NovelToon NovelToon
Sekutu Rasa

Sekutu Rasa

Status: tamat
Genre:Lari Saat Hamil / Poligami / Percintaan Konglomerat / Mafia / Identitas Tersembunyi / Mata-mata/Agen / Chicklit / Tamat
Popularitas:19k
Nilai: 5
Nama Author: Iftiati Maisyaroh

Tatapannya masih menusuk tajam, tangannya mengunci dua lenganku ke atas. Menghimpitku ke dinding, aku seperti dejavu dengan posisi ini.

Mimpi itu ...

"Kamu kira aku bodoh, Gauri? Jika seseorang ingin menghancurkanku, maka bukan Yosita kuncinya." katanya penuh penekanan.

"Pria itu sudah kamu libatkan dalam masalah serius seumur hidupnya jika berhasil meniduri Yosi. Apa kamu tahu? Kenapa dia tak kunjung hamil, heh?"

Dengan kasar dia menarik bajuku hingga robek. Tubuhku terekspose hanya tertutup tanktop saja. Dia mencengkeram dagu dengan kuat. Menciumku secara brutal. Mataku mulai basah dengan sikapnya.

"Kamu terlalu naif dan gegabah, Gauri! Jangan salahkan aku jika kamu akan benar-benar tak bisa lepas dariku!" bisiknya di sela hembusan nafas.

"Kamu sudah ada dalam genggamanku. Adik-adikmu tak akan bisa memperbaiki kondisimu sekarang. Hanya aku. Aidam Ishwar Sura! Aku tak akan pernah membiarkanmu terluka, Gauri! Jadi, bersikaplah yang manis, hm?"

Klik Subscribe dulu sebelum baca!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iftiati Maisyaroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Semua Berpulang

Bab 2 Semua Berpulang

"Bunda ... nggak ada ... Mbaaaak!" tangisnya pecah.

"Arkaan! Apa maksud kamu? Ar--" sambungan terputus sepihak.

"Ada apa?" tanya Aidam berdiri menahan tubuhku yang serasa sudah tak bertulang.

Air mata ini kembali merembes tak beraturan. Bayangan kebersamaan dengan ibu terlintas di benakku.

"Setelah kamu menikah nanti, mungkin Bunda dan Ayah akan lebih tenang, Nduk ... Arkaan laki-laki, dia sudah dewasa dan tak lagi membutuhkan Bunda nanti. Pasti akan lebih fokus pada istrinya kelak. Dan kamu harus bertahan dengan Aidam apapun yang akan menjadi ujianmu di depan. Bunda doakan semoga kamu menikah sekali ini saja hingga maut memisahkan, bahagia bersama Aidam dan anak-anakmu."

Kalimat bunda kemarin malam sebelum acara resepsi digelar, terngiang lagi di kepalaku.

Aidam mencoba menghubungi seseorang dari ponselku. Entah siapa yang dihubunginya, sebentar saja lalu dia masuk ke kamar mandi.

Aku mencoba melanjutkan berpakaian dan mencoba tetap tenang. Membiarkan pikiranku tak terpenuhi dengan kebencian dan amarah. Ikhlas adalah kata yang sering diberikan padaku dari bunda. Inilah kiranya makna untukku.

Dicap menjadi perawan tua, berhasil menikah dengan seorang konglomerat. Tapi di malam pertama justru dikejutkan dengan kenyataan pahit bahwa suamiku tak hanya pernah menikah, bahkan masih berstatus suami orang.

Dan sekarang di pagi buta mendengar kabar dari Arkaan tentang Bunda. Memang perempuan yang melahirkan dan merawatku itu sudah sepuh dan memiliki riwayat banyak penyakit. Termasuk jantung ....

Tunggu! Apa Bunda tahu tentang Aidam yang menjadikanku istri keduanya. Mengingat Papa Sadana adalah teman baik Ayah, dan jati diri keluarga pria yang telah menikahiku ini terbuka.

Jika benar itu penyebabnya, aku tak akan tinggal diam! Aku bukan wanita lemah yang manja dan harus mendapatkan perlakuan manis dari seorang pria!

Sejak kecil berada di lingkungan yang semuanya laki-laki membuatku lebih kuat dan mirip dengan mereka. Baik berpakaian ataupun cara berpikir. Kukeratkan gigi-gigi hingga bergemeletuk dan mengepalkan tangan sekuat mungkin.

Aidam keluar dan langsung memakai pakaiannya di walk in closet. Cepat meraih kunci mobil dan menggamit pinggangku yang sudah menunggunya di depan pintu.

Kuhembuskan nafas panjang untuk meredam emosi di dada. Berulang kali hingga kurasakan sedikit lega. Melangkah beriringan dengannya menuju ke basement parkir hotel. Tak ada obrolan di antara kami. Sibuk dengan berisik argumen dalam benakku.

