“Ku kira dia janda, ternyata suaminya masih ada.”
Hampir dua tahun Danzel menyendiri tak memiliki kekasih setelah wanitanya direbut dengan licik oleh pria lain. Padahal, orang tuanya terus mendesak untuk segera menikah hingga berusaha mengenalkan para wanita cantik kepadanya. Tapi, tak ada satu pun yang memikat hatinya.
Namun, siapa sangka, jika rasa kagum kepada sekretaris barunya membuatnya terpikat pada wanita yang memiliki nasib malang itu. Ia akhirnya bisa merasakan jatuh cinta lagi setelah sekian lama mati rasa.
Danzel berusaha memikat orang yang dia taksir dengan mengambil hati putri dari wanita tersebut. Namanya hidup, tak ada yang sesuai keinginan. Sekretaris yang dia kira janda, ternyata masih memiliki suami.
Haruskah dia menjadi perebut istri orang agar cintanya tak gagal seperti dahulu lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 2
Wanita dewasa berparas cantik dengan rambut berwarna cokelat tengah masuk ke dalam apartemen sederhana yang dia sewa dan dibayar secara bulanan seharga tiga ratus euro.
Dia adalah Gwen, seorang wanita yang sudah melahirkan satu anak. Kini dia harus hidup dengan ekonomi yang tergolong rendah dibandingkan saat suaminya tidak terjerat kasus penggelapan dana dan pengedar narkotika.
Gwen baru saja pulang dari bekerja sebagai pelayan. Dia rela mengerjakan apa pun agar bisa menghidupi keluarganya, sembari terus berusaha mencari pekerjaan yang sesuai keterampilannya serta tidak terlalu menggunakan banyak tenaga, karena ia baru saja pulih dari patah tulang akibat kecelakaan yang terjadi hampir dua tahun silam.
“Kenapa Selena belum pulang?” gumam Gwen setelah ia mencari keberadaan putrinya di dalam hunian berukuran tiga puluh enam meter persegi itu.
Gwen pun mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi pihak sekolah tempat anaknya mengemban ilmu. Ini sudah sore, seharusnya putrinya berada di rumah.
“Semua murid sudah pulang sejak pukul dua siang, bus sekolah mengantarkan seperti biasanya,” jelas salah satu guru yang Gwen hubungi.
“Baik, terima kasih atas informasinya. Maaf sudah mengganggu waktu Anda,” balas Gwen. Penjelasan dari guru anaknya membuatnya justru khawatir dengan keberadaan putrinya yang biasanya sudah berada di apartemen ketika dia pulang.
Gwen tak jadi beristirahat. Ia hendak keluar mencari Selena tanpa mengganti pakaian bertuliskan nama restoran yang biasa digunakan untuk bekerja menjadi pelayan itu. Sebagai seorang ibu, dia tak mungkin berdiam diri ketika putrinya tak tahu di mana keberadaannya.
Ketika Gwen hendak meraih handle pintu, ponselnya berdering. Membuatnya mengurungkan niat membuka kayu bercat cokelat itu untuk mengangkat panggilan telepon.
“Ya, Ma?” sapa Gwen pada mertuanya.
“Kau sudah ada uangnya belum? Tiga hari lagi jatuh tempo pembayaran sewa apartemenku,” tanya Mama Esme, orang tua suaminya.
“Sedang aku usahakan, Ma. Doakan semoga pekerjaanku lancar,” balas Gwen.
“Ck! Dari kemarin jawabanmu seperti itu terus. Aku tak mau diusir dari sini. Mau tinggal di mana jika menjadi gelandangan?” protes Mama Esme.
“Tinggal di apartemen sewaku saja, kita bisa mengirit pengeluaran juga.”
“Dih! Tak mau aku tinggal di tempat sempit milikmu. Ingat, dua ribu euro harus ada dalam waktu tiga hari lagi.” Mama Esme menekankan nominal uangnya. Itu adalah biaya sewa setiap bulannya yang harus dibayar.
Gwen menghembuskan napasnya setelah panggilan diputus sepihak oleh mertuanya. Semenjak Sanchez masuk penjara, perusahaan harus gulung tikar akibat kecurangan yang pernah diperbuat oleh suaminya. Dialah yang kini menjadi tulang punggung. Mama dari suaminya tak membantu sedikit pun, justru bergantung padanya juga.
Mertua Gwen satu-satunya itu belum bisa meninggalkan kehidupan kelas atas. Sehingga memaksakan diri menyewa apartemen yang sangat bagus tanpa melihat kondisinya saat ini yang susah.
“Di mana aku dapatkan uang secepat itu? Tabunganku sudah ku gunakan untuk membayar sekolah Selena,” desah Gwen. Ia adalah sosok wanita yang peduli dan santun kepada orang tua, baik kandung maupun mertuanya. Sehingga tak pernah mengeluh di depan Mama Esme ketika dimintai uang. Dia akan berusaha sekeras mungkin untuk memenuhi kebutuhan orang tuanya. Sebab ia yakin akan mendapatkan ganti yang mungkin tak akan terduga jika melakukan kebaikan dengan tulus.
Wanita itu kembali melanjutkan niatnya untuk mencari anaknya. Ia berhenti di ambang pintu ketika melihat seorang wanita dan anak kecil berusia dua tahun tengah berdiri di hadapannya.
“Ada apa kau kemari?” tanya Gwen pada orang tersebut.
sama kayak yg aku alami
yg lamar aku kakaknya adeknya jd supir nya waktu itu
tapiii yg nikahi aku dan jodoh ku adeknya
hidup selucu ituu😀😀
laki² terbaik