena Tari melanjutkan kuliah ke luar negeri.” Bu Lastri diam sejenak, karena Bi Asih datang membawa minuman.
"Jadi, maksud ibu membawa Tari ke sini itu, mau merekatkan kembali tali kasih mereka yang sempat terputus.” Bu Lastri berkata enteng sekali. Sementara Dhita yang mendengarnya, merasa bagaikan ditimpa batu yang sangat besar.
"Maksud Ibu?” Dhita bertanya dengan dada turun naik, menahan emosi.
"Ya, seperti yang sering ibu bilang, kalau kamu tak memiliki anak, Reza bisa mencari wanita lain. Dia berhak memilih yang terbaik, wanita subur yang dapat memberikan keturunan. Ingat Dhit, keluarga kami harus memiliki keturunan untuk mewarisi semua kekayaan.”
"Tapi kenapa tiba-tiba Bu?, belum tentu juga saya mandul kan?”
"Gak tiba-tiba, saya sudah bicara sama Reza, dan dia setuju.”
"Apa? Mas Reza setuju untuk menikah lagi?”
"Ya. Siapa sih laki-laki yang gak tergoda dengan Tari? Selain cantik, pintar, dia juga berasal dari keluarga yang kaya. Apalagi diantara mereka pernah punya cerita, gampang sekali menumbuhkan benih-benih cinta itu. Iya kan Tari?” ibunya Reza melirik ke arah Tari.
"Iya Tan, pastinya. Lagian kita tak pernah ada bahasa putus lho, kita terpisah karena keadaan.” Tari berkata manja.
"Tapi Mbak Tari harus sadar, Mas Reza sekarang bukan Mas Reza dulu, dia sudah memiliki istri." Dhita berkata sambil menatapnya tajam.
"Iya tahu, aku gak apa-apa lho kalau dijadikan yang kedua oleh Reza. Yang penting kami bisa bersatu kembali.” katanya enteng.
"Tuh Dhit, Tari juga menerima dijadikan yang kedua, tinggal kamu yang harus legowo.”
"Mana ada wanita yang legowo cintanya dibagi Bu?” Dhita berkata ketus.
"Ya harus legowo lah, kamu itu gak sadar diri dengan kekuranganmu kalo kamu gak legowo.” Bu Lastri menjawab menyakitkan.
"Emang kekuranganku apa Bu? Walaupun aku wanita karier, tapi aku tidak pernah lupa akan kewajiban berbakti pada suami. Suami selalu aku ladeni dengan baik. Sebelum pergi ke kantor aku selalu membuatkan kopi dan sarapan, begitu juga pulang kerja, aku selalu berusaha menyiapkan semua keperluan Mas Reza. Bahkan aku terjun langsung ke dapur untuk membuat makan malam.”
"Kamu masih nanya kekuranganmu apa? Kamu mandul Dhit, tidak bisa memberikan keturunan pada Reza, penerus keluarga kami.”
"Ibu sudah memvonis aku mandul, sementara aku belum pernah ke dokter untuk diperiksa keadaan rahimku bagaimana?”
"Udahlah Dhit terima aja takdirmu itu yang tidak bisa memberikan keturunan kepada Reza.” Tetiba Tari ikut nimbrung.
"Nah itu yang betul.” Bu Lastri berkata dengan semangat, dia menatap Tari penuh rasa sayang
semangat ok