"Aku yakin kami pasti kuat! Kamu perempuan luar biasa dan tangguh selama ini. Hm?" katanya membukakan pintu mobil untukku.

Tak ada lagi isakan yang tersisa. Tenggorokanku seperti sudah mengering dan sulit untuk mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya satu yang kupikirkan saat ini.

Aku ingin mengajukan gugatan cerai pada Aidam. Dan akan tinggal bersama Ayah juga Arkaan, adik bungsuku. Terserah apa dia mengijinkan atau tidak. Aku tak akan pernah mau tinggal di rumahnya. Apalagi harus bersama maduku.

Buat apa menikah jika harus seperti ini. Menjadi yang kedua dan hanya diharapkan peranakannya saja. Memangnya aku tak punya hati dan perasaan. Di mana otak Aidam ketika memutuskan untuk melamarku sebulan lalu.

Tak tahu lagi umpatan apa yang harus kulayangkan pada lelaki yang baru kemarin menjabat tangan ayah dan mengucapkan kabul untukku ini.

"Mbaaak!" Semua adik ipar memelukku sesampainya di halaman rumah.

"Arkaan." Aku memeluknya yang duduk bersimpuh di bawah keranda Bunda.

"Kenapa harus sekarang, Mbak? Ar ... Ar ...," ucapannya terhenti ketika tangan Aidam meremas bahunya.

Arkaan berdiri dan melayangkan sebuah pukulan di rahang suamiku. Aidam terhuyung dan memegang pipinya. Sudut bibirnya berdarah.

"ARKAAN!!!" jeritku menepis lengannya yang sudah terangkat lagi.

"Ayaaaah!!!" Semua orang menjerit saat terdengar sesuatu jatuh dari arah tangga.

Tubuh laki-laki paruh baya itu berguling di anak tangga. Belum sampai bawah sudah ditahan oleh dua adikku Aifaz dan Arsyad.

"Ayah ...," gumamku bersamaan dengan Arkaan yang menurunkan tangan dan berjalan cepat menuju tangga.

Ayah tak sadarkan diri setelah terpeleset dan terguling di tangga. Diangkat dan dibaringkan di sofa ruang tamu yang telah dipindahkan ke ruang keluarga. Para pelayat yang sudah berdatangan sedikit riuh dengan kecelakaan yang dialami pria bernama Abyasa Radeva di rumahnya sendiri.

Setelah beberapa upaya menyadarkannya, ayah membuka mata. Kami berlima serta tiga menantu perempuan sudah berdiri mengelilinginya. Dia menatap satu per satu dan mengangguk pelan.

"Nduuuk, Leee ... kalian harus saling menjaga. Arkaan, nurut sama Mbakmu dan Masmu. Nduk Riri ... patuhilah suamimu. Jangan jadi pembangkang seperti pada ayah, dia jalan surgamu, Nduk ...." Ayah berpesan dengan senyuman dan sedikit tersengal.

Kami semua membisu, tak ada yang berani menjawab kalimatnya. Mata yang kelopaknya sudah mengeriput itu menunjukkan kebanggaan menatap anak-anaknya lalu tersenyum.

Kalimat selanjutnya adalah syahadat yang terbata dan hampir tak terdengar. Meski lirih dan susah payah terucap, tapi jelas itu adalah sebuah kesaksian terhadap Tuhannya. Hanya gerakan bibir dengan mata perlahan memejam. Sesekali melirik ke arah atas dengan nafas yang tersengal.

"Ayaaah ...."

Aku menunduk tajam dan pertahananku jebol saat itu juga. Air mata meleleh begitu saja di pipi. Tanganku mengepal kuat mencengkeram ujung baju. Tak ada isakan, hanya sesak yang tertahan dalam dada.

"Gauri! Sudah ayah katakan kamu perempuan Nduuk! Biarkan adik-adikmu yang belajar taekwondo! Kamu nonton aja! Nggak usah ikut-ikutan!"

"Gauri! Kamu bolos sekolah lagi? Sekali lagi ayah mendapat laporan atas kenakalanmu, maka ayah akan kirim kamu ke Pesantren!"

"Gauri! Putuskan dia sekarang juga! Atau ayah akan lumpuhkan semua aksesmu keluar rumah selamanya!"

Peringatan dan kemarahan ayah atas diriku yang terus saja membangkang kembali berputar di kepalaku. Bergema dan berulang-ulang hingga tak sadar ayah telah diangkat ke pembaringan terakhir.

Di bawah gundukan tanah basah ini, Ayah dan Bunda dimakamkan bersama. Tak ada yang mereka bawa, hanya doaku yang mungkin bisa menolong keduanya.

Karena itulah aku tak meratap, tak meraung dan histeris seperti kebanyakan anak ditinggal orang tuanya. Bukan aku tak sayang. Bukan.

