Liburan seharusnya menjadi pelarian bagi Cassandra Evans setelah dipecat secara tidak adil dari pekerjaannya. Ia hanya ingin menjauh dari masalah, melupakan tuntutan keluarganya yang terus mendesaknya untuk segera menikah, dan menikmati sedikit kebebasan di Roma, Italia. Namun, siapa sangka? Satu kesalahan kecil justru menyeretnya ke dalam dunia yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan—dunia mafia. Rafael “Rafe” Montenegro bukan sekadar pria kaya dan berpengaruh. Di balik ketampanannya yang dingin, ia menyimpan rahasia gelap. Duda dengan seorang putra kecil ini menjalankan bisnisnya dengan tangan besi, menyingkirkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Tidak ada tempat untuk kelemahan dalam hidupnya—terutama setelah dikhianati oleh istri dan sahabatnya sendiri. Ketika Cassandra tanpa sengaja masuk ke dalam kehidupannya, Rafe tidak punya pilihan selain menahannya di sisinya. Awalnya, hanya untuk mengasuh putranya. Namun, semakin lama, Cassandra bukan sekadar pengasuh biasa. Ia menantang, membangkang, dan menghadirkan sesuatu yang sudah lama hilang dalam hidup Rafe—kehangatan. Tapi dunia Rafe bukan dunia yang aman. Dan Cassandra? Ia terlalu polos untuk terjebak dalam kekacauan ini. Namun, semakin ia mencoba melepaskan diri, semakin dalam ia jatuh ke dalam genggaman sang mafia. Di antara bahaya, rahasia, dan batas-batas yang tak boleh dilanggar, Cassandra harus memilih: tetap berjuang untuk keluar, atau menyerahkan hati pada pria yang bisa menghancurkannya kapan saja. Karena ketika mafia menginginkan sesuatu, mereka tidak akan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROLOG
Seorang wanita menangis termenung di dalam kamar, sudah menghabiskan ratusan lembar tisu yang berserak di mana-mana. Matanya sembab, hidungnya merah, dan kepalanya pening setelah berhari-hari menahan kesedihan. Kamar itu sudah berantakan, kasur yang tadinya rapi kini penuh dengan bantal dan selimut yang kusut, belum lagi pakaian yang menumpuk di kursi sudut ruangan. Jendela tertutup rapat, tirai dibiarkan menggantung tanpa digeser, membuat ruangan itu terasa lebih gelap dan pengap dari biasanya.
Hatinya masih sakit, pikirannya penuh dengan rasa kesal. Tiga tahun ia bekerja di perusahaan itu, memberikan seluruh waktunya, tenaga, dan loyalitasnya. Namun hanya karena sebuah kesalahan yang bukan perbuatannya, ia dipecat begitu saja. Dikambinghitamkan. Dipermalukan. Dan yang lebih menyakitkan, tidak ada seorang pun di kantor yang membelanya.
"Pfft... dasar bajingan!" desisnya dengan suara serak, lalu meremas tisu yang ada di tangannya dan melemparkannya ke lantai.
Tangannya gemetar saat ia meraih ponselnya di atas nakas, membuka aplikasi pesan. Tidak ada satu pun notifikasi yang berarti. Teman-temannya? Menghilang. Atau mungkin sengaja menjauh darinya setelah insiden itu. Ia membuang napas kasar, menelan rasa kecewa yang bercampur dengan amarah yang masih membara.
BRAK!
Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka lebar. Sang ibu, Rusmi, berdiri di ambang pintu dengan wajah jengkel.
"Astaga! Kamu masih aja gitu, nangis di kamar kayak orang baru diputusin pacarnya!" Rusmi berjalan masuk tanpa izin, tangannya bertolak pinggang sambil melihat kondisi kamar yang seperti kapal pecah. "Kamu ini dipecat dari kerja, bukan dipecat jadi manusia! Sampai kapan mau meratapi nasib, hah?"
Si wanita—yang masih terbaring di kasur—mendesah keras. Ia menarik selimut dan menutupinya hingga ke kepala. "Mamak enggak ngerti..." gumamnya lemas.
Rusmi mendengus. "Ya jelas Mamak enggak ngerti, wong kamu enggak pernah cerita!" Ia menarik selimut yang menutupi putrinya dengan kasar, membuatnya akhirnya bangkit dari kasur dengan wajah kesal. "Denger ya, kehilangan pekerjaan itu bukan akhir dunia. Kamu masih muda, masih banyak kesempatan!"
"Apa Mamak tahu rasanya bekerja bertahun-tahun, terus dipecat tanpa alasan yang jelas?!" bentaknya, matanya merah menyala. "Aku sudah mengabdi di perusahaan itu selama tiga tahun! Tiga tahun, Ma! Terus gara-gara si brengsek itu, aku dikambinghitamkan dan dipecat begitu aja!"
Rusmi melipat tangan di dada. "Ya kalau kamu tahu itu bukan salahmu, kenapa harus ngurung diri berhari-hari di kamar kayak orang putus asa?"
"Aku cuma... aku cuma butuh waktu!" jawabnya frustasi.
Belum sempat Rusmi membalas, suara lain menyela dari luar kamar.
"Kalau butuh waktu, kenapa enggak liburan aja?"
Mereka berdua menoleh ke arah pintu. Rosman, sang ayah, berdiri di sana dengan tangan di saku celana. Pria itu tersenyum tipis, mencoba meredakan ketegangan yang sudah memanas sejak tadi.
"Bapak bilang, kalau kamu butuh waktu buat nenangin diri, liburan bisa jadi solusi. Ambil napas, pergi ke tempat yang bisa bikin pikiranmu lebih segar," lanjut Rosman, mendekat ke putrinya yang masih duduk di kasur. "Daripada kamu terus-terusan di rumah, makin stres, makin kesal, mending keluar. Jalan-jalan ke luar negeri. Papa bisa bantuin kalau uang tabunganmu kurang."
Cassandra terdiam. Tawaran itu terdengar menggiurkan. Ia memang butuh udara segar. Butuh waktu untuk menjernihkan pikirannya. Ia melirik ke arah ibunya yang kini terdiam, seolah mulai setuju dengan ide sang ayah.
Ia berpikir sejenak, lalu menimbang-nimbang uang tabungan yang ia miliki. Kalau dihitung-hitung, sebenarnya uangnya cukup untuk liburan...
"Aku pergi sendiri?" tanyanya ragu.
"Kalau kamu mau ngajak teman, terserah. Tapi kalau mau sendiri juga enggak masalah, asalkan tetap hati-hati," kata Rosman.
Ia menghela napas panjang. Pergi ke luar negeri... Kenapa tidak?
"Oke," katanya akhirnya. "Aku setuju."
Rusmi dan Rosman saling pandang, lalu tersenyum lega.
"Kalau begitu, siapkan koper," kata Rosman. "Dan pikirkan baik-baik, kamu mau ke mana."
Ia menatap kedua orang tuanya, lalu kembali menatap ponsel di tangannya. Seakan menemukan jawaban, sudut bibirnya sedikit terangkat.
Roma.
Itulah tujuan berikutnya. Sebuah kota dengan sejarah panjang, arsitektur menakjubkan, dan suasana yang mungkin bisa mengalihkan pikirannya dari semua masalah ini.
Namun, siapa sangka... perjalanan ini akan membawanya ke dalam dunia yang jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan?
Mari kita berdoa berjamaah semoga dapat suami yg kaya, gagah, setia dan mencintai kita selamanya. Amin🤔🤗🥰👏