NovelToon NovelToon
Transmigrasi Dokter Forensik Jadi Anak Villain

Transmigrasi Dokter Forensik Jadi Anak Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sinnox

Amelia Kusumawardhani, seorang dokter forensik yang blak-blakan dengan kehidupan sederhana yang dipenuhi novel, anime, dan kerajinan tangan, tidak pernah menyangka kematiannya akan membawanya ke dalam novel favoritnya.

Lebih buruk lagi, ia terlahir sebagai anak pungut keluarga penjahat dalam cerita asli yang ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaan.

Dan dia sendiri?
Ia hanya memiliki satu akhir dalam novel.

Yaitu mati.

Berlatar di sebuah Kerajaan Fantasi bergaya Eropa, akankah Amelia mampu bertahan, menemukan kebenaran, dan mengubah takdir yang seharusnya menjadi miliknya. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinnox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku mati, lalu?

Bau formalin sudah begitu melekat pada pakaian Amelia Kusumawardhani sampai dia terkadang merasa dirinya sendiri mungkin perlu diawetkan. Selama hampir sepuluh tahun bekerja sebagai dokter forensik, seharusnya dia sudah terbiasa dengan aroma itu, tetapi entah kenapa hari ini baunya terasa lebih menyebalkan dari biasanya.

Amelia berdiri di sisi meja autopsi dengan masker menutupi hidung dan mulut. Tatapannya berpindah dari luka pada dada korban ke hasil pemeriksaan awal yang tergeletak di samping meja. Sarung tangan yang membungkus tangannya sudah penuh noda darah, tetapi gerakannya tetap terukur ketika ia kembali memeriksa bagian tubuh yang belum selesai diperiksa.

Usia mayat itu sekitar lima puluh tahun, beberapa bekas luka lama melintang di dada dan lengan, sementara luka yang lebih baru terlihat jelas di sisi tubuhnya. Amelia memperhatikan pola luka tersebut beberapa saat sebelum kembali memeriksa hasil pemeriksaan awal. Ada beberapa hal yang tidak cocok dengan kematian alami.

"Mel, hasil toksikologinya udah keluar," kata seorang rekannya dari belakang sambil menyerahkan sebuah berkas.

"Kadar sianidanya tinggi, berarti dia bunuh diri ya?" Lanjut rekannya.

Amelia menerima berkas tersebut dan melirik hasil pemeriksaan sekilas. "Tinggi bukan berarti otomatis dia bunuh diri."

Rekannya mengerutkan dahi. "Memangnya bukan?"

Amelia menggeser pandangan ke tubuh di meja, "Kalau menurutmu dia bunuh diri, coba jelaskan luka-luka di tubuhnya."

Rekannya terdiam.

"Jangan terlalu cepet ngambil kesimpulan," lanjut Amelia datar. "Dan kalau lu mau membuat kesimpulan cuma dari satu hasil pemeriksaan doang, lebih baik lu pulang deh sekarang."

"Ya.. santai aja kali, kan gue cuma berpendapat. Kenapa sih ada masalah lu?" rekannya menatap sinis.

Amelia menghela napas, "Gue udah kerja dari pagi, belum makan, tiga gelas kopi gue udah dingin semua, terus sekarang harus ngurus mayat yang bahkan setelah mati masih bikin orang repot. Menurut lu gue harus senyum?"

Rekannya melirik mayat di meja.

"Jadi benar dia bos mafia?"

"Katanya sih gitu."

"Lu gak takut?"

Amelia mengangkat alis. "Dia sudah mati."

"Gak salah sih."

Amelia kembali menunduk. Pria yang terbaring di hadapannya memang bukan orang biasa. Dari berkas yang diterimanya, pria itu merupakan salah satu pemimpin organisasi kriminal yang cukup besar. Polisi menduga kematiannya berkaitan dengan perebutan kekuasaan di dalam organisasinya.

Bagi Amelia, status korban tidak terlalu penting.

Mau korban seorang mafia, pejabat, pengusaha, atau orang paling baik sedunia, di atas meja autopsi status mereka tidak lagi berarti apa-apa.

Mereka hanya menjadi mayat.