"Kelak jika suatu saat Ayah atau Bunda tiada, jangan tangisi kepergian kami. Iringi dengan doa kalian memohonkan ampunan untuk dosa kami. Dan kirimlah pahala dengan mengerjakan amalan yang telah kami ajarkan pada kalian, Nduk. Katakan pada ketiga adikmu, hm?"

Nasehat ayah saat bunda hendak melahirkan Arkaan di usia yang telah senja adalah satu-satunya penguatku saat ini. Semuanya seperti rekaman kaset yang ter-replay di memori otakku. Menyerukan ke seluruh sistem saraf tubuh agar aku tak menangis.

Pandanganku hanya menatap satu titik. Nisan bertuliskan nama kedua orang yang telah berjasa besar dalam hidupku selama ini. Abyasa Radeva dan Adhira Laksman hidup bersama selama hampir empat puluh tahun. Tanpa wanita lain ataupun pria lain dalam pernikahan mereka.

"Yang tabah ya, Mbak?"

"Mbak pasti kuat!"

"Gauri, Lo pasti bisa lewatin ini! Lo cewek tangguh!"

"Gue pamit, ya Ri?"

Ucapan sapaan dan bela sungkawa teman-teman kantor, sekolah, kuliah dan kolega bisnis ayah hanya bisa kujawab anggukan. Tanpa mengalihkan pandangan pada mereka.

"Sayang ... kita pulang, hm?" bisik Aidam di telingaku.

Dua tangannya sedikit menarik bahuku agar berdiri mengikuti ucapannya.

"Sebentar lagi." balasku tak bertenaga.

"Pak, Nona Yosi ada di sini." Bisikan asisten pribadi Aidam terdengar di telingaku.

'Apa yang dicari wanita itu di sini?' Batinku geram.

...***...

^^^Bersambung ....^^^

1
Fareza Gmail.Com
kok alurnya maju mundur. udah tau yosi slingkuh masih dipertahankan. maksudnya apaa
Mukmini Salasiyanti
apa mgkn ada anak kembar dr beda benih? 🤔
Iftiati Maisyaroh: Sudah ikuti media sosialku belum, Kak?
Maaf banget nggak bisa sebutun di sini🙏
Pf baca online gratis juga di sana, Kak 😬
inisial F 😅
Maaf baget ya Kak🙏
total 4 replies
AriNovani
Kak 🤭
AriNovani: 😂😂😂😂😂
total 6 replies
Noviyanti
terus semangat, bunga hadir
Mukmini Salasiyanti
Benar, Gauri...
mgkn lbh baik
Sendiri...
Mukmini Salasiyanti
yg mana nih yg lbh Tokcer, thor???
🤭😵‍💫🤕
Mukmini Salasiyanti
Mada menembak Kenziee?????
Remi Abdillah
kenzie menembak haiji mouro kali yah🤭🤭
Remi Abdillah
keren lanjutkan menulis
Iftiati Maisyaroh: Terima kasih Kak🙏
Keren banget sih Kakak?
Sekali baca seharu aja dah kelar sampai bab terakhir 👍😍😇😇😇
total 1 replies
Remi Abdillah
lah loh Mada masih hidup lengkap sudah kebingungan ku🤭🤭
Remi Abdillah
betul itu Gauri, jangan menjadi dalih kepengecutan suaminya yg selalu mengatas namakan dalih agama.
Iftiati Maisyaroh: 😍😍😍 Mantap Kakak bener-bener baca maraton 👍🙏 terima kasih
total 1 replies
Remi Abdillah
oh si yosita ternyata adik gaurika juga toh? oalaaaahh! makin bertanya2
Iftiati Maisyaroh: 🤔 baca lagi yuuk Kak 😅
total 1 replies
Remi Abdillah
kenapa si aidam itu selalu berkata istri harus patuh sama suami. dia gak bisa patuh sabagai suami yg melindungi istri😡😡kesal aku!!
Iftiati Maisyaroh: Sabaaar 😇
Semua akan kesel pada waktunya 🤭
total 1 replies
Remi Abdillah
tambah blenger ceritanya .. tp sayang ku ikuti cerita ini sampai membawaku kemana😁😁🤭🥰🥰
Iftiati Maisyaroh: kita main detektif ini Kak 🤭
total 1 replies
Mukmini Salasiyanti
Hmmmm
okelah, Thor...
Lanjutkan. kebingunganku ini.. 😁🤣
Remi Abdillah
kok ceritanya jadi negono ya
Remi Abdillah
keren lanjutan🥰🥰🥰
Remi Abdillah
seru nich!!
Remi Abdillah
wow keren itulah perempuan yg sudah di hianati lanjut..
Iftiati Maisyaroh: siiip lah👍
Terima kasih 🙏
total 1 replies
Remi Abdillah
kok aku jadi gregetan yah hhm!!
Iftiati Maisyaroh: lanjut terus pokoknya👍😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!