Dan mayat adalah pasien paling jujur yang pernah dia tangani. Mereka tidak bisa berbohong, bahkan ketika pemilik tubuhnya sudah tidak mampu membela diri.

"Mel."

"Hm?"

"Kalau pekerjaan seberat ini, kenapa masih mau bertahan?"

Tangan Amelia berhenti sesaat. Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya panjang, dan dia tidak begitu ingin menjelaskannya, singkatnya mungkin karena dia sudah terlalu lelah menghadapi manusia hidup.

"Karena gajinya lumayan," jawab Amelia akhirnya.

Rekannya tertawa kecil. "Gue kira jawabannya bakal lebih menyentuh. ternyata jawabannya kapitalis banget ahahaaha."

"Diem. Lu juga pasti gitu kan? ngaku aja deh."

Dia kembali bekerja. Namun baru beberapa menit berlalu, pintu ruang autopsi terbuka. Amelia tidak langsung menoleh. Dia mengira salah satu petugas masuk untuk mengambil sesuatu, langkah kaki terdengar mendekat.

Amelia akhirnya mengangkat kepala.

Seorang pria berdiri beberapa meter darinya. Jas hitam, sarung tangan hitam, dan tidak ada tanda pengenal yang tergantung di lehernya.

"Permisi pak? Anda siapa? orang yang berkepentingan dilarang masuk kesini." tanya Amelia.

Pria itu tidak menjawab, tangannya bergerak ke balik jas.

"Kalau kau mau mengambil mayatnya, tunggu sebentar. saya belum selesai." Amelia mengerutkan dahinya.

Pria itu mengeluarkan pistol.

"... siala-" Itu saja yang sempat keluar dari mulutnya.

Bang!

Rasa panas meledak di dadanya. Tubuh Amelia tersentak sebelum kehilangan kekuatan. Alat bedah yang berada di tangannya jatuh lebih dahulu, disusul tubuhnya yang ambruk ke lantai.

Suara rekannya terdengar samar.

"MEL!"

Namun Amelia sudah tidak mampu menjawab. Penglihatannya perlahan mengabur. Suara-suara di sekitarnya menjauh seperti berada di dasar air. Tubuhnya terasa ringan, kemudian mati rasa.

'Jadi begini rasanya mati?'

Amelia menatap langit-langit yang perlahan menghilang dari pandangannya. Dia tidak merasa takut, tidak menangis, tidak menyesal. Malah ada sedikit rasa lega.

'Akhirnya.'

Selama bertahun-tahun dia bekerja sampai tubuhnya hampir tidak punya waktu untuk dirinya sendiri. Bahkan ketika sedang tidak bekerja, kepalanya tetap dipenuhi laporan, pemeriksaan, hasil laboratorium, dan mayat yang menunggu diperiksa.

Belum lagi keluarganya. Ayahnya? Sampah. Ibunya? Satu-satunya orang yang dia sayangi, tetapi terlalu sibuk untuk benar-benar berada di sisinya. Pekerjaannya? Amelia menyukainya, tetapi kalau seseorang bertanya apakah dia akan memilih pekerjaan yang sama untuk kehidupan kedua? Tidak, lebih baik mati. Dia ingin hidup tenang, baca novel, nonton anime, buat kerajinan tangan yang tidak berguna tetapi lucu.

Itu saja.

'Setidaknya...' pikir Amelia ketika kesadarannya semakin menipis, 'sudah selesai.'

Sudut bibirnya hampir terangkat.

'Akhirnya gue bakal menuju surga.'

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Amelia merasa sangat bahagia. Tidak ada bos, tidak ada lembur, tidak ada ayah brengsek, tidak ada laporan autopsi, tidak ada mayat. Ia bahkan ingin memberikan salam terakhir kepada seluruh manusia yang pernah membuat hidupnya sengsara.

'Salam jari tengah untuk kalian semua!'

Kesadarannya semakin gelap.

Tubuhnya semakin terasa ringan. Dan tepat sebelum semuanya benar-benar menghilang, sebuah pikiran terakhir muncul di kepalanya.

'AKHIRNYA SURGA!'

"...Culga!!"

'hm? kok suara anak kecil?'

Hal pertama yang Amelia rasakan ketika membuka mata adalah bau debu.

Dia mengerjapkan mata beberapa kali. Langit-langit tua terbentang di atas kepalanya. Catnya sudah mengelupas di beberapa tempat. Sarang laba-laba memenuhi sudut ruangan. Cahaya matahari masuk melalui jendela kecil yang kacanya bahkan tidak lagi utuh.

Dia memandang sekeliling, lantai kayu yang kusam, dinding yang retak, sebuah meja kecil yang salah satu kakinya patah. Banyak anak-anak, mereka duduk atau berbaring di atas kasur-kasur tipis yang tampaknya sudah dipakai bertahun-tahun. Pakaian mereka lusuh dan beberapa di antaranya kebesaran.

Amelia perlahan duduk.

Rambutnya jatuh ke depan wajah. Dia menatap rambut miliknya yang sangat berbeda. Bukan rambut hitam panjang yang biasa dia lihat di cermin, melainkan rambut putih, selain itu dia merasakan tangannya pun terlihat jauh lebih kecil.

Amelia mengangkat kedua tangannya di depan wajah.

Jari-jari mungil, kulit yang sedikit kusam. Tidak ada bekas luka kecil di tangannya akibat bertahun-tahun bekerja.

"...."

'Apa-apaan ini'

Dia menatap sekeliling sekali lagi.

'Surga?'

'Ini?'

Amelia menelan ludah.

'Surga apanya? Kalau ini surga, standar surga ternyata rendah sekali. Sebenarnya sebanyak apa dosa gue sampai dapat surga se level ini?'

Seorang anak perempuan yang duduk tidak jauh darinya tiba-tiba mendekat, anak perempuan itu tampak berusia sekitar 8 atau 9 tahun. Wajahnya tampak khawatir.

"Eve, kamu kenapa?" tanyanya pelan.

Amelia menoleh.

'Eve? Siapa Eve?'

Anak perempuan itu menyentuh dahinya dengan tangan kecil.

"Kamu sakit?"

Amelia masih menatapnya tanpa suara. Kemudian matanya turun lagi ke tubuh mungilnya sendiri. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Satu pertanyaan muncul di kepalanya.

'Kenapa tubuhku jadi kecil?'

1
Nisa Nisa
wadau lucu kali ngomong nya siapa jadi capa🤣
Nisa Nisa
belum tentu bunuh diri juga kan bisa jdi dia di bunbun🤭
Myz Pena
eve dan ape atau epe ?? 🤣🤣🤣
Myz Pena
wkwkkwkwk tunggu thor aku ngakak ya Allah 🤣🤣🤣
Myz Pena
banyak banget makanannya.. emang bia dihabisin ??🤧
Myz Pena
ya Tuhan,, bukannya kemarin di bilang mirip cacing.. sekarang pendek lagi 🤣🤣
ginevra
jangan2 kamu yang dicari Mel... wah auto kaya raya
Myz Pena
sudah dibilang kamu cari alasan aja biar nggak makan sama tuh orang 🤧
ginevra
Amelia nggak bakalan takut soalnya jiwanya kan orang dewasa
ginevra
namanya makanan bayi ya hambar donk... kalau pakai Masako nanti tenggorokan sakit
Cimol krispy
tapi Ave dan eve beda tipis aja kok
Cimol krispy
tapi apa eve bisa makan itu semua
Cimol krispy
ya jelas ada dia lah eve, orang memang dia yg bawa kamu kesini
Cimol krispy
mau bilang eve kurus kan lo
Cimol krispy
ya iyalah mau dimandiin. kan baru 4 th
Cimol krispy
kamu harus bisa jadi pawang buat Lucien
🩷 ⃟🌴⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA℘ℯ𝓃𝓪
hoo iya nama jangan di ganggu gugatt, mantapp Evelyn 🤣
Xlyzy
mungkin ceritanya udah melenceng semenjak kehadiran kamu
Xlyzy
ya enakan kamu lah berubah jadi anak kicik lagi bisa manja manja lagi weh🤣
Xlyzy
Sabar ya tunggu 10 tahun lagi nanti balas dendam 